
"Katakan! Apa syaratnya?" Alif menatap tegas ke arah Zafira.
"Yakin kamu gak akan nyesel setelah dengar?" Sahut Zafira ragu setelah mengetahui, karakter Alif yang ia tahu barusan.
"Gak akan." Suara Alif masih terdengar tegas.
Sementara Zafir, Zafran, Wanda, Malik dan Darren menyimak permintaan gadis itu.
Permintaan yang tidak pernah ada dalam skenario mereka. (Aisshh.. tuh kan).
Mereka sengaja menjebak Alif sebenarnya.
Itupun karena permintaan Zafira yang merasa aneh setiap ke kelas IPA 1 selalu mendapati Alif tidur dengan meletakkan kepalanya di meja.
Ternyata Allah mengijabahi permintaan mereka untuk dapat jamkos bersamaan.
Dan rencana mereka berjalan lancar hari ini.
Ujung-ujungnya mereka malah mendapati permintaan bersyarat dari Zafira.
Kelima remaja sekomplotan itu fokus menyimak Zafira dan Alif.
"Syaratku gak sulit, kok!" Zafira membuka suara dengan senyum miateri.
"Katakan saja, Fira! Aku akan menyanggupinya selagi mampu tapi aku juga berhak menolak jika aku tak sanggup. Deal kan?" Alif kembali menguluruka tangannya.
"Okay, deal!" Zafira hanya menatap tangan Alif tanpa berniat menyambutnya.
"Aku wakili Zafira!" Zafir menyambut uluran tangan Alif.
"Deal!" Sahutnya menjabat tangan Alif dan meremasnya dengan gemas.
Alif terlihat meringis kesakitan.
Wanda yang menyaksikan ikut meringis seakan merasakan sakit yang di alami Alif.
"Fir, udah. Kasiyan tuh Alif." Lerai Zafira.
Sedangkan yang lain hanya tersenyum kecil menyaksikannya.
Karena siapapun tahu, Zafir akan begitu posesif ketika orang lain menyentuh ataupun menyakiti Zafira.
Dan cara yang ditunjukkan Zafir berbeda dengan Zafran yang terlihat lebih garang.
"Sekali lagi kamu berusaha nyentuh Zafira, aku gak akan tinggal diam! Meskipun kamu sudah berteman dengannya!" Hardik Zafir melepas tangan Alif dengan kesal.
"Gimana mau lanjut!" Ulang Zafira dengan nada yang membuat mereka penasaran.
Setelah Zafir melepas remasan tangannya.
"Iya.. lanjutkan!" Jawab Alif dengan menahan sakit.
"Gila, kalem-kalem kuat juga tenaganya." Gerutu Alif dalam hati.
"Laanjut gak nee...aku gak mau mengulang ucapanku dua kali!" Ucap Zafira mendapati Alif terbengong.
"I.. i..y..ya..Fira, aku siap." Sahut Alif tergagap dan memfokuskan pandangan ke Zafira.
"Ajak aku ke club kamu, sekali saja." Ucap Zafira begitu Alif siap.
"Haah.. Zafira..!"
"Mau ngapain kamu?"
"Edaan."
"Zafiraa.. hei pindah kemana otak kamu?"
"Gak ada kerjaan banget sih kamu!"
Potong kelima komplotannya kaget setengah hidup.
"Gak .. gak.. aku yang gak setuju!" Potong Zafran seketika.
"Fran...dengerin aku!" Zafira menenangkan Zafran.
__ADS_1
"Firaaa.. terus aku harus bilang apa ke Buya sama Umma nanti?" Protes Zafran.
Zafira terlihat kesal dengan ulah Zafran, baru kali ini saudaranya itu tidak sepaham dengan dirinya.
"Fran ada baiknya dengerin dia dulu! Baru kita putuskan langkah selanjutnya!" Zafir menenangkan Zafran.
"Tapi, Fir..?"
"Gak pa_pa." Potong Zafir.
"Percayalah sama dia. Zafira lanjutkan!" Pinta Zafir.
"Aku ndak akan clubing, dugem ato dansa gak jelas di sana." Jeda Zafira menatap Alif dan kelima komplotannya.
"Aku hanya minta tolong ajari aku membedakan minuman beralkohol dan tidak serta cara meraciknya!" Zafira menarik udara masuk ke rongga hidungnya.
Karena udara di tubuhnya semakin menipis.
"Bagiaman, Lif? Apa kamu sanggup?" Ucap Zafira ke arah Alif.
Zafran terlihat lega mendengar permintaan bersyarat Zafira.
"Tuh kan dengerin dia dulu, baru putuskan!" Komen Zafir. Zafran hanya nyengir menatap Zafir.
"Gimana, Lif? Kamu sanggup gak?" Bantu Zafran menegur Alif yang masih bimbang.
"Tapi.. bagaimana kamu masuk?" Jawab Alif ragu.
"Sedangkan perempuan berhijab saja tidak diizinkan masuk ke dalam." Alif menelan salivanya.
"Sebelum jam kerja kamu dodol. Masa iya aku harus datang pas kamu ngeladenin orang lagi ajib-ajib. Nyari mati lo. Mau di pecat?" Hardik Zafira kesal.
"Lagian kamu juga lemot banget sih!" Omelnya.
"Okay hari selasa, pulang sekolah. Kamu bawa baju ganti. Aku gak mau bawa anak berseragam." Putus Alif cepat.
Pasalnya di hari Senin atau Selasa club lebih sepi dan jam buka mundur satu atau satu setengah jam dari biasanya.
"Aku ikut!" Sahut Zafran.
"Aku juga!" Sambung Zafir.
"Aku juga dong!" Sahut Darren, Malik dan Wanda.
"Enggak.. enggak kalian cukup di rumah saja. Daripada kita kena semprot Bunda, Mama dan Mami." Cegah Zafran.
Alif menatap Zafran keheranan mendengar kata Bunda, Mama dan Mami. Kenapa bisa punya ibu segitu banyaknya.
Namun Alif tak mau berprasangka. Biarlah. Itu urusan mereka. Daripada aku kempo eh salah kepo maksudnya.
"Ya udah aku izinkan kalian bertiga ikut! Tapi awas saja kalo bikin ribut di sana!" Syarat Alif.
"Tenang saja. Kita bakal keluar sebelum jam buka. Aman bukan?" Kata Zafira tegas kepada Alif.
Alif mengangguk.
Sedangkan Wanda, Darren dan Malik terlihat merengut karena keinginanya ikut ditolak.
"Kalian ikut tapi gak usah masuk. Nanti kasihan Alif, dia pasti pusing nyari alasan yang kuat buat bawa kita bertiga masuk. Bener gak, Lif?" Zafran menatap ke arah Alif.
"i...iyaa.." Sahut Alif gugup.
"Kenapa nee cowok bisa tahu yang gue pikirin?" Gumam Alif dalam hati.
"Apa dia punya ilmu kebatinan?" Alif yang bergumam dengan dirinya sendiri.
"Gak usah bingung. Aku bukan cenayang, paranormal ato punya ilmu kebatinan. Liat muka panik kamu saja aku udah tahu apa yang kamu pikirin." Sahut Zafran menatap Alif dengan senyuman misteriusnya.
Pusingkan Lo, Lif.
(Aunty gak ikutan deh)
💗💗💗💗💗
Alif sebenarnya pusing.
__ADS_1
Memikirkan alasan yang bisa ia katakan kepada Om Hendra pemilik Club tempatnya bekerja.
Tapi demi janjinya kepada Zafira. ia rela melakukan apapun.
Pukul 02.30 Alif keluar kelas dengan lesu. Matanya terasa berat.
Jika mau jujur ia merasa lelah dan ingin istirahat sejenak walaupun sekedar menutup mata.
Namun apa daya, ia harus segera sampai rumah. Menyiapkan diri untuk berangkat kerja pukul empat sore.
"Lif, kenapa?" Darren yang bersiap pulang menoleh ke arah Alif yang berjalan sembarangan.
Wanda yang ada di sebelahnya ikut menatap keheranan ke arah Alif.
"Gue ngantuuk." Jawab alif sambil menguap panjang.
"Tidur, Lif," Sahut Wanda.
"Gue harus kerja, Nda." Jawabnya.
"Rumah Elo mana?" Tanya Darren membuat Wanda keheranan.
Alif menyebutkan alamat rumahnya.
"Bareng kita aja. Toh, kita searah!" Ajak Darren.
Wanda sedikit membelalakkan matanya mendengar Darren mengajak Alif bareng.
Tapi untuk bertanya ia tahan, masih ada Alif.
Meskipun mereka kemarin sepakat berteman, tapi tidak secepat ini juga kali. Pikir Wanda.
Wanda hanya pasrah, to ia juga nebeng kendaraan Darren.
Wanda duduk di jok belakang, sedangkan Darren di jok kemudi dan Alif di sampingnya.
"Sory ya, Nda singgasana elo, gue pakai." Ucap Alif.
"Hmmm..." Jawab Wanda menatap ke arah luar.
"Ciye.. ciyee akur nii ye.." Sebuah suara mengagetkan Wanda, Alif dan Darren.
"Ngapain kamu?" Balas Wanda menatap Malik yang tersenyum.meledeknya.
"Ogah ikut-ikutan. Nda.. mau bareng aku gak?" Ajak Malik.
"Enggak.." Jawab ketus Wanda.
"Udah sore.. Gak ada yang pengen pulang gitu?" Sebuah suara nongol begitu saja di samping kemudi Darren.
"Ayo.. Fir, Pren kita balik dulu ya.. tuan putri lagi bad mood. Daa..." Zafran menarik tangan Alif menuju ke sebuah pajero.
Keempatnya membalas lambaian Zafran.
Disana seorang lelaki berwajah tampan dengan jas warna navi menunggu dengan gagahnya.
"Uncle..." Sapa ketiganya.
Yes, you know dia Julian.
Tanpa menjawab Julian langsung masuk jok kemudi.
Zafir membuka pintu sebelah Julian. Zafran dan Zafira duduk di belakang.
Setelah triple keluar gerbang, Malik undur diri. Darrenpun tancap gas menuju rumah Alif.
💗💗💗💗💗💗
Like
komen
vote
dan share ya
__ADS_1
terima kasih untuk semua dukungannya.
Love you all..