TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Merintis masa depan Triple Z


__ADS_3

Zafir masih termenung. Berkali-kali ia menatap ke arah Zafran dan Zafira.


"Kalian menyetujui permintaan Buya?" Tanya Zafir.


Ketiganya saat ini duduk santai di halaman belakang sambil menggelar tikar.


Udara malam yang sejuk membelai wajah ketiganya.


Beruntung langit sangat cerah dan tidak ada nyamuk.


Beberapa cemilan terhidang di depan mereka.


"Yang mana?" Zafran malah balik tanya.


"Memangnya permintaan Buya ada berapa sih?" Zafir tanya ulang.


"Yang nyuruh kita mondok kayak Uncle Iyan." Sahut Zafira.


"Lemot banget sih." Sambung Zafira.


"Bukannya lemot, kali aja Buya minta kita ikut jalan-jalan kemana gitu?" Jawab Zafran asal.


"Halu.. banget sih!" Balas Zafira.


"Eh, tapi kan masih lama Fir nyuruh mondoknya. Masih setahun lagi." Kata Zafran sambil menatap kedua saudaranya.


Zafir terdiam mendengar ucapan Zafran.


Ingatannya kembali saat Buya dan Umma kemarin mengajak ketiganya berbicara.


"Zafir, Zafran, Zafira..." Panggil Umma sore kemarin.


Ketika Zafir, Zafira dan Zafran sedang asyik bermain ular tangga bersama Al.


Seketika keempatny menghentikan permainannya dan merapat ke orang tuanya.


"Iya Buya.." Jawab ketiganya kompak dan ikut duduk di karpet ruang tengah.


Sedangkan Al langsung bergelayut manja di pangkuan Umma.


Beruntung perut Umma belum besar, jadi Al tidak mengganggunya.


"Zafir, Zafira, Zafran bagaimana sekolah kalian?" Tanya Buya.


"Baik, Buya." Jawab Zafran.


"Apa ada kesulitan?"


"Enggak ada kok Buya."


"Kalo kita gak bisa, kan tinggal minta ajarin uncle Iyan." Sambung Zafira.


"Iya.. tapi uncle sekarang kan pulangnya malam-malam. Kalo kesulitan minta tolong aja ke Umma." Kata Desta.


"Memang Uncle kemana, Buya?" Tanya Zafira kepo.


"Uncle harus bantu Om Edo di kantor." Jawab Desta.


Ketiga mengangguk. Sebagai tanda mereka mengerti tanpa membantah berlebihan.


"Zafir, Zafran, Zafira.. Setelah lulus tahun depan kalian berangkat mondok ya!" Kata Desta lembut kepada ketiganya.


"Kayak Uncle gitu?" Tanya Zafira.


"Berarti kita gak ketemu Buya sama Umma dong?" Tanya Zafir.

__ADS_1


"Iya, tapi kan hanya sebentar. Setelah kalian pulang lagi." Desta masih bersuara lembut.


"Nanti kalo kangen Buya, Umma dan Uncle Iyan gimana?" Rajuk Zafira.


"Kan Umma, Buya sama Uncle bisa main ke sana."Jawab Aqeela.


"Kan kalian di sana nanti menuntut ilmu. Bukan yang lainnya." Lanjut Aqeela.


"Iya...Ummaa.." Sahut ketiganya.


"Fir.. Zafir..!" Zafran dan Zafira menggoyang-goyang bahu Zafir yang melamun.


"Eh.. iya.. Sakit, Zafran.. Zafira." Teriak Zafir.


"Lagian ngelamun aja, ntar ketempelan jin loo." Goda Zafran.


Zafira hanya tertawa kecil mendengar ucapan Zafran.


"Menurut kalian gimana?" Ulang Zafir.


Zafira dan Zafran saling berpandangan.


Sedangkan disisi ruangan lain terlihat Julian mengamati dan menyimak ketiga keponakannya itu.


Saat Aqeela dan Desta melintas, Julian segera menyeret keduanya agar berhenti sejenak.


"Kak, di sini dulu!" Kata Julian sambil mengecilkan suaranya.


"Kenapa sih, Yan?" Aqeela yang tidak sabar ingin membantah.


"Husstt...!" Julian mengangkat telunjukny ke bibir mengisyaratkan agar kedua kakaknya itu diam.


"Kenapa?" Aqeela mengulangi sambil mengecilkan suaranya.


"Itu lihat ketiga anak kakak, sedang berusaha menyelesaikan masalahnya. Kita simak dari sini saja. Nanti kalo kita mendekat ke mereka. Yang ada mereka akan selalu menjagakke kita." Jawab Julian.


Di ruang tengah, dimana si triple masih berdiskusi.


"Nurut aku nee ya... Gak ada salahnya kita mondok." Kata Zafran yang diangguki oleh Zafira.


"Lagian tuh ya.. kita kan mondoknya bertiga. Ndak sendirian kayak uncle. Kenapa sih Fir kok kayaknya kamu galau gitu?" Zafira menatap Zafir dengan kepo.


"Ya gak pa_pa. Kalian sudah sanggup gak Buya,Umma, Uncle,Al? Belum nanti kita bakal terpisah sama genk kita?" Lanjut Zafir mengungkapkan kegalauannya.


"Ya.. pasti kangenlah Fir. Kita juga pengen sama-sama terus. Tapi kan... kita harus menuntut ilmu dengan baik." Jawab Zafira.


"Fir, kita udah pernah ditinggal jauh Renata. Kalian kangen gak sama Renata?" Pandangan Zafran menatap jauh ke luar melalui jendela yang ada di ruangan tersebut.


"Aku kangen banget sama Renata. Tapi aku tahan." Lanjutnya dengan mata sayu.


"Masa sih, kita yang mondok gak jauh dari Surabaya keberatan." Zafran masih bersuara sedih.


"Ehmm hem..." Zafir berdehem.


"Keleken apa kamu, Fir?" Goda Zafira.


Zafran menatap keduanya dengan senyum kecilnya.


"Aku kangen sama Renata, kok." Jawab Zafira seakan memberi dukungan kepada saudaranya bahwa ia juga merasakan apa yang dirasakan saudaranya itu.


"Eh, lagian di Kediri dekat pesantrennya Umma ada kampung Inggris loo. Kita juga harus minta Umma belajar di sana. Asyik banget kayaknya." Zafran mengalihkan rasa sedihnya.


"Wah, iya tuh Fir. Kamu kan suka banget bahasa Inggris. Kita bisa tuh belajar disana pas liburan." Dukung Renata.


Zafir menatap keduanya dengan pandangan yang sulit mereka mengerti.

__ADS_1


"Udahlah... gak usah ragu. Kan ada Zafran sama Zafira. Yang harusnya galau tuh Zafira. Ntar dia di Pesantren Putri sendirian. Sedangkan kita masih bisa bersama di kamar yang sama." Support Zafran.


Zafir masih menatap Zafran dan Zafira.


"Wake up, bro!" Seru Zafira.


Zafir mengedipkan kedua matanya berkali-kali.


Dipeluknya kedua saudaranya itu.


"Makasi yaa.."


"Hei, kita ini saudara. Mulai dari perut Umma kita sudah bertiga. Jadi, kita harus bersama-sama. Saling dukung dan support." Kata Zafran


"Kita juga bisa merasakan apa yang satu sama lain rasakan. Walaupun kadang ada yang suka lola." Gurau Zafira tanpa menuduh.


Tak dipungkiri, saat ada yang galau bisa jadi satu diantara ketiganya peka sedangkan yang lainnya lebih lambat responnya. Dan itu terjadi beberapa kali pada mereka.


Tanpa mereka bisa mengontrol. Siapa yang lebih peka dan siapa yang lola (loading lama).


Yaa, begitu kali ya namanya saudara kembar pasti merasakan apa yang saudaranya rasa.


Aqeela, Desta dan Julian yang mendengar dari balik dinding terlihat begitu terharu.


"Anak-anak kita sudah besar ya Bae." Lirih Aqeela


"Iya Beb."


"Kak, si triple sekarang terlihat sudah dewasa dan sangat bertanggungjawab." Julian menimpali.


"Kak, terima kasih yaa udah nerima aku." Tiba-tiba Julian jadi mellow.


"Hei, kok jadi kamu yang baper." Seru Aqeela.


"Yan.." Aqeela menahan tubuh Julian yang terlihat tiba-tiba rapuh.


"Yan dengerin Kakak!" Kata Aqeela sambil memaksa Julian agar menatapnya.


"Semua yang terjadi itu sudah taqdir. Kita tidak akan bisa menghindarinya. Percayalah semua yang terjadi antara kita adalah jalan dari Allah. Bisa jadi itu do'a orang tua kamu sewaktu mereka masih hidup."


"Yan, Alloh sudah menitipkan kamu ke kita. Kita tidak menyesalinya. Bahkan kakak pernah berharap kamu adalah benar-benar adik kandung kakak. Kamu tau kan, Kak Aqeela dan Kak Desta sama-sama anak tunggal. Sepi. Sendirian terus."


"Kehadiran kamu, menghadirkan suasana yang berbeda. Kakak tetap kakak kamu. Terlepas dari siapapun kamu. Pulanglah ke Kakak, rumah kamu di sini."


Desta terdiam sambil menghapus air mata di pipi Aqeela.


"Yan, jangan ungkit lagi soal maaf dan merepotkan. Kakak kamu terlalu sensi. Apalagi kondisinya yang sedang hamil." Bisik Desta.


💗💗💗💗💗💗


**Maaf yaa.. 2 hari absen.


Lagi kejar tayang dunia nyata, deadline dinas hari jum'at kemarin.


Alhamdulillah, kelar.


Meski harus revisi sampai malam 🙊


Tengkyuu buat komentar2nya


Terima kasih buat supportnya


Karena support kalianlah, saya masih bertahan disini


Love me full for you

__ADS_1


😘😘😘**


__ADS_2