TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Pemakaman


__ADS_3

Reksa masih memeluk tubuh putri yang ia cintai itu.


Bertahun-tahun orang tua itu menunggu, ternyata mereka harus dipertemukan dengan cara begini.


Menyedihkan.


"Dimana Alena?" tanya Reksa melepas pelukan di jenazah Fely.


"Tidak tahu, Om. Tapi Fely sekarang milik Om. Bukan Tante Alena." jawab Zafir.


"Maksud kamu?" Reksa menatap Zafir dengan tatapan tidak mengerti.


"Dia sudah bersyahadat. Jadi dia milik Om. Bukan Tante Alena lagi," jawab Zafir dengan tatapan menerawang.


Mengingat kenangan Fely ketika bersyahadat.


"Kamu yakin?" Reksa menatap intens pemuda yang menelponnya tadi.


"Yakin, saya saksinya. Umma yang membimbingnya," Zafir menjawab dengan tegas.


"Siapa Umma?" tanya Reksa.


"Ibu aku. Itu wanitanya cantik, lagi dipeluk suaminya," ucap Zafir menunjuk suami istri yang sejak tadi sesenggukan tapi belum disapa Reksa.


"Mereka orang tua kamu?" Zafir mengganghuk pelan.


"Terima kasih sudah peduli dengan putri saya," sapa Reksa.


Namun hanya di angguki oleh Desta, tanpa memberi kesempatan istrinya bertemu muka dengan papa Fely yang menurut Desta masih ganteng di usianya yang sudah lima puluh tahun.


(Hadeeh... Buya masih bisa saja cemburu di saat-saat kayak gini)


Reksa meraih gawai di sakunya.Pria setengah abad itu membuka seluruh kain penutup jenazah putrinya.


Dengan perasaan tak menentu ia membidikkan kamera ke tubuh Fely.


"Buat apa, Om?" tanya Zafir.


"Untuk bukti laporan ke pihak berwajib," ucap Reksa.


Zafir hanya menatap wajah Papa Fely itu dengan datar.


"Pemakaman Fely bagaimana?" tanya Zafir karena sejak tadi Reksa terlihat bingung.


Reksa menatap Zafir dengan banyak makna.


"Dimakamkan ke TPU, karena di area rumahnya tidak ada pemakaman warga," ucap Reksa.


"Tidak mungkin saya bawa pulang juga," sambung Reksa.


"Om kok tau?" tanya Zafir penasaran. Karena menurut Fely ia tidak pernah bertemu sang Papa walaupun orang tua laki-lakinya itu menanaggung semua biaya hidupnya.


"Tiap sebulan sekali saya nengok Fely di rumahnya, memandang dia dari jauh. Tanpa berani mendekat. Karena Alena tidak mengizinkan," ucap Reksa sedih.


"Om tinggal dimana? Sebelum meninggal Fely mencari tahu keberadaan Om Reksa," ucap Zafir dengan sedih karena mengingat kembaki perjuangan Fely.


"Sidoarjo. Apalagi yang kamu tentang putri saya?" kepo Reksa.


"Ya udah deh, Om. Jenazah Fely biar dimandikan dan dikafani dulu! Nanti Zafir ceritain semua," tutur Zafir.


"Baiklah. Kita serahkan ke pihak rumah sakit," pasrah dan pinta Reksa.


"Om gak ikut mandiin Fely untuk yang terkahir kalinya?" tanya Zafir.

__ADS_1


"Saya gak akan kuat," jujur Reksa.


"Ya udah. Umma... bantuin Fely untuk yang terakhir ya!" Zafir memohon dengan mengatupkan kedua tangannya ke dada.


"Tapi, Nak..."


"Zafir akan ngomong sama pihak rumah skait," putus Zafir.


Tanpa menunggu jawaban sang Umma, Zafir melesat ke ruang perawat dimana Fahri berada.


Setelah berbincang sebentar, pemuda itu mengajak semua yang ada di situ ke ruang perawatan jenazah.


Umma akhirnya ikut membantu pihak rumah sakit menyucikan jenazah Fely.


Tiga puluh menit kemudian usai semua. Tinggal menyolati saja.


"Dimana kita sholati jenazag Fely?" Reksa terlihat panik.


"Di masjid rumah sakit, bolehkah Mas?" tanya Zafir kepada Fahri.


"Boleh kok, Mas. Nanti sekalian ambulancenya menunggu di sana!" ucap Fahri dengan lancar.


Reksa terdiam, ia benar-benar terpukul dengan kematian putrinya.


Dalam hati kecilnya ia berharap semuanya mimpi. Tidak nyata.


Namun, semua nyata. Bukan mimpi. Felynya sudah menghadap Yang Maha Kuasa.


Tepat selesai proses mengkafani. Devan dan Malik sampai. Di susul kemudian Zafira dan Julian.


Saudari kembarnya itu bergegas memeluk Zafir , karena ia tahu saat ini ia sedang membutuhkan banyak dukungan.


Apalagi hubungan keduanya semakin dekat dan berencana menikah. Bisa dipastikan seberapa beratnya pemuda itu melepas wanita yang hendak ia halalkan.


"Di salati dimana?" tanya Julian.


"Di masjid," jawab Desta.


"Sekarang atau masih menunggu yang lain?" tanya Julian.


"Lima menit lagi, pihak rumah sakit akan mengiringnya ke sana!" jawab Desta.


Karena bagaimanapun mereka harus mengikuti prosedur rumah sakit.


"Zafira bagaimana?" Desta menatap putrinya itu dengan perasaan yang merindu, seolah ia juga takut kehilangan sang buah hati.


"Istriku baik-baik saja, Kak! Birkan dia menenangkan Zafir," balas Julian.


Setelah semua siap. Jenazah Fely di bawa le masjid untuk di salati.


Tidak banyak yang ikut hanya Julian, Desta, Reksa, Malik dan Zafran.


Suami Renata itu datang sendiri karena istrinya sedang hamil, dan sedikit rewel.


Beberapa teman kampus Fely ternyata sudah berkumpul di masjid.


Ada Boy, Rena, Hary, Sahid dan Kayra. Zafir sempat mengabari Boy selaku PK.


Mereka juga ikut menyalatkan Fely, kecuali Rena dan Kayra, mereka berdua menunggu di serambi dengan perasaan tak menentu juga.


Selesai disalatkan jenazah Zafir dibawa ke ambulance untuk dibawa ke TPU. Tempat peristirahat terkahir Fely.


"Om tadi dapat tempatnya dimana?" tanya Zacir sebelum ambulance yang membawa jenazah Fely berangkat.

__ADS_1


"Keputih,"


"Ya udah, Om duluan bareng ambulance Zafir bawa motor," ucap Zafir sembari menutup pintu ambulance.


"Om jangan lupa kabari Tante Alena!" teriak Zafir sekali lagi, entah di dengar atau tidak oleh Reksa karena ia tidak memiliki nomer kontak Mami Fely itu.


Tiba di TPU Keputih.


Iring-iringan pengantar jenazah Fely sudah siap di galian yang telah dipesan Reksa.


Dengan wajah sembab mereka mengantar putri Reksa dan Alena itu ke rumah terakhir Fely.


Rumah yang kelak akan dihuni setiap makhluk bernyawa. Dikembalikan kepada Sang pemilik nyawa.


Tak bisa kita menolak kapan dia datang. Karena kita hanya menunggu antrian panjang.


Antrian yang tak tahu kita di nomer berapa. Yang kita tahu hanya mempersiapkan semua dokumen sebaik-baiknya.


Galian itu mengingatkan kita jika kelak kita akan berada di sana sendiri. Tanpa orang tua, sanak, saudara, anak apalagi kekasih.


Mereka hanya mengantar sampai gundukan terkahir tertutup. Sampai taburan bunga habis.


Setelahnya kita hanya sendiri ditemani sepi, dalam hunian berpatok dua.


Berteman kecoak, kelabang, semut dan binatang-binatang renik lainnya. Jasad kita perlahan hancur.


Namun, ruh kita masih ada. Dia menanti kedatangan orang-orang terkasihnya di alam barzah.


Alam penantian. Penantian hingga tiba hari akhir.


Bagitupun Fely hari ini, ia pergi untuk menunggu orang-orang yang ia sayang di alam barzah. Ditemani semua amalnya.


Setelah jenazah Fely dimasukkan ke liang lahat, Julian mengumandangkan azan dengan suara yang merinding.


Membuat siapapun yang mendengar menjadi tersedu, mengingat kemana kelak mereka berakhir.


Setelah selesai penutupan liang lahat, kembali Jukian menyuarakan talqin kepada si mayit. Suara menyayat itu kembali membelah sepasang netra seorang ayah dengan mengalirkan air matanya.


Ritual Diakhir dengan pembacaan doa kali ini Julian mendoakan jenazah dengan suara merdunya, memohon agar langit dan bumi menerima jenazah Fely dengan baik.


Mengharap Sang pemilik alam berbaik hati menempatkan Fely di tempat terindah. Sebelum ke syurga.


Saat para pelayat satu persatu mulai berpamitan.


Plak.


Suara tamparan mendarat di pipi Reksa.


Auto beberapa pelayat yang masih bertahan menatap pelaku tersebut.


🌷🌷🌷🌷


Love you...


Gaes.. like, komen, dan vote yaa...


bagiin hati dan kopi doong 😘


kiss deh buat kalian...


Kalo gak punya bunga ama pisau juga gpl kok..


Wkwkk... aku maksa nih

__ADS_1


Tapi yang ikhlas yaa..


__ADS_2