TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Pilihan Thifa


__ADS_3

Dua hari setelah Zafir dan Thifa berbagi kesepakatan.


Keduanya kembali bertemu.


Tapi kali ini, Thifa bersama seorang pria. Thifa memperkenalkan lelaki itu sebagai Satria.


Mereka duduk bertiga. Secara penampilan, Satria memang terlihat macho.


Zafir bahkan masih ingat, pemuda ini yang ia pergoki bersama Thifa waktu itu.


"Kamu ngaji dimana?" tanya Zafir membuat Thifa dan Satria mendadak bingung.


Keduanya terdiam. Bahkan Thifa tidak menyangka jika Zafir menanyakan tentang itu.


Padahal mereka sudah mencari jawaban terapik agar Zafir bisa menerimanya.


Ternyata pertanyaan Zafir sangat sederhana, namun tetap berat bagi keduanya.


"Kok diam?" Zafir menatap Satria yang tak bergeming di tempatnya.


Bahkan menatap Zafir saja seolah tak sanggup.


"Kamu sehari sholat berapa kali?"


"Udah khatam Al-quran berapa kali?"


Zafir memberondong pertanyaan yang membuat Satria terlihat gentar.


Sebelumnya di sekolah.


"Thifa..." sapa Satria yang mendatangi kelas Thifa.


"Hai, Kak!" balas Thifa menghentikan obrolannya dengan beberaa temannya yang masih ada di kelas karena malas keluar kelas.


"Bagaimana nanti jadi?" Satria mengedipkan satu matanya ke arah Thifa.


"Kak Satria genit!" seru Thifa manja.


Satria terkekeh sejenak.


"Bagaimana? Jadi?" tanya Satria begitu kemarin Thifa mengatakan bahwa kakaknya bisa membantu agar hubungan mereka bisa direstui Ayah dan Bunda.


"Jadi dong."


"Memang apa sih nanti bakalan kakak kamu tanyain sih?" tanya Satria.


"Apalagi kalo bukan rumah kamu dimana? Siapa orang tua kamu? Apa pekerjaannya? Apalagi coba?"


"Entahlah, aku belum pernah bertemu dia kan?" jawab Satria berusaha ngeles.


Thifa hanya menghembuskan napasnya berat.


Kenyataannya pertanyaan yang dilontarkan Zafir tidak sesuai ekspektasinya.


"Bagaimana ini Thifa?" Zafir beralih menatap Thifa.


Gadis itu juga menunduk sama seperti yang Satria lakukan.


"Apa kamu menyukai Thifa?" tanya Zafir sedikit menurunkan emosinya.


"Iya, Kak." jawab Satria percaya diri.


"Terus kalo saya suruh nikahin Thifa sekarang, punya modal apa kamu?" tanya Zafir lebih mengintimidasi.


"Orang tua saya pengusaha, Kak..."


"Terus kalo orang tua kamu meninggal bagaimana nasib, Thifa?" Zafir dibikin geram dengan perlakuan Satria.


Satria terhenyak dengan ucapan Zafir yang sedikit membuka hatinya.


Mau tak mau pemuda itu mulai berpikir.

__ADS_1


"Saya akan bekerja, Kak." jawab Satria.


"Bagus." puji Zafir.


"Terus sholat kamu, bagaimana?" tanya Zafir masih dengan nada mencecar.


"Saya akan belajar, Kak!" janji Satria.


"Bagus."


"Baiklah jika kalian sudah siap, saya akan memberi kamu tenggang waktu empat puluh hari. Segera cari kerja.Dan tunaikan sholat tanpa bolong-bolong." Putus Zafir.


"Dan selama itu, kamu saya larang menemui Thifa!"


Satria dan Thifa melotot seketika.


Tidak percaya dengan keputusan Thifa.


"Kalian saling cinta kan?" Zafir menatap keduanya.


Satria dan Thifa mengangguk.


"Kalo saling cinta, ya harus kuat dong. Baru juga dipisahin empat puluh hari. Gimana kalo dua tahun kayak Zafira dan Uncle Iyan? Sanggup kalian?" Zafir mengingat bagaimanan saudara kembarnya terpuruk dan sakit hati.


Satria menatap Thifa dengan wajah memelas.


"Baiklah, Kak." jawab Satria pasrah.


"Ehm... iya ada yang masih mau aku tanyakan. Kamu suka mabuk gak?" Zafir menatap lekat Satria.


Cowok itu kembali gugup dengan pertanyaan Zafir yang membuatnya bingung dan salah tingkah.


"Pernah, Kak." jawab Satria lirih.


Ia tak berani berbohong mendapati aura Zafir yang dingin


Satria memang bukan sosok pemuda baik. Namun semua yang ia lalukan hanya sebuah perjalanan pergaulannya.


Satria menganut paham kebebasan. Pergaulannyapun bebas. Beruntung ia belum pernah melakukan sex bebas.


Thifa adalah gadis pertama yang mencuri hatinya.


Ternyata mendapatkan Thifa tidak semudah dalam bayangannya. Keluarga gadis itu memprotek gerak geriknya.


Diawal-awal ia memang sangat keberatan dengan peraturan orang tua Thifa. Namun ia masih penasaran untuk melakukan pendekatan.


Alhasil ia di damprat habis-habisan oleh Doni, ayah Thifa.


Dan kini saat Thifa mengatakan bahwa snag kakak mau membantu endingnya malah memberinya syarat.


Namun karena ditantang cinta oleh Zafir, Satria merasa kembali tertantang menaklukkan tantangan lelaki yang disebut kakak oleh Thifa ini.


"Kapan terakhir minum?" tanya Zafir semakin tajam.


"Sebulan yang lalu," jawab Satria.


"Kalo begitu aku tambah jadi dua bulan. Aku beri batas waktu dua bulan. Untuk kamu segera mencari kerja dan sholat tanpa bolong-bolong," Tutur Zafir.


Satria menatap Thifa pasrah. Begitipun Thifa.


Ada penyesalan mengatakan kebenaran tentang Satri kepada Zafir.


Ia sampai berpikir, "Lebih baik menikah tanpa cinta dengan Kak Zafir daripada melihat Satria tersiksa begini."


Thifa menarik napas panjang, menahan gejolak dalam dadanya.


Ingin rasanya ia berontak dan teriak bahkan menendang Zafir ke bulan saking kesalnya dengan syarat yang diajukan pemuda itu.


"Baik Kak, saya terima dua bulan lagi saya akan mendatangi Kakak untuk melaporkan semuanya." Ucap Satria lirih.


"Bagus, saya suka pemuda seperti kamu!" ucap Zafir sembari menepuk-nepuk punggung Satria.

__ADS_1


"Buktikan bahwa kamu serius dan benar-benar cinta sama adikku," Zafir mengatakannya sambil menatap Thifa yang terlihat kesal padanya.


"Dan mulai besok kalian dilarang saling bertemu dengan sengaja." ingat Zafir.


Keduanya hanya mengangguk pasrah.


"Kalian tadi naik apa ke sini?" tanya Zafir kembali ke mode datar dan dingin.


"Naik motor boncengan." jawab Satria.


"Ya udah biar nanti Thifa bareng aku," seru Zafir membuat hati Thifa semakin menciut.


***


"Kak... kalo ayah dan bunda nanya gimana?" tanya Thifa dalam perjalanan pulang.


"Ayah dan Bunda kamu, biar Kakak yang bicara. Dengan catatan Satria berhasil dengan tantangan dari Kakak." ucap Zafir.


"Kenapa sih Kak, yang ditanyain tadi soal sholat dan ngaji? bukan yang lain?" protes Thifa seakan mencari kepuasan atas pertanyaan yang Zafir ajukan kepada Satria tadi.


"Memang kamu mau punya suami yang gak ngerti salat? Gak ngerti cara membimbing istri dan anaknya." jawab Zafir tegas.


"Apa Thifa mau nanti berumah tangga tanpa arah dan tujuan. Mau dibawa ke surga yang mana kamu entar?" tanya balik Zafir.


Gadia itu terdiam mematung di jok penumpang mobil Zafir.


Mencerna dan memahami ucapan kakaknya itu.


"Kak ada bunda?" ucap Thifa begitu Zafir menghentikan mobilnya tepat di depan pagat rumah Thifa.


"Memangnya kenapa kalo ada bunda?" tanya Zafir.


"Pasti ditanya-tanyainlah. Dari mana? sama siapa? gitu."


Zafir tertawa lebar mendengar ucapan Thifa.


"Ya udah kakak antar, tapi ikut ke rumah kakak dulu naruh mobil," ucap Zafir melajukan kendaraan masuk ke halaman di sebelah rumah Thifa.


Setelah terparkir, keduanya turun menuju rumah Thifa.


Mitha terlihat begitu bahagi menyaksikan anaknya pulang bersama Zafir.


"Tan, Om Doni ada?" tanya Zafir tanpa basa basi.


"Ada, masuk saja!" ucap Mitha tanpa bertanya apapun kepada Thifa.


Sampai keheranan saja gadis itu.


"Segitu percayanyakah Bunda dengan Kak Zafir?" gumam Thifa lirih tanpa bisa di denhar siapapun.


****


To be continue


Like. komen, vote dan share...


Bentar lagi Umma dan Buya happy anniversary nih.


Aku mau bikin give away buat kalian.


Caranya :


Share dan bikin testimoni cerita Triple Z atau Mendadak Ustadzah di sosmed kalian. Boleh di wall pribadi atau di grup Fb. Lalu tag aku ya....


fb : ursula maria


ig : @maria_suzan


aku ambil 3 orang untuk dapat pulsa masing-masing Rp 25.000


jangan lupa, kirim screen shootnya ke massanger atau DM aku kalo udah kirim.

__ADS_1


waktu share mulai hari ini sampai tanggal 15 maret.


Aku ambil yang paling sering posting.


__ADS_2