TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Nyasar


__ADS_3

"Kalo gitu segera nikah saja!" Ucap Edo seenaknya.


Pletak..


"Awwh.. gak sopan." Terial Edo, setelah Julian menyentil dahinya.


"Makanya kalo ngomomg itu dijaga, Om. Terus satu lagi gak usah bahas rumah papa lagi. Aku masih ingin bersama mereka." Sahut Julian ketus.


"Sini Om." Julian menyeret Edo keluar.


"Kita ke kantin. Mumpung di kamar lagi banyak orang." Kata Julian melihat kamar Aqeela penuh.


"Okaylah!" Edopun pasrah.


Di kantin.


"Om bawa kabar apa?" Tanya Julian.


"Ini.. permintaan kamu!" Edo menyerahkan beberapa lembar kertas ke hadapan Julian.


Julian membacanya dengan teliti.


"Hm.. lumayan juga omsetnya. Kita beli saham Gold corporation. Sanggup enggak?" Tanya Julian sambil menatap Edo.


"Yan, gak usah becanda." Edo ganti menatap Serius ke arah kliennya itu.


"Serius, Om." Balas Julian


"Tapi belinya pake nama Om Edo aja. Aku ingin lihat kehancuran orang yang sudah membuat keluargaku sedih." Sambungnya.


"Maksud kamu?"


"Seperti yang Om lihat. Kakakku kayak gini karena Wisnu Aldiano itu." Jawab Julian sambil menahan sesak di dadanya.


Edo menarik napas panjang.


"Anak ini keras kepalanya mirip Pak Atmaja. Tapi baiknya mirip Bu Rheina. Andai saja keduanya masih hidup..." Batin Edo.


"Om... Om Edo.. Hallooo.." Julian melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Edo yang melamun.


"Heem.. Apa sih Yan?" Jawab Edo sambil menyingkirkan tangan Julian.


"Jangan ngelamun di sini, banyak jinnya lo. Ntar kalo ada jin yang suka sama Om gimana?" Ledek Julian.


"Yan, gak usah bikin takut napa?" Edo bergidik.


Julian hanya ngakak seenaknya mendengar ucapan Edo yang ketakutan.


"Bocah sableng." Gumam Edo.


Julian masih tertawa mendengar ocehan Edo.


"Om minum dulu deh! Biar otaknya waras." Ajak Julian.


"Ya kamu itu yang harus waras otaknya!" Maki Edo.


"Om... Om Edo tahu gak?"


"Gak!" Potong Edo membuat Julian geli.


"Dengerin dulu." Omel Julian.


Edo menatap muka Julian dengan serius.


"Om Edo kalo marah jelek, kayak orang tua yng umur tujuh puluh tahun." Ledek Julian sambil nyengir.

__ADS_1


Bugh..


Satu pukulan mengenai lengannya dengan keras.


Julian hanya meringis tanpa suara.


"Gak punya candaan yang lebih lucu apa?" Suara tinggi Om Edo sudah berada di oktaf tingkat dewa.


"Om.. cewek bening tuh!" Seru Julian sambil menatap ke arah belakang Edo.


Auto Edo ikut menoleh ke belakang.


"Tapi bo'ong gak ada siapa-siapa?" Julian semakin tertawa ngakak karena sukses mengelabui pria setengah baya yang kesal setengah hidup padanya saat ini.


"Anak gak tau diri. Sialan. Aku kena tipu anak bau kencur ini."


"Apa Om? Lebih kenceng?" Tanya Julian sambil menatap Edo tanpa berkedip.


"Enggak kok bukan kamu."


"Makanya usia tua itu insyap Om. Otaknya bukan cuma untuk yang bening-bening doang. Banyak-banyakin ibadah.Nyari bekal sana buat persiapan ke akhirat." Nasehat Julian.


"Kamu do'ain Om cepet mati?" Edo melotot sempurna ke arah Julian.


"Haduuh susah memang ngomong sama orang yang isi otaknya cuma cewek sama duit." Keluh Julian.


"Om.. Om ini kam sudah gak muda lagi. Ingat umur. Yang usianya muda aja bisa di datangi malaikat Izroil apalagi yang tua. Jadi, kita harus nyiapin bekal. Gak hanya Om Edo. Bahkan Julian juga. Karena kita tidak pernah tahu kapan malaikat Izroil menjemput." Jelas Julian.


"Memamgnya Om Edo mau di datangi malaikat Izroil dengan tampang jutek berwajah item. Kalo Julian mah, ogah. Pengennya pas malaikat Izroil datang, Iyan sudah siap selonjor ke arah utara selatan. Jadi, malaikat Izroil datang dengan wajah cerah dan berseri."


"Omongan kamu menakutkan." Ucap Edo sambil bergidik.


"Tapi nyata loo ini." Julian kembali menegaskan.


"Om, makasi yaa..." Teriak Julian.


"Ge-Er sapa juga yang bayarin makanan sama minuman kamu." Edo membalas menggoda Julian.


"Om Edo udah bosen yaa jadi kuasa hukumku." Bisik Julian yang sudah berdiri di belakang Edo sambil berbisik ke telinga pria itu.


"Nee bocah gak tahu sopan santun banget siih." Makinya dalam hati.


"Untung aja kaya. Coba gak kaya mana mau aku disuruh-suruh kayak gini."


"Eh, tapi kata-katanya tadi bener juga sih. Masa iya aku disuruh insap sama bocah kayak dia."


Edo bergumam dengan dirinya sendiri. Sepanjang perjalanan kembali ke kamar Aqeela.


"Lhoo.. ini aku nyampe mana?" Edo clingak clinguk tidak mendapati satu orangpun di sepanjang koridor.


Edo melangkah belok ke kanan. Dan kembali celingukan.


"Kok jalannya jadi kayak gini?" Edo kembali bergumam.


Edo mendongak ke atas mencoba mencari papan penunjuk arah.


"Poli Fisioterapi, Poli Gigi dan Mulut, Poli Tumbuh Kembang, Kamar Jenazah, hiii." Edo bergidik sendiri.


"Terus aku kemana sekarang?" Gumam Edo.


"Apa aku harus menelpon Julian ya? Gara-gara bocah resek itu aku nyasar."


(Wah, Om Edo nyari kambung hitam nee. Mau ditambah nee om bogem sama jitakannya)


Edo mengeluarkan benda pipih warna hitam dari kantong sakunya. Iapun mencari kontak Julian dengan serius.

__ADS_1


Pluk..


Sebuah tepukan halus mendarat di bahunya.


"Aaawwhhh..."Teriak Edo dengan melengking.


"Maaf Pak, ada yang bisa saya bantu?" Suara seorang wanita terdengar syandu.


Edo menatap pemilik suara tersebut. Seorang gadis berambut panjang sepinggang memakai dress warna putih bersepatu putih. Untung kulitnya tidak pucat.


"Mbak Kenapa ngagetin saya?" Edo menurunkan volume suaranya yang masih ngos-ngosan efek kaget.


"Maaf mas, habis saya kasihan sama masnya kayak orang bingung gitu." Jawab si Mbak.


"Saya mau ke kamr 204."


"Oh kamar VVIP milik mbak Aqeela."


"Kok kenal?"


"Seluruh penghuni rumah sakit ini kenal semua sama pasiennya Dokter Dika dan Dokter Suzan itu." Lanjut Mbak tanpa name tag itu.


"Terus saya harus kemana, Mbak?"


"Saya antar Om. Kebetulan saya mau ke sana juga." Kata Mbak yang belum Edo ketahui namanya itu.


"Mbak, kok bisa kenal Aqeela sih?" Kepo Edo sambil jalan ke ruang rawat Aqeela.


"Mbak Aqeela kan suka ngisi kajian di sini. Makanya dia selalu dapat kamar VVIP." Jelas mbak itu.


"O..."


"Om...setelah jalan depan ini Omnya naik saja ke lantai dua. Kamar 204 berada di deketnya tangga."


"Makasi ya, Mbak."


"Sama-sama."


"Oh yaa saya Edo. Mbak siapa ya? Dari tadi kita ngobrol belum kenalan."


Edo menoleh ke sebelah kanannya.


"Lhoo kok kosong? Mbak...Mbak.. Mbak cantik kemana? Waduuh jangan...jangan di itu jelmaan makhluk.halus penghuni rumah sakit ini?" Edo langsung naik tangga sekencang-kencanya.


Sambil mulutnya terus komat kamit membaca do'a-do'a apa saja yang ia hafal.


Sebagai orang muslim, ia termasuk salah satu golongan fanatik islam KTP tulen. Sejak kecil orang tuanya tak pernah mengajarkan islam.kepadanyam.


Jadi jangah heran kalo Edo tidak peduli dengan nasehat Julian meskipun benar.


"Om Edo darimana aja?"


"Huuwaa...."


💗💗💗💗


Penakut banget sih 😅😅😅


Yang nyapa Om Edo spa ya?


Next next ya..


Genks...trm.ksh votenya


aku tunggu vote berikutnya

__ADS_1


__ADS_2