
"San, kamu gak pa_pa, kan?" Tanya Hanin
"Nyai.., apanya yang luka?" Sahut Oca.
"Mbak Besan liat aku dan bayiku baik-baik saja."
"Aku gak ada yang luka, Juminten."
"Nyai kita serius. Nyai beneran gak apa-apa?" Kali ini Yuna menegaskan.
Yuna, Oca, Via dan Hanin terlihat sangat panik dan khawatir.
Yuna sampai memeriksa bagian tubuh Aqeela, untuk memastikan sahabatnya itu tidak terluka sedikitpun.
Muka mereka terlihat pucat, meskipun Aqeela sudah duduk bersama mereka.
Namun mereka lega melihat Aqeela tidak terluka.
"Umma... Kenapa tadi kita di suruh makan duluan? Padahal kita sudah pengen liat Umma berantem sama Om jahat tadi." Ucap zafran dengan polosnya.
"Nyai, anak kamu kok malah pengen liat Ibunya berantem sih?" Via heran.
"Apa mereka gak takut?" Sambung Yuna.
Aqeela hanya tersenyum mendengarnya.
"Zafran tidak takut? Liat Umma berantem sama Om tadi?" Aqeela malah balik tanya ke anaknya.
"Enggak Umma kan jagoan." Jawab Zafran tegas.
"Tuh dengerin, Sri.. Ten.. Roh." Kata Aqeela.
Yang merasa dipanggil Sri, Ten dan Roh hanya terkekeh.
"Iya.. Umma kita tadi pengen bantuin loo.." Kata Zafir.
"Lain kali kalo Zafir, Zafran dan Zafira sudah besar terus tenaganya sudah sekuat Umma. Kalian harus bantu Umma." Kata Aqeela menenangkan anaknya.
"Siap Umma."
"Tapi tadi maaf ya.. Kalian Umma minta makan duluan karena inikan di mall. Mall itu bukan tempatnya berantem." Sambung Aqeela.
"Iya.. Umma. Lagian tadi kita juga laper."
"Mana bisa kita bantuin Umma kalo laper."
"Tenaga kita gak kuat."
Aqeela tersenyum mendengar ucapan ketiga anaknya.
"Nyai semprul, masa anaknya di suruh berantem." Omel Yuna.
"Nyai kok ngajarin anaknya berantem." Via masih heran.
"Sri, Roh,.. kehidupanku bukan seperti kehidupan kalian. Tanya Mbak Besan. Kehidupan di duniaku keras." Ucap Aqeela yang hanya disambut mulut terbuka oleh ketiganya.
"Maksud kamu apa, Nyai?" Yuna kepo.
"Bekas musuh-musuhku atau musuh-musuh suamiku masih berkeliaran. Atau mungkin saja bertambah."
Mereka semakin tidak mengerti dengan ucapan Aqeela.
Mereka saling pandang tidak karuan. Ingin mendapat penjelasan yang lebih jauh tapi mereka batalkan karena kehadiran sesosok pria.
Bukan hanya satu tapi ada tiga.
Sri, Jumintem dan Munaroh hanya menelan salivanya melihat ketiganya.
"Beb... " Panggil sebuah suara yang sangat dihafal Aqeela.
__ADS_1
"Buya..." Teriak Si triple.
"Papi..." Teriak Renata.
"Om Doni..." Sambung si triple.
Pandangan mereka seketika beralih ke para lelaki yang datang.
"Bae...." Panggil Aqeela melihat kedatangan suaminya, Doni dan Carlos.
"Kamu gak pa_pa?" Tanya Desta sambil mencari luka di tangan, wajah dan tubuh istrinya.
"Aku gak pa_pa, Bae. Kok kalian tau aku, kita di sini?" Aqeela menatap ketiga pria yang baru datang itu.
"Mbak.. Ini pasti ulah Mbak Besan ya?" Selidik Aqeela sambil menatap curiga ke arah Hanin.
"Beb, jangan menatap Mbak Hanin begitu. Aku yakin Mbak Hanin tadi khawatir dan panik melihat kamu garang sama Wisnu." Desta berusaha menenangkan.
"Iya, San maaf ya.. tadi itu aku yang WA mas Desta. Aku takut kalo terjadi apa-apa sama kandungan kamu." Jelas Hanin.
"Jadi, kalian cuma khawatir sama kandungan aku? Bukan sama aku?" Aqeela geleng-geleng kepala sambil memonyongkan bibirnya.
"San, gak lucu ah." Seru Hanin.
"Lucu Mbak. Abis nee anak belum lahir aja udah banyak kuatir apalagi kalo udah lahir." Aqeela sedikit tersenyum kecil.
"Byuuh, aku sudah ketar ketir kamu bakalan marah. Ternyata malah cengengesan. Gak lucu." Bantah Hanin.
Oca, Yuna dan Via sampai terpingkal-pingkal melihat Aqeela menjahili Hanin.
"By the way , any way makasi Mbak besan cantik udah ngabari suami tercintaku ini." Lirik Aqeela sambil memeluk Hanin yang ada di sebelahnya.
Tanpa menjawab Hanin balas memeluk Aqeela.
"Lain kali aku balas." Bisik Hanin
"Beb, beneran kamu gak pa_pa? Terus anak-anak?" Desta masih belum yakin jadi ia bertanya kembali.
"Tenang kenapa sih, Bae. Tanya Mbak Hanin. Si Wisnu udah aku kasi pelajaran. Anak-anak tadi aman sana Sri, Juminten dan Munaroh." Kata Aqeela.
"Terus kok bisa bareng sama Mister Carlos?" Tanya Aqeela heran.
"Iya, kebetulan tadi kita lagi meeting. Begitu Mbak Hanin WA langsung kita cut terus cus ke sinilah." Jelas Aqeela.
"Mister Carlos sorry. Aku ngerepotin. Semoga kalian tidak kaget." Kata Aqeela.
"It's Okay, Nyai." Balas Carlos sambil menggoda Aqeela dengan menyebutnya Nyai dengan logat khas baratnya.
Aqeela dan Desta hanya terkekeh mendengarnya.
"Setelah ini kita ke Dokter Susan. Kita periksakan kandungan kamu." Titah Desta.
"Kalau nanti aku ketemu Wisnu pengecut itu tak kan ku lepaskan."
"Setelah ini aku suruh Rianti dan Eli mengikuti kalian. Jadi, jika kemana-mana kalian akan dijaga bodyguard." Kata Desta Tegas.
"Waduuuh, kalo kita ngemall. Pasti nambah jatah makan kita dong bae." Ucap Aqeela.
"Kamu tuuh ya.. malah mikir gitu." Desta sampe geregetan.
"Nyai gak nyangka dirimu matre."
"Perhitungan sekali."
"Eh, Nyai duit tuh buat sodaqoh. Bukan untuk disimpan."
"Byuuh, Bae ilmuku ternyata masuk.dalem banget ke mereka." Ucap Aqeela tersenyum nakal.
"Nyai... kebiasaan deeh."
__ADS_1
"Kumat."
"Apanya?"
"Jahilnya."
Aqeela hanya tertawa kecil mendengarnya.
"Skor kalian 4-0. Empat buat saya. Kosong buat kalian." Goda Aqeela.
"Memangnya kita lagi adu pinalti?" Bantah Yuna.
"Yaa.. itung-itung latihan gitu." Ledek Aqeela.
"Qee....awas anak kamu sawan loo.." Goda Doni.
"Ya.. betul tuh Mas." Via langsung mengiyakan ucapan Doni.
"Gampang, tinggal di suwuk sama boss kamu. Kan beres."
Doni dan yang lain akhirnya tepuk jidat.
"Kita tidak akan bisa berkutik kalo Nyai udah kumat jahilnya." Gerutu Yuna.
💗💗💗💗💗
"Gimana, Dok?" Tanya Desta dengan panik setelah dokter Susan memeriksa kondisi kandungan Aqeela.
"Bayinya gak pa_pa. Baik-baik saja. Hanya posisinya tadi yang agak doyong. Kalo ada kenalan dukun pijat bayi. Bole di pijatkan. Supaya posisinya bisa kembali." Terang dokter Susan.
"Lagian kamu tuh, ya. Udah tau hamil masih saja main tendang orang." Omel Dokter Dika yang kebetulan ada di ruangan istrinya.
"Membela diri dokter Dika. Emang Dokter gak marah gitu kalo di gangguin?" Tanya Aqeela.
"Emang siapa siih sampe kamu segitunya?" Dikter Dika kepo.
"Wisnu."
"Kayaknya aku pernah dengar nama itu deeh." Dokter Dika seakan mengingat sesuatu.
"Pelaku penusukan." Jawab Desta samar.
"Ya Tuhan... orang yang melukai kamu." Sahut Dokter Dika.
Aqeela mengangguk pelan.
"Broo.. kayaknya selama istri kamu hamil lebih baik kamu nyewa bodyguard deh." Usul Dokter Dika.
"Yess....tuh kan dengerin kata-kata Dokter Dika. Dok, Dokter hari ini luar biasa. Kata-kata dokter sangat bermutu. Saya sangat terbantu dengan ucapan dokter."
"Lhaa berarti selama ini, kata-kata aku gak mutu gitu?" Dokter Dika menoyor Desta.
Desta hanya tertawa lebar mendengarnya
"Kata-kata Dokter bermutu saat berduaan dengan dokter Susan. Tapi tidak kalo dengan saya."
"Bocah geblek." Ledek Dokter Dika..
" Kalian itu kenapa sih gak bisa akur sejam saja. Ini vitamin buat Aqeela." Dokter Susan menyerahkan resep kepada Desta.
"Kalo kita akur. Dunia sepi, Dok." Elak Desta.
"Good, Broo.."
High five keduanya.
Dokter Susan geleng-geleng kepala. Sedangkan Aqeela hanya tersenyum lebar menyaksikan ulah suaminya dan dokter Dika.
💗💗💗💗💗
__ADS_1