
"Istri saya gimana, dok?" Suara panik Desta. Setelah Dokter Suzan keluar dari bilik ruang periksa Aqeela.
Dua jam yang lalu setalah Aqeela merasakan kesakitan pada perutnya, Desta langsung membawa Aqeela ke rumah sakit.
Ditemani Julian yang mengemudikan mobil kakaknya. Ketiganya sampai di UGD sejam kemudian.
Kemacetan dan jarak yang lumayan jauh dari rumaj membuat laju kendaraan lebih lama.
Sedangkan Pak Jamal, Pak Handoko dan Ustadz Zainal mereka menguntit dari belakang.
Keempat anak-anaknya dibawa ke rumah Bunny dan Ayahkung.
"Istri kamu sepertinya kelelahan dan stress." Jawab dokter Suzan.
Desta melepas napasnya dengan kasar, ada rasa geram di dadanya.
"Memangnya dia habis kenapa lagi?" Tanya Dokter Suzan kepo.
"Ketemu musuh lamanya, Dok." Jawabnya tidak semangat.
"Kalian tuh gak kapok-kapok ngoleksi musuh apa? Gak inget sudah umur gitu?" Ledek Dokter Suzan.
"Kita mah, sudah insyaf Dokter. Tapi musuh kita ternyata masih ngefans sama saya dan istri saya. Jadi, ya bagaimana lagi?" Jawab Desta dengan konyol, berusaha mengembalikan moodnya.
"Kalo kayak gini, gimana coba?" Omel Dokter Suzan.
"Untung kamu gak niru kakak kamu ini, Yan." Dokter Suzan menoleh ke arah Julian yang terlihat tegang juga.
"Dunia mereka terlalu hitam buat saya, Dok. Saya sudah nambahin dunia saya dengan krimer dan gula biar lebih terang." Jawab Julian mengalihkan tegangnya.
"Bisa juga kamu, melucu." Dokter Suzan menuliskan beberapa obat di resep.
"Sementara biarkan Aqeela istirahat disini, besok kalo sudah baikan saya izinkan pulang. Tadi saya sudah kasih obat penguat untuk bayi kalian. Mereka sehat-sehat dan baik-baik." Dokter Suzan menyerahkan resep ke Desta.
"Maksud dokter? Mereka itu siapa?" Julian kepo.
"Anak-anak kakak kalian." Jawab Dokter Suzan santuy.
"Maksud anak kakak saya kembar lagi?"
Dokter Suzan mengangguk.
Julian hanya menatap Desta seakan meminta penjelasan.
Desta hanya tersenyum, melihat Julian yang kepo.
"Udah yuk kita keluar dulu. Biarkan kakak kamu dipindahkan ke kamarnya." Ajak Desta mengalihkan pertanyaan Julian.
"Kak.." Panggil Julian.
"Kenapa?" Desta menoleh ke arah Julian.
"Calon anak kalian kembar lagi?" Ulang Desta.
"Iya. Puas." Jawab Desta, Julian hanya nyengir mendengar jawaban Kakaknya itu.
"Gimana Aqeela?" Tanya Pak Jamal panik.
"Udah lebih baik. Tapi sementara harus istirahat. Sepertinya ia masih syok melihat Wisnu di sekolah tadi." Jawab Desta.
"Terus?" Sahut Pak Handoko
"Sementara inap di sini. Besok kalo kondisinya sudah lebih baik sudah diizinkan pulang. Dokter masih memantau perkembangan calon anak kami." Ucap Desta tenang.
"Kak.." Seru Julian.
Desta menoleh.
"Kak Aqeela udah dipindahkan." Lanjutnya.
"Dimana?"
__ADS_1
"Ini..." Julian menyerahkan catatn kamar Aqeela. Sengaja ia tulis supaya ingat.
Desta segera melesat ke kamar Aqeela meninggalkan guru-gurunya dan Julian.
"Gak ada sopan-sopannya tuh anak. Main ninggal aja." Gerutu Pak Jamal membuat Pak Handoko dan Ustadz Zainal.
"Mari Pak Jamal, Pak.Han, Ustadz saya antar ke ruangan Kak Aqeela." Ajak Julian.
💗💗💗💗
Pak Jamal, Pak Han dan Ustadz Zainal menatap ke bed dimana Aqeela memejamkan mata.
Napasnya terlihat teratur.
"Des.." Panggil Ustadz Zainal.
"Iya, Ust.." Desta menoleh.
"Jaga Aqeela baik-baik. Biarkan dia istirahat dulu."
"Iya Ustadz. Mohon do'anya supaya Aqeela dan bayinya baik-baik saja." Ucap Desta sedih.
"Pasti. Kita pamit dulu, ya." Lanjut Ustadz Zainal.
Desta mengangguk, sambil menyalami guru-gurunya itu.
"Jaga kakak kamu, ya Yan." Pamit Ustadz Zainal.
💗💗💗💗💗
"Beb.., buka mata!" Bisik Desta ke telinga Aqeela.
Desta menggenggam tangan istrinya dan menciumi telapak tangannya.
"Maaf ya Beb, karena membuatnya seperti ini." Bisiknya.
"Kak..." Panggil Julian menjajari Desta.
"Kak.., Kakak gak usah nyesel. Ini bukan salah kakak. Mungkin ini taqdir. Kakak harus menguatkan Kak Aqeela. Kakak Aqeela butuh support dari Kakak." Ucap Julian lirih.
Desta menatap adik angkatnya dengan intens.
"Makasii ya, Yan. Kamu udah menguatkan Kakak." Jawabnya.
"Julian selalu ada buat Kakak." Remaja itu memeluk Kakaknya dengan sayang.
"Kak, aku belikan kakak makan dulu yaa!" Kata Julian sambil mengurai pelukannya.
"Kakak lagi gak nafsu makan, Yan."
"Tapi kakak harus tetap makan. Kalo kakak sakit, nanti Kak Aqeela sedih looo."
Desta tersenyum mendengar ucapan adiknya itu.
Julianpun keluar membelikan kakaknya makan malam.
Julian keluar rumah sakit, untuk membeli makanan. Karena kantin sudah tutup.
"Nasi goreng dua ya Pak." Pesan Julian kepada penjual nasi goreng yang mangkal di depan rumah sakit.
"Siap Mas." Jawab Bapak penjualnya.
"Siapa yang sakit, Mas?" Tanya seorang pembeli.
"Kakak saya, Pak." Jawab Julian lirih.
"Kenapa?"
"Kecapekan."
"Harus istirahat, Mas."
__ADS_1
"Yaa begitulah kata dokter, Pak."
"Dua puluh ribu, Mas." Bapak penjual itu menyerahkam dua bungkus nasi goreng pesanan Julian.
Julian menerima dan menyodorkan uang lima puluh ribuan.
"Sebentar mas, saya carikan kembaliannya."
"Ndak usah, Pak. Buat Bapak saja."
"Alhamdulillah..Terima kasih, Mas. Semoga Kakaknya cepat sehat."
"Aaamiiin. Terima kasih do'anya. Saya duluan ya Pak." Pamit Julian kepada Bapak yang tadi menanyainya.
💗💗💗💗💗
"Kak, dimakan dulu." Ajak Julian sambil mengamit lengan kakaknya yang masih setia duduk disamping Aqeela.
Desta dengan enggan mengikuti langkah Julian.
"Makanlah dulu, Kak." Julian membuka bungkusan nasi goreng untuk dirinya dan Desta lalu meletakkan sendok di atasnya.
Julian mulai menyendok nasi gorengnya. Dan perlahan memakannya. Diliahatnya Desta hanya diam tak menyentuh makanannya.
"Kak, buka mulut!" Titah Julian.
"Kamu tuh, kok pake nyuapin Kakak sih?" Omel Desta.
"Habis Kakak sih, makan aja kelamaan. Keburu dingin kan gak enak." Bantah Julian.
"Udah, buka mulutnya. Aku suapin." Ucap Julian sambil mengangkat sendok berisi nasi goreng ke depan mulut Desta.
"Kakak makan sendiri aja deh." Pinta Desta.
"Tapi bener ya dimakan" Ancam Julian.
"Iya.." Jawab Desta kesal.
"Assalamu'alaikum." Suara salam dari seseorang yang tidak asing, memotong perselisihan Desta dan Julian.
"Wa'alaikum salam." Jawab Desta dan Julian serempak.
"Mommy.. Daddy.." Sapa Desta.
"Mommy kalian berdua ribut. Memang ribut apa?" Tanya Mommy begitu duduk di sebelah Desta.
"Kak Desta itu loo, Mom gak mau makan. Akhirnya Iyan suapin tapi gak mau." Jawab Julian sambil mencium tangan Mommy.
"Makanlah dulu. Nanti kalo kamu sakit, Aqeela sama anak-anak siapa yang jaga? Julian udah bener tuh." Omel Mommy.
"Mommy mana pernah belain anaknya." Sungut Desta.
"Lha wong kamu salah kok Mommy bela. Udah makan dulu!" Titah Mommy tanpa bisa dibantah.
Mau tak mau Desta menyendoki nasi goreng yang dibelikan Julian. Sebetulnya rasanya lumayan enak, hanya saja karena suasana hatinya sedang sedih, ia jadi tidak berselera.
"Akhirnya habis juga. Kakak hebat. Ini berkat Mommy yang keren." Puji Julian.
"Gak udah muji-muji, kamu!" Olok Desta.
"Biarin." Balas Julian.
Mommy dan Daddy hanya terkekeh melihat kedekatan keduanya.
"Aqeela, gimana?" Tanya Daddy begitu Desta dan Julian selesai merapikan bekas makanannya.
"Halooo..."
💗💗💗💗
Maaf yaa kalo suka telat Upnya.
__ADS_1