TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Tamu


__ADS_3

Seseorang mengetuk pintu rumah, Zafira. Bu Darmi yang sedang memasak di dapur bergegas membukakan pintu setelah mematikan kompor.


"Iya, mas?" Ucap Bu Darmi begitu pintu terbuka dan di hadapannya ada seorang laki-laki membawa hanger dan pembungkus khusus gaun.


"Benar ini kediaman Zafira?" Tanya lelaki itu.


"Benar,"


"Saya mengantar gaun pengantinnya,"


"Oh.. iya mas kebetulan Mbak Zafiranya masih di Pondok," Jawab Bu Darmi.


"Oh, baik. Silahkan tanda tangani ini!" Kurir itu segera menyerahkan kertas dan pena kepada Bu Darmi.


Setelah diberi tanda terima, kurir tersebut undur diri.


Bu Darmi meletakkan gaun Zafira ke kamarnya. Mencantolkannya pada di pintu lemari agar mudah terlihat.


💗💗💗💗


"Assalamu'alaikum..." Sapa Zafira saat mengangkat telpon dari Julian menjelang tidur.


"Wa'alaikum salam.." Jawab suara lembut seorang pria di seberang.


"Gimana, udah di terima gaunnya?" Sambung Julian masih dengan lembut.


"Udah." Zafira menjeda sambil menoleh ke arah ia menyimpan gaun pengantinnya.


"Cantik." Sambungnya sembari mengelus gaun warna putih itu.


Pulang dari pondok tadi, Bu Darmi menyampaikan perihal gaunnya yang sudah diantar.


Dengan tidak sabar Zafira langsung naik ke lantai dua, dimana kamarnya berada.


"Subhanallah" Ucapan kekaguman dari bibir Zafira begitu memandang gaun cantiknya.


Gaun secantik milik bidadari, berwarna putih mengembang dari pinggang sampai kaki.


Senyum Zafira tak pernah lepas dari bibir mungilnya.


Sayang Julian tidak bisa melihat senyum menawan sang kekasih. Hanya suara merdunya saja yang bisa ia nikmati di telinga.


"Kamu suka?"


"Suka, pake banget!"


"Tidur yang nyenyak ya... Doain supaya acara kita minggu depan lancar."


"Aamiiin.."


Zafira menutup panggilan dari calon suaminya dengan riang.


Tak ada gombalan atau kata-kata pengantar tidur dari Julian. Namun bagi Zafira itu lebih dari cukup.


Saling mendo'akan saat jauh.


Saling meminta di dekatkan saat memuji asmaNya.


💗💗💗💗


Aqeela baru pulang dari masjid Desta juga baru selesai menyapu halaman membantu Pak Ozi, tukang kebun mereka.


Sebuah mobil berplat AG berhenti tepat di depan rumah mereka.


Desta menghentikan aktifitasnya menyerok daun-daun untuk di masukkan ke penampungan sampah basah.

__ADS_1


Ia terperanjat dengan hebatnya mendapati seseorang yang dikenalnya masuk dan memberi salam padanya.


"Gus Burhan?" Pekiknya tidak percaya.


Seorang pria paruh baya mengenakan sarung, baju koko lengkap dengan peci hitamnya menggandeng seorang wanita memakai abaya warna kuning.


Aura wajah keduanya terlihat segar, walaupun keriput mulai me


Buru-buru, lelaki itu mencuci tangan dan kakinya sebelum menemui tamu agungnya.


Gus Burhan, pengasuh pesantren Al-Hikam tempat istri, Julian dan anak-anaknya menuntut ilmu.


Setelah mempersilahkan masuk tamunya. Desta segera memanggil sang istri yang ada di kamar.


Buru-buru Aqeela menyambut Gus Burhan.


"Bagaimana kabar kalian?" Gus Burhan membuka percakapan begitu Aqeela dan Desta sudah berkumpul di ruang tamu.


"Alhamdulillah, sehat Gus. Panjenengan pripun?" Jawab Aqeela dan menanyakan balik kabar tamunya.


"Alhamdulillah kita sehat. Julian dan anak-anak bagaimana?" Tanya Gus Burhan.


"Alhamdulillah Anak-anak sehat. Julian juga sehat." Balas Aqeela.


"Gus Burhan, wonten engkang saged dalem baturi?" Tanya Desta sopan.


(Gus Burhan, adakah yang bisa kami bantu?)


Gus Burhan dan Ning Izza saling pandang seakan ada beban berat di hatinya.


Keduanya menarik napas panjang sebelum akhirnya memantapkan jiwa menatap suami istri yang tak lain santrinya dulu.


Bu Erna datang membawa suguhan untuk tamu Aqeela dan Desta.


"Gus, monggo di unjuk!" Ucap Desta mempersilahkan tamunya.


"Terima kasih!" Jawab Ning Izzah.


"Apa Julian baik-baik saja?" Gus Burhan menatap Desta dengan wajah yang tak bisa diartikan.


"Julian baik, sekarang dia menggantikan posisi almarhum papanya." Jawab Desta sedikit bingung karena tadi Gus Burhan sudah menanyakan kabar adiknya itu.


"Sekarang dia ada dimana?" Tanya Gus Burhan.


"Sepertinya tadi dia keluar dengan anak-anak." Jawab Desta.


Karena memang, Sejam yang lalu triple keluar bersama Julian untuk mengunjungi Ibu Alif yang sedang sakit.


"Ohh..." Suara Gus Burhan terdengar semakin berat.


"Qee.. Des.. sebelumnya saya minta maaf jika kedatangan kami mengagetkan dan mengganggu aktifitas kalian." Gus Burhan menjeda kalimatnya.


Aqeela dan Desta semakin penasaran. Mereka hanya saling pandang menatap Kyai penerus Pesantren Al-Hikamnya.


"Maksud kami kedatangan kami ke sini... sebenarnya..." Gus Burhan kembali terhenti ada setitik air turut menerobos di sela-sela ucapanny.


"Gus.. Ning ada apa sebenarnya?" Aqeela yang merasakan ada sesuatu yang ganjil segera masuk ke ranah tersebut.


Ning Izzah yang sedari tadi terdiam menggenggam erat telapak tangan suaminya. Air mata istri Gus Burhan menetes perlahan seakan turut merasakan duka sang suami.


Sesaat suami istri tersebut hanyut dalam suasana sedih.


"Bae, ada apa ini? Kok jadi horor gini?" Bisik Aqeela bingung.


"Entahlah, kita dengarkan saja penjelasan mereka." Balas Desta dengan berbisik.

__ADS_1


"Kami ke sini ingin mengkhitbah Julian untuk putri kami Hani," Gus Burhan berbicara dengan berurai air mata.


Aqeela dan Desta terperanjat, mendadak lemas dan bingung.


Keduanya tak sanggup menjelaskan kebenaran tentang plaining Julian dan Zafira yang akan melangsungkan akad nikah minggu depan.


Apalagi kedua tamu agungnya itu menyampaikan dengan kondisi terisak.


Dalam kondisi gundah, suara Gus Burhan kembali memecah kesunyian diantara mereka.


"Qee..., Des..," panggil beliau.


"Injih Gus," jawab Desta.


"Kami ke sini sebenarnya karena keinginan Hani. Saat ini kondisi anak kami bisa dikatakan sekarat...." Gus Burhan menghapus air matanya yang sejak tadi meleleh tanpa bisa di bendung.


"Hani sempat menyampaikan kepada kami, agar menemui Julian dan menikahinya..."


"Apa?"


Bersamaan dengan itu Julian dan triple masuk.


Dengan kondisi syok, Julian dan triple menyalami pasangan pengasuh pesantrennya menuntut ilmu.


Selesai menyalami Zafira langsung masuk ke kamar dengan perasaan tak menentu.


Sedangkan Julian yang berniat menyusul Zafira ditahan oleh Desta.


Aqeela dengan sigap meminta Zafir dan Zafran untuk duduk di ruang tamu.


"Yan.. ini ada surat dari Hani! Gus Burhan menyerahkan sepucuk surat dengan amplop putih tanpa nama.


"Surat ini ditulis sehari sebelum masuk ia masuk ICU," Lanjut Gus Burhan.


"Maksudnya?" Julian menatap Gusnya dengan tatapan galau.


"Hani kena gagal ginjal stadium akhir. Kami hanya berinisiatif mengabulkan permintaan terkahirnya. Menikah denganmu, Yan." Gus Burhan kembali menyeka air matanya.


Ada rasa pedih dan duka ikut dirasakan seluruh penghuni ruang tamu Aqeela. Namun di sisi lain ada keinginan menolak.


"Gus Rohmad membatalkan khitbahnya karena kondisi Hani yang semakin memburuk." Gus Burhan berusaha tegar menceritakan kondisi Hani dihadapan Julian dan keluarganya.


"Yan, saya tidak meminta jawabannya sekarang. Tapi kami mohon jika memang ingin mnegabulkan permintaan terkahir putri kami, segeralah. Kami khawatir tak cukup waktu untuk mengucapkan ijab kabul." Urai Gus Burhan kali ini ia lebih tegar.


💗💗💗💗


Maaf yaa temans.. semalam aku ketiduran pas ngedit 😅


Jujur aja aku paling susah nulis yang paka bawang kayak gini.


like, komen dan share yaa..


Hm.. oya yang ingin tahu kelanjutan si Zafira dan Uncle Iyan.


atau


Renata dan Zafran


untuk kisah Zafir aku keep dulu yaa..


buka di cwitan atau kbm



yang ini sementara di kbm

__ADS_1



__ADS_2