TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Fely dan Zafir


__ADS_3

Meski dengan mata sedikit sembab, Zafir membawa Fely menghadap Umma.


Zafir menceritakan masa lalu Fely yang menyedihkan.


Aqeela menyimak dengan penuh keprihatinan.


"Papamu dimana sekarang, Nak?" tanya Umma prihatin.


Fely menggeleng.


"Ya udah, apa kamu sudah siap bersyahadat?" tanya Umma.


"Siap Tante."


Zafir kembali terkekeh mendengar panggilam Fely.


"Fir, Umma dan Fely serius. Panggilkan Bu Darmi dan Bu Erna ke sini!" titah Umma.


"Iya..." tanpa membantah zafir mencari dua ART yang sangat setia.


"Bu sini, jadi saksinya Fely!" pinta Aqeela begitu kedua ART tersebut datang.


"Kamu juga, Fir! duduk sini!" titah Umma.


"Sebentar Umma...!" tahan Zafir.


Pemuda itu melesat ke atas. Hanya beberapa menit, ia kembali membawa selembar kain.


Entah keberanian dari mana, Zafir menutup kepala Fely dengan kain panjang milik Zafira.


Kain yang biasa di sebut pashmina itu menutup kepala Fely walau tidak sempurna.


"Cantik," gumam Zafir lirih dengan senyum.


Fely sampai menunduk tersipu.


Sedangkan Umma mencoba memukul anaknya yang mulai genit itu karena menggoda Fely.


Zafir menghindar dengan gesit.


"Umma gak usah sok-sokan jadi jagoan deh. Ingat umur. Anak juga sudah banyak. Bentar lagi jadi nenek juga, masih saja godain brondong?" ledek Zafir.


"Masya Allah anak ini. Minta dibalikin ke perut apa?" kesal Umma.


"Hahahah...." Zafir hanya terkekeh sembari duduk di sebelah kanan Umma.


Sedangkan di sebelah kiri Umma ada Bu Darma dan Bu Erna yang masih bingung dengan Fely.


Mereka berlima duduk bersimpuh di karpet.


Fely duduk berhadapan dengan Umma.


"Kamu sudah siap?" tanya Umma lagi.


Gadis itu mengangguk lirih.


"Baiklah tirukan Umma!"


Aqeela mulai mengawali dengan membaca Basmalah dan sedikit pra kata untuk Fely.


Dengan suara tegas, Aqeela membimbing Fely mengucapkan dua kaliamat syahadat.


Iringan suara hamdalah berkumandang di ruang tamu Aqeela.


"Mbak Fely, yang istiqomah ya!" ucap Bu Erna dengan berkaca-kaca.


"Mbak Fely, semoga dikuatkan imannya!" sambung Bu Darmi sebelum keduanya kembali ke dapur.


"Umma terima kasih," ucap Fely lirih mengalihkan rasa leganya.


Gadis itu mulai membiasakan diri menyebut Aqeela dengan Umma, seperti yang Zafir inginkan.


Umma hanya tersenyum, tangan wanita itu membelai rambut Fely dengan lembut.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Umma.


"Lega," ucap Fely.


"Rencana kamu sekarang apa?"


"Ingin belajar islam, Umma. Karena yang kemarin-kemarin kan hanya angin lalu. Tidak pernah masuk di hati Fely."

__ADS_1


"Main-mainlah ke sini belajarlah dengan Umma. Jika tidak sempat biar digantikan Zafir," seru Umma.


"Tapi Umma....," protes Zafir.


"Ini perintah!" Zafir hanya menarik napas panjang mengingat yang meminta adalah Ummanya langsung.


"Ya udah..." pasrah pemuda itu.


🌹🌹🌹


Semakin hari, Zafir semakin dekat dengan Fely.


Setiap jam salat duhur, Zafir mengajak Fely ke masjid jamaah. Jika tertinggal maka Zafir menjadi imam untuk Fely.


Di kelas mulai beredar kabar kedekatan keduanya.


Bahkan banyak yang menyimpulan keduanya pacaran. Tapi tidak bukti yang menjurus ke arah sana.


"Fel..." panggil Zafir yang sudah mendengar azan duhur.


Fely yang paham segera pamit ke teman-temanya.


"Ciyee yang sudah siap jadi makmumnya Abah Zafir," celetuk seseorang.


Fely seketika melotot kepada teman-temannya.


Sedangkan Zafir hanya terkekeh mendengarnya.


"Tuh si Aa' Imam aja gak pa-pa. Makmumnya malah sewot," goda yang lain.


Zafir malah tertawa lebih keras, sedangkan Fely semakin jengkel.


"Udah yuk, Fel. Biarkan mereka mati penasaran!" ajak Zafir yang diekori Fely.


"Astaga Abah Zafir kita masih hidup.Hidup penasaran lebih tepatnya," pekik salah satu lagi.


Zafir tidak mempedulikan ucapan dipenuhi godaan dari teman-temannya.


"Astaghfirulloh, kalian berduaan lagi." Tiba-tiba ada Malik muncul di masjid.


Rupanya anak itu juga hendak jamaah.


"Emang kenapa?" tanya Zafir.


"Ngomong apa sih kami ini. Lik?" Zafir melepas sepatunya masuk ke masjid.


"Fel, sabar ya..." gumam Malik di dekat Fely.


Zafir segera menarik Malik menjauh dari Fely.


"Gak usah ndengerin dia, Fel!" kata Zafir.


"Ngomong apa kamu ke Fely?" tanya Zafir dengan wajah sebal.


"Ampun, Bang jago!" ucap Malik konyol.


"Ahh..." Zafir melepas Malik membuka kran dan mulai membasahi wajah, tangan dan kakinya dengan air wudhu.


Malikpun melakukan hal yang sama.


🌹🌹🌹


"Fir..." panggil Malik seusai pemilik mata tduh itu menyelesaikan dzikirnya.


"Kenapa?" Zafir mengajak Malik menepi dan berbicara di teras masjid.


"Gak ada niatan halalin Fely?" tanya Malik.


"Belum ada perintah dari Allah," jawab Zafir seenaknya.


"Anjir... Kamu kira Nabi kali pake di perintah!" Maki Malik.


"Pake hati kamu, broo!" Malik menunjuk dada Zafir.


Cowok dingin itu hanya tersenyum bingung.


"Emang harus gitu? Deket cewek terus dihalalin?" ucap Zafir seakan tanpa dosa.


"Lama-lama ngobrol sama kamu aku stroke,* Malik semakin kesal dengan sahabatnya.


"Tenang Bro..., nurut kamu apa Fely suka sama cowok gak modal kayak aku gini?" tatap Zafir serius.

__ADS_1


"Emang kamu butuh modal berapa? Sini aku pinjemi!" Malik mengeluarkan dompetnya.


"Kampret!" umpat Zafir yang sudah serius saja.


Malik terpingkal-pingkal puas bisa membalas rasa jengkelnya pada Zafir.


Zafir meninggalkan Malik yang masih menertawakan kepuasannya.


Fely yang menyaksikan perdebatan dua sahabat itu hanya menggeleng lirih.


Sesekali Zafir melirik gadis di sebelahnya yang selalu menundukkan kepalanya saat bersamanya.


Senyum Zafir mengembang mengingat bagaimana ia bisa sedekat ini dengan Fely.


Namun sejauh ini, memang belum pernah terlintas keinginan dalam hatinya menghalalkan siapapun.


Apalagi setelah tragedi Thifa. Zafir masih berpikir ulang untuk ke jenjang yang lebih serius.


Sebagai lelaki, tak munafik ia tertarik dengan kepribadian mandiri dan tegar Fely.


Terkadang ia memang menginginkan sosok. seperti Fely menemaninya.


Hatinya mengatakan iya, tapi otaknya menolak.


Zafir masih memberikan ruang pada hatinya untuk menentukan semuanya secara alami tanpa paksaan dari manapun.


🌹🌹🌹


"Fir, Umma besok ada di rumah gak ya?" tanya Fely di suatu kesempatan. Saat keduanya menikmati makan siang.


Sebetulnya, Fely menolak ajakan makan siang Zafir. Tapi pemuda itu bukan orang yang dengan mudahnya ditolak.


Endingnya Fely selalu bisa dipaksa tanpa syarat oleh Zafir.


"Ada. Mau ke sana?"


Fely hanya mengangguk.


"Ada yang ingin aku tanyakan ke Umma." sambung Fely.


"Apa gak bisa diwakilkan ke aku?" goda Zafir.


"Yakin? Mau jawab?" tanya Fely ragu.


"Tergantung," balas Zafir.


"Mati dong aku," senyum Fely mendadak menggetarkan jantungnya.


"Apaan sih?" tanya Zafir.


"Aku mau tanya ke Umma. Kalau anak perempuan nikah, apa walinya harus ayah kandungnya?" Tatap Fely serius.


Membuat jantung Zafir semakin tidak terarah.


"Iya..., tapi ada beberapa hal yang menggugurkan kewajiban sang ayah. yaitu si Ayah sudah meninggal. Ayah mengkuasakan perwalian atas anaknya." Zafir tanpa sengaja membalas tatapan Fely.


Sontak Zafir dan Fely saling menunduk.


"Yang berhak menggantikan perwalian, saudara sekandung dan seayah. Saudara laki-laki dari pihak ayah baik yang nasabnya ke atas atau ke bawah." ucap Zafir.


"Bisa juga dengan wali hakim, dengan penyerahan hak perwalian dari sang ayah." pungkas Zafir.


"Kapan kamu nikah, Fel?"


🌹🌹🌹


Zafir kepoo...


Sekedar ngingetin...


Share dan bikin testimoni cerita Triple Z atau Mendadak Ustadzah di sosmed kalian. Boleh di wall pribadi atau di grup Fb. Lalu tag aku ya....


fb : ursula maria


ig : @maria_suzan


aku ambil 3 orang untuk dapat pulsa masing-masing Rp 25.000


jangan lupa, kirim screen shootnya ke massanger atau DM aku kalo udah kirim.


waktu share mulai hari ini sampai tanggal 15 maret.

__ADS_1


Aku ambil yang postingan terbaik kalian.


__ADS_2