TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Teka Teki Satria


__ADS_3

Zafir menerima pesan dari Thifa. Beberapa jam lalu ia memang sengaja mengirimi gadis itu pesan menanyakan keberadaan Satria.


Tepatnya sesaat setelah ia dan Fely berjumpa seorang pemuda yang mirip Satria.


Ditambah kecurigaan Fely terhadap pemuda yang membonceng tante-tante seksi itu.


Auto menjadikan Zafir kepo.


Thifa


πŸ“±Hari ini Kak Satria izin, Kak. Kata teman sekelasnya.


Zafir tampak semakin curiga dengan keberadaan pemuda itu. Pemuda yang belum ia kenal latar belakangnya.


Zafir


πŸ“±Kirim alamat rumah, Satria.


Thifa


πŸ“±Thifa tidak tahu, Kak.


Zafir


πŸ“± Cari tahu segera!


Setelah itu Zafir menepikan mobilnya. Ia berharap Thifa segera mengirim alamat rumah Satria.


Bagaimanapun ia masih tidak rela Thifa bersama lelaki yang salah.


Zafir berharap Thifa bisa mendapatkan alamat rumah Satria bagaimanapun caranya atau ia tidak akan mengizinkan lelaki itu menemui anak dari Doni itu.


Sambil menunggu pesan dari Thifa, Zafir berusaha menghubungi Fely.


Hanya ada nada sambung berdering namun tidak diangkat oleh Fely. Semakin cemaslah pemuda berhidung mancung itu.


Di satu sisi ia mencemaskan Fely di sisi lain ia kepo dengan Satria.


Siang tadi ia sengaja berbohong kepada Fely tentang perasaannya. Sebetulnya ia juga memiliki feeling yang sama dengan Fely. Ia yakin pemuda itu Satria. Ia bisa melihat dari sorot mata cowok itu.


Sedangkan sisi hatinya yang lain berharap Fely segera mengangkat panggilannya. Zafir hanya ingin memastikan gadis itu baik-baik saja.


Zafir ingin tahu reaksi mama Fely saat mendapati putrinya pulang dengan pakaian tertutup dan berpaling keyakinan.


Kecemasan Zafir beralasan mengingat bagaimana Mama Fely menginterogasinya.


Sampai dua puluh panggilan tidak satupun yang terjawab.


Belum habis rasa cemasnya pada Fely, Thifa mengiriminya pesan berisi alamat rumah Satria.


"Rumah Satria nyempal lagi dari rumah Fely," gerutu Zafir.


Pemuda itu berkeinginan kembali ke rumah Fely hanya sekedar mengintip kondisi gadis cantik itu. Namun, sia-sia rumah Fely dan Satria tidak satu jalur.


Zafir melirik arlojinya.


"Jam setengah tiga. Sebentar lagi asar," gumam Zafir.

__ADS_1


Pemuda itu segera menuju masjid terdekat.


Sembari menunggu azan, Zafir menghubungi Umma Aqeela ia mengabarkan kalau pulang telat.


Tentunya di selingi curhatan tentang Fely. Dari ujung lain Umma memberikan banyak wejangan dan wawasan kepada putra sulungnya yang masih bujang itu.


"Fir, biarkan Fely menyelesaikan urusan dengan keluarganya. Beri dia kesempatan untuk meyakinkan kedua orang tuanya," ujar Umma.


"Kita doakan saja Fely berhasil. Sehingga kita bisa segera menjemputnya!" lanjut Umma.


"Umma janji setelah urusan Fely dan keluarganya kelar kita khitbah gadis cantik itu. Biar anak Umma gak sendirian terus," goda Aqeela masih di ujung gawainya.


Zafir terkekeh seketika mendengar ujaran konyol Ummanya itu.


"Umma gak takut cepet tua gitu kalo ketiga anaknya nikah muda gini?" ledek Zafir.


"Enggak tuh. Kan enak. Bisa liat cucu-cucu Umma dewasa dan menikah. Kan seru tuh jadi buyut di usia muda," jawab Aqeela lebih konyol lagi.


Zafir kembali terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Pantesan Buya gak bisa pisah sama Umma abis Umma konyol abis. Keren kayak gini! I love you Umma," goda Zafir.


"Gombal kamu, ya! Lebih sayang mana tuh Umma atau Fely?" rajuk Aqeela.


"Jangan suruh Zafir memilih Umma. Kalian berdua bukan untuk dipilih," ucap Zafir dengan logat manjanya.


"Terus?"


"Kalian berdua lebih pantas dijadiin orang terkasihnya Zafir," ucap Zafir.


"Uwiik.... udah jago ngegombal aja tuh kamu ya! Padahal Umma kira kamu cowok anteng super cool yang gak pinter ngegombal,"


"Hadeeh... auk ah. Umma tutup dulu udah azan. Kelar urusan segera pulang. Kalo mau keluyuran besok lagi. Ntar malam Umma dan Buya ada acara, tolong jagain Ara dan Ayra!" titah sang nyonya besar kepada putra kesayangannya.


"Siap, Ummaku, cantikku, sayangku, cintaku!" gombal Zafir.


"Awas kedengaren Buya kena semprot loo...!" belum sempat Zafir membalas Umma udah menutup panggilannya tanpa salam.


"Ibu gak ada akhlaq. Harusnya kan aku yang nutup. Gak salam pula!" gerutu Zafir.


"Punya Umma gaul gini amat deh!" sambung Zafir sembari memasukkan gawainya ke dalam saku celananya.


Pemuda itu memasang peci putihnya dan beranjak ke toilet mengambil wudhu.


🌷🌷🌷


Selesai salat asar, Zafir kembali mengemudikan mobilnya.


Tujuannya kali ini menuju ke alamat yang tadi Thifa kirimkan padanya.


Pemuda itu sudah lebih tenang setelah bercerita kepada Umma tentang Fely.


Kini ia fokus mencari tahu latar belakang Satria.


Tidak sulit bagi Zafir menemukan lokasi tinggal Satria. Sebuah kawasan perumahan elit. Dengan akses masuk yang tidak bisa ditembus sembarangan orang.


Pemuda itu terlihat kagum dengan lokasi tinggal Satria yang nilai cukup bagus. Ia berharap orang tua Satria benar-benar orang baik.

__ADS_1


Jika ditelisik dari lokasi kediamannya, Zafir bahkan yakin orang tua Satria bukan orang sembarangan.


Zafir berhenti di pos satpam, beberapa pertanyaan mereka ajukan.


Melihat penampilan Zafir yang meyakinkan membuat petugas jaga itu mengizinkan pemuda berpeci putih itu masuk.


Dengan santainya Zafir mencari keberadaan rumah kekasih Thifa itu.


"Ketemu, itu rumahnya!" sorak Zafir dalam hati sembari berusaha mencari lokasi strategis untuk berhenti sebagai lokasi pengintai.


Zafir menemukan ada sebuah taman di dekat rumah Satria. pemuda itu menepikan mobilnya di taman tersebut.


Kebetulan keadaan taman sedikit ramai dengan beberapa anak kecil dan pengasuhnya bermain sambil disuapi.


Setelah mendapat area yang teduh untuk beristirahat. Zafir duduk dengan santai di sana. Sambil mengamati kondisi rumah yang katanya milik Satria.


"Nyari siapa, Mas?" tiba-tiba ada seorang ibu-ibu berpakain baby sitter mendekatinya.


"Itu Bu, nyari rumahnya Satria. Tapi kayaknya sepi. Saya WA ternyata benar dia sedang keluar," jawab Zafir asal agar tidak dicurigai.


"Oh... Satria anaknya Pak Jihad? Mas Satria kalo pulang malam, Mas. Saya pernah liat jam sebelas malam kadang jam dua belas baru nyampe rumah. Sedangkan Pak Jihad dan istrinya sering bisnis keluar negeri. Jarang pulang. Coba tanya aja ke satpam yang jaga rumahnya!" ucap ibu baby sitter itu.


"Ooh... begitu. Iya deh Bu. Saya ke sana!" pamit Zafir.


Informasi ibu baby sitter itu membuat Zafir mendapat tambahan info tentang Satria.


Setelah mengucapkan terima kasih.


Pemuda dua puluh tahun itupun berjalan kaki mendekati rumah Satria. Memberanikan diri bertanya ke satpam rumah Pak Jihad.


Benar kata baby sitter itu, dari penjaga rumah Pak Jihad ia memperoleh informasi dimana Satria menghabiskan kesendiriannya.


Apartemen Jingga. Sebuah apartemen mewah di tengah kota.


🌷🌷🌷🌷


Zafir dengan kenekatannya meluncur ke sana.


Tiba di apartemen Jingga, Zafir mencari keberadaan Satria. Mudah ternyata menemukan flat pemuda arogan itu.


Sebuah flat mewah, Zafir hanya berani mengintip dari luar seperti seorang detektif.


Berbekal kacamata hitam dan masker, ia mengganti peci putihnya dengan penutup kepala hoodienya.


Zafir duduk manis di sebuah kursi tak jauh dari flat Satria.


Pemuda itu mengawasi sembari bermain game di gawainya.


Selang dua puluh menit, Satria datang bersama seorang wanita.


"Tante, ini kunci apartemen Om Jo. Jangan lupa sebelum jam 7 malam Tante sudah harus di sana!" ucap Satria kepada wanita yang bersamanya.


"Siapa Satria ini? Kenapa bersama wanita yang ia panggil Tante? Anehnya mereka juga akrab dan mesra," gumam Zafir dari tempatnya.


🌷🌷🌷🌷


Teka teki Satria.

__ADS_1


Bisakah Zafir mendapatkan informasi detailnya?


Like, Komen dan vote yaa teman-teman.


__ADS_2