
"Om Edo darimana aja?"
"Huuwaa...." Sebuah suara mengejutkannya.
Napas Edo saja masih ngos-ngosan efek lari karena ketakutannya sendiri.
"Orang tua aneh. Makanya kalo jalan jangan ngelamun. Banyak sholawat. Apalagi di tempat kayak gini. Penghuninya gak hanya manusia. Banyak makhluk tak kasat mata lainnya." Ucap Julian tanpa tahu kejadian apa yang baru saja menimpa pengacaranya itu.
"Udah deh Yan, gak usah nakutin Om terus." Edo ngeluyur masuk ke ruangan Aqeela.
"Eh, Pak Edo." Ucap Aqeela begitu Edo membuka pintu.
"Masuk Pak!" Pinta Desta.
"Aku temuin Pak Edo dulu ya, Beb." Pamit Desta ke Aqeela.
Aqeela mengangguk pelan.
"Zafira temani Umma sebentar ya!" Titah Desta kepada Zafira yang sedang duduk di seberang bed Aqeela.
"Beres Buya." Sahut gadis cilik itu.
Desta dan Edo duduk berhadapan di sofa ruangan VVIP Aqeela.
"Ada perkembangan apa, Pak?" Tanya Desta.
Edo menghembuskan napas kencang.
"Mas Desta tanya langsung saja ke Julian. Bocah itu mindsetnya bikin saya mules. Entah maunya apa?" Ucap Edo.
"Turuti aja, Pak. Meskipun saya tidak tahu apa itu. Saya yakin Julian sudah memikirkannya dengan baik." Ucap Desta menenangkan.
"Boss..." Sapa seseorang dari balik pintu.
Desta dan Edo menoleh.
"Pa, salam dulu kek ato apa gitu. Ini masuk langsung panggil aja!" Oceh Desta begitu tahu yang nongol Topa.
Topa hanya nyengir mendengar omelan boss keduanya itu.
"Masuk! Duduk!" Titahnya.
Topa menyalami Edo yang sudah datang lebih dulu.
"Boss.. yakin kita mau ngobrol di sini?" Tanya Topa memandang sekeliling ruangan Aqeela dipenuhi anak-anak bosnya itu.
"Mau ke kantin?" Tawar Desta.
"Asal tidak di sini." Jawab Topa.
"Okay. Pak Edo mari ikut kita ke kantin." Ajak Desta.
Mendengar kata kantin, Edo langsung bergidik. Bayangan bertemu cewek misterius berpakaian ala suster tadi masih terbayang di otaknya.
"Mari Pak. Pak Edo nanti sendirian loo." Kata Desta.
Mendengar kata sendiri, Edo langsung berdiri.
"Okay, baik. Mari Pak." Balas Edo cepat.
Desta menyembunyikan senyum gelinya melihat tingkah Edo yang terlihat gugup.
Ketiganya beranjak ke kantin setelah Desta pamit ke istrinya.
Saat keluar dan melewati pintu ruangan Aqeela. Mata Edo menangkap sosok wanita yang tadi menolongnya.
"Mbak..." Sapa Edo kepada wanita itu.
__ADS_1
Di belakangnya ada Julian yang mengekorinya.
"Eh, Om yang tadi ya?" Sahut wanita itu saat menoleh.
"Mbak tadi kemana, saya cari kok ngilang?" Tanya Edo tampak sedikit lega.
( Pasti Om Edo ngira mbak yang tadi hantu ya? Aunty jadi pengen ketawa deh Om )
"Eh, saya ke toilet Pak. Kebelet. He he he." Jawab wanita itu sedikit konyol dan malu.
"Kok bisa sama bocah ini?" Tanya Edo sambil menunjuk Julian. Sedangkan yang ditunjuk hanya cengar cengir. Tanpa merasa berdosa.
"Oh.. Julian. Dia kan adeknya Mbak Aqeela. Memangnya kenapa? Dia disuruh kakaknya nyari saya karena sudah lama tidak bertemu." Jawab wanita itu.
"Mbak Aqeela..!" Sapa wanita itu dengan gembira melambai ke arah Aqeela.
"Mbak Anna...Masuk!" Balas Aqeela.
"Wleeek!" Ledek Julian.
"Maaf ya Om, saya masuk dulu." Pamit Anna kepada Edo.
"Pak Edo kenal sama suster Anna?" Tanya Desta yang ikut berhenti melihat Edo bercakap-cakap dengan Anna.
"Barusan tau kalo namanya Anna." Jawab Edo.
"Haa?" Desta terkekeh dan kaget mendengarnya.
Edo tersenyum masam mendengarnya, tak ada niatan untuk memceritakan pertemuannya tadi dengan Anna. Tengsin.
Apalagi sampai ketakutan karena mengira Anna makhluk dunia lain.
"Yan.. ikut kita!" Ajak Desta melihat Julian masuk bersama Anna.
Tanpa membantah Julian mengikuti langkah tiga pria dewasa itu.
💗💗💗💗💗
Desta menarik napas panjang mendengar laporan Topa.
"Jangan usik kedua orang ini. Cukuo munculkan salah satu skandal Wisnu ke media." Ucap Desta geram.
"Yakin, Kak?" Sela Julian menatap kakaknya yang biasanya kalem kini terlihat cakar dan taringnya. Buas.
Sisi lain sang kakak yang baru ia temukan.
"Mungkin ini yang dimaksud dunia hitam yang dibicarakan Dokter Suzan." Batin Julian.
"Kakak sudah menahan ini bertahun-tahun, Yan. Jangan salahkan Kakak kalo kakak bertindak sejauh ini. Kali ini Wisnu sudah keterlaluan. Tapi ingat jangan dibocorkan ke Kakak kamu." Pinta Desta.
Julian menatap Kakaknya serius.
"Kamu tetap jalankan rencana kamu. Setelah misi kamu selesai, skandal Wisnu akan muncul." Desta menjelaskan dengan gamblang apalagi setelah tahu rencana Julian.
Remaja berharta triliyunan itu mengangguk pasrah. Mau tak mau ia juga harus mengikuti aturan main sang kakak. Demi sang kakak juga.
"Kakak akan dukung kamu. Kuasai saham gold corporation. Berapa persen kepemilikan sahamnya di sana?" Tanya Desta.
"Dua puluh lima persen, milik Wisnu. Sepuluh persen milik Aisya dan Lima belas persen milik Surya." Julian menjelaskan tanpa Desta bertanya.
"Kalau harus kuasai lebih dari tiga puluh persen saham gold corporation. Gulingkan Posisi Wisnu." Desta malah memberi arahan ke adiknya.
"Kakak bantu nanti." Lanjutnya.
Edo yang mendengar obrolan kakak adik itu hanya bisa bengong. Tak bisa berkata apapun.
Apalagi sang kakak mendukung penuh misi adiknya.
__ADS_1
"Wah, benar kayak tumbu ketemu tutup. Mereka berdua klop banget." Gumam Edo dalam hati.
"Bisa jadi karakter kuat Julian, juga hasil didikan keturunan Wijaya ini." Edo masih bergumam dalam hati.
"Pak Atmaja sungguh beruntung kalian." Edo masih dalam mode memuji dalam hati.
"Pa... Topa, bantu Julian juga ya!" Pinta Desta.
"Tapi Boss.."
"Vian urusanku." Desta seakan tahu kegalauan Topa.
Topa menghembuskan napas panjang tanpa semangat.
"Urusan sama mantan boss genkster ini kapan kelarnya?" Gerutunya dalam hati.
"Gak usah menggerutu. Gaji kamu gak akan dipotong sama Vian." Kata Desta dengan meledek.
"Boss ini tahu aja. Aku kan malu." Topa cengar vengir mendengar Desta menyinghung gaji.
"Kamu tuh gak tau malu alias malu-maluin. Urusan duit aja langsung clink." Desta menatap pura-pura sebal ke arah Topa.
Pria berwajah Jawa tulen itu memang membutuhkan uang untuk menghidupi kedua istrinya. (Si Boss kalah tuh sama anak buahnya).
Karena itu Topa tak akan menolak kerjaan sampingan apapun yang ditawarkan padanya. Demi kedua istrinya itu.
"Tapi Bos serius kan?" Topa meyakinkan Desta kembali.
"Gak percaya banget sih." Omel Desta sambil mendial sebuah nomer.
"Makanya satu istri saja cukup." Ledek Vian tapi sengaja diacuhkan Topa.
"Hallo Vian..." Ucap Desta.
Ia tidak meneruskan omelannya karen Vian sudah menjawab panggilannya.
Topa yang mendengar nama Vian menjadi kikuk dan berusaha mengggapai ponsel Bosnya itu.
"Vi.. Topa aku pinjam unlimited yaa.." Ucapnya.
Desta meletakkan ponselnya di meja lalu meloadspeakernya agar bisa di dengar semua.
"Iya.. aku ikhlas kok.Kalo mau bawa aja selamanya." Sahut Vian si seberang Line.
"Jangan Mas Vian. Mas Desta nyebelin." Sahut Topa yang ikut mendengar.
Sejenak terdengar suara cekikikan keras.
"Des, Topa kamu apain aja? Inget kalo sampe dia tergores sedikit saja asuransinya seumur hidup lo." Ucap Vian.
"Beres. Kamu juga kalo waktunya dia gajian seger transfer. Awas kalo telat tidak akan aku kembalikan dia." Balas Desta.
"Mas Vian jangan yaa.. aku mau balik aja ke Mas Vian. Disini aku gak bisa lihat yang bening-bening. Ngedeketin cewek bentar aja udah di suruh ngawinin. Nyebelin banget. Terus kalo terus kayak gini gimana aku bisa dapat ngelirik yang lebih bening." Curhat Topa dengan nada ngenes.
"Ngenes banget dirimu, Pa. Terima saja nasibmu." Ledek Vian.
"Mas Vian kok gak belain aku.." Ucap Topa.
Vian malah ngakak.
💗💗💗💗💗
Wah,Topa angin-anginnya pengen nambah istri lagi tuuh.
Kita liat aja kelanjutannya ya...
Genks.. vote dong seikhlasnya
__ADS_1