TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Terciduk


__ADS_3

"Bu Helen..." Panggil seorang guru kepada Bu Helen.


"Iya Bu Wina." Sahut Bu Helen sambil menarik kursinya ke sebelah Bu Wina.


"Bu Helen, saya curiga sama enam buku ini." Bu Wina menyerahkan enam buah buku kepada Bu Helen.


Bu Helen membaca identitas pemilik masing-masing buku tersebut.


"Kenapa dengan mereka?" Tanya Bu Helen penasaran.


"Coba ibu perhatikan, semua jawaban mereka sama. Nilai sama. Bikin kalimatpun sama. Sampai titik koma semua sama. Padahal mereka beda kelas." Ucap Bu Wina seraya membuka LKS milik keenam siswanya.


Bu Helen yang kepo meminta LKS milik enam siswa tersebut.


Membaca perlahan semua yang disampaikan Bu Wina.


Dengan gerak cepat ia membuka tumpukan LKSnya, tujuannya mencari enam nama yang disebutkan Bu Wina.


Setelah ketemu, Bu Helen membuka jawaban keenam siswanya satu per satu.


Beliau menghela napas panjang.


"Empat diantara keenamnya pernah keluar ketika jam pelajaran berlangsung. Dengan alasana bukunya ketinggalan di rumah.. Selang dua jam kemudian mereka ke ruangan saya mengumpulkan LKSnya." Seru Bu Helen.


"Lalu?"


"Ketika saya koreksi nilai mereka memang sama. Tapi kan jawaban untuk pelajaran saya memang harus sama." Bu Helen mengeluh.


Bu Wina terkikik pelan.


"Yaa salah nulis angka nol saja di salahkan. Dan tidak bisa dijadikan patokan untuk mendeteksi mereka." Ledek Bu Wina.


"Bu Wiinaa..." Sahut Bu Helen dengan jutek. Bu Wina malah tertawa lebar.


"Sebentar saya tanyakna Pak Fathul dulu."


"Ada apa Bu Wina, cantik?" Belum juga Bu Wina menyapa Pak Fathul, guru itu langsung nyamperin begitu namanya disebut.


"Uhuuiiii.." Sahut yang lain.


Bu Wina menatap Pak Fathul tanpa mempedulikan suara-suara sumbang yang sering menjodohkan keduanya.


Maklumlah Pak Fathul dan Bu Wina sama-sama single parent. Duda dan janda.


"Pak, saya bole lihat hasil kerja atau tugas dari anak kelas X IPA 1 atas nama Darren Abraham dan Wanda Shaquita." Bu Wina menyebutkan nama siswanya tanpa menoleh ke arah Pak Fathul.


Sambil menunggu Pak Fathul menemukan nama yang ia sebutkan, Bu Wina membuka LKS lainya.


"Malik Ivander Pasha, X IPA 2." Sambung Bu Wina begitu Pak Fathul memberi kode jempol.


Bu Wina menutup dan membuka LKS lagi lainnya.


"Athallah Zafir, Athaillah Zafran, Athiya Zafira kelas X IPA 3." Bu Wina menutup semua LKS beralih ke meja Pak Fathul.


Pak Fathul menyerahkan LKS atas nama siswa-siswi tersebut.


Bu Wina menerima dan memeriksa dengan teliti.


"Apa ini?" Seru Bu Wina kaget.


"Kenapa, Bu?" Tanya Bu Helen.

__ADS_1


"Jawaban mereka sama." Jawab Bu Wina.


"Yang benar saja." Beberapa saat kemudian, guru yang lain melalukan hal yang sama seperti yang Bu Wina lakukan.


Mencari enam nama tersangka.


Begitu ketemu. Mereka yang terperanjat tak percaya.


"Sama.." Itu komentar semua guru pengajar kelas sepuluh IPA.


Padahal pada mata kuliah tertentu guru mereka berbeda, tapi jawabannya sama.


💗💗💗💗💗


Darren, Malik dan Wanda duduk tertunduk di ruang BK.


Dihadapan mereka ada Pak Yono dan Bu Linda selaku guru BK.


Ketiganya masih terdiam tanpa suara. Begitupun Pak Yono dan Bu Linda mereka berdua juga terdiam.


"Kita tunggu teman-teman kamu yang lain." Ucap Bu Linda.


Selang lima menit kemudian Bu Wina datang menggiring Zafir, Zafran dan Zafira.


"Duduk!" Titah Bu Wina.


"Kalian saling mengenal?" Tanya Bu Linda menatap keenamnya bergantian.


"Iya," Jawab Zafir tegas.


"Kalian berteman?" Tanya Pak Yono.


"Iya," Jawab Malik.


"Kita, Bu!" Jawab keenamnya serempak.


"Kalo ini hasil karyanya siapa?" Tanya Bu Wina masih dengan rasa penasaran, meletakkan LKS PPKn dari Pak Fathul.


Keenamnya melongok sejenak.


"Kita juga." Jawab kompak keenamnya.


"Coba kerjakan ini!" Bu Wina menyerahkan selembar kertas kepada keenamnya.


Keenam anak itu mengerjakan menerima dan membaca dengan baik lembaran kertas berisi soal-soal yang diserahkan Bu Wina.


Zafir berdiri diikuti kelima temannya yang lain.


"Mau kemana kalian?" Tanya Linda menatap tajam ke arah enam komplotan tersebut.


"Kan disuruh mengerjakan, Bu."


"Ya kita balik ke kelaslah, Bu."


Jawab Zafran dan Zafira bergantian.


"Kerjakan di sini, siapa suruh kalian ke kelas?" Ucap Pak Yono.


Keenam anak tersebut duduk kembali ke kursinya.


"Pulpennya mana Pak? Kan kami gak bawa?" Seru Darren dengan polosnya.

__ADS_1


Pak Yono yang menyadari bahwa mereka tidak membawa alat tulis, segera meraih wadah pensil yang ada si dekatnya.


"Ini!" Pak Yono menyerahkan pulpen kepada keenam anak tersebut.


Keenamnya segera mengerjakan dengan santai setelah menerima pulpen dari Pak Yono.


"Selesai..! Ucap keenamnya bersamaan.


"Haa?" Ketiga guru tersebut mentap tak percaya keenam siswanya itu.


"Duduk mereka berjauhan? Kok bis selse barengan sih?" Guman Bu Wina dalam hati.


Tapi beliau tetap menerima hasil kerja siswanya.


"Tulis identitas diri dan orang tua kalian di sini!" Titah Pak Yono menyerahkan sebuah buku untuk mereka isi.


Wanda menerima dan mengisikan data dirinya dan kelima temannya dengan sempurna.


Lagi-lagi ketiga guru tersebut dibuat surpraise keenamnya.


"Bagaimana bisa?" Gumam Bu Wina lirih.


"Satu anak bisa menulis data keenam temannya tanpa ragu dan bertanya sedikitpun." Bu Wina masih saja tak percaya.


"Kalian tunggu di sini!" Titah Bu Wina masih dengan wajah penasaran.


"Bu Linda dan Pak Yono masih mengoreksi hasil kerja kalian!" Sambung Bu Wina.


Menunggu semenit rasanya seperti menunggu seharian. Lama, pake banget.


Komplotan triple sudah gerah dan ingin meninggalkan ruangan tersebut.


"Hubungi orang tua kalian! Suruh ke sini hari ini juga, jika kalian ingin kembali ke kelas!" Suara Pak Yono menggema.


Keluar dari sebuah ruangan bukannya mengatakan hasil kerjaan keenamnya, malah meminta keenam anak itu memanggil orang tuanya.


Dalam hitungan menit Oca, Yuna dan Via sudah di ruangan tersebut.


"Kalian bikin ribut apa lagi?" Tanya Yuna dengan wajah santai seolah dia sudah terbiasa dengan perbuatan mereka.


"Kita gak bikin keributan apa-apa, Mi." Jawab Darren.


"Iya, beneran Mami kita gak bikin rusuh." Sahut Zafir.


"Bun.. beneran kita gak ngapa-ngapain?" Kata Zafran yang terus dilirik Oca.


"Mam.. bahkan kita tidak diberitahu salah kita dimana?" Sambung Zafira.


"Dimana Umma kalian?" Tanya Oca, Yuna dan Via kompakan.


Keenamnya saling pandang, seakan meminta salah satu dari mereka untuk bersuara.


"Kak Aqeela gak akan ke sini! Mereka menelpon saya Tante." Seorang lelaki masuk.


"Uncleee..." Sahut keenamnya menatap ke arah pintu dimana Julian masuk dengan tenangnya.


Bu Wina, Bu Linda dan Pak Yono kembali merasa dibuat surpraise.


Yang mana orang tua kandung keenamnya? Belum lagi hadirnya Julian, mantan siswanya.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Bu Guru dan Pak Guru dibikin bingungkan???


__ADS_2