TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Healing


__ADS_3

Zafir menatap koper-koper di hadapannya. Ada tiga koper besar dan sebuah tas berbaris rapi siap diangkut.


Cowok itu menghembuskan napas berat, dari arah belakang kedua adiknya tampak tertawa riang mendekatinya.


"Kita berangkat sekarang, kak!" ajak Ara tidak sabar.


"Tunggu Umma dan Buya. Apa kalian akan ke Malang sendiri?" oceh Zafir menatap kedua adiknya bergantian.


Kedua kembar cantik itu menggeleng bersamaan.


"Enggak," sahut mereka.


"Tapi Umma kelamaan, Kakak," seru Aira kesal.


"Sabar, Aira. kan, kata Ustazah orang sabar disayang Allah," kata Ara menasehati saudaranya.


"Uuh," sungut Aira kesal.


"Ummaaaa, Buuyaaa. Nanti kita kemalaman, looh," teriak Aira menghiraukan nasehat Ara.


"Masya Allah, Aira. Kenapa teriak-teriak begitu? Umma dan Buya dengar, kok. Kita di rumah bukan hutan," balas Aqeela keluar dari kamarnya terburu-buru.


"Umma masih pakai jilbab," lanjut Aqeela.


"Ya, maap Umma. Aira udah gak sabar," jawab Aira menyesal.


"Ya, udah kita berangkat sekarang!" Aqeela, Desta dan Zafir masing-masing menarik satu koper, sedangkan Ara dan Aira membawa tas dijinjing berdua.


**


Selama perjalanan kedua adik kembarnya terus berceletoh tanpa henti. Ada aja yang mereka ceritakan.


Zafir sampai geleng-geleng bingung. Terdengar keduanya mulai bersenandung dengan cerianya memperdengarkan lagu-lagu khas anak seusia Ada dan Aira.


Sesekali Aqeela menyela dengan bacaan sholawat dan lagu-lagu khas islami.


"Gak usah kaget dulu kamu, Zafran dan Zafira dulu juga kayak gitu," ucap Desta mengingatkan Zafir pada masa kecilnya.


Auto Zafir menoleh sejenak ke arah Buyanya, tersirat senyum bahagia saat Desta menceritakan masa kecil ketiga anak kembarnya itu


Entah apa yang dirasakan Buya saat itu, hanya saja ia juga ikut bahagia menyaksikan orang tuanya bahagia.


Meskipun, usia mereka masih bisa digolongkan senior, tetapi semangat keduanya gak kalah dengan dirinya yang remaja.


Zafir tahu jika kedua orang tuanya menikah diusia yang masih sangat belia. Namun, sampai sejauh ini ia belum pernah mendengar keduanya bertengkar atau berselisih paham di depan anak-anaknya.


Beda pendapat sesekali memang pernah, tetapi tidak pernah sampai terbawa kejenjang serius.

__ADS_1


Sebagai anak ia juga menginginkan kelak jika berumah tangga, bisa mencontoh kedua orang tuanya.


Bagi Zafir keduanya adalah Uswatun Hasanah, contoh yang baik selain Rasulullah.


Kendaraan yang dikemudikan Zafir perlahan meninggalkan Surabaya dengan kecepatan yang stabil. Apalagi saat masuk tol, Zafir menyesuaikan kecepatan sesuai anjuran.


Turun dari tol, Zafir menurunkan kecepatannya sebab ada instruksi dari sang ibu untuk mampir ke sebuah butik milik salah satu temannya.


Zafir yang sudah hafal lokasinya tanpa banyak bertanya segera menuju ke butik Tante Widi. Salah satu butik terkenal di Kota Apel.


Zafir memarkirkan mobilnya di halaman di tempat yang strategis sebab ia tidak ingin Ummanya berjalan terlalu jauh.


"Ayo turun!" titah Aqeela begitu Zafir mematikan mesin.


Tangan Aqeela menggandenga kedua adik Zafir di kanan dan kiri.


"Zafir di sini aja, Umma," tolak Zafir sembari memundurkan joknya agar bisa digunakan untuk istrirahat.


"Di dalam aja, Fir!" seru Aqeela tidak ikhlas anaknya menunggu di mobil layaknya seorang sopir. Bahkan jika ada sopir pun, Aqeela tidak mengizinkan menunggu di mobil.


"Udah nurut sana!" seru Desta menatap putranya.


Zafir pun akhirnya keluar setelah Buya memintanya untuk menurut pada Aqeela.


"Mbaak Qeee!" sapa seorang wanita berhijab modis warna blewah.


"Hai twins," sapa Widi pada Ara dan Aira.


"Halo, Tante," balas Ara dan Aira kompak dengan senyum imutnya menambah kesan polosnya kedua anak kembar Aqeela dan Desta itu.


Mereka memang beda jurusan dan beda usia. Ketika Aqeela masih menjadi Maba (mahasiswa baru), Widi sudah semester enam.


Widi juga sempat istirahat tidak kuliah setahun selepas lulus SMA, sehingga kelulusannya juga mundur.


"Wah, ini Zafir, ya?" sapa Widi begitu melihat Zafir masuk bersama Desta.


"Iya, Tante." Zafir menyalami teman Ummanya.


"Mas Des, apa kabar?" sapa Widi kepada Desta.


"Baik, Mbak Widi dan keluarga bagaimana?" balas Desta.


"Baik juga, mereka lagi liburan di rumah sekarang. Mumpung papanya di Malang," jawab Widi yang memang suaminya jarang di rumah karena tugas negara.


Suami Widi adalah seorang TNI Angkatan Laut berpangkat Letnan. Namun, apapun pangkatnya, yang namanya abdi negara harus siap sedia dengan perintah pucuk pimpinan. Begitulah yang dialami suami Widi.


Waktu berkumpul dengan keluarga adalah sesuatu yang luar biasa. Quality time sungguh-sungguh dimanfaatkan.

__ADS_1


Hanya saja, Widi sudah terlanjur janji dengan Aqeela. Ia pun menyempatkan diri bertemu teman lamanya walau sejenak.


Kedatangan Aqeela dan keluarganya tentu saja untuk berbelanja beberapa pakaian di butiknya kalo kata istri Desta, " Mumpung aku ke Malang sekalian mampir."


Zafir yang mulai bosan menunggu Ummanya mencoba beberapa gamis, memilih berkeliling ke area khusus pria.


Ada beberapa setelah yang ia sukai, terlihat elegan dan pas di tubuhnya. modelnya juga gak norak, cocoklah buat remaja seusianya.


Masih cocok gak sih, Zafir disebut remaja. (Auto ngakak aku nulisnya)


"Mbak, kamar pas sebelah mana, ya?" tanya Zafir pada seorang wanita.


Wanita tersebut menatap Zafir dalam diam, memindai wajah pemuda tampan itu dengan tajam.


"Mbak, saya tanya dimana kamar pasnya?" ulang Zafir karena wanita itu masih mematung.


"Saya juga tidak tahu, Mas," jawab wanita itu tanpa merasa bersalah sedikit pun.


"Kok, tidak tahu? Bukannya Mbak ini pegawai Tante Widi?" tanya Zafir belum terima.


Hatinya sudah terlanjur kesal belum lagi ada rasa lelah mendera tubuhnya. Berujunglah pada emosi yang tidak bisa ditahan oleh Zafir.


"Loh, saya juga pelanggan sama kayak Masnya. Tuh, itu yang pake kerudung coklat itu pegawai Tante Widi," jelas si wanita dengan ketus karena nada tinggi yang dilontarkan Zafir.


"Mbaknya juga pake kerudung coklat sama kayak mereka?" Tunjuk Zafir dengan entengnya.


Wanita yang belum ia ketahui namanya itu, tanpa sadar melirik hijab yang ia gunakan.


"Astaga," pekiknya lirih.


Tanpa permisi, wanita itu segera ngeluyur menuju bagian khusus wanita meninggalkan Zafir yang kebingungan mencari kamar pas.


Zafir memang sering ke butik Tante Widi, tetapi belum pernah sekali pun ia mencoba apalagi membeli pakaian hasil karya teman Ummanya.


Auto ia pun kebingungan mencari kamar pas. Desta yang sejak tadi memperhatikan anaknya hanya dengar cengir tanpa ada keinginan mendekat atau mencari tahu apa yang terjadi.


Dirinya pun tak jauh beda dengan Zafir. Lelah dan capek. Walaupun baru satu jam perjalanan.


Tujuan mereka masih kurang tiga puluh menit lagi baru sampai. Jadi, ia memilih beristirahat daripada membantu anaknya.


Menurut Desta, anaknya pasti bisa menyelesaiakan masalahnya sendiri tanpa ia bantu. Lebih baik ia berpura-pura tidak tahu.


***


Hai, gaees.


Bagaimana menurut kalian?

__ADS_1


TBC


__ADS_2