
Surya menatap Wisnu dengan perasaan yang tidak bisa digambarkan.
Dari sorotan matanya saja Wisnu sudah bisa menangkap kalau saudara tirinya itu sedang menahan emosi.
"Sudah berapa bulan ini, Wis?" Tanya Surya.
Wisnu hanya menahan napas sejenak mendengar ucapan kakaknya itu.
Namun ia terdiam tak ada hasrat darinya untuj menjawab pertanyaan sang kakak.
"Wis, bagaimana? Apa yang sudah kamu dapat?" Ucap Surya berusaha menahan emosinya.
"Wis tatap aku!" Titah Surya kepada Wisnu yang sejak tadi menunduk.
Wisnupun mendongak. Lelaki itu menegakkan kepalanya memberanikan diri menatap sang Kakak.
kembali Wisnu membuang napas lirih.
"Sekarang katakan, apa kamu sudah menemukan dalang dibalik persoalan ini?" tanya Surya lebih lunak.
Wisnu menyandarkan punggungnya.
Sebetulnya ia enggan membahas ini. Tapi karena sang kakak terus menyudutkannya akhirnya iapun buka suara.
"Kak, aku sebetulnya sudah tahu pelakunya dua jam setelah rapat terakhir pemegang asham waktu itu." jawab Wsinu membuat sang Kakak membelalakkan matanya.
"Apaa?" Teriaknya.
"Terus kenapa kamu hanya diam saja!" Lanjut Surya.
Braaak..
Surya menggebrak mejanya dengan kasar mengalihkan kemarahannya.
"Lalu siapa dia?" Tanya Surya kemudian.
"Desta. tapi dia tidak sendirian. Ada perusahaan lain yang memback upnya." Balas Wisnu.
Surya tampak mengerutkan dahinya mencoba mengingat nama yang disebut adiknya itu.
"Itu bukannya nama orang memenjarakanmu!" Ucap Surya menatap Wisnu ddengan tajam.
"Iya memang." jawab Wisnu tenang.
"Terus kamu sudah melakukan apa?"
"Enggak ada."
"Sontoloyo..!" Surya hampir menempeleng kepala adiknya itu mendengar Wisnu tidak berusaha mengembalikan aset ayahnya itu.
"Kak.. aku sudah tidak ada muka menghadapi lelaki itu!"
"Wis, sejak kapan Papa mengajarimu jadi pengecut!" Suara Surya sudah berapi-api.
__ADS_1
Lelaki itu sudah bosan dan penat dengan rutinitas kantor yang tak ada habisnya. Ia begitu merindukan suasana sekolah yang menurutnya lebih menyenangkan.
Surya merindukan saat-saat bercengkerama dengan para muridnya.
Surya merindukan sata-saat bercanda dengan teman-teman sejawatnya, saling mendukung dan mensupport saat ada siswa yang kesulitan.
Surya merindukan kebebaasannya tanpa harus berpura-pura tersenyum menghadapi kliennya.
Meskipun harus Surya akui secara finansial enam bulan ini kehidupannya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun ia belum menemukan kenyamanan seperti yang ia rasakan saat bersama murid-muridnya.
Selama enam bulan ini, Surya mengurangi banyak jam di sekolahnya demi jabatannya sebagai direktur utama yang ia kira hanya sebentar. sampai Wisnu berani membongkar kedok di pembeli saham orang tuanya.
Namun nyatanya adiknya ini begitu pengecut.
"Tunjukkan dimana kantor Desta itu! Aku seret kamu ke sana!" Ucap Surya tak mau tahu dengan hati sang adik.
"Ingat! menjadi pengganti papa adalah pilihanmu. Jangan kamu kira aku tidak tahu akal licikmu saat itu." Ancam Surya tidak tanggung-tanggung.
Wisnu terdiam, ia tidak membantah saat sang kakak mengancamnya bahkan mengatainya pengecut.
"Ah, dasar kau juga bodoh Surya. Apa kau juga tidak tahu bahwa Papamu juga selalu bermain curang dan pengcut dalam berbisnis." Batin Wisnu.
Wisnu meski statusnya hanyas sebagai anak tiri tapi sepak terjangnya menyamai sang Papa. Ini karena sewaktu Papa masih ada Wisnu berusaha mendekati sang Papa. Dengan tujuan kelak Papa akan mewariskan perusahaan kepadanya.
Namun kenyataannya sang Papa lebih memilih Surya yang tak tahu apa-apa tentang perusahaan. Dari sinilah Wisnu membuat surat wasiat palsu yang membuat dirinya bisa menguasai perusahaan.
Dan kini dalam sekejap mata, Surya bisa mengambil alih posisinya. Posisi yang memang seharusnya untuk Surya tapi dia yang merebutnya secara licik.
Wisnu mendengus kesal.
"Kamu itu sembarangan. Aku di sini juga karena kamu. Coba kamu tidak mengganggu istri orang semua ini tidak akan terjadi."
"Aku sudah ingat sekarang, Desta itu suami wanita yang kamu kejar-kejar sampai kayak orang gila itu kan. Kamu membuat wasiat palsu seperti ini demi bisa mendapatkan hatinya bukan. Tapi apa yang kamu dapati, perempuan itu tidak buta harta. Dia sangat pandai menjaga dirinya." Surya semakin berapi-api mendengar Wisnu malah mengobarkan api diantara mereka.
"Sudahlah aku tak mau tahu, Besok aku sudah tak mau duduk di kursi ini!" Kesal Surya sambil memberikan bogem keras ke perut Wisnu.
Wisnu hanya mengernyit kesakitan tanpa berani melawan.
*******
Di lokasi lain. Tepatnya di SMAN Harapan tempat Julian menuntut ilmu.
Seorang gadis berhijab kuning polos dengan rok hitam dengan atasan polkadot kuning dasar hijau terlihat segar dipandang.
Gadis cantik itu keluar dari sebuah brio hitam sambil menatap arloji di tangan kirinya.
"Masih pukul 1, Masih tiga puluh menit lagi. Masih ada waktu untuk makan siang bentar." Gumam gadis itu pada dirinya sendiri.
Gadis itu mendekati seorang satpam dan bertanya lokasi kantin.
Dengan langkah anggun gadis itu menuju kantin.
"Bu saya mau nasi campur dan es jeruk satu ya." Pintanya kepada salah satu stand makanan di sana.
__ADS_1
"Baik, Mbak." Jawab pemilik satand itu sambil menatap gadis tersebut tanpa berkedip.
"Mbak, bukan anak sini ya?" Tanya pedagang itu.
"Iya.. saya hanya menunggu teman saja." jawab gadis itu.
Seorang pemuda bersama dua rekannya masuk ke kantin sambil sesekali tertawa karena candaan garing ala anak SMA.
"Wah, ada cewek cantik!" Seru salah satu dari mereka.
"Hm.. iya sepertinya bukan anak sini." Sahut yang lain.
"Hai.. cewek!" Sapa orang pertama tadi.
"Tunggu.." Ucap temannya yang lain sambil mengamati perempuan yang duduk membelakangi ketiganya.
Pria itu memutari meja menghadap si cewek.
"Ning.. ngapain di sini?" Pekik sang cowok gelagapan, yang tak lain adalah Julian.
"Nah, kamu sendiri ngapain? Jam pelajaran ke kantin?" Kata si cewek tidak kalah terkejutnya, siapa lagi kalau bukan Hani.
"Yan! Elo kenal cewek ini?" Julian mengangguk menanggapi temannya.
"Gila lo.. cewek secantik ini elo kekep sendiri." Protes temannya
"Gundulmu, memangnya dia apaan!" Julian menoyor kepala kedua temannya.
"Ning jangan di denger ocehan mereka berdua?" Ujar Julian sambil menyerangai kepada kedua temannya itu.
"Terus kamu darimana aja?" Ulang Hani dengan nada penuh ingin tahu.
"He he he.. dari ruang OSIS." Jawab Julian apa adanya.
"Kamu tuh ya mentang-mentang anak IPS, keluyuran pas jam pelajaran seenaknya saja." Omel Hani dengan entengnya, membuat kedua teman Julian terpingkal-pigkal. Karena baru kali ini dia melihat sohibnya diomeli seorang cewek.
"Lhaa saya kan Ketos, Ning. Ini aja saya lagi prepare kegiatan PHBI besok." Julian masih mnegelak.
"Bagus.. sekarang jabatan dibawa-bawa." Hani masih menyelesaikan omelannya.
"Mbak, ini pesanannya tadi!" Bu Wiwin meletakkan pesanan hani di meja.
"makasi ya.. Bu." Ucap Hani.
Ia mulai bersiap menyuapkan nasinya, tiba-tiba Julian menahan sendoknya.
"NIng makannya di ruang OSIS saja." Julian langsung mengangkat piring dan gelas Hani.
"Yan..!" Pangggil Hani sambil membuntuti Julian.
"Gaess.. pesanan gue kalian bawa ke base camp okay!" Titah Julian sambil ngeluyur ke ruang OSIS.
****
__ADS_1
Support me yaaa gaes...
Like, komen dan vote