
"Kalian mau kemana?" Tanya Yuna melihat Hanin dan Aqeela beranjak dari ruang tunggu.
"Cari makan." Jawab Hanin.
"Perasaan kalian berdua , akhir-akhir ini aneh deh. Masa tiap hari cari makan. Apa di rmh sudah gak ada makanan?" Omel Oca sambil menatap ke arah Aqeela dan Hanin bergantian.
"Ada. Kita cari menu baru." Jawab Hanin sekenanya.
Sedangkan Aqeela memilih diam sesekali hanya tersenyum kecil.
"Kita ikut." Pinta Yuna cepat.
"Iya, harus ikut." Oca menimpali.
Hanin dan Aqeela saling berpandangan.
"Terserah." Jawab Aqeela melalui bahasa bibirnya.
"Tapi ingat gak bole protes, gak bole tanya. Cukup ikut doang." Hanin memberi peringatan kepada dua temannya itu.
"Okay.." Sahut Yuna cepat.
"Siap. Siapa takut." Kata Oca meyakinkan Hanin.
"Ya udah, ayo San. Kita berangkat." Ajak Hanin.
Sebetulnya ia was-was mengajak dua wanita kepo ini. Tapi tidak tega juga melihat keduanya mati penasaran.
Apalagi kalo nanti bakal calon besannya itu mengomel atau menjahilinya. Ampun.
Hanin sudah membayangkan yang aneh-aneh.
"Ah, ya udahlah urusan besan belakangan..Sekarang urus Yuna sama Oca." Gerutu Hanin dalam hati.
Keempat wanita itu, naik mobil Hanin.
Dan menghentikannya di rumah Aqeela.
"Nin, jangan becanda kamu. Ini kan rumah Besan kamu?" Tanya Oca.
"Iya.. kenapa?" Balas Hanin.
"Katanya cari makan. Lha ini malah ke sini? Sebetulnya ada apa sih?" Yuna gak kalah sengit omelannya.
"Udah masuk aja. Atau kalian saya suruh balik sendiri." Oceh Hanin.
Yuna dan Ocapun menuruti permintaan Hanin. Mereka mengikuti langkah Aqeela masuk ke dalam rumah.
Saat masuk rumah, Aqeela sudah melihat, ada karpet terpasang di sudut ruang tamunya, dampar kecil di atasnya.
By Erna juga sudah menyiapkan kerudung dan buku tilawati.
"Mbak, wudhu dulu ya.." Pinta Aqeela.
Hanin segera menuju kamar mandi yang ada di dapur Aqeela dan berwudhu di sana.
"Apa-apaan ini?" Yuna malah gusar.
Dia menyaksikan sahabatnya itu mengganti pakaian seksinya dengan baju panjang walaupun masih terkesan seksi.
Hanin mengenakan kerudung pashmina yang disediakan Bu Erna untuk menutup rambutnya.
Hanin duduk di depan dampar kecil, membuka buku tilawati yang tersedia sambil menunggu Aqeela.
"Yuk kita mulai." Ajak Aqeela yang sudah duduk bersila di depan Hanin.
Oca dan Yuna sempat terpana menyaksikan adegan Hanin yang mengumandangkan ayat demi ayat Al-qur'an walaupun bacaannya kacau.
Tak jelas huruf , makhroj, panjang dan pendeknya.
Tapi semangatnya luar biasa.
Aqeela membetulkan pelafalan huruf demi huruf yang diucapkan Hanin dengan telaten.
"Mbak, hubungan mereka itu apa ya sebenarnya?" Oca jadi kepo.
__ADS_1
"Entahlah, aku juga bingung. Hanin bisa takluk di depan perempuan muda yang sederhana." Ucap Yuna sambil berbisik.
💗💗💗💗💗💗
"Nin, jelasin."
"Mbak Aqeela juga.. Ada apa ini?"
Oca dan Yuna memberondong Hanin dan Aqeela dengan banyak pertanyaan saat keduanya selesai mengaji.
"Kalian liatnya apa?" Tanya Hanin.
"Mengaji." Sahut Oca.
"Ya udah. Kita memang mengaji." Jawab Hanin.
"Sejak kapan kamu jadi alim?" Ledek Yuna.
"Sejak dua minggu yang lalu." Jawab Hanin.
"Terus kok sama Besan kamu?" Yuna masih gak terima.
"Kalo gak sama besan, sama sapa? Kalian? Emang kalian bisa apa?" Cerocos Hanin.
"Maksudnya kok gak nyari guru yang lain?"
"Kalo sama besan kan gratis. Kalo nyari guru lain kan mesti bayar."
"Somplak.." Maki Oca.
"Kok mau-maunya tuh besan kamu dikibulin kayak gitu." Ejek Yuna.
"Yaa.. yaa...ya.. ada deeh..." Hanin mengerlingkan satu mata ke arah Yuna.
"Genit..." Maki Yuna.
Ketiga tertawa cekikikan.
"Assalamu'alaikum..." Seorang anak perempuan berusia sekitar 15 tahunan mengucapkan salam.
"Wa'alaikum salam. Nyari siapa ya?" Tanya Yuna cepat.
"Eh, Zahra.... Ada apa, Ra?" Sahut Aqeela yang baru keluar dari dapur membawa minuman untuk teman-temannya.
"Ada apa Ra?" Tanya Aqeela mendekat ke remaja itu.
"Itu.. Ning, Mbak Tya.. Mbak Tya jatuh." Sahut Zahra ketakutan.
"Jatuh, gimana? Ayo antar saya ke sana." Aqeela menyeret Zahra dengan rasa khawatir.
Ketiga teman Aqeela yang sudah kepo, langsung mengekor tanpa di instruksikan.
Aqeela masuk ke asrama putri lalu menuju ke sebuah lokasi.
Di kamar 04, tergelatak gadis sepantaran Zahra di lantai kamar.
Aqeela memeriksa kondisi gadis itu.
"Panas.."
"Mbak Hanin bantu saya membawa Tya ke rumah sakit." Pinta Aqeela.
"Mbak Yun, Teh Oca tolong jaga anak-anak kami ya..." Mohon Aqeela.
Ketiganya saling berpandangan.
"Baiklah.." Jawab ketiganya kompak.
Hanin mengeluarkan mobilnya dari halaman Aqeela langusng masuk ke area asrama putri.
Aqeela dibantu beberap santri yang di sana, mengangkat tubuh Tya masuk ke dalam mobil.
Setelah mengantar Yuna dan Oca kembali ke sekolah, Hanin melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.
"Beb.., lagi sibuk gak?" Aqeela berusaha menelpon Desta saat dalam perjalanan ke rumah sakit.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Desta di seberang.
Suaranya terlihat panik, karena tidak biasanaya istrinya menelpon di jam kerja.
"Tya, pingsan. Sepertinya dia dehidrasi. Aku perjalanan ke rumah sakit."
"Habis ini aku susul." Kata Desta.
sampai di UGD, Tya langsung ditangani dokter jaga di sana.
Aqeela terlihat panik dan cemas.
"Mbak tenang." Hanin berusaha menenangkan.
Aqeela mengenggam tangan Hanin.
"Mbak, maafin aku ya.. merepotkan Mbak Besan hari ini." Ucap Aqeela lirih.
"Aku gak merasa repot, kok." Jawab Hanin sambil mengelus wanita yang kini terlihat cemas itu.
Aqeela tersenyum ada sedikit kelegaan di hatinya.
"Mbak Hanin, jemput anak-anak dulu ajalah. Biar aku yang jaga Tya." Pinta Aqeela.
"Aku tunggu sampai suami kamu datang." Ucap Hanin.
"Anak-anak gimana?" Aqeela terlihat cemas. Pikirannya bercabang.
"Anak-anak aman. Mereka di rumah Malik." Jawab Hanin.
Aqeela kembali lega mendengarnya.
"Keluarga Tya." Panggil seseorang dari UGD.
Aqeela langsung masuk dan menemui seorang dokter ditemani Hanin.
"Gimana Tya, dok?" Tanya Aqeela.
"Ibu apanya?"
"Dia santri saya, dok."
"Kami sudah melakukan tes lab, hasilnya Tya kena DB. Dan sementara harus di rawat inap di sini."
"Lakukan saja yang terbaik, dok." Ucap Aqeela.
"Baiklah ibu, selesaikan administrasinya di depan. Kami akan menyiapkan ruangan untuk pasien."
"Dok, kasih dia kamar VIP 3, ya." Pinta Aqeela.
Dokter dan Hanin nampak terkejut dengan permintaan Aqeela.
"San, diakan cuma santri. Kok, kamu taruh di VIP sih." Hanin kepo.
"Dia kan juga butuh kenyamanan. Lagian ini VIP yg kelas 3. Insya Allah kami ada persediaan dana untuk pengobatan santri juga ." Jawab Aqeela lembut.
Hanin hanya mengangguk saja, walaupun ia juga bingung.
Sepuluh menit kemudian.
"Beb..." Panggil Aqeela melihat Desta datang, diwajahnya juga terlihat panik. Sama kayak Aqeela.
"Bagaimana keadaan Tya?" Tanya Desta.
"Hasil lab kena DB dan harus rawat inap." Jawab Aqeela.
"San, aku balik dulu ya."
"Iya, Mbak. Nanti anak-anak bawa ke rumah Buninya saja ya Mbak." Pinta Aqeela.
"Makasi ya Mbak Hanin. Udah bantuin Aqeela." Ucap Desta.
"Iya, Mas. Sama-sama."
"Salam ke mister Gerald ya.."
__ADS_1
💗💗💗💗💗💗💗💗