TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Ruang OSIS


__ADS_3

"Aaawwwhhh..."


Terdengat teriakan dari Andhini dan Semar. Rupanya Julian sedang melakukan aksi jewer telinga kedua rekannya itu.


"Ndak usah bisik-bisik. Aku denger semuanya." Seru Julian dengan ketus.


Andini dan Semar menggosok-gosok daun telinganya.


Pandangan mereka beralih ke adegan Julian yang mendekat ke arah Bagong.


"Elo apain, cewek gue?" Julian dengan tidak sabaran menarik kerah kemeja kotak-kotak biru yanh dikenakan Bagong.


"Jadi bener dia cewek Elo?" Tanya Bagong.


Plaaak.


Bukannya jawaban yang didapat Bagong malah sebuah tamparan.


Bagong meringis menahan sakit.


"Yan, beneran aku minta maaf. Cewek imut tadi aku godain." Pandangan Bagong mengarah ke Zafira.


"Tapi karena dia gak ada respon apa-apa ya aku colek-colek. Eh, dia ngancem pake nama Elo. Ya, malah gue tingkatkan level colekan gue." Lanjut Bagong sambil mengingat kejadian naas yang menimpanya barusan.


"Ternyata aku lebih salah lagi. Dia main bogem. Tenaganya kuat banget, Yan. Dan aku minta pembuktian kalo Elo memang cowoknya."


"Sekarang udah percaya?" Potong Julian.


Bagong hanya mengangguk.


"Kapok berurusan sama cewek Elo, Yan." Ujar Bagong lemah.


Julian mengacuhkan ucapan Bagong. Ia malah menarik tangan Zafira menuntunnya duduk di sampingnya.


"Udah beli minum belum?" Tanya Julian.


Zafira hanya menggeleng.


Zafira memang belum sampai kantin. Baru juga beberapa meter dari ruang OSIS, Bagong sudah mencegatnya.


Sampai terjadi adegan baku hantam yang tak pernah ia sangka.


"Gong beliin Zafira minum. Salah Elo dia mau beli minum pake digodain. Nee.." Julian menyerahkan selembar warna merah kepada Bagong.


"Sekalian untuk semua." Sambung Julian.


Bagong segera beranjak tanpa berani membantah.


"An, hubungi Petruk. Suruh cepet. Udah jam berapa ini?" Titah Julian kepada Andini.


"Gini nee kalo aura bossy_nya keluar. Suruh sana sini." Gerutu Andini sambil mengeluarkan ponselnya.


Semar dan Gareng hanya tersenyum kecut mendengarnya.


Zafira hanya terdiam, meskipun ada keterkejutan dengan cara Julian bertitah. Ia membenarkan komentar "Bossy" milik Andini.


"Ngapain?" Julian melirik Zafira yang asyik dengan gawainya.


"Main game." Jawab Zafira.


"Ayang gue perjalanan ke sini.." Suara Andini mengejutkan Julian yang serius dengan game yang dimainkan Zafira.


"Ya udah...kita tunggu." Sahut Julian.


"Elo mau bahas apaan sih Yan?" Tanya Semar kepo.


"Hari jadi sekolah kita, dodol."


Semar hanya terkekeh mendengarnya.


"Baru kali ini denger Ustadz ngumpat." Ledek Gareng.


"Sejak kapan Unc.., kamu jadi Ustadz Beb..." Zafira langsung meralat ucapan kekagetannya mendengar teman-temab Julian menyebutnya Ustadz.


Apalagi dengan pelototan Julian yang terlihat seram.


Ketiga temannya menatap Julian.


"Kamu beneran dek, gak tau? Kalo Julian udah jadi Ustadz?" Tanya Semar keheranan.


"Gak dengerin mereka, Fir." Sahut Julian.


Zafira hanya tersenyum lebar mendengarnya.

__ADS_1


"Kok senyum sih dek? Gak marah, takut ato khawatir gitu?" Tanya Gareng.


"Enggak." Jawab Zafira tegas.


"Gak takut dikerjain, cowok bossy ini?" Heran Andini.


"Enggak." Jawab Zafira lagi.


"Lagian kenapa harus takut. Wong cuma Ustadz bukan Tuhan." Sambungnya.


"Haaa..?" Komen Semar, Gareng dan Andini bersamaan.


Sedangkan Julian hanya terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Kok pada ketawa sih? Emang ada yang lucu?" Petruk tiba-tiba masuk dan gabung dengan mereka.


"Salam dulu kalo mau masuk..!" Protes Andini.


"Ya udah deh, aku ulang." Petruk kembali ke pintu dan mengucap salam.


Bukannya menjawab tapi penghuni lama ruangan tersebut malah ngakak gaj jelas.


"Wa'alaikum salam." Sahut Zafira menyelematkan sedikit rasa jengkel Petruk.


"Masih ada aja orang bego yang mau dikerjain." Oceh Zafira melanjutkan gamenya yang sempat terhenti.


Petruk mengambil posisi duduk disamping Andini.


"Siapa dia?" Bisik Petruk kepada Andini tentu dia yang dimaksud Zafira.


"Bini mudanya Julian." Jawab Andini keras.


"What?" Pekik Petruk kaget.


"Cantik, imut lagi. Kok mau jadi yang kedua?" Komentar Petruk.


"Awas, kamu gak bole ikut-ikut cowok rusuh itu!" Ancam Andini.


"Tenang sayang. Aak tak akan menduakan cinta kita. Cukup kamu saja seorang." Gombak Petruk.


"So sweet." Andini memeluk Petruk.


"Jangan percaya An." Goda Julian.


"Dia tadi benerannke toko bangunan ato tidak?" Ucap Julian tenang.


"Gak usah jadi kompor deh, Yan. Udah gerah di sini."


"Kalo di sini gerah pindah hotel sono!"


"Gesrek nee anak otaknya." Olok Petruk


"Uda Yang, gak usah dengerin ocehannya Julian." Petruk mengelus rambut Andini.


Kraak.


Suara pintu dibuka.


"Muka Lo kenapa, Gong?" Petruk menertawakan Bagong yang masuk membawa kresek berisi minuman kemasan.


"Kena azab bini mudanya Julian." Bisik Andini.


Seketika Petruk menghentikan tawanya, berganti menutup mulutnya menatap tak percaya ke arah Zafira.


"Gadis sekecil itu, bisa membuat seorang Bagong babak belur. Byuuh." Gumam Petruk sambil bergidik.


Mengingat tubuh Bagong yang sedikit membengkak. Alias gendut. (Upss.. kelepasan)


"Okay.. udah lengkap?" Tanya Julian.


"Udah." Sahut Petruk yang menjabat sekretaris Julian.


"Sementara kita bikin plain secara garis besar. Jadi pas masuk semester 2, semua pengurus tinggal mengisi kekurangannya saja. Itu rencanaku. Menurut kalian bagaimana?" Tutur Julian.


"Bagus sih, Yan. Tapi ada baiknya, jika ketua pelaksananya langsung yang menjelaskan agendanya." Sahut Semar.


" Nah itu, ketuanya kemarin siapa?" Tanya Julian kepada Petruk.


"Gareng." Jawab Petruk.


"Gimana, Reng? Udah siap belum Elo?" Tanya Julian.


"Siap." Jawab Gareng.

__ADS_1


"Okay, karena Gareng udah siap. Selanjutnya diambil alih Gareng. Gue terima jadi." Jawab Julian.


💗💗💗💗💗💗💗


"Uncle.." Panggil Zafira setelah semua teman-teman Julian pulang.


Zafira masih menunggu Julian membereskan beberapa perkakas.


"Kenapa?" Julian menghentikan aktifitasnya.


Cowok itu menutup lemari dan menguncinya.


"Mbak Hani sering ke sini?" Wajah Zafira terlihat tegang.


"Oh.. iya sewaktu Hani masih pakai mobil Uncle. Dan masih ada Umma dan Buya kamu. Tapi sekarang sudah enggak pernah. Uncle tiap hari pake motor." Julian menjelaskan situasinya.


"Uncle... bilang ke mereka apa tentang Mbaj Hani?"


"Gak bilang apa-apa. Mereka sendiri aja yang mengira Hani, teman dekat Uncle."


"Terus.... "


"Udah gak usah diterusin, gak ada putusnya. Nanti juga mereka gak akan tanya lagi."


"Kita pulang dulu." Ajak Julian.


Zafira mengekori langkah Julian keluar dari ruang OSIS.


"Mau makan siang dimana?" Tanya Julian.


"Kemana aja. Yang penting enak." Jawab Zafira.


"Gak lagi pengen sesuatu gitu?" Julian menekan timbol kunci otomatisnya.


Tuing tuing.


Terdengar suara alarm dari sebuah Pajero.


Pajero hitam yang selama ini dikendarai Desta. Sementara digunakan Julian. Sedangkan Brionya dipakai Hani.


"Enggak. Karena belum ada bayangan lapar."


Auto Julian ngakak mendengar jawaban Zafira.


"Jadi kalo pengen sesuatu itu harus ada bayangannya gitu?"


Zafira mengangguk.


"Berjemur aja dibawah matahari, biar ada bayangan."


"Hadeeh.. ngomong sama Uncle ini, susah."


"Hahahah... Susah atau memang kamu aja yang salah pake kata-katanya."


"Auk ah."


Julian kembali tertawa lebar, sambil menyalakan mesin pajeronya.


Julian membelokkan pajeronya ke sebuah mall.


"Kok kesini?" Heran Zafira.


"Ya biar kamu ada bayangan lapar. Biar bisa milih makanan."


Seketika senyum sumringah memancar di wajah Zafira. Ternyata meskipun suka ngeselin dan nyebelin Uncle baik dan so sweet.


"Iyaaan..." Panggil seseorang dari belakang terdengar seperti suara cewek.


"Hadeeh.. siapa lagi cewek ini?"


💗💗💗💗💗💗


Met libur...


Sambil nunggu up baca yaa..


khusus 21++


🙈🙊🤭


ditunggu like, komen, vote dan sharenya


__ADS_1


__ADS_2