
Julian masih sibuk menyiapkan acara yang akan dimulai tiga puluh menit lagi.
Tiba-tiba Semar datang dengan napas ngos-ngosan.
"Yan, gawat." Seru Semar.
"Apaan?" Julian sedikit terusik dengan sikap Semar yang tidak biasanya.
"Qori' nya gak bisa datang. Dia kecelakaan pas berangkat kesini."
"Inna lillahi wa inna ilaihi roji'un."
"Udah dapat gantinya?" Sambung Julian ikut panik.
"Belum. Dan itu yang bikin aku pusing."
"Anak Rohis coba dihubungi?"
"Mereka sudah kehabisan stok."
"Yan..." Semar menatap intens ke arah Julian.
"Apa?" Perasaan Julian udah gak enak aja melihat bahasa tubuh temannya itu.
"Plisss.. Kali ini aja. Bantuin gue. Demi acara ini Yan."
"Gue udah tahu elo siapa? Mungkin anak-anak lain bisa elo kibulin. Tapi tidak dengan gue."
"Elo jebolan pesantren. Kakak elo punya pesantren. Dan sebenarnya Elo juga jagoan kan? Ilmu bela diri elo tidak bisa dikatakan abal-abal."
Julian menarik napas panjang melirik ke arah Semar.
Berat.
Selama ini Julian mati-matian menutupi jati dirinya. Tapi kenapa harus Semar yang memintanya.
"Mar, aku nutupi ini dari kalian supaya kalian gak minder. Tapi kenapa harus di publish begini. Aku gak bisa, Mar." Bantah Julian.
"Yan, pliss.. cuma kamu harapankun satu-satunya." Semar terus memohon kepada Julian.
Julian memejamkan matanya. Remaja itu seolah mencari jalan keluar daei permasalahan sahabatnya itu.
"Yan, lima belas menit lagi mulai." Semar mulai panik.
Ponselnya terus berdering. Nama Daud terpampang di monitornya.
"Yan, Daud udah koar-koar." Semar semakin putus asa.
Ia sudah tak tahu lagi, harus meminta tolong pada siapa.
"Bawakan aku jubah dan sorban." Ucap Julian tiba-tiba sambil berdiri dan berjalan menjauh dari ruang OSIS.
"Lima menit lagi, aku tunggu di sini." Ucap Julian sebelum keluar dari pintu.
Semar bernapas lega dengan ucapan Julian. Tanpa menunggu lama ia segera menelpon seseorang meminta semua perlengkapan yang diajukan Julian.
Tak sulit memang bagi Semar, ia tinggal meminta orang kepercayaan ayahnya untuk mengabulkan semua keinginannya.
Saat ini yang ia pedulikan hanya kelancaran acaranya. Bahkan Julian kemana saat ini ia tak peduli.
Baginya dengan Julian mengiyakan permintaannya saja ia sudah bersyukur.
Lima menit berlalu.
Julian sedang menunggu atribut yang ia minta dari Semar. Setelah sebelumnya ia ke toilet masjid untuk buang kecil dan berwudhu.
Semar datang membawa paper bag lalu menyerahkan pada Julian.
__ADS_1
Julian segera mengganti pakaiannya drngan atribut pakaian ala orang timur tengah itu dengan santai.
Beruntung jambang dan jenggot tipisnya belum ia cukur semalam. Jadi ia merasa penampilannya sangat sesuai. Apalagi dengan kadar kegantengannya yang super. Dijamin bikin pangling.
"Maksud kamu pakai baju beginian apa coba, Yan?" Tanya Semar yang sedikit kepo karena ini bukan karakter Julian.
"Nyamar. Biar gak pada ngenalin kalo yang lagi baca tilawah itu Julian. Ketos mereka yang urakan." Omel Julian mengingat semua kelakuan urakannya kepada teman maupun penghuni sekolah lainnya.
Tapi tentu saja ia tidak berani membantah guru.
Semar ingin tertawa sekencang-kencangnya mendengar ucapan Julian, namun sengaja ia tahan Khawatir Julian ngambek. Bisa gagal acaranya dong.
Julian menyelesaiakan dandanannya dengan cepat.
"Yan, elo udah kayak pangeran-pangeran dari Arab sono deh. Makanya cewek-cewek pengennya nempelu terus ke elo." Ucap Semar tanpa berkedip menatap ke arah Julian.
"Prince Hamdan?" Seru Andini yang tiba-tiba masuk.
"Iya Price Hamdan KW." Ucap Semar.
"Maksud Lo? Dia siapa?" Tanya Andhini yang tidak mengenali Julian.
Bersamaan dengan itu, gawai Julian berdering. Saat ia lihat penelponnya ternyata sang kakak.
Akhirnya iapun menerimanya dengan berat hati
"Assalamu'alaikum. Iya Kak?" Jawab Julian. Siapa lagi yang dipanggil Kakak kalau bukan Aqeela atau Desta
"Wa'alaikum salam. Ada tamu spesisl buat kami." Suara laki-laki.
Desta.
Betul. Jempol.
"Siapa?" Jawab Julian.
"Waduuh.. siapa kamu?" Teriak Desta dari monitor begitu melihat Julian.
"Ini Iyan, Kak."
"Coba deketin kameranya?" Desta menatap Julian Intens memastikan bahwa itu benar Julian adiknya.
"Ngapain pake baju kayak gitu? Kayak Syekh yang mau ngisi tausiyah aja." Ledek Desta.
"Lagi misi penyamaran, Kak. Dia mau qiro'ah tapi gak mau nunjukkan wajah aslinya." Semar ikut nimbrung.
Sementara Andhini hanya melotot sambil menutup mulutnya. Saking kagetnya dengan pemuda berpakaian ala pangeran Arab.
"Cowok aneh." Maki Desta.
"Makin ke sini makin mirip aja sama kakak kamu." Celoteh Desta dengan menahan senyum.
Teringat tentang Aqeela remaja yang super jutek jika berhubungan dengan genk-nya.
"Tuh, tamu kamu!" Desta mengarahkan kameranya pada seseorang.
"Lhoo Wisnu dan Surya?" Tanya Julian.
"Ya.. cepetan ke sini!" Titah Julian.
"Gak bisa kalo sekarang, Kak. Tunggu acara habis. Jukian langsung cus ke kantor kakak. Ato hubungi Om Edo. Dia kan yang ngurusi semuanya." Bantah Julian.
"Lha kamu kok malah nyuruh Kakak. Ya kamulah yang menghubungi Edo. Kakak tunggu jam makan siang." Titah Desta yang terakhir tanpa bisa diganggu.
Klik.
Desta menutup panggilannya yang salam.
__ADS_1
"Punya Kakak satu tapi tukang perintah." Omel Julian.
"Sama kayak elo." Sahut Semar.
"Oh.. sama ya.." Kata Julian tanpa sadar.
"Banget. Udah siap belum? MC udah koar-koar tuh." Semar menarik paksa tangan Julian.
"Yan..Yan.. liat sini dong!" Pinta Andhini.
Julin menoleh tanpa merasakan hal ganjil.
Ceklik Ceklik.
Andhini berhasil mengabadikan Julian dengan pakaian Pangeran Arabnya.
"Kampret. Nyolong foto gue, Elo An?" Julian sedikit kaget dengan kelakuan Andhini.
Andhini sendiri hanya cekikikan setelah berhasil mendapatkan foto Sang Pangeran.
"Woi, Ustadz masih ngumpat. Tahan tuh umpatan. Gak malu apa pake baju kebesaran kayak gini masih suka mengumpat." Protes Semar sambil menjitak kepala Julian.
"Auwh... Berani banget sih. Awas turun panggung orang pertama yang gue maki. Elo." Omel Julian.
Tepat Julian sampai di pinggir panggung. Acara baru dibuka MC.
Setelah MC mempersilahkan qori' naik ke panggung. Julianpun naik tanpa menoleh kanan kiri.
Auto mata penonton dan para guru menatap qori' misterius yang ada di panggung.
"Siapa dia?" Itulah pertanyaan dlsetiap hadirin.
Kecuali Semar dan Andhini yang sudah tahu.
Julian mulai mengucap salam dan membaca ta'awud.
Suaranya yang merdu dan menggelegar seketika membuat mata dan telinga betah melihat dan mendengarnya.
Beberapa sudah mengarahkan video mengabadikan momen qori' misterius itu.
Begitu tilawah selesai. Dan di tutup salam kembali oleh Julian. Terdengar suara kecewa dari mereka.
Julian tidak mempedulikannya. Begitu turun dari panggung, Julian segera menyeret Semar kembali ke markas.
Julian segera mengganti pakaiannya dan berniat mencukur jambangnya.
Brak.
Pintu terbuka.
"Jadi tadi itu Elo, Yan." Suara seorang laki-laki masuk tanpa permisi.
"Daud..?" Ucap Julian dan Semar bersamaan saking terkejutnya.
💗💗💗💗💗💗💗
Penampilan Julian yang kata Andhini kayak Pangeran Arab.
Padahal dia penggemar Oppa-Oppa tapi tahu aja keberadaan Pangeran Arab yang ganteng.
Terima kasih buat supportnya yaa..
Kiss from triple yang lagi ngungsi di Pesantren
😘😘😘
__ADS_1