TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Setelah pemakaman


__ADS_3

Plak.


Suara tamparan mendarat di pipi Reksa.


Auto beberapa pelayat yang masih bertahan menatap pelaku tersebut.


Mata sembab Reksa menatap pelaku yang menamparnya.


Begitupun Zafir dan keluarganya.


"Alena!" seru Reksa kencang.


"Iya, ini aku!" ucap Mami Fely itu.


"Berani-beraninya kamu membawa putriku!" Alena berniat menampar Reksa untuk kedua kalianya tetapi Felix mencegahnya.


Begitupun Zafir, pemuda itu berusaha membawa Papa Fely itu sedikit menjauh dari Alena.


"Lepasin aku, Pi. Aku mau kasih pelajaran buat dia. Kamu sudah melanggar perjanjian kita!" seru Alena dengan napas tersengal-sengal menahan amarahnya.


"Maksud kamu apa, Len?" tanya Reksa tidak mengerti maksud mantan istrinya itu.


"Dan kamu anak muda!" Alena menunjuk wajah Zafir dengan angkuhnya.


"Putriku sudah kamu racuni apa saja!" Alena kembali hendak menampar Zafir namun dengan gesit ia menahan pergelangan tangan Mami Fely itu.


"Tante... Kalo Tante ingin investigasi kita kekuar dari sini! Kasihan jenazah Fely saja baru kita kuburkan. Pemakamannnya masih basah. Kalo Tante teriak-teriak beginj dikira kita ini kenapa!" balas Zafir dengan tenang namun tegas.


Alena gentar seketika. Wanita itu mundur dua langkah setelah Zafir menghempaskan tangannya di udara begitu saja.


Zafir yang berniat mendoakan sang kekasih sebelum pulang, gagal karena ulah Alena.


Dengan wajah memerah pemuda itu melangkah keluar area pemakaman.


Diikuti Alena, Felix dan Reksa. Papa Fely itu juga penasaran dengan apa yang terjadi dengan putrinya. Karena tiga bulan ini ia memang tidak lagi menengok Fely.


Reksa merasa bahwa putrinya itu sudah dewasa, dan bisa memilih yang terbaik untuknya.


Sehingga dengan keikhlasannya ia melepas Fely dengan mantan istrinya. Ternyata keikhlasannya berbuah pahit.


Putrinya ada yang menganiaya dan ia tidak tahu siapa pelakunya. Andai saja ia masih istiqomah dengan niatan sebagai ayah yang menjaga sang putri, pasti ini semua tidak akaan terjadi.


Menyesal. Iya. Reksa menyesal sejadi-jadinya. Karena waktu tidak bisa diputar kembali. Yang sudah terlewati tinggal kita hadapi.


begitupun kali ini menghadapai kemarahan Alena yang tanpa ia tahu penyebabnya.


Setelah berada jauh dari area pemakaman, Zafir berhenti.


Pemuda itu berbalik 180 derajat ke arah Mami Fely.


"Sekarang Tante, katakan dan tanyakan apa yang membuat marah!" ucap Zafir tanpa takut.


Dibelakang Alena ada keluarganya yang juga ingin tahu apa yang diinginkan Mami Fely itu.


Bahkan Boy si PK, mengurungkan niatnya untuk pukang demi mengetahui teka teki Fely. Karena memang belum ada yang menceritakan kronologi kematian teman sekelasnya itu.


"Racun apa yang kamu tebarkan ke otak Feky, sampai dia begitu nurut sama kamu!" Alena kembali menunjuk wajah Zafir dengan marahnya.


"Aku gak ngeracunin otak Fely. Dia sendiri yang datang ke aku. Minta diajari tentang TuhanNya. Tuhan yang tertera di KTPnya bukan yang ia puji dalam doanya selama bersama Tante," ucap Zafir sejujurnya.


"Kamu pasti bohong!" Kembali tamparan hampir mengenai pipi mulus Zafir.


Tapi kali ini Reksa yang menahannya.


"Jangan tampar dia. Dia hanya perantara yang dikirim Tuhan untuk Fely. Tuhan mengabulkan doaku sebelum ia mengambil putriku. Aku berayukur karena ia kembali ke aku. Setiap malam aku tidak pernah berhenti mendoakan Fely, Allah benar-benar menunjukkan kuasaNya. Alena sadarlah. Ikhkaskan Fely!" ujar Reksa dengan berkaca-kaca tak bisa menutupi sedihnya.

__ADS_1


"Tan... aku juga mau tanya!" Sela Zafir dengan wajah tegar.


"Kenapa tubuh Fely bisa memar-memar begitu? Kemana semua pakaiannya? Kemana alas kakinya? Karena aku mengantar Fely dalam keadaan baik-baik saja. Tidak ada luka sedikitpun," tanya Zafir bertubi-tubi membuat Mami Fely itu mendadak pucat.


"Apa urusanmu menanyakan itu!" ucap Alena dengan berang.


"Jawab dia Len! Aku juga ingin tahu jawabannya!" bentak Reksa karena mantan istrinya itu berusaha menghindar.


"Mana aku tahu!" jawab Alena datar.


"Tante..., kami memang tidak tahu apa yang Fely setelah bersama Tante. Tapi Tuhan Maha Tahu. Baik Tuhan saya atau Tuhan, Tante! Jika Tante tidak mau mengatakannya sekarang jalur hukum akan kami tempuh!" ancam Zafir.


Felix melotot tajam ke arah Zafir.


"Kamu berani membawa ke jalur hukum, hadapi aku!" ucap Felix


"Okay siapa takut!" balas Zafir tanpa takut sedikitpun.


Felix kemudia menarik tangan Alena membawa jauh dari lokasi pemakaman.


"Om... Om Reksa gak pa-pa?" tanya Zafir memeriksa bekas tamparan Alena di pipi Reksa.


Reksa hanya meringis menahan perih. Ada segaris warna merah di sana. Zafir yakin luka itu akan membekas dengan goresan.


"Om gak pa-pa. Kita balik sekarang!" ajak Reksa.


"Terima kasih ya, udah jagain anak Om selama ini!" ucap Reksa.


"Kapan-kapan Om tagih janji kamu untuk bercerita tentang Fely!" ucap Reksa sembari memeluk bahu pemuda yang dicintai putrinya itu.


"Om Reksa mau kemana?" tanya Zafir ragu.


"Balik ke rumah sakit, ambil motor." Reksa tersenyum mendengar kepedulian Zafir untuk pertama kalinya ia bertanya terlebih dahulu kepada orang lain.


"Zafir anter!" tawar pemuda itu.


"Kami bawa kendaraan masing-masing kok, Pak. Silahkan saja dengan Zafir!" ucap Desta mendahului istrinya.


Reksa tersenyum melihat cara Desta melindungi istrinya seposesif mungkin. Sekikas ia sempat melirik wanita di samping Ayah Zafir itu.


"Cantik memang. Pantesan dia posesif," gumam Reksa dalam hati sebelum pamit keoada seluruh anggota keluarga Zafir dan teman-teman putrinya.


🌷🌷🌷🌷


Atas permintaan Zafir, malam itu diadakan pengajian untuk mengenang Fely di rumahnya. Bukan pengajian besar ia hanya ingin mengenang gadi cantik yang mengisi hatinya itu.


Bahkan ia meminta Buya untuk melakukannya di masjid setiap ba'da maghrib. Pengajian itu rencananya akan digelar selam tujuh hari, dilanjut empat puluh hari hingga seratus hari.


Buya yang paham kondisi hati putranya itu, hanya bisa mengiyakan saja. Jadilah tiap ba'da maghrib selama tujuh hari ada pengajian untuk mendoakan Fely.


🌷🌷🌷


Di malam ketiga, Zafir kembali teringat diary Fely. Pemuda itu segera ke mejanya mencari diary yang ia simpan dengan rapi itu.


Zafir membawa diary Fely ke balkon kamarnya. Dengan perlahan ia membuka halaman ketiga.


Dear Diary,


Hari ini aku ke gereja untuk ibadah Minggu.


Tapi rasanya hatiku hampa


Kehadiran Tuhan tidak bisa aku raskan kembali


Berkali-kali aku panjatkan doa dan puji-pujian

__ADS_1


Tapi tetap saja aku tidak.merasakan ada Tuhan di hatiku


Dear..,


terasa aneh...


Karena aku tidak pernah seperti ini


Aku selama ini baik-baik saja


Aku bisa mendengarkan petuah Romo dan pastur dengan khidmat


Tapi hari ini...


Aku tidak tahu persaan apa ini


Tuhan bantu Fely


Fely butuh dukunganMu


Peluk Fely Tuhan


😟😟😟


Zafir membuka lembaran berikutnya.


Dear Diary,


Harusnya hari ini Mami trasnfer uang bulananku tapi sampai malam gini belum ada kabar.


Fely harus apa ya?


Untung masih ada tabungan jadi bisa bayar kos


kayaknya besok Fely harus kerja lebih keras lagi.


Uang Fely pasti dipakai Mami buat Papi Felux lagi.


Fely sebel liat mukanya Papi.


Sok imut dan kegantengan padahal masih bergantung juga sama Mami


Mami juga kenapa sebodoh itu, mau-maunya diporotin Felix.


Mungkin Papi nikahin Mami karena uang tunjangan Papa Fely kalee yaa..


Kalo iya biar Fely kutuk jadi angin saja mereka berdua.


Zafir tersenyum mambaca tulisan konyol Fely itu.


Tulisan yang akan mengobati kerinduannya pada gadis cerewet itu.


🌷🌷🌷


Uwiikkk... double up pemirsa


mumpung otaknya jernih


jan lupa .. kirim bunga dan pisau


atau hati dan kopi


karena kalo ngarep piala susah kalee yaa..


🤭🤭🤭

__ADS_1


jempolnya di klik yaa...


__ADS_2