TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Bolos (2)


__ADS_3

Setalah drama timpuk menimpuk berakhir dengan gelak tawa.


Sebuah panggilan video masuk ke gawai Darren.


"Bunda." Pekik ABG itu panik dan menyerahkan gawainya pada Malik.


Yupz Bunda yang dimaksud, Oca. Ibunya Malik.


"Maliik.. Aduuuh.. Kenapa sih kalian gak izin kalo mau ke pondoknya Si kembar tiga?" Omel Oca dengan menggebu-gebu.


Begitu Malik menggeset ikon hijau di monitor gawai Darren.


"Memangnya kenapa Bun? Kalo Malik izin dulu?" Jawab Malik malah menggoda Bundanya.


"Kan Bunda bisa ikut." Balas Oca dengan nada santuy.


Seketika para ABG itu tepok jidat.


Oca hanya tertawa ringan melihat ulah sahabat anaknya itu.


"Bunda.. kirain Zafir tadi mau marah-marahin Malik loo.." Zafir langsung menyahut meski kamera tidak mengarah padanya.


"Awalnya iya. Tapi setelah tahu bolosnya ke tempat kalian, Bunda marah karena gak diajak." Cerocos Oca.


"Besok aja ke sini lagi, Bun." Sahut Zafira.


"Jangan besok Bun. Senin depan aja." Sahut Zafran.


"Kalian ganggu aja. Bunda ndak udah ke sini. Merepotkan saja." Pungkas Malik.


"Huu.. Bun gak jadi deh, ada yang jeles." Ledek Zafran.


"Apaan sih." Ketus Malik.


"Tuh kan Bun. Bunda semoga sehat terus yaa.. Tungguin kita bertiga pulang." Sahut Zafran.


"Udah ah Bun. Makanya Malik diizinin bawa hape ke sekolah Bun. Biar gak pake punya Darren terus." Protes Malik.


Oca tampak tertawa mendengar protesan anaknya.


"Enggak. Bawa hapenya nanti kalo sudah SMA." Jawab Bunda.


Ya, diantara mereka berenam memang hanya Darren satu-satunya yang diizinkan membawa gawainya ke sekolah.


Tentunya dengan izin pihak sekolah. Biasanya pas pagi sebelum masuk Darren menyerahkan gawainya kepada guru piket pulang ia ambil. Fungsinya untuk memberi kabar kepada sang Mami keberadaannya.


Dan karena Darren sudah mengantongi izin, maka Oca dan Via memilih nebeng gawai Darren toh anak-anak mereka bersahabat dan satu sekolah.


Penghematan kuota, begitu alibi Oca dan Via.


Jadi, gak perlu beliin mereka kuota. Cukup pake wifi di rumah.


Duh, emak-emak ini beneran deh. Kalo masalah irit pasti number one.


(Samaan gak?)


"Ya udah. Ya Alloh mudah-mudahan Malik cepet SMa." Solot Malik dengan wajah menggoda sang Bunda.


"Terus kalo kamu langsung SMA kita masih SMP cepet tua loo ntar." Ledek Zafran.


Oca ikut ngakak mendengar ledekan Zafran.

__ADS_1


"Udah deh, Bye anak-anak. Pulangnya hati-hati ya. Muacch..." Kiss bye dari Oca mengakhiri percakapan mereka.


"Byee Bundaa..." Bye bye mereka kompak.


"Bunda udah, Mami udah. Mama kamu telpon gak ya Nda?" Sahut Zafira mengabsen orang tua sahabatnya.


"Mama lagi sibuk masak. Palingan ntar sore kalo aku belum pulang pasti hapenya Darren bunyi." Jawab Wanda yang hafal kegiatan Mamanya.


Bukan karena tidak sayang sama anaknya, tapi karena kesibukan mamanya saat ini. Beliau hanya memberi pengertian dan keperayaan penuh kepada putrinya.


"Ya udahlah semoga cathering mama kamu sukses yaa.." Do'a Zafir diamini semuanya.


"Udah pesen apaan?" Tanya Julian begitu nimbrung dengan komplotan triple lagi.


"Belum." Jawab keenamnya kompak.


"Lhaa terus kalian ngapain aja dari tadi?" Protes Julian.


"Abis Mami, Bunda VC.. ya udah lama deh." Sahut Darren.


"Ooh.. ya udah sekarang kalian pesan makan dulu!" Titah Julian.


Tanpa komando kedua, mereka segera memesan makanan.


"Uncle mau dipesankan apa?" Tanya Zafira sebelum beranjak dari kursinya menyusul sahabat-sahabatnya.


Julian tersenyum kecil menatap Zafira. "Samain kamu aja."


Zafira membalas dengan mengangkat tangan kanannya membentuk "ok"


Sambil menunggu pesanan datang mereka kembali duduk di bangkunya.


Drrrt..


Cowok itu menjauh dan segera mengangkat dengan sedikit panik.


"Fir, uncle kenapa tuh?" Kepo Zafir menatap aneh Julian.


"Entahlah." Jawab Zafira sembari mengedikkan bahunya tanda ia tak tahu.


"Samperin gih." Titah Zafran karena setahu dia Julian lebih dekat dengan Zafira ketimbang dirinya maupun Zafir.


Tanpa menjawab iapun menyusul Julian.


Awalnya tidak ada niatan untuk menguping pembicaraan Unclenya, namun Zafira mungkin diciptakan untuk mengetahui kenyataan dengan cara menguping.


(Nasib kamu dek)


Lamat-lamat ia mendengar Julian menyebut nama Edo. Sehingga meyakinkan Zafira bahwa yang menelpon Unclenya Edo.


"Uncle..." Panggil Zafira begitu Julian menagakhiri panggilannya.


"Zafira?" Kaget Julian, mendapati Zafira sudah di belakangnya dengan posisi punggung menempel di dinding dan kedua tangannya bersedekap.


"Sejak kapan kamu di situ?" Sambung Julian.


"Sejak Uncle panik tadi." Zafira menjauhkan punggungnya dari dinding.


"Om Edo kenapa?" Tanya Zafira tanpa melepas tatapannya pada Julian.


Wajah pemuda itu terlihat cemas. Apalagi saat mendapati dirinya yang menguping.

__ADS_1


"Kamu denger apa aja?" Selidik Julian.


"Hanya suara panik, Uncle. Yang beberapa kali mengumpat." Dengus kesal Zafira.


Julian mencoba tersenyum kecil mendengar kekesalan Zafira.


"Om Yanuar, adeknya papa Uncle mengajujan banding ke pengadilan." Cerita Julian langsung ke intinya.


Zafira mengangguk dan mengerti. Karena ia sudah tahu semua kisah Julian secara lengkap sebelumnya.


"Terus uncle mau ngapain?" Tanya Zafira kepo.


"Uncle belum tahu. Masih akan uncle bicarakn dengan Om Edo. Tapi kayaknya Om Yanuar benar-benar sudah menyesal." Ucap Julian.


"Apa Uncle berniat memaafkan Omnya Uncle yang jahat itu?" Zafira masih kepo dengan Julian.


"Kalo memaafkan, Uncle udah memaafkan. Tapi hukum harus ditegakkan. Selebihnya Uncle belum tahu." Julian masih tersenyum sambil menatap Zafira.


"Menurut Zafira gimana?" Julian meminta pendapat Zafira begitu gadis itu membalas senyumnya.


"Kalo menurut Zafira, sebaiknya Uncle cari tahu dulu kebenarannya. Apa Om Yanuar itu benar-benar menyesal atau hanya mempermainkan sifat baik Uncle." Ucap Zafira.


"Zafira masih ingin main sama Uncle. Zafira tidak ingin uncle kenapa-napa." Terdengar jelas jika Zafira mengkhawatirkannya.


"Kamu khawatir?" Julian mengajak Zafira balik ke kantin dengan kode tangan.


"Iyalah. Bukan hanya aku kalee. Umma sama Buya pasti lebih khawatir. Mereka kan sayang banget sama Uncle."


Julian gemas sekali melihat mimik Zafira saat mengatakan iya. Andai saja ia tak ingat Zafira dan dirinya bukan muhrim sudah ia labuhkan tubuhnya ke bahu gadis itu.


Saat ini ia benar-benar butuh sandaran untuk menguatkan hatinya bahwa Yanuar benar-benar menyesali perbuatannya. Seperti yang dikatakan Zafira tadi.


"Uncle..." Panggil Zafira.


Julian menoleh tanpa berkata apapun.


"Uncle jangan tinggalkan tahajud." Pesan Zafira sebelum kedua mencapai di lokasi yang di tempati komplotannya.


"Makasii yaa.."


Zafira mengangguk.


"Masih bolehkah Uncle ke sini minggu depan?" Bisik Julian sembari duduk di kursinya semula.


Zafira kembali mengangguk tanpa mengeluarkan suara karena pandangan semua temannya tertuju padanya.


"Gak ada apa-apa." Sahut Zafira membalas kekepoan teman-temannya.


"Urusan kantor. Om Edo nanya Uncle dimana." Sahut Julian tanpa maksud berdusta. Karena saat ini cukup dia dan Zafira saja tahu.


Seperti yang disampaikan Aqeela tempo hari. Zafir dan Zafran sementara tidak perlu banyak tahu apapun.


Kelak ia dan Buyanya saja yang akan menceritakan semuanya.


💗💗💗💗💗


Menjelang malam, Julian mengantar ketiga sahabat keponakannya dengan selamat sampai di rumah.


Tak ada lagi drama ala emak-emak alias omelan karena pulang larut ketiganya setelah pemaksaan Zafran menghubungi orang tua sahabatnya itu.


💗💗💗💗💗

__ADS_1


To be continue


Masih terus butuh dukungan kalian


__ADS_2