TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Senyum Duka


__ADS_3

Suara sirine ambulance meraung-raung memasuki halaman rumah Buni.


Dua orang petugas mengusung sebuah keranda masuk rumah Buni.


Di belakang petugas terlihay AyahKung berjalan lemas masuk ke dalam rumah.


Jarak beberapa menit dari ambulance kendaraan yang dinaiki Aqeela dan Desta berhenti. Wanita itu turun dari mobil dengan sesengggukan.


Sementara di dalam rumah sudah ada Zafir, Ara dan Ayra menyambut kedatangan jenazah.


Dini hari tadi sekitar pukul 01.45, Buni menghembuskan napas terakhir di rumah sakit karena penyakit kanker tulang yang sudah menyebar dan merusak seluruh organ tubuhnya.


Padahal beberapa hari sebelumnya, beliau masih sehat dan aktif berjamaah di masjid.


Bahkan Zafir masih bercanda dengan sang nenek seperti biasa.


"Fir, segeralah menikah! nanti keburu Buni gak bisa lihat," ucap Buni sore itu sewaktu Zafir mengunjungi sang nenek.


"Buni, ngomong apa sih, Zafir yakin Buni panjang umur. Dan bisa melihat Zafir menikah dan punya anak. Cicit Buni," bantah Zafir kala itu.


"Hust..! Kamu bukan Tuhan!" seru Buni.


"Umur itu kita tidak akan pernah tahu. Umur itu rahasia Allah. Buni juga ingin punya umur panjang. Menyaksikan anak-anak kalian, kamu, Zafran dan Zafira tumbuh besar." lanjut Buni dengan tatapan menerawang jauh.


Isakan Zafir masih terdengar pilu, apalagi begitu jenazah Buni dipindahkan ke ranjang yang ada di ruang tamu.


Pemuda itu membuka dan menatap wajah teduh milik sang nenek.


"Buni, Zafir gak nyangka ternyata obrolan kita kemarin adalah obrolan perpisahan. Permintaan Buni adalah permintaan terakhir. Zafir hanya bisa berjanji, semoga jodoh Zafir tidak jauh. Sehingga bisa memenuhi permintaan terakhir Buni. Maafin Zafir, Buni."


Zafir menutup kembali jarik yang penutup tubuh Buni. Dan duduk di sebelah jenazah sang nenek.


"Fir...." panggil Zafira begitu sampai. Air mata sudah menemani sejak Umma memberi kabar duka kepergian sang nenek.


"Fira..." Kedua saudara itu saling berpelukan menguatkan satu dengan lainnya.


selang sepuluh menit, Zafran tiba. Wajahnya terlihat lebih tegar namun tidak dengan Renata. Gadis itu mengeluarkan air mata tanpa henti.


Bagaimanapun Buni adalah wanita yang mencintai suaminya. Buni dulu juga pernah menjaganya saat bermain bersama Zafir. Menggoda Renata kecil yang sudah mengagumi Zafran.


Zafran memeluk Zafir dan Zafira dan duduk bersama mereka sebentar.


Tak lama kemudian, Julian memanggil Zafir dan Zafran meminta bantuan kedua lelaki itu menyiapkan tempat untuk memandikan jenazah.


Renata walaupun masih dalam keadaan sedih, mengedarkan pandangannya. Wanita itu berinisiatif membantu ibu mempersiapkan pemakaman.


Mulai meronce bunga sampai bunga untuk pemakaman.


Sedangkan Zafira membantu Umma mempersiapkan kain kafan dibantu seorang wanita yang dipanggil Bu Modin.


Sesekali ibu dan anak itu menyeka air matanya.

__ADS_1


"Apa kalian  yakin akan tegar dan sanggup mengikuti prosesi memandikan dan mengkafani jenazah" tanya sang Modin dengan lirih.


"Insya Allah, Bu. Kapan lagi kami bisa berbakti kepada orang tua kami di dunia. Sebelum menyerahkan kembali kepada Allah," jawab Aqeela meyakinkan sang Modin.


Bu Modin hanya bisa mengangguk pasrah dengan keinginan sang putri.


Sedangkan Ayah Sayrief, Lelaki tua itu nampak rapuh. Matanya memang tidak berair. Wajahnya tegar. Namun beliau hanya bisa diam, tanpa suara.


Pria ini hanya tersenyum sambil mengucapkan,"Maafkan salah istri saya ."


Setiap ada yang menyalaminya mengucapkan bela sungkawa.


Setelah semua siap, Bu Mudin mengintruksikan segera menggotong jenazah untuk dimandikan.


Aqeela, Zafira dan Renata memandikan jenazah Buni dengan hati-hati.


Ketiganya menjadi saksi senyum di bibir jenazah, seakan almarhum sudah siap menghadap ilahi.


Shakira, nama kecil Buni. Wanita yang diperisitri Syarief ini adalah wanita yang sabar dan tal pernah mengeluh. Masa tuanya ia habiskan bersama sang suami.


Cita-citanya mempunyai anak solihah tercapai sudah.


Aqeela gadis yang terkenal berandal dulu, akhirnya isa insyaf. Karena doa yang selalu ia panjatkan di sepertiga malamnya.


Anak semata wayangnya ini tumbuh menjadi gadis yang tak pernah ia sangka. Sebagai seorang ibu, ia hanya bisa mendoakan dan terus mendoakan sang anak.


Selesai dimandikan, jenazah dikafani. Aqeela dengan telaten mengkafani sang ibu dengan senyum.


Walaupun ia sungguh ingin menangisi karena kehilangan salah satu orang tuanya.


Zafira dengan sedikit ilmu yang pernah ia pelajari, membantu Umma mengkafani tubuh neneknya.


Istri Julian itu mengingatkan semua kebaikan sang nenek sejak ia kecil sampai sebesar ini. Tak ada cela menurutnya.


Buni adalah nenek terbaiknya. Walaupun terkadang harus rela berkata keras tapi itu semua karena ulah jahilnya saja, tapi rasa sayangnya tak pernah berubah.


Sama seperti Umma, Zafira juga menahan tangisnya.


Selesai mengkafani jenazah. Mommy dan Daddy datang. Mereka terbang langsung dari Singapore setelah mendapat kabar kepergian sang besan.


Mommy begitu terpukul mendapati sahabatnya sudah terbungkus kain kafan. Dipeluknya sang menantu dengan erat.


"Qee... sabar ya, Nak." bisik Mommy.


Air mata yang tadinya ditahan akhirnya lepas landas juga saat Mommy memeluknya.


"Mom... Qee udah gak punya ibu lagi sekarang," bisiknya.


"masih ada Mommy, sayang. Mommy juga ibu kamu. Datanglah ke Mommy kapanpun kamu mau!" bisik Mommy tanpa melepas pelukan menantunya.


Wanita setengah baya itu paham, perasaan sang menantu saat ini.

__ADS_1


Kehilangan ibundanya tercinta.


Mommy beralih kepada sang cucu. Zafira.


Gadis itu duduk meringkuk di sebuah kursi, kesedihan tersirat jelas di wajahnya.


Mommy membawa Aqeela duduk di sebelah Zafira. Setelah menantunya tenang, Mommy merengkuh cucu kesayangannya itu dengan tenang.


Dibelainya kepala dan punggung cucunya itu.


"Sabar ya, Nak. Doakan Buni agar jalannya mudah." Zafira mengangguk pelan dalam dekapan Omanya.


Mommy beralih kepada Ara dan Ayra. kedua cucu kembarnya itu juga ikut duduk di samping sang kakak.


Wajah mereka juga sembab, menangisi kepergian sang nenek.


"Oma... Oma jangan pergi dulu ya... Oma harus nemenin Ara dan Ayra sampai dewasa!" bisik Ara.


Seketika Aqeela menoleh menatap sedih kedua anak bungusnya itu. Dipeluknya Ara dan Ayra.


Prosesi pemakaman dilanjutkan dengan menyolati jenazah.


Jenazah Buni dibawa ke masjid untuk disholati. Julian mengimami sholat jenzah dengan khusu'.


Bagi seorang Julian, Buni adalah ibu angkatnya yang luar biasa. Andai saja ia benar-benar anak kandung beliau alangkah indahnya.


Buni tak pernah membedakan cintanya dengan sang Kakak. Walaupun dirinya dalam asuhan sang Kakak, tapi Buni selalu memantau perkembangannya.


Maklumlah, Kakak angkatnya waktu itu masih begitu belia. Bahkan pengalaman mengurus anak saja belum ada.


Namun ia sudah berani membawa pulang seorang balita.


Dan Julian kecil yang waktu itu merasa sendiri di rumah sakit, begitu tertarik dengan Kakak cantik yang pandai mendongeng itu. Kakak yang ia tahu sebagai jagoan.


Selesai disholati, jenazah Buni dibawa ke area pemakaman.


Rombongan keluarga Aqeela beriring-iringan mengantar keprgian Buni ke peristirahatan terakhirnya.


Peristirahatan yang membawa kesakitan Buni lenyap.


****


Sedih gaes... aku nulisnya sampai mewek.


Terima kasih yaa.. supportnya buat aku selama ini.


Terus like, komen dan vote ya.... lalu share di sosmed.


jangan lupa juga baca "Gerbang Dosa"


Aku tunggguin komen kalian di sana.

__ADS_1


__ADS_2