TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Role model


__ADS_3

Seminggu kemudian, Bu Erna sudah tidak sendirian. Ada Bu Darmi yang menemani. Mereka dari desa yang sama di Kota Nganjuk.


Selama seharian ini Bu Erna, memberikan petunjuk tugas apa saja yang harus mereka berdua lakukan.


Aqeela dan Desta memang menyerahkan pembagian tugas rumah kepada mereka berdua.


Hanya saja untuk menjaga si triple nanti tetap tanggung jawab Bu Erna. Sedangkan debay yang masih di perut Aqeela akan menjadi tanggung jawab Bu Darmi.


Kebetulan karena bayinya satu. Kalo dulu ketika kelahiran si triple semua heboh. Pengen jaga. Sekarang masih sama, tapi karena hanya satu mommy dan ibu tidak banyak khawatir.


Sehingga mereka menyerahkan semua persiapan kelahiran pada anak dan menantunya itu. Tapi rasa deg deg-annya masih sama.


Bu Erna juga mengajak Bu Darmi ke sekolah Si Triple. Memperkenalkan Bu Darmi kepada Ustadzah Ratih dan Ustadzah Qory.


Seandainya nanti, semua repot maka Bu Darmi yang akan menjemput mereka.


Karena sekolah si triple termasuk sekolah yang protek kepada siapapun. Bahkan penjemputpun jika mereka tidak kenal, maka si anak tidak akan diizinkan pulang. Sampai ada keterangan dari pihak orang tua.


Pihak sekolah benar-benar berupaya menjaga keamanan dan kenyamanan peserta didik dan orang tuanya.


Bahkan Bu Darmi juga dikenalkan kepada grup rempong, sahabat-sahabat Aqeela.


💗💗💗💗💗💗


Di ruang BK SMA Nusantara.


"Qee.. rencana mau cuti kapan?" Tanya Pak Jamal yang sudah terlihat wegah melihat Aqeela dengan perut gendutnya.


"Belum ada, sih Pak. Hanya saja saya bermaksud mengajukan ketika saya cesar, hari itu juga saya cuti. Nunggu rekom dari dokter saja." Kata Aqeela.


Pak Jamal menatap Aqeela bingung.


"Kok kamu mau-maunya sih nambah momongan lagi? Secara anak kalian kan udah tiga." Tanya Pak Jamal penasaran.


"Ya gak pa_pa Pak. Biar rumah tidak sepi. Sekalian ingin dakwah."


"Lha gimana caranya?" Pak Jamal makin penasaran.


"Dengan bertambahnya anak kita semakin bisa memperluas area dakwah kita melalui anak. Kita mengajarkan ke anak. Lalu anak kita mengajarkannya lagi ke orang lain. Begitu seterusnya."


"Kayak bisnis Multi Level Marketing alias MLM aja."


"Bisa dikatakan demikian." Aqeela terkekeh mendnlengar komentar Pak Jamal.


"Karena dengan semakin luasnya kita mengajarkan ilmu. Pahala kita juga bertambah. Ilmu kita juga gak sia-sia. Ini yang dinamakan ilmu bermanfaat." Aqeela berhenti sejenak menarik napas dengan tenang.


"Kalo MLM kan hanya terbatas dengan modal. Kalo dakwah modal kita agama. Begitu kan?" Lanjutnya.


Pak Jamal sedikit tersipu dengan penuturan Aqeela.


"Kamu belajar darimana sih ngomong kayak gitu?" Tanya Pak Jamal.


"Dari kitablah."


"Memang kalo sudah seumur aku belajar apa gak terlambat?"


"Yang namanya belajar itu gak ada kata terlambat, Pak. Jama'ah saya ada yang lebih sepuh dari Pak Jamal. Tapi beliau tetap semangat."


"Kata Rasululloh Utlubul ilma minal mahdi ilal lahdi. Yang artinya tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat."

__ADS_1


Satu hadits meluncur dengan lancar dari bibir Aqeela.


Pak Jamal mendengarkan dengan seksama.


"Memang motivasi mereka apa?"


"Ingin mendekatkan diri sama Allah. Karena masa mudanya tidak pernah dikenalkan Tuhan oleh orang tuanya. Jadi, ketika tua mereka menjadi sangat menyesal dan berlomba-lomba beribadah. Mereka takut suatu saat malaikat Izrail menjemput mereka belum mempersiapkan diri."


"Terus aku kalo mau belajar dimana?"


"Bapak yakin? Bapak tidak sedang ikutan trend saja kan?"


" Yakin, beberapa tahun lagi aku udah pensiun. Aku juga sudah semakin tua. Kadang aku merasa sudah banyak belajar dari kamu secara tidak langsung."


"Belajar apaan? Yang ada meledek." Bantah Aqeela.


"Itu bonus."


Aqeela terpingkal-pingkal mendengarnya.


"Kalo Bapak yakin mau belajar, sepertinya Ustadz Zainal ada pengajian umum bapak-bapak di rumahnya. Ikut saja, Pak."


"Rumah Zainal, jauh."


"Rumah saya malah lebih jauh."


"Kenapa kita gak bikin pengajian untuk guru-guru gitu sih?" Tiba-tiba terlintas ide dari Pak Jamal.


"Ya.. coba Bapak sampaikan saja ke Pak Han. Sapa tau di acc." Aqeela mendukung ide Pak Jamal.


💗💗💗💗💗💗💗


Aqeela duduk di ruang makan ditemani Bu Erna dan Bu Darmi.


"Bu Darmi, bagaimana tadi sudah ada kesepakatan dengan Bu Erna?" Tanya Aqeela.


"Sudah, Nyonya." Jawab Bu Darmi.


Bu Erna hanya terkikik mendengarnya. Padahal tadi pagi sudah ia sampaikan kalo memanggil Mbak Aqeela saja.


Tapi rupanya Bu Darmi masih ngeyel, katanya tidak sopan.


"Panggil saya Mbak saja." Ralat Aqeela.


"I...iyy... ya... Mbak...Aqeela." Suara Bu Darmi terdengar gugup.


Karena memang baru kali ini ngobrol


panjang dengan Aqeela. Tadi pagi hanya sempat ketemu sebentar. Karena Aqeela dan Desta harus segera kerja.


"Bu Erna, sudah di kasi tau semua ke Bu Darmi?"


"Sudah, Mbak. Darmi aja yang lemot."


"Bu Erna maksa kalee.."


"Enggak Mbak.. sumpah enggak."


Aqeela kembali terkekeh melihat Bu Erna kelimpungan.

__ADS_1


"Bu Darmi, gimana? Apa pekerjaan di sini memberatkan?" Tanya Aqeela.


"Insya Allah, tidak. Nya..Eh Mbak Aqeela." Bu Darmi meralat panggilannya.


Sepertinya Bu Darmi masih terbiasa dengan sapaannya dengan majikannya yang lama.


"Alhamdulillah, kalo Bu Darmi tidak keberatan. Cuma peraturan saya dan suami hanya satu. Kalo waktunya sholat segera sholat jama'ah di masjid. Kalo ada anak-anak ajak semua ke masjid. Mereka sudah terbiasa." Ucap Aqeela


Bu Darmi terlihat bengong mendengar ucapan Aqeela.


"Aturannya kok aneh? Dimana-mana yang namanya kerja itu ya harus kerja. Sholat ya pas anaknya majikan tidur. Kenapa di sini malah di suruh ke masjid?" Gumam Bu Darmi dalam hati.


"Woi... mulut di kondisikan." Teriak Bu Erna.


Bu Darmi langsung menutup mulutnya.


Aqeela hanya tersenyum mendengarnya.


"Oh, ya nanti setiap hari minggu kalo tidak ada kesibukan ikut pengajian ibu-ibu di masjid. Karena hari Sabtu - Minggu anak-anak di ajak Oma atau Buninya." Aqeela teringat jadwalnya.


Bu Darmi kembali melongo.


"Sejak kapan ART di suruh pengajian? Kok aneh-aneh saja." Gumam Bu Darmi dalam hati.


"Apa Bu Darmi keberatan?" Ulang Aqeela.


Meskipun masih keheranan, Bu Darmi tetap mengangguk dan mengiyakan.


"Ya sudah kalian istirahat dulu. Anak-anak biar saya dan suami saya tidurkan." Titah Aqeela.


Bu Darmi dan Bu Erna segera ke kamarnya.


"Er.. kok kamu gak bilang di sini ada aturan harus sholat jama'ah dan ikut pengajian?" Protes Bu Darmi.


"Itu ranahnya Mbak Aqeela. Tapi kalo kamu keberatan bole mundur, kok." Tantang Bu Erna.


Bu Darmi berpikir.


"Tapi majikanny baik. Aku gak rela." Kata Bu Darmi.


Wanita empat puluh lima tahun itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Mi...Darmi...rungokno yoo...Anggap saja kita ini kerja sambil ibadah. Mana ada majikan nyuruh kita sholat jama'ah kalo gak di sini." Tutur Bu Erna.


"Kita mungkin ditaqdirkan ketemu Mbak Aqeela untuk memperbaiki ibadah kita. Kerjaan kita juga gak berat. Setelah sholat isya' kita sudah diizinkan istirahat."


"Mbak Aqeela dan Mas Desta jarang-jarang nyuruh kita kerja sampai malam, kalo tidak urgent."


Bu Darmi hanya mengangguk mendengarkan tausiyah Bu Erna.


"Kamu sudah cocok jadi mubaligh. Ntar pulang kampung, banyak yang manggil." Ledek Bu Darmi.


Sepertinya sosok Aqeela juga mampu menyihir Bu Erna secara tidak langsung.


Kehadiran Aqeela menjadi role model tanpa siapapun sadari.


💗💗💗💗


Lanjut next ya...

__ADS_1


gaess vote ya..


__ADS_2