TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Triple (1)


__ADS_3

Setelah agenda adu argumen yang sebetulnya mengeratkan hubungan persaudaraan si triple selesai dengan Julian sebagai wasitnya.


Ketiganya saling diam.


Hingga terdengar bedug adzan maghrib dari masjid.


Aktifitas kedelapan manusia itupun berhenti, berganti mereka segera mempersiapkan diri menghadap Tuhannya.


💗💗💗💗💗💗


Selesai sholat maghrib triple dan Julian kembali ke rumah. Sedangkan Mommy dan Daddy masih di rumah Ayah dan Ibu. Mereka masih ingin melepas rindunya.


"Uncle hape aku dimana?" Teriak Zafran begitu masuk kamar.


"Hape aku juga?" Sahut Zafir.


"Uncleeee... hapenya Zafira disimpan siapa?" Zafira keluar kamar dengan setengah berteriak.


"Kalian itu, baru juga setengah menit yang lalu masuk rumah sudah nyari hape. Memangnya mau telpon siapa sih?"


"Renata." Jawab Zafran


"Komplotan kitalah Uncle." Sahut Zafir.


"Ada deeh." Sambung Zafira dengan senyum misterius dan menggoda.


Julian hanya tepuk jidat mendengarnya.


"Mending kalian masuk kamar, Uncle pusing mendengar kalian ribut terus." Usir Julian kepada ketiganya.


Auto ketiganya langsung masuk kamar masing-masing tanpa pamit apalagi menghiraukan gerutuan Julian, bagi ketiganya gak ada waktu.


Julian sampai geregetan dengan triple.


"Anak-anak ini makin lama makin nyebelin aja kalo di rumah."


Julian kembali ke kamarnya dengan wajah dongkol.


💗💗💗💗💗💗


"Uncleee... Zafir main dulu yaaa!" Suara Zafir sambil mengetuk pintu kamar Julian.


"Mau main kemana?" Tanya Julian sambil membuka pintu.


"Main ke sebalah."


"Ya udah. Hati-hati ya.. jalannya minggir di kiri. Awas ada becak. Kalo ada mobil segera ke tengah. Kalo mau nyebrang tolah toleh..."


"Kocaaak..." Potong Zafir sambil melambaikan tangan ke arah Julian.


Julian hanya terkekeh mendengar komentar Zafir.


Meskipun menyebalkan, yang Julian suka dari ketiganya mereka selalu pamit saat bepergian kemanapun.


Sebelum menutup kamarnya ia menoleh ke arah pintu kamar Zafran dan Zafira. Masih tertutup dan tidak ada tanda-tanda penghuninya keluar.


Julianpun menutup pintunya kembali. Jiwa raganya begitu lelah hari ini. Seharian berkeliling dari Surabaya-Kediri-Surabaya.


Julian ingin segera menutup matanya dan menempati dunia mimpinya.


💗💗💗💗💗💗


Zafir mengetuk pelan pintu rumah Doni. Tak lupa ia juga mengucapkan salam dengan kencang.


Karena penghuninya sepertinya berada jauh di belakang. Zafir menoleh ke dinding.


"Lho, ada bel? Sejak kapan Om Doni pasang bel?" Zafir menekan bel tersebut.


Suaranya nyaring. Sampai Zafir menutup telinganya.


"Ini bel atau apaan sih. Suaranya berisik sekali?"


"Kenapa, Fir? Kok telinganya sampai di tutup?" Doni membuka pintu dengan keheranan melihat tingkah anak bosnya itu.


"Berisik."


Doni hanya tersenyum lebar mendengar jawaban Zafir.


"Masuk!" Ajak Doni.


"Ada perlu apa? Tumben ke sini?"


"Ya udah Zafir pulang nee kalo di usir." Goda Zafir mendengar Doni menanyakan keperluannya.


"Mau ketemu Thifa, Om." Jawab Zafir.


"Sejak kapan kalian dekat."

__ADS_1


"Sejak Thifa di dalam perutnya Tante Mitha." Jawab Zafir asal.


Doni sampai ngakak mendengar jawaban bocah itu.


"Fir, emang kamu gak kangen gitu sama Buya dan Umma kamu?" Tanya Doni sambil menatap wajah Zafir.


"Ya kangenlah, Om. Emang Om gak kangen gitu sama Zafir?" Balas Zafir.


"Gak."


"Om ternyata sadis banget." Oceh Zafir.


"Mau ketemu Thifa enggak?" Tanya Doni.


"Ya maulah Om."


"Mau, tapi ngatain sadis sama bapaknya." Doni pura-pura marah.


"Terus maunya Om, Zafir ngomong gimana? Masya Allah.. Om Doni.. Om memang paling baik sedunia. Gitu?"


Doni ngakak dengan spontan mendengar jawaban Zafir.


"Lebay..." Komen Doni.


"Lha Om pilih yang mana?"


"Kamu tuh yaa.. gak jauh beda kayak Aqeela." Doni menghentikan ucapannya.


"Lha kan memang ibu saya."


"Udah ah, capek ngomong sama kamu. Eh, tapi anak Om masih kecil lo yaa..baru juga kelas satu. Awas kalo kamu apa-apain.". Ancam Doni.


"Gak akan Zafir apa-apain. Paling Zafir bikin jatuh cinta."


Pletak.


Satu jitakan dari Doni tepat di kening Zafir.


"Sakit Om." Zafir mengaduh sambil memegang keningnya.


"Masih lama bocah. Jangan ajari cinta-cintaan."


"Lha terus kalo Thifa sayang sama Ayah Bundanya apa itu bukan cinta?" Sahut Zafir.


"Salah gue dimana ya? Apa gue aja yang terlalu posesif sama Thifa?" Batin Doni.


"Serah kamu deh. Om panggilin Thifa dulu." Doni masuk sebentar dan kembali bersama Thifa.


"Kaak Zafiir.." Teriak Thifa kegirangan melihat Zafir ada di ruang tamunya.


Zafir hanya tersenyum sambil melambai meminta Thifa duduk di dekatnya.


"Kak Zafir kapan pulang?" Tanya gadis cilik berambut sebahu itu.


"Barusan. Thifa habis potong rambut ya?" Ucap Zafir.


"Iya, kata Bunda kalo masih kecil rambutnya pendek saja. Kan Thifa belum bisa nguncir rambut sendiri." Thifa mengangguk sambil menjelaskan alasannya.


"Gak pa-pa, Thifa belajar nguncir rambut aja dulu. Nanti kalo udah bisa rambutnya panjangin yaa." Pinta Zafir.


Thifa mengangguk perlahan.


"Rapotnya Thifa bagus gak?" Tanya Zafir.


"Bagus kok Kak. Nilainya 100 semua. Tapi banyak kata-katanya Thifa gak inget tulisannya apa."


Zafir terkekeh mendengarnya.


"Gak usah dihafalin. Aku juga gak nanya kata-katanya."


Thifa kembali tersenyum mendengar ucapan Zafir.


"Besok kita main yuk, Thif." Ajak Zafir.


"Kemana, Kak?" Tanya Thifa dengan antusias.


"Thifa pengennya kemana?" Zafir meminta pendapat gadis berusia tujuh tahun tersebut.


"Ke Time Zone, Kak." Ajak Thifa.


"Bolee.. besok jam 10 kita berangkat ya."


"Naik apa, Kak?" Thifa sepertinya was was, karena setau dia Zafir belum diizinkan bawa motor apalagi mobil.


"Naik taksi online banyak."


Thifa sepertinya berpikir kembali.

__ADS_1


"Sama teman-teman kakak yang waktu itu?" Thifa tidak bisa menyebutkan nama karena ia memang tidak hafal nama genk komplotannya Zafir.


"Belum tahu. Tapi kalo mereka ikut, Thifa gak keberatan kan?"


"Enggak pa-pa kok, Kak.Mereka juga baik." Jawab Thifa.


Dari jauh diam-diam ia mengintip aktifitas Zafir dan Thifa.


Ia hanya melihat anaknya tersenyum dan kegirangan berkali-kali, tanpa bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


"Ternyata bocah itu bisa juga diandalkan. Meskipun sedikit nyebelin kayak emak bapaknya. Paling enggak dia punya ilmu yang cukup buat jaga anak gue." Batin Doni.


"Om.. Zafir pamit pulang!" Teriak Zafir dari ruang tamu.


"Iyaa... Gak usah teriak-teriak. Gak sopan tahu." Doni keluar.


"Om.. kepo yaa!" Bisik Zafir setelah dekat Doni.


Doni menoyor kapala Zafir pelan.


Zafir dan Thifa hanya tersenyum melihat tingkah Doni.


"Oh ya besok, Thifa diajak Zafir jalan-jalan ya." Kata Zafir sebelum pulang.


"Kemana?" Tanya Doni.


"Time Zone."


"Sama siapa?"


"Om mau ikut? Byuh interogasinya bikin telinga panas."


"Emang kenapa kalo Om ikut?" Tanya Doni keheranan.


"Lumayanlah Om, irit ongkos taksi." Jawab Zafir.


Plaaak...


Satu pukulan di lengan Zafir dari Doni.


"Auuh.. sakitlah Om. Baru satu jam di sini badanku udah kena warning. Apalagi seharian aduuh Thifa Ayaj kamu ini galak atau sadis sih sebetulnya?" Ledek Zafir sambil mengadu.


"Udah kalian jalan-jalan aja sendiri. Masa anak king Desta nebeng mobil asistennya. Gak malu apa?" Balas Doni.


"Enggak tuh. Kan yang jadi king bapaknya bukan anaknya." Balas Zafir.


"Sekarang mending kamu pulang deh. Besok pagi jemput Thifa." Usir Doni.


"Da da Thifa. Mimpi indah ya... Assalamu'alaikum." Zafir melambai ke arah Thifa.


Thifa hanya tertawa kecil sambil menutup mulutnya. Karena baginya saat Ayahnya marah dengan Zafir adalah pemandangan yang menyenangkan.


Jarang-jarang sang ayah terlihat menyebalkan begitu.


💗💗💗💗💗


Zafira dan Julian sedang mengelilingi komplek perumahan mereka sambil berlari-lari kecil.


Setelah jama'ah subuh tadi, Julian mengajaknya jogging keliling kompleks.


Zafira mengiyakan saja. sekalian melatih fisiknya kembali.


Aktifitas yang hampir tidak pernah Zafira lakukan mulai masuk pesantren.


Auto sejak masuk pesantren semua aktifitas fisiknya terbatas. Di pesantren ia disibukkan dengan mengaji, sekolah formal dan sekolah diniyah.


Selebihnya ia istirahatkan tubuhnya yang lelah. Bukan karena aktifitas fisik tapi aktifitas otaknya yang terus dipakai.


Jadi tidak heran baru satu kali putaran, napas Zafira sudah tersenggal-senggal. Beberapa kali ia juga berhenti.


"Neee...!" Julian melempar sebotol air minum kemasan ke arah Zafira.


Sengaja pemuda itu menunggu Zafira di sebuah warung hanya untuk membelikan air.


"Makasii..."


💗💗💗💗💗💗💗


To be continue


trm kasih semua...


untuk


like


komen

__ADS_1


and Vote


__ADS_2