
Zafir dengan terburu-buru membuka daun pintu rumahnya. Cowok ganteng sedari tadi menahan buang air sejak masuk tol. Membuat seluruh keluarganya tertawa meledeknya.
Tanpa di duga begitu pintu terbuka, suara terompet memekakkan telinga mengagetkan dirinya.
Hampir saja ia menumpahkan air kencingnya di celana. Beruntung masih bisa ia tahan.
Dengan menggerutu Zafir masuk ke kamar mandi. Setelah menyelesaikan hajatnya hingga tuntas, ia kembali ke ruang tamu.
"Kalian bertiga, beneran bikin aku jantungan. Untung aku gak punya riwayat penyakit jantung. Kalo ada kalian akan jadi tersangka utamanya." Omel Zafir
Untung saja ketiga temannya sudah kebal dengan omelan macam apapun dari triple. Mereka hanya tertawa kecil melihat Zafir meledak-ledak.
Sebenarnya Zafir hanya sebal karena ia benar-benat sudah tidak tahan dengan panggilan alamnya malah dikagetin begitu masuk. Itulah yang bikin Zafir seperti kebakaran jenggot.
Zafran dan Zafira hanya tertawa lebar karena merasa beruntung, akibat hasrat menahan Zafir mereka berdua selamat dari suara terompet ketiga sahabatnya.
"Kalian berdua gak usah ketawa-ketawa kayak orang gak punya dosa. Bilang Maksi kek ato apa gitu. Karena aku kalian selamat." Gerutu Zafir seakan bisa membaca pikiran kedua saudara kembarnya itu.
Zafira dan Zafran saling menatap lalu, "Jazakalloh Ya akhi..."
Zafir menatap tajam keduanya.
"Gak usah pake ngeledek."
Zafira dan Zafran kembali ngakak.
"Udah ah, lagian gak ada yang terluka. Makasi sana sama teman-teman kalian yang susah payah bikin penyambutan ini." Lerai Umma.
Ketiga terdiam, lalu beralih kepada Malik, Darren dan Wanda.
"Aaaawwwwwhhh..." Teriak Malik, Darren dan Wanda bersamaan karena ulah triple yang mendekap sahabatnya dan menggelitikinya.
Zafran menyerang Malik.
Zafir menerkam Darren.
Zafira cukup menarik tangan Wanda, yang setahunya tidak sekuat dirinya.
Zafira khawatir menyakiti sahabatnya itu jika terlalu kuat.
Dan tentu saja adegan berikutnya mereka saling lawan.
Oca, Yuna dan Via yang menyaksikan sampai ikut menjerit gak jelas. Ketiga khawatir dengan ulah anak-anak itu.
Aqeela hanya tersenyum menenangkan ketiga rekannya
"Kalo kalian tidak berhenti pindah keluar!" Ucapnya lantang tanpa teriak, seketika menghentikan pertempuran kangen-kangenan ala keeenamnya.
"Yaa Umma kita masih kangen nee..." Rajuk Zafran.
"Lanjut diluar. Umma, Bunda, Mami dan Mama mau makan. Buya sama Iyan mau ikut gak?" Tanya Aqeela.
"Wah kebetulan laper banget, Kak." Sahut Julian sambil ,menjulurkan lidahnya ke arah komplotan triple.
"Curaaang.. " Teriak Malik.
"Ayoo kita serbu duluan!" Ajak Darren tidak rela menu favorit mereka dihabiskan para ibu.
Para Emak akhirnya bisa tersenyum, karena mereka kembali rukun. Karena memang pada awalnya tak ada niatan untuk makan.
Itu hanya taktik Aqeela saja agar tak ada keributan di rumahnya. Ia sudah mulai pusing dengan keributan yang dilakukan anak-anaknya.
Seketika orang dewasa di ruangan itu tertawa bersamaan.
"Welcome back at home my triple." Ucap Buya memeluk ketiga kembarnya.
"Welcome.. Triple.." Sahut yang lain.
"Kita dikerjain." Zafran ngedumel.
Zafir dan Zafira hanya tersenyum paksa mendengar komentar Zafran.
"Ya.. ya ya.. lain kali giliran kita!" Bisik Zafir.
__ADS_1
💗💗💗💗💗
"Umma..." Panggil Zafira saat mereka bersantai di ruang keluarga.
Zafir dan Zafran tampak asyik berbincang dengan Buya dan Julian.
Sedangkan Umma masih menonton televisi bareng Al dan si twins.
"Ada Apa, Fir?" Tanya Aqeela.
"Umma, apa bole nanti Zafira memilih sekolah pilihan Zafira sendiri?" Izin Zafira dengan gemetar.
Ia masih ingat selama ini, Umma dan Buya selalu memilihkannya sekolah dan mereka tidak pernah membantahnya.
"Bole, asal sesuai dengan kriteria Umma dan Buya." Jawab Aqeela sembari mengecilkan suara televisi.
Aqeela kembali teringat saat dirinya seusis Zafira yang sengaja membuat kalut kedua orang tuanya karena memilih sekolah dengan jarak yang lumayan jauh dari rumah.
Hanya untuk agar tidak bertemu teman-teman lamanya. Nyatanya malah bertemu Daffa.
"Beneran Umma?" Ucap Zafira dengan girang.
"Tentu saja. Katakan kalian ingin melanjutkan kemana?" Tanya Aqeela.
"Sebentar Umma, Zafir dan Zafran juga harus dengar." Seru girang Zafira.
Dengan suara riangnya Zafira memanggil kedua saudaranya kembarnya.
"Kenapa?" Tanya Zafir begitu sudah ada di dekat Zafira dan Umma.
Bahkan Buya dan Julian juga ikut bersamanya.
"Umma mengizinkan kita memilih sekolah sesuai keinginan kita." Ucap Zafira dengan antusias.
"Beneran." Zafran ikut girang.
Zafira mengangguk.
"Iya bole, asal sesuai dengan keinginan Umma dan Buya."
"Jauh sekali, Nak." Kata Aqeela.
"Hei, mana bole. PPDB sekarang masih pake zonasi." Potong Julian.
"Yang ada kalian masuk SMA-nya Uncle." Sambung Julian.
"Huuu..." Komen ketiganya kecewa.
Apalagi Zafira ia paling anti ke sana. Mengingatkannya pada momen saat Julian memberinya hukuman.
"Kenapa?" Heran Desta.
"Di sana juga bagus. Atau kalian masuk madrasah yang jauh. Atau SMA-nya Buya sama Umma." Sambung Desta.
"Enggak..."
"Jauuh.."
"Yang ada kita di suruh tinggal sama Oma dan Opa."
Sahut ketiganya bergantian.
"Lhoo kan enak." Goda Desta.
"Kita mana bisa jauh dari Umma dan Buya." Zafira memeluk Aqeela seketika.
"Terus maunya gimana nee? PPDB dua hari lagi looo." Sahut Aqeela.
"Ya udah deeh alternatif terbaik, kita masuk SMAnya uncle." Jawab ketiganya kecewa.
"Ndak usah kecewa. Toh, nanti kalian masih barengan sama Darren, Malik dan Wanda." Hibur Aqeela.
"Memang mereka juga ke sana?" Sahut Zafir.
__ADS_1
"Iya.. zonanya sama." Sahut Julian.
"Yaudah deeh..." Pasrah Zafira.
💗💗💗💗💗
Triple dan komplotannya di sertai orang tua komplitnya berkumpul di rumah Aqeela.
Mereka sengaja datang untuk mendaftarkan online anak-anaknya.
Mereka meminta bantuan Julian karena tak mau repot dengan urusan angka dan huruf di aplilasi PPDB.
Hanya tiga puluh menit, enam nama sudah masuk dengan selamat.
"Tuh aman.." Ucap Julian.
"Pantau terus, Yan." Pinta Papa Wanda.
"Iya, Om. Sebetulnya mereka berenam juga bisa memantau sendiri. Kenapa sih repot harus Iyan." Gerutu Julian.
"Mereka?" Tunjuk Oca.
"Yang ada gak mantau tapi asyik main PS yang lainnya ngerumpi." Sahut Yuna yang hafal tingkah keenam remaja itu.
Triple dan komplotannya hanya terkekeh mendengarnya tanpa ada keinginan membantah. Karena memang begitulah adanya.
Tepat di hari terakhir yang sekaligus pengumuman.
"Fir, buka aplikasinya. Kita lihat posisi kita." Ajak Wanda begitu Zafira sudah siap di depan laptop.
"100 persen ketrima." Oceh Zafira tanpa menyalakan laptopnya sama sekali.
"Gak usah songong." Balas Wanda.
"Secara letak rumah kita berenam tuh jarak rumah saja udah masuk poin paling tinggi. Terus yang kalian kuatirin apa coba?" Elak Zafira.
"Sapa tahu mereka yang rumahnya jauh pada pindah ke sebelah sekolah. Jadi kalah deh poin kita." Sahut Darren mengambil duduk di sebelah Wanda.
"Masuk.. masuk.." Ucap Wanda.
"Ada ngebela aja langsung bersinar bagai cahaya.."
"Udah gak banyak ceramah, cepet buka." Sahut Zafir.
"Lagian kalo memang ketrima, kita mesti unduh formnya terus di kumpulin. Bayar pake duit." Sambung Zafran.
"Iyaa.. bentar satu per satu." Gerutu Zafira.
Malik yang menyimak hanya terkekeh mendengarnya.
Klik.
Monitor menyala.
Zafira mengetikkan alamat website di pencarian.
Ketemu. Girangnya.
"Nee.. lihat nama kita berenam terpampang dari nomer 10 sampai 16." Cuap-cuap Zafira sambil menunjuk layar laptopnya.
"Ya udah segera di print!"
💗💗💗💗💗
Siap-siap masuk ke lembaran baru..
Met ganti tahun yaa buat semua 😘
Salam hangat dan penuh cinta.
Oh yaa Babang Rizal aku pindahin yaa..
Ke *******
__ADS_1
Yang ke sono bisa baca langsung di sono