TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Sepi


__ADS_3

Julian sedang duduk berdua dengan Zafira di sebuah warung makan lesehan Kediri. Keduanya masih menyelesaikan nasi penyet lele dengan santai.


Sesekali Zafira melirik ke arah lelaki yang ia anggap adik Ummanya itu, seakan mencari sedang membaca pikiran dari Julian.


Tapi hasilnya nihil. Zafira tifak menemukan apapun. Justru yang ia rasakan kekepoan dirinya sendiri.


Akhirnya Zafira kembali fokus ke lele gorengnya yang nikmat. Sungguh anugerah Tuhan ini luar biasa jika kita bisa mensyukurinya.


Tadi pagi Julian sengaja mendatangi pesantren Zafira hanya sekedar ingin menatap mata teduh gadis itu.


Perasaan dan hatinya sedang dilanda kegalauan tingkat dewa.


Efek penat karena beban sekolah dan perusahaan yang silih berganti tak henti-henti menerornya.


Hanya dengan menatap mata Zafira, seakan semua bebannya musnah tanpa abu.


Julian bahkan sadar kalau Zhafira mencuri lirik pandang ke arahnya meski ia tak tahu apa yang dicari gadis itu.


Tapi Julian sengaja tidak membalas menjaga agar Zafira bisa bersikap seperti biasanya.


Desta, Aqeela dan ketiga adik triple sudah berangkat ke Jerman. Sebulan yang lalu. Begitupun Bu Darmi dan Bu Erna, keduanya diajak serta untuk membantu Aqeela momong baby twins.


Jadilah Julian kesepian di rumah besar itu. Ayah, Ibu, Mommy dan Daddy bahkan berkali-kali mengajaknya pindah ke rumah mereka tapi ditolaknya karena khawatir rumah Aqeeela kosong.


Para emak rempong tampak begitu terkejut saat dipamiti Aqeela. Bahkan ayah dan ibu ikut galau dibuatnya. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak. Namanya juga hidup tak semulus yang mereka kira.


"Mau nambah, Fir?" Tanya Julian melihat Zafira sudah menyelesaikan makannya.


"Enggak usah uncle. Zafira udah kenyang." Jawab Zafira sambil menggeser piringnya diganti gelas yang ada di samping kanannya.


Zafira menyeruput teh hangat yang tadi ia pesan.


"Uncle kok tumben sih bawa motor?" Tanya Zafira begitu teh hangat di gelasnya sisa setengah.


"Lagi pengen aja." Jawab Julian.


Julian menggeser tubuhnya ke sisi dinding yang ada di warung tersebut. Lalu menyandarkan punggungnya.


"Di rumah sepi, Fir." Ucap Julian sambil menatap Zafira.


Gadis itu mendongak mendengar ucapan Julian.


"Uncle gak ngaja teman-teman uncle ke rumah?"


Julian menggeleng.


"Ribet, lagian uncle khawatir mereka pada tahu siapa uncle. Terus mereka minder gak mau temenan deh sama uncle."


Zafira sebenarnya ingin tertawa mendengar jawaban Julian.


"Tetnyata uncle juga punya rasa khawatir." Batin Zafira.


"Kalo menurut Zafira sih, gak pa_palah satu dua orang tahu. Ya, minimal teman terdekat uncle sajalah. Daripada uncle kesepian." Saran Zafira.


"Tapi temannya harus cowok ya? No cewek." Ketus Zafira.


Julian akhirnya terpingkal-pingkal mendengar peringatan dari Zafira.


"Berarti Hani gak bole dong masuk ke rumah?" Tanya Julian sambil menatap Zafira dengan senyuman menggoda.


"Lhoo ngapain Mbak Hani ke rumah?"


"Kan Hani tiap hari bawa mobil uncle."


"Terus uncle naik apa?"


"Motor Buya kamu. Motornya keren. Pas banget buat uncle. Apalagi sama bonceng cewek cantik. Pasti tuh ceweknya klepek-klepek."


Seketika Zafira melotot mendengar kata bonceng cewek dari Julian.


"Uncle sering yaa gombalin cewek-cewek?"

__ADS_1


"Enggak hanya satu cewek yang sering uncle gombalin." Jawab Julian menggantung.


"Siapa?" Spontan pertanyaan itu terlontar dari bibir mungil Zafira, membuat gadis itu langsung menutup mulutnya.


"Siapa yaa? Kasih tau enggak ya? Kamu pengen tau aja atau pengen tau banget?" Goda Julian melihat Zafira salah tingkah.


"Auk aah. Gak mau jawab juga gak pa_pa." Balas Zafira dengan nada jutek.


"Ha ha ha...." Pecah tawa Julian.


Entah kenapa, Julian paling suka melihat Zafira kesal seperti itu. Seakan sebuah hiburan tersendiri, sehingga ia bisa melupakan kepenatan dan kebosanannya.


"Sebel tau gak?" Rajuk Zafira


"Enggak?" Goda Julian sambil menahan sisa tawanya.


"Fir, tau gak?"


"Gak." Sahut Zafira cepat.


"Idih balas dendam nee ceritanya." Ledek Julian.


"Biarin." Julian dengan cepat mengusap kepala gadis ini dengan gemas.


"Kamu tau gak, Fir. Hanya dengan liat kamu aja. Uncle udah tenang." Ucap Zafira lirih.


"Hmmm..." Hanya itu yang keluar dari bibir Zafira.


"Fira..!" Panggil Julian.


"Liat Uncle, Fira." Kata Julian tenang karena sedari tadi Zafira hanya menunduk.


Entah wajah tersenyum atau manyun Julian tidak bisa melihat.


"Apa?" Balas Zafira dengan enggan.


"Uncle nyebelin." Sambung Zafira dengan cemberut.


"Tuh, kan nyebelin."


"Makanya senyum." Pinta Julian.


Zafira akhirnya menarik kedua sudut bibirnya. secara simetris.


"Nah, cantik kan?" Reflek Zafira membogem perut Julian.


"Aaauuhh.. Perasaan dari kecil suka banget mukul perut. Emang gak ada gitu lokasi favorit lainnya." Ledek Julian.


"Gak ada. Lebih enak juga diperut gak kena tulang. Jadi kan tanganku gak sakit." Balas Zafira.


"Oowwhh.. begitu alasannya."


"Fir, jalan lagi yuuuk!" Ajak Julian.


"Kemana?" Zafira menatap Julian kepo.


"Kemana aja." Jawab Julian.


"Gak jelas banget sih." Oceh Zafira.


"Mau gak?"


"Ya maulah!"


Julian kembali tertawa lebar mendengar jawaban Zafira.


Setelah melakukan transaksi pembayaran, Julian kembali membonceng Zafira mengelilingi Kota Kediri.


Motor Julian berhenti di lereng gunung kelud.


"Pilih mana? Kampung Indian atau Kampung Anggrek?" Tanya Julian.

__ADS_1


"Dua-duanya boleh." Jawab Zafira.


"Rakus banget."


"Mumpung ada yang ngajak gratisan. Kalo masuk sendiri kan harus bayar pake uang Zafira sendiri." Zafira tersenyum manis ke arah Julian.


"Kalo ada uncle kan yang keluar duit uncle Iyan. Zafira tinggal menikmati saja." Sambungnya.


Julian membalas dengan tawa kecil yang hangat.


"Makasi ya Fir, Udah menghilangkan rasa kalut Uncle." Ucap Julian ketika keduanya sedang menikmati suasana kampung indian yang dipenuhi aneka bentuk apache.


Zafira hanya tersenyum menatap Julian.


"Uncle, kita foto-foto yuuk. Pakai war bonnet. Lucu deh kayaknya." Pinta Zafira.


"Apapun untuk tuan putri, pasti paduka kabulkan." Jawab Julian.


"Ha ha ha.. uncle kalo ngegombal sudah sampai level kastil." Zafira terkekeh mendengarnya.


"Uncle ganteng gak pake yang ini." Ujar Julian sambil mencoba satu warbonnet yang dipajang.


"Ganteng." Jawab Zafira sambil melirik ke arah Julian sebentar.


"Fir, kamu pake ini deh." Julian memasangkan warbonnet di kepala Zafira.


"Cantik." Komentar Julian setelah warbonnet terpasang.


Wajah Zafira nampak merona kemerahan mendengar pujian Julian.


"Uncle, ngegombalnya di keep dulu deh." Balas Zafira menutupi rasa canggungnya.


"Ntar kalo uncle ngegombal terus. Kita gak usah foto. Lomba ngegombal aja disini"


Julian auto terkekeh mendengar jawaban Zafira.


"Ya udah sini!" Julian menarik tangan Zafira ke area foto yang mereka gadang-gadang.


"Mas, siap." Titah Julian kepada fotografer.


Beberapa jepret bidikan kamera diambil dari fotografer tersebut. Julian dan Zafirapun menambah atribut yang lain di setiap bidikan Mas Fotografer.


Setelah puas berkeliling daerah wisata lereng gunung kelud, Julian mengembalikan Zafira ke pesantren.


"Belajar yang rajin. Minggu depan uncle ke sini lagi." Pamit Julian.


"Hamba siap menerima kedatangan paduka kapanpun paduka menginginkannya." Jawab Zafira dengan maksud meledek.


"Aiish.. udah ketularan jadi tukang gombal ya sekarang. Keep gombalan kamu. Jangan sembarangan gombalin anak orang." Protes Julian.


"Harusnya uncle tuh yang keep. Gak bole gombalin cewek-cewek."


"Kan uncle udah bilang, yang uncle gombalin hanya satu cewek." Bantah Julian.


"Siapa?" Kepo tuh Zafira.


"Ada deeh. Uncle pulang dulu yaa.. bye bye Zafira. See You next week."


"Uncle....." Protes Zafira, tapi Julian tetap melangkah keluar.


"Assalamu'alaikum." Teriak Julian.


"Wa'alaikum salam." Zafira masuk ke kamarnya dengan banyak perasaan yang tidak bisa ia pahami.


Bahagia, sedih, bingung, cemas bercampur aduk semua.


💗💗💗💗💗💗


Always support yaa..


Terima kasih dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2