TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Zafir Bimbang


__ADS_3

Zafir terlihat ragu dan bimbang dengan keputusan yang akan ia ambil.


Berkali-kali pemuda itu hanya menatap layar gawainya yang berwarna hitam.


Tiga hari setelah Doni dan Mitha menyampaikan permintaannya. Zafir sempat berdiskusi dengan Umma dan Buya.


Umma dan Buya yang sangat paham karakter anaknya, hanya menyampaikan pendapat mencari solusi terbaik untuk permasalahan yang membelit putranya.


Tak ada anjuran dari keduanya untuk menerima atau menolak.


"Fir, Umma dan Buya tidak akan mendesak kamu untuk menikah dengan Thifa. Semua keputusan ada di tangan kamu,"


"Namun harapan Umma, sebaiknya kamu bicara dengan Thifa. Kamu juga harus mendengarkan apa yang ia pikirkan," ucap Umma.


"Apa Thifa bersedia bertemu Zafir, Umma?" tanya Zafir segan.


"Cobalah dulu," sahut Buya.


"Kita takkan bisa menjawab sebelum kamu mencoba," lanjut Buya.


"Baiklah Buya. Nanti kalo Zafir siap segera menghubungi Thifa," jawab Zafir.


"Kapan kamu siap?" tanya Umma menantang putranya.


"Belum tahu, sih."


"Selesaikan dengan cepat. Supaya Om Doni dan Tante Mita tidak terlalu lama menunggu. Kasiyan juga mereka kalo menunggu terlalu lama," saran Umma.


"Iya, Umma. Zafir janji akan menyelesaikan secepatnya," jawab pemuda itu.


Dan kini di dalam kamarnya. Zafir berulang kali menyalakan cahaya monitor gawai yang kembali menghitam karena dibiarkan pemiliknya tanpa beraktifitas.


Padahal jarinya sudah mencari nama Thifa di kolom pencarian pesan aplikasi.


Namun setiap kali hendak mengetik, jarinya kembali ragu.


Sampai ada sebuah panggilan yang masuk. ke gawainya.


Tertera nama Fely di sana.


Kemarin Fely sengaja meminta nomer Whatsappnya karena ada tugas yang Fely tidak mengerti.


Gadis itu sudah bertanya kepada seluruh teman sekelasnya, jawaban mereka sama. Tidak bisa. Padahal sudah mengerjakan.


Ternyata hasil copas kelas sebelah yang belum bisa diabsahkan kebenarannya.


Satu-satunya yang belum ia tanya hanya Zafir.


Dengan mengumpulkan banyak keberanian, Fely bertanya.


Zafir yang paham penjelasan sang dosen akhirnya membagi ilmunya kepada Fely.


Tadi siang mereka sempat ngobrol sebentar tapi sayang, belum selesai Fely harus bekerja begitupun Zafir ia harus ke kantor Buya.


Jadilah sekarang mereka berbincang via phone. Padahal Zafir sudah lupa kalau akan mengajarkan tugas sang dosen by phone setelah Fely pulang kerja.


Zafir menatap jam dinding di kamarnya. Jarum panjang dan pendek sudah menunjuk di angka 11.


Artinya jam 22.55.


Malam sekali.


"Baru pulang, Fel?" tanya Zafir terkejut.


"Iya. Maaf ya kalo kamu mau istirahat,"


"Malam banget?" ucap Zafir mencoba merasakan lelahnya Fely.


"Udah biasa, gimana jadi enggak nih ngajarin aku?" alih FelIy.


"Iya.. jadi. Aju juga belum tidur," jawab Zafir.


Fely tersenyum dari seberang. Senyum untuk dirinya sendiri. Karena Zafir gak akan melihatnya.


"Jadi, tugas yang kemarin tuh seperti apa sih?" tanya Fely ke pokok pembicaraan. Karena sudah malam juga.

__ADS_1


Zafir kemudian menjelaskan secara rinci, tugas mata kuliah ekonometri yang diberikan sang dosen.


Karena merasa tidak puas dengan panggilaan suara, Fely meminta izin melakukan panggilan video.


Setelah Zafir mengizinkan, mereka berpindah ke panggilan video.


Terlihat keduanya semakin akrab. Rasa canggung seakan sudah roboh.


"Fir, kok aku gak nemu hasilnya ya?" tanya Fely karena hasilnya tidak sama seperti yang dikatakan Zafir.


"Coba tunjukkan hasilnya!" titah Zafir.


Feli mengangkat kertasnya ke monitor.


"Udah dikali 2 belum?"


Sambil mendengarkan penjelasan Zafir, Fely meneliti hitungannya.


Seketika Fely tertawa lebar, menertawakan kesalahannya.


"Astaga, Fir. Itu tandanya aku nulis kayak tambah aja. Makanya aku jumlah bukan aku kali,"


Zafir melihat tawa Fely yang spontan menggiring pemuda itu ikut tersenyum.


"Senyum mahal Zafir, bikin tambah ganteng aja!" batin Fely yang menangkap jelas senyum Zafir di monitornya.


"Aku hitung ulang deh," Fely mengalihkan tatapannya.


Gadis itu mulai menulis di selembar kertas menghitung jawaban.


"Yes... ketemu!" sorak Fely.


"Terima kasi ya, Fir?" ucap Fely tulus.


Gadis itu tidak menyangka bisa sedekat ini dengan cowok dingin yang sok alim. Bernama Zafir.


Padahal dulu, ia begitu illfeel melihatnya. Sekarang baru ia tahu, Zafir tidak terlalu menyebalkan.


Malah terkesan sangat asyik dan nyambung setiap diajak ngobrol.


🌹🌹🌹


Setelah merenung beberapa jam, akhirnya lepas tengah malam sekitar pukul setengah dua dini hari.


Pesan untuk Thifa terkirim.


~Thifa, Kakak perlu bicara dengan kamu?~


~bisa?~


Hanya itu pesan yang ditulis Zafir.


Tentunya tidak langsung dibalas. Karena Gadis itu pasti sudah tertidur.


Zafir tidak terlalu memusingkan dengan balasan dari Thifa.


Baginya cukup menuliskan pesan.


Dijawab atau tidak terserah Thifa.


Zafir memejamkan matanya dengan tenang, seolah bebannya semakin ringan.


Dalam hati ia membenarkan apa kata Umma dan Buyanya .Semakin cepat semakin baik.


🌹🌹🌹


Tak disangka pas pagi-pagi mau berangkat kuliah. Ternyata ada notif pesan balasan daei Thifa.


Gadis itu hanya membalas.


~Iya Kak Zafir~


~Harinya terserah Kakak~


Zafir kembali menatap pesan Thifa.

__ADS_1


"Kira-kira Thifa tahu tidak, ya? Apa yang akna aku omongin?" batin Zafir.


~Nanti siang aku tunggu di cafe dekat sekolah kamu~


Balas Zafir segera.


~Okay~


🌹🌹🌹


Siang di cafe yang telah Zafir dan Thifa sepakati.


Zafir sudah stay di cafe sejak lima belas menit yang lalu menunggu kedatangan Thifa.


Di meja bahkan sudah ada snack dan segelas cappucino latte dingin.


Pemuda itu tidak terlalu memusingkan keterlambatan Thifa. Karena memang gadis.itu menggunkan jasa ojek online untuk sampai di lokasi.


Tiga puluh menit kemudian, Thifa datang dengan setengah berlari.


"Kak, maaf banget ya..." Thifa menjeda kalimatnya. Gadis itu mengatur ritme napasnya yang ngos-ngosan.


"Duduklah!" titah Zafir, begitu melihat kedatangan Thifa.


"Kak, maaf ya.. tadi itu Thifa dihukum sama guri BP,"


Mendengar ucapan Thifa, Zafir mendongak menatap gadis kecil itu tidak percaya.


"Kok bisa?"


"Hmm... itu..." Thifa menunduk sebelum bercerita.


"Itu apa?"


"Itu Kak, Thifa abis mecahin kaca kelas."


"Astaghfirullah!" Tepuk jidat Zafir seketika.


"Kok bisa?"


"Pas main basket, bolanya terlalu kencang. Terus kena ke kaca. Pecah deh!"


"Terus?"


"Ya di suruh gantilah!" jawab Thifa dengab kesal karena ditanyai terus.


Zafir terkekeh mendengarnya.


"Ya udah, lain kali kalo mau mecahin jangan tanggung-tanggung. Kaca ruang guru sekalian pecahin!" ledek Zafir.


Seketika hilang sudah rasa kecewanya pada Thifa.


Berganti rasa ingin melindungi seorang kakak kepada adiknya.


"Kak... ada apa?" tanya Thifa setelah menyebutkan pesanannya kepada seorang waitress.


Zafir menatap Thifa bingung.


"Sepertinya Om Doni dan Tante Mitha mengambil keputusan sepihak," bisik hati Zafir.


Membuat pemuda itu sedikit berpikir untuk memulainya.


"Kak, kenapa sih?" ulang Thifa mendapati Zafir malah terdiam.


"Thifa..." panggil Zafir.


"Apa Thifa selama ini dekat dengan cowok?" tanya Zafir hati-hati.


🌹🌹🌹🌹


Thifa jawab apa yaaa?


Maaf yaa lamaa... Lagi ngantuk banget.


btw like, komen dam votenya aku tungguin.

__ADS_1


__ADS_2