
Agenda membaca diary Fely kembali tertunda karena bunyi dering gawai milik Zafir berteriak dengan kencangnya.
Tertulis nama Om Reksa di id panggilan.
"Asslamualaikum, Om." salam Zafir begitu terhubung dengan Papa Fely itu.
"Waalikumsalam," jawab Reksa dari seberang.
"Fir, maaf malam-malam harus Om telpon." Terdengar suara tidak nyaman di seberang.
"Gak pa-pa, Om. Ada yang bisa Zafir bantu?" tanya Zafir.
"Hasil visum Fely apa ada di kamu?" tanya Reksa.
"Ada Om."
"Bole Om ambil, untuj bukti laporan ke polisi." pinta Reksa.
"Bole-bole saja, kalo untuk kepentingan Fely."
"Ok. Besok temuin Om, ya!"
Setelah menyebut lokasi, Reksa mengakhiri panggilannya.
Zafir menutup pintu kamar yang menghubungkan dengan balkon.
Zafir menyelonjorkan kakinya di ranjang. Kembali ia membaca lembar demi lembar diary gadis yang namanya masih ada di hatinya.
Dear Diary,
Hari ini Zafir mengantarku pulang ke rumah Mami untuk kedua kalinya.
Aku bisa melihat tatapan matanya yang terlihat berat melepasku.
Akupun juga merasakan hal yang sama, berat untuk masuk. Namun, aku harus berani apapun resikonya demi mendapat informasi tentang Papa.
😔
Di lembar berikutnya.
Dear Diary,
Mami begitu terkejut menatapku yang masuk mengenakan pakaian menutup aurat lengkap dengan kerudungnya.
Satu tamparan di pipi kanan dan kiri terasa sakit dan panas.
Tidak puas dengan tamparan pipi, Mami menarik kerudungku dengan kasarnya.
Dilemparkannya kain segi empat warna peach yang aku kenakan.
Kerudung pertama yang dibelikan Zafir.
Rasanya sakit mendapati Mami begitu kejamnya menyakiti tubuh putrinya tanpa ampun.
Rasanya lebih lebih sakit dari luka di pipi karena tamparan Mami.
Tak berhenti di situ, Mami menyeretku ke kamar.
Dikuncilah aku di kamar.
Ponselku di sita.
Tidak ada yang bisa aku hubungi.
😞
Zafir menghembuskan nafasny kuat-kuat.
Ada rasa geram tak terhingga menyelinap di rongga-rongga dadanya.
Rasa nyeri kembali menghinggapi jantungnya. Hatinya berdegup dengan kencangnya.
Sontak ada rasa sesal dalam hatinya. Andaikan ia peka lebih awal. Ia rela menerobos rumah orang tua Fely. Menentang keinginan gadis berwajah oriental yang begitu mirip sang Mami.
Pria tampan itu kembali menatap lembaran berikutnya yang ditulis Fely.
Dear diary...
__ADS_1
Ini sudah hari yang ketiga aku disekap Mami.
Tiga hari ini, Mami dan Papi Felix bergantian mengancamku.
Aku di suruh kembali ke imanku yang lama.
Setiap kali aku menolak satu pukulan aku dapat.
Tubuhku semakin lemah.
Dalam tiga hari ini hanya sekali Mami mengirimi sebungkus nasi.
Iya hanya nasi dan air putih. Tidak ada lauk ataupun sayur di dalamnya.
Aku hanya bersyukur masih bisa mengganjal perutku.
😞😞😞
Zafir semakin gelisah membaca kata demi kata milik gadis yang kini sudah menghadap ilahi itu.
Bayangan kesakitan dan kelaparan gadis itu berkelebat di otaknya.
Marah itulah perasaan hatinya sekarang. Namun semua sudah berlalu.
Sedikit demi sedikit rahasia kematian Fely terungkap dari diary itu.
Zafir membuka lembar berikutnya.
Dear Diary,
Tubuhku sakit sekali.
Pukulan Mami dan Om Felix menyakitkan.
Belum lagi puntung rokok milik Om Felix, kulitku terasa panas.
😭
Zafir semakin geram membacanya.
Pria muda itu membayangkan betapa keadaaan Fely pasti kesulitan menghadapinya sendiri.
Yang lebih meyakinkan adalah karena semakin lama tulisan Fely hampir tanpa ada tekanan. Sudah semakin berantakan.
Bahkan Zafir membacanya sembari mengeja menerka-nerka maksud tulisan Fely.
Zafir melompati beberapa saking tidak teganya membaca siksaan yang Fely hadapi dariborang tuanya.
Ia yakin gadis itu pasti juga mengalami kesulitan berjalan.
Hingga ia menatap tanggal tetakhir sebelum Fely dikabarkan meninggal.
Dear Dairy.
Setelah salat subuh aku mendengar kalau Mami akan ikut Papi keluar kota selama dua hari.
Kemungkinan mereka tidak mengira jika putrinya ini sudah bangun dan mendengar dari balik pintu yang terkunci dari luar itu.
Masih pukul 7 pagi, aku mendengar deru mobil meninggakan rumah. Mumpung di rumah sepi, aku mempersiapkan diri keluar dari rumah bagaimanapun caranya.
Tapi karena tubuhku terlalu lemah, berjalan sangat lamban. Apalagi perutku belum terisi sejak kemarin malam.
Aku mencari cela jalan yang akan aku lewati. Akhirnya aku memilih keluar dengan melompat jendela.
Aku tidak mungkin membawa banyak barang. Aku putuskan membawa diary dan ku tutupi wajahku dengan kerudung yang ada.
Aku tidak peduli dengan pakaianku.
Beruntung aku hafal nomer Zafir, sehingga bisa aku tulis.
Aku juga sudah dapat nomer Papa, setelah Mami dan Om Felix menendang dan menempelengi kepalaku.
Mami melemparkan secarik kertas lalu keluar dari kamar.
Menyakitkan tapi perjuanganku tidak sia-sia. Aku bisa memeluk Papa kembali.
Aku berencana kabur sekitar pukul setengah tujuh. Semua sudah aku siapkan.
__ADS_1
😭
Zafir menyeka air matanya.
Kembali ada lara mengoyak sudut hatinya. Setega itukah orang tua kepada anaknya.
Dimana hati mereka.
Dimana rasa belas kasih mereka. Padahal Tuhan mereka mengajarkan kasih dengan begitu indahnya.
Nyatanya mereka berdua menyiksa putri yang sebetulnya tidak pernah mereka sayang. Putri yang hanya dijadikan alat pemuas dunia.
Karena dengan adanya Fely, Reksa bisa mengirimi mereka biaya hidup putrinya. Namun yang ada putrinya malah disiksa hingga meregang nyawa.
Sungguh terlalu.
Zafir mengumpat dan memaki kedua orang tua Fely yang begitu kejam.
Zafir membaca halaman terakhir yang ia temukan dari tulisan Fely.
To : Zafir
Fir, maafin Fely ya...
Aku takut, Fir...
Tapi nyesel udah gak ada gunanya.
Tunggu Fely bisa melarikan diri dari neraka ini.
I love You
Fely ❤ Zafir
Fely kangen banget sama kamu
Aku yakin kamu pasti nungguin kabar dari Fely.
Tapi hape Fely disita Mami.
Maafin Fely udah bikin kamu khawatir.
Salam buat Umma dan Buya.
Sampaikan sayang aku untuk mereka berdua.
Fir, Fely tiap hari ketakutan di sini.
Karena Mami dan Om Felix gak kenal waktu kalo nyiksa.
Tubuh Fely sakit semua, Fir.
Tulang Fely kayak mau patah ngilu rasanya.
Kulit Fely panas kena rokoknya Om Felix.
Udahan ya Fir, mudah-mudahan Fely kuat dan boda segera keluar dari sini.
Salam Sayang dari Fely
Buat Mas Zafir
❤
Zafir merobek halaman terakhir diary Fely. Pemuda itu meletakkan selembar kertas itu di sebua plastik tebal dan siap di laminasi.
Mahasiswa semester empat itu ingin mengenang Fely melalui tulisan tangan dan ungkapan cinta gadis yang sudah mendahuluinya menghadap sang pencipta.
Zafir menyimpan kertas berlaminasi itu ke dalam kotak yang ia gunakan menyimpan beberapa barang Fely yang ia temukan di kost gadis itu.
Pemuda berkulit bersih itu sengaja menghilangkan halaman terakhir untuk dirimya sendiri karena jelas disitu tertuju untuknya.
Sedangkan buku diary tersebut rencananya besok akan ia berikan kepad Reksa sebagai bukti penganiayaan Om Felix dan Tante Alena kepada Fely.
Zafir segera meraih bukti visum dan buku diary Milik Fely. Di masukkannya ke dalam tas supaya besok tidak terlewatkan.
Setelah aman, Zafir merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan perasaan lega.
__ADS_1