TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Ternyata Julian


__ADS_3

Julian dan Semar spontan menatap ke arah pintu.


"Daud.."


"Jelasin semuanya ke gue." Protes Daud karena merasa tidak tahu apapun sebagi ketua Panitia.


"Tanya aja ke Semar. Aku hanya menuruti seksi acara kalian yang super arogan ini." Julian kembali melanjutkan aktifitasnya tanpa mempeduliakan Daud yang kebakaran jenggot


"Mar.., Bagian Elo tuh. Gue kagak ikut-ikut." Julian mulai mencukur jambangnya perlahan


Semar yang memang merasa bersalah akhirnya menyampaikan alasan dibalik dirinya meminta Julian menjadi qori'.


Daud hanya manggut-manggut tanda mengerti dan memahami situasi kalut yang dihadapi Semar saat itu.


"Betewe, suara elo lumayan bagus deh Yan. Gue yakin bentar bakal heboh tentang qori' misterius tadi." Ucap Daud begitu Julian selese mencukur dan duduk di sebelah Semar.


"Tapi awas jangan elo sebarin kalo itu Gue. Kali sampr bocor. Kalian bertiga yang kena." Ancam Julian.


"Bertiga? Kan hanya berdua?" Daud keheranan.


"Sama cewek gadungan." Sahut Semar.


Daud hanya terkekeh mendengar nama julukan Andhini disebut.


"Okay deh, aku balik ke stage. Elo juga, Lan. Cepet balik. Kalo Julian mah, gak urus. Seterah dia." Daud keluar ruangan dengan menutup pintu sekencang-kencangnya.


Tanpa mereka sadari, sepasang telinga mendengarkan percakapan ketiganya.


Who is ..?


💗💗💗💗💗💗


Julian sudah duduk anteng di rumah makan yang sudah direservasi Kakaknya.


Sebuah rumah makan yang menyediakan menu makanan nusantara. Dengan tempat duduk di setting lesehan. Membuat suasana terkesan santai dan kekeluargaan.


Sudah lima menit menunggu baik kakak maupun Wisnu belum sampai.


Karena lapar, Julian memesan duluan makanannya.Maklum tenaganya habis dipakai berkegiatan yang seharusnya ia hanya sebagai tamu kehormatan sebagai ketos.


Namun karena suatu insiden ia harus menjadi qori' dengan penyamaran yang sungguh menakjubkan. Sampai Kakaknya saja pangling.


Pesanan Julian sudah datang, dan remaja itu mulai menyantap makan siangnya dengan lahap.


Sampai Julian menyelesaiakan makannya, mereka pada belum nongol.


Julian menyandarkan punggung ke dinding. Mencoba menghubungi sang Kakak. Tak ada jawaban.


Hanya terdengar nada deringnya saja.


"Kemana mereka ini?" Oceh Julian sambil mengedarkan pandangannya keluar jendela. Kali saja Kakaknya sudah datang.


Sepi.


Tak ada tanda-tanda orang datang.


Julian menghubungi Edo, namun hasilnya sama tidak ada jawaban.


Samar-samar Julian mendengar ada keributan diluar.


Julian mencoba membuka pintu, disana terlihat seorang petugas menghalau seorang dua lelaki berjas.


Julian mengamati dari kejauhan postur lelaki tersebut. Ia merasa tak mengenal. Namun karena penasaran Julian mendekati petugas tersebut.


"Ada apa, Pak?" Tanya Julian.

__ADS_1


"Ini loo Mas, mereka memaksa masuk ke ruang 02. Padahal kan ruangan itu sudah direservasi." Jelas sang petugas.


Julian menoleh menatap ke arah lelaki berjas yang dihalau petugas.


"Lhoo.. Wisnu. Surya?" Tanya Julian njambal.


"Biarkan, Pak. Dia tamu saya." Kata Julian kepada petugas tadi.


"Hah? Masnya yang reservasi ruangan 02?" Petugas itu serasa tak percaya melihat Julian yang masih berseragam putih abu-abu mampu mereservasi ruangan seharga jutaan rupiah.


"Iya. Kenapa?" Balas Julian dengan tenang.


"Biarkan dia masuk." Titah Julian.


"Hm.. baik Mas. Maafkan saya, Pak." Ucap petugas itu dengan nada menyesal.


"Mas Julian!" Panggil seseorang di belakangnya.


"Eh, Pak Sigit." Julian menyalami Lelaki yang menyapanya.


"Mas, maafin petugas kami. Dia masih baru dan belum hafal langganan VIP kami. Pak Maafkan pelayanan kami hari ini." Ucap Sigit menyampaikan penyesalannya.


Wisnu dan Surya hanya saling pandang melihat Julian yang sudah dikenal pemilik resto tersebut.


"Iya gak pa_pa, Pak. Asal gak sering-sering saja. Kasihan costumer yang lain." Ucap Julian.


"Terima kasih, Mas. Silahkan menikmati hidangan kami. Saya pamit dulu." Ucap Sigit seraya berbalik menuju dapur.


"Mari..." Ajak Julian kepada kedua tamunya.


Wisnu dan Surya mengekor Julian.


"Silahkan mau pesan apa?" Julian menyerahkan buku menu kepada tamunya.


"Assalamu'alaikum.." Terdengar salam dari pintu.


"Wa'alaikum salam.."


"Maaf yaa tadi masih ada urusan di kantor."


"Kebiasaan. Aku sampai jamuran nunggunya. Udah gitu gak ada kabar lagi." Celoteh Julian menumpahkan rasa kesalnya.


Desta hanya ngakak mendengar keluh kesah adiknya itu.


"Yang penting kan sekarang udah datang, Yan." Seru Doni yang diberi senyuman imut oleh Julian.


Seketika Wisnu melihat sisi lain Julian yang masih kekanak-kanakan. Beda saat menghadapi petugas dan Sigit yang sangat berwibawa.


Julian mencium tangan kakaknya dengan tulus.


"Om Edo mana?" Tanya Julian menyakan keberadaan orang kepercayaannya itu.


"Dijalan kayaknya." Sahut Doni.


"Kak Doni, benar-benar deh kok bisa sih sehati sama kakakku." Ucap Julian masih dengan manjanya seakan lupa tentang keberadaan Wisnu dan Surya.


"Ehem.." Desta hanya berdehem.


"Maaf yaa.. Pak.. eh Mas.." Julian kebingungan memanggil Wisnu dan Surya dengan sebutan yang pas.


"Panggik Mas saja bole kok." Jawab Surya.


"Baik, Pak eh Mas Surya dan Mas Wisnu maaf yaa saya terbawa suasana." Sahut Julian.


"Its okay.." Jawab Surya.

__ADS_1


💗💗💗


"Kami atas nama keluarga besar Atmaja sekali lagi mohon maaf atas tindakan adik saya yang sangat tidak etis." Surya menyampaikan maksudnya kepada Desta dan Julian.


Edo yang sudah hadir hanya menyimak. Sedangkan Doni ia masih menatap tajam.ke arah Wisnu yang tertunduk.


"Sebelum adik Anda melakukan itu, apa ia sudah memikirkan dampaknya?" Tanya Julian dengan santai.


"Aku tidak pernah memikirkan sampai kesana. Bahkan aku juga tidak mengira kekuatan kalian sedahsyat itu. Aku menyesal." Ucap Wisnu.


"Mas Wisnu menyesal karena kehilangan harta atau menyesal tidak akan mengulanginya lagi?" Ucapan Julian benar-benar membuat Wisnu dan Surya terhenyak.


Remaja seusia Julian mampu menanyakan sampai level ini.


"Keduanya." Jawab Wisnu jujur.


"Ternyata adik mas Surya matre juga." Julian terkekeh mendengarnya.


Surya dan Wisnu hanya saling pandang.


Desta, Doni dan Edo masih menyimak. Mereka membiarkan Julian meluapkan emosinya.


Desta sendiri sudah puas menghajar Wisnu tadi pagi.


"Terus keinginan kalian apa?" Tanya Julian masih dengan perasaan tak berdosa.


"Kembalikan saham kami. Kami akan membelinya sesuai harga yang berlaku ataupun sesuai harga yang kalian inginkan. Kami tidak akan keberatan." Ucap Surya.


"Terus Kakakku gimana? Apa kalian tidak memikirkan perasaannya. Ia hampir kehilangan bayinya." Ujar Julian dengan geram.


"Aku akan meminta maaf dengan Aqeela." Ucap Wisnu dengan tegar.


"Tidak boleh." Jawab Julian keras.


"Kalian tidak aku ijinkan menemui kakakku. Selesaikan disini bersama kami, sebagai lelaki. Tidak perlu melibatkan Kakakku." Julian kembali posesif.


Desta hanya tersenyum dalam hati, ia begitu bangga memiliki adik yang begitu menyayangi dirinya dan Aqeela. Walaupun bukan adik kandung. Tapi rasanya tetap seperti adik kandung.


Wisnu dan Surya berusaha menahan napas panjang mendengar penuturan Julian yang tidak jauh beda dengan Desta.


"Baiklah, aku akan meminta maaf kepada kalian. Kompensasinya perusahaanku." Ucap Wisnu dengan berat hati.


Seketika Julian tersenyum licik.


💗💗💗💗


Julian mau ngapain lagi sih tuh anak?


Aku kan juga sebel ada-ada aja tingkahnya.


Kalian gimana coba?


Pengennya diapain coba tuh anak.


Kiss from triple yang masih di Pesantren.


😘😘😘😘


Katanya mereka kangen aunty dan kakak-kakak semua.


Note :


Njambal itu bahasa Jawa , yang artinya memanggil nama saja kepada orang yang lebih tua.


Dan itu sering dianggap tidak sopan karena dianggap tidak menghormati orang yang lebih tua.

__ADS_1


__ADS_2