
Malik memdengar ada notive di ponselnya.
Satu pesan dari Zafira.
~Datang ke gudang. Ada yang aneh~
Malik meletakkan kembali gawainya di saku dan beralih pada Zafran dan Zafir.
"Gaes..Zafira meminta kita ke gudang!" Ucap Malik.
"Katanya mau ke toilet kok nyampe gudang?" Heran Zafir.
"Ada yang gak beres?" Sambung Zafran.
"Kita ke sana! Lik, ini kemasi dulu! Tinggal nyoba aja! Nanti kita coba setelah lihat kondisi gudang!" Zafir dan Zafran meninggalkan Malik dan berdecak kesal karena harus merapikan peralatan dua kembar itu.
"Beginilah nasib kalo minta yang gratisan!" Dumelnya.
"Lik, si triple kemana?" Tanya Dareen yang baru sampai bareng Wanda dan Alif.
"Gudang!" Jawab Malik singkat.
"Kurang kerjaan banget sih mereka?" Omel Alif.
"Zafira yang WA nyuruh ke sana!"
"Apa Zafira?" Seru Alif, wajah Alif terlihat cemas.
"Gue nyusul mereka!" Alif berbalik dan berlari.
"Woi tunggu!" Seru Malik, ia sudah selesai berkemas dan meletakkan perbekalan montir Zafir ke atas jok motornya.
Malik menyusul Alif dan Darren sedangkan Wanda ia masih bingung harus melakukan apa?
Karena kebiasaan saat genting adalah datang paling akhir dengan membawakan sahabatnya makanan atau minuman.
Tapi saat ini, ia belum tahu berada di situasi apa. Dengan perasaan tak menentu, Wanda mengekor dari belakang.
💗💗💗💗
Di tempat persembunyian Zafira.
Gadis itu penasaran dengan bungkusan yang dibawa Devan.
Beberapa teman Devan malah cekikikan apalagi beberapa menit yang lalu ada tiga orang gadis, seniornya juga bahkan sekelas dengan Devan.
Mereka datang dengan wajah ditekuk dan risih.
Devan masih membuka isinya dengan sangat hati-hati dan mengeluarkannya.
Isinya benar-benar bikin Zafira syok melihat isinya. Bermacam alat kontrasepsi, alat bantu sex , borgol dan semacam bong.
Zafira masih mengamati gerak gerik Devan dan kawan-kawannya.
"Ikat mereka!" Perintah Devan kepada teman-temannya.
Tanpa belas kasih, kelima teman Devan mengikat tangan tiga gadis tersebut.
Bersamaan dengan itu Zafir dan Zafran muncul dari belakangnya.
"Husst.." Suara Zafir meminta Zafira tenang.
Ia yakin saat ini Zafira pasti kebingungan.
"Kita lihat dulu apa yang akan mereka lakukan." Bisik Zafran.
__ADS_1
"Mereka kelainan kayaknya?" Balas Zafira dengan gemetar.
Zafran mengenggam tangan Zafira yang mulai berkeringat dingin.
Dari persembunyiannya, mereka menyaksikan Devan perlahan mendekati salah seorang gadis itu.
Mengelus paha mulusnya. Membuka kancing kemeja putihnya. Menyentuh benda bulat di dada temannya yang masih tertutup kain berenda warna putih itu dengan kasar.
Triple bisa mendengar desahan gadis itu.
Bahkan sang gadis memejamkan matanya, entah itu ekspresi menikmati atau menolak.
"Gilaa.." Oceh Zafir lirih.
Hanya sebatas itu perlakuan Devan.
"Telanjangi mereka!" Perintah sadis Devan.
Ketiga gadis itu seakan menolak dengan menggelengkan kepalanya, namun penolakan mereka sia-sia. Kelima temannya tetap melakukan perintah Devan dengan baik.
"Anjiiim..." Pekik Zafran.
"Gak ada akhlaq!" Maki Zafir.
"Udah pelorot celananya saja! Kalian kelamaan!" Devan mengalihkan perintahnya.
Mereka melepas tangannya dari kemeja gadis-gadis itu beralih ke bagian dalam roknya.
Zafira hampir menangis melihat pemandangan yang menyiksa kaumnya itu. Sedangkan Zafran sibuk menenangkan Zafira.
"Jangan bergerak dulu!" Perintah Zafir saat Malik, Darren dan Alif ikut bergabung.
"Hmm...gue cuma penasaran isi di dalamnya?" Devan bergerak membuka isi rok ketiga gadis temannya yang semakin gemetar.
"Kalian berbalik!" Perintah Devan kepada kelima kawannya.
Setelah teman-temanya berbalik Devan membuka celananya sembari memperlihatkan alat yang tadi ia keluarkan dari bungkusannya.
Sengaja ia pertontonkan aktivitas di depan ketiga gadis itu.
Dengan jijik ketiganya memejamkan matanya.
"Buka mata kalian! Atau kalian akan merem melek menikmati bersamaku?" Ancam Devan.
"Waaah... gak elegan sekali kalian! Main beginian di gudang!" Zafir keluar dari persembunyiannya dan meledek kawanan Devan.
Tentu saja Devan dan kawan-kawannya terkejut bukan main. Aksinya dipergoki orang lain.
Dengan cepat Devan mengembalikan isi celananya kembali ke tempatnya.
"Siapa kamu berani sekali, mau kita hajar?" Ancam seorang teman Devan.
"Enggak takut, toh yang main asik kan kalian. Aku cuma kasiyan sama mbak-mbak itu. Cantik-cantik kok maunya dibawa ke gudang. Lebih elegan dibawa ke hotel Mbak. Lain kali kalo diajak beginian cari hotel, Mas. Gak modal banget!" Zafir masih saja meledek.
"Gery..., Joni, Raga, Toni, Dewa.. Serang dia!" Titah Devan..
Kelimanya mengelilingi Zafir dengan murka karena altivitasnya terganggu.
Dan terjadilah pertempuran 5:1 sangat tidak imbang.
Namun menjelang Zafir terpepet, Malik dan Darren keluar dari sarangnya.
Alif dengan cepat mengalihakan perhatian Devan.
Sementara Zafira yang sudah mengganti roknya dengan celana berusaha membebaskan ketiga gadis sandera Devan.
__ADS_1
Devan yang menyadari menyingkirkan Alif dengan mudah berusaha menggagalkan niat Zafira.
"Hai gadis cantik, Sangat cantik seperti dalam bayangaku. Lihat wajah mulus kamu! Sudah bikin aku W.O.W saja."
Bug bug..
Tanpa belas kasih, Zafira sudah mendaratkan bogem ke tubuh Devan mendengar ucapan menjijikkan dari Devan.
"Kak Devan itu dianggap senior terbaik di sini, ternyata begini kelakuan Kakak." Bentak Zafira.
Merasa Zafira sanggup meladeni Devan, Zafran memberi kode Alif untuk membebaskan sandera Devan.
"Ha ha ha.. persetan dengan semua gelar yang penuh kemunafikan itu!" Tiba-tiba Devan berteriak dan tertawa dalam waktu yang bersamaan.
"Kak Devan, maunya apa?" Zafira masih mengajak Devan berbicara dengan santai dan tenang walaupun tangannya sudah gatal, tapi menyaksikan lawannya tak berdaya iapun berusaha mengontrol emosinya.
"Mereka semua cuma manfaatin gue! Elo tau itu!" Teriaknya lagi kali ini air matanya menetes begitu saja dihadapan seorang gadis bernama Zafira.
Pertempuran yang tadinya seru hening seketika begitu mendegar teriakan Devan. Dan tatapan mereka fokus pada dua sosok manusia beda gender , grade dan kemampuan yang saling berhadapan.
Saat gadis imut bernama Zafira mampu mengorek sisi lain seorang Devan.
"Mau Kakak?"
"Aku cuma ingin jadi diriku sendiri tanpa bayang-bayang siapapun." Devan masih duduk lesu beralas lantai kotor.
Zafira berusaha mensejajari posisi duduk Devan.
"Lalu, apa dengan melakukan ini Kak Devan akan jadi diri sendiri?" Tanya Zafira.
Devan hanya terdiam di tempatnya.
"Tidak bukan? Kak Devan malah akan menjadi orang lain. Orang yang Kakak kenal sama sekali." Ucap Zafira.
"Kakak sadar bukan perbuatan Kakak tadi melanggar hukum. Bagaimana coba reaksi orang tua Kakak nanti?"
"Mereka tidak akan peduli. Bagi mereka Devan harus jadi manusia perfek tanpa cacat tanpa kekurangan." Devan seakan meluapkan emosinya.
Semua cowok yang ada di situ ikut terdiam seakan terhipnotis dengan kedua manusia yang saat ini tengah beradu kekuatan.
Bukan kekuatan fisik tapi kekuatan pikiran. Yang kuat mempengaruhi yang lemah.
"Kata siapa? Setiap orang tua memiliki caranya masing-masing menyayangi anaknya."
"Tidaak.." Teriak Devan.
Bersamaan dengan Wanda datang didampingi salah seorang guru mereka.
💗💗💗💗
was wis wus wes wos
Latihan baca dulu deh
tanganku gemeteran nee gaess..
rasanya sudah panas dingin aja..
Salam cinta dari tiple buat Aunty dan Uncle semua
😘😘😘
Peaannya terus kasih like, komen, vote dan share
makasii...
__ADS_1