
"Umma..." panggil Zafir manja saat ibunya itu bersama Ara dan Ayra membantu si twins mengerjakan tugas rumahnya.
"Kenapa?" balas Aqeela begitu Zafir duduk di sebelahnya.
Pemuda ganteng itu tiba-tiba memeluk Umma dengan manja.
"Anak Umma kenapa ini kok manja gini!" goda Aqeela.
"Ih, kakak Zafir gak malu udah gede masih aja peluk-peluk Umma!" semprot Ara.
"Kenapa? Iri? Bilang Bos sana!" ledek Zafir.
"Kak Zafir nyebelin!" maki Ara.
Zafir terkekeh melihat adik twinsnya itu cemberut.
"Awas cepat tua looo!" ledek Zafir.
"Kakak...!" Ara melempar bantalan kursi ke arah Zafir.
"Umma, Kakak nyebelin!" Ara berlanjut mengadu pada Umma.
"Eh, kok Ara yang marah harusnya Kak Zafir karena dilempari Ara bantal tapi diem aja kan gak bales," ucap Zafir penuh kemenangan.
"Ummaaa..." teriak Ara dengan sebalnya merasa diolok kakak tersayangnya.
Ayra hanya terkekeh melihat ulah saudara kembarnya itu. Gadis cilik itu malah mendekati Kakaknya dan bergelayut manja di punggung Zafir.
"Ra.. liat!" ledek Ayra karena Zafir memeluk dan mengecup kedua pipi dan keningnya berkali-kali.
"Tuuh kaan Umma... Kakak nyebelin!" Ara berteriak tidak jelas. Gadis itu tiba-tiba geram melihat ulah saudara kembarnya yang curi start bergelayut manja pada kakak sulungnya itu.
"Mau?" goda Zafir.
"Ogah," jawab Ara yang terlanjur kesal.
"Udah... udah... kalian itu kapan sih berhenti ngisengin Ara!" lerai Umma karena memang Ayra dan Zafir suka godain Ara yang notabene sangat sensi.
Zafir dan Ayra hanya cengengesan seolah perbuatan mereka itu biasa-biasa saja.
Zafir meski terkesan cuek, ia masih memiliki rasa sayang dan peduli kepada sekitarnya. Bahkan mengapresiasikan bentuk sayangnya dengan sehebat mungkin.
Apalagi untuk kedua adiknya. Mereka pasti begitu kesepian setelah Zafran dan Zafira pindah ke rumah masing-masing. Jadilah dirinya sebagai kakak tunggal yang super iseng dan paling sayang dengan si twins.
"Kalian berdua cepet selesaikan tugasnya!" ucap Aqeela agar si twins kembali fokus.
"Kamu juga tumben nyariin Umma. Biasa juga udah keluyuran gak jelas!" oceh Aqeela menoyor pemuda gantengnya itu.
"Jadi Umma lebih seneng anaknya keluyuran daripada di rumah gitu, ya?" Zafir pura-pura cemberut mendengar protesan sang Umma.
"Bukan gitu juga kaleee! Cuma gak biasanya kamu di rumah," ucap Umma.
"Lagi galau, Ummaa!" Zafir meletakkan kepalanya di paha Aqeela.
"Masih mikirin Fely?" tebak Umma dengan tepatnya.
Zafir mengangguk.
"Oh.. iya Kak Fely kemana? Lama gak ke sini?" sela Ayra sambil jarinya sibuk menghitung.
__ADS_1
"Kak Fely mudik!" jawab Zafir.
"Ooh.. pantesan. Kak Zafir pasti rindu tuuh sama Kak Fely! Kayak lagunya, kusimpan rindu di hati gelisah ku tak mengerti..."
"Nyanyi dek?" ledek Zafir.
"Enggak makan pisang," Ayra cemberut mendengar ledekan kakaknya itu.
Kini giliran Ara yang menertawakan Ayra.
"Syukurin!" olok Ara membuat Ayra melotot menatap saudara kembarnya itu.
"Udah selesaikan tugasnya!" perintah tegas Umma sebelum terjadi gempa susulan dari Ayra.
"Iya Umma," jawab keduanya beralih ke buku.
"Umma, Fely kenapa ya?" ulang Zafir.
"Apa Zafir bole menengoknya?" tanya Zafir.
"Apa kamu sudah begitu merindukan dia, Fir?" tanya Umma.
Zafir hanya menatap Umma dengan bimbang. Ia tak bisa lagi mengungkapkan rasa di hatinya. Sudah terlalu lama.
"Cobalah kamu WA dulu, tanyakan kabarnya!" ucap Umma mengarahkan putranya agar tidak suudzon.
"Sudah Umma, tapi tidak ada satupun pesan Zafir yang ia baca. Semuanya centang dua." jawab Zafir.
"Banyakin doa! Doain Fely supaya dia baik-baik saja!" ucap Umma, kalimatnya serasa menggantung.
Wanita itu seakan merasakan sesuatu yang berbeda dari penjelasan putranya.
"Dia juga sudah lebih dari seminggu gak kuliah. Teman-teman pada nanyain," cemas Zafir.
Umma mengelus pipi Zafir dengan sayang.
"Sabarlah! Fely saat ini sedang diuji!" Umma memberikan ketenangan pada putranya.
🌷🌷🌷🌷
Dua minggu berlalu. Dan selama itu belum ada satupun kabar yang mampir ke sosmed Zafir tentang Fely.
Gadis itu seolah hilang ditelan bumi.
Zafir benar-benar hilang kontak, jika kemarin ponsel Fely masih centang dua. Seharian ini malah centang satu.
Berbagai rangkaian doa, terus ia munajatkan kepada sang khalik untuk Fely.
Namun, titik terang Fely belum ia temukan hilalnya.
Yang ada, Zafir pasrah. Ia harus mengikhkaskan Fely apapun yang terjadi.
Zafir siap menghadapi kenyataan apapun yang digariskan padanya, walaupun hati kecilnya merasa tidak sanggup.
Pemuda itu benar-benar menginginkan bertemu Fely, hanya untuk mengetahui kabar terakhirnya.
Walau hanya dengan melihat dari jauh. Tapi itupun tidak pernah nyata.
Kemarin, ia menyempatkan diri menengok rumah Mama Fely. Namun, ia tidak mendapat apapun.
__ADS_1
Rumah itu sepi. Keadaannya sama seperti dua minggu yang lalu saat ia mengantar Fely pulang.
Zafir ingin sekali masuk rumah itu untuk sekedar mengucapakan salam kepada gadis yang sudah mengisi seluruh hatinya itu.
Namun, ucapan Fely kembali terngingang.
"Tunggu sampai aku mengabari, lalu jemput aku!" pesan Fely.
Lebih dari tiga jam Zafir menatap kediaman Fely, tidak ada yang mencurigakan. Zafir sedikit tenang saat di sana.
Namun, begitu di rumah rasa cemas kembali menderanya. ingin sekali malam itu ia kembali ke rumah Mama Fely.
Detak jantungnya sampai terdengar di telinganya. Begitu keras dan kencang.Kepalanya mendadak pusing tidak karuan.
Padahal selama ini ia tidak pernah mengalami hal buruk seperti ini.
Hatinya benar-benar gelisah. Berkali-kali ia mondar mandir di balkon kamarnya, tapi itu tidak banyak membantu.
Akhirnya pemuda itu masuk kamar mandi, mengambil air wudhu. Membasuh wajah dan sebagian tubuhnya dengan air.
Setelah itu ia gelar sajadah, ditunaikannya salat sunnah dua rakat walaupun ini belum terlalu malam. Baru pukul sepuluh malam.
Namun, Zafir tidak peduli. Putra Aqeela dan Desta itu mencoba mendoakan Fely dengan mengingat Allah melalui salat hajat.
Selesai menoleh ke kanan kiri dan mengucap salam. Bibir Zafir menyebut asma Allah berulang kali.
"Astaghfirullohal adhim."
"Ya Rahman, Ya Rahim, Ya Malik, Ya Khalik, Ya Azis...."
"Lahaula wala quwwata illa billahil aliyyil adhim,"
Entah doa apa lagi, yang pasti semua lafal yang ia tahu terus disebut.
Zafir menengadakan kedua tangannya.
"Ya Allah, jika engkau berkenan beri hamba petunjuk dimana keberadaan Fely dan bagaiman keadaannya. Hamba benar-benar khawatr,"
Zafir terus duduk bersila dengan memunajatkan doanya. Bahkan sudah berapa lama ia tidak memikirkan waktu.
Kaki kesemutan, tangan kebas tidak ia rasakan. Yang ia tahu bagaimana cara Allah memberi petunjuk.
Tanpa terasa pemuda itu tertidur di atas sajadahnya. Masih memakai sarung, baju koko dan peci putih kesayangannya.
Pemuda itu terbangun saat adzan subuh berkumandang dari alarm ponselnya. Sengaja Zafir memasang alarm menggunakan azan supaya selalu mengingat salat.
Tepat selesai ia salam menoleh ke kiri, setelah salat subuh.
Gawai Zafir berdering dengan kencang.
"Halo..." sapa Zafir.
"Dengan Zafir?"
"Kami tunggu kedatangannya di rumah sakit. Fely sedang sakit...."
Tut.. tu.. tut...
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Like, komen dan vote yaa teman2..