
"Aqeela bagaimana?" Tanya Ayah begitu Desta dan Julian Selesai merapikan bekas makanan mereka.
Namun belum sempat Desta menjawab, suara panggilan dari ponsel pria itu berdering.
"Hallo.."
"Kak Aqeela Kecapekan Dad. Dia kepikiran sama Kak Wisnu yang mendatanginya di sekolah." Jawab Julian menggantikan Kakaknya.
"Wisnu yang bikin dia tertusuk waktu itu." Daddy ikut menggeretakkan giginya dengan kasar Keduanya tangannya mengepal.
"Iya." Jawab Julian lirih khawatir Daddy murka.
"Daddy dan Mommy temani kakak kamu dulu. Kalian berdua selesaikan urusan kalian." Kata Daddy.
"Julian gak ada urusan, Dad. Kak Desta tuh yang dari tadi khawatir." Jawab Julian.
"Ya udah temenin Daddy dan Mommy!" Ajak Mommy sambil mengamit lengan kedua cowok itu.
Sementara Desta yang ada di luar, masih sibuk menerim telpon.
"Hallo..." Desta bangkit dari duduknya dan bangkit keluar.
"Gimana penyelidikan kamu?" Tanya Desta.
"Bos.. Wisnu itu hidup sendiri. Wanitanya berganti-ganti. Saat ini ia jadi direktur gold corporation." Suara di seberang menjelaskan hasil penyelidikan.
"Tunggu. Gold Corporation itu kan perusahaan yang kemarin mengajukan kerjasama dengan perusahaanku. Selediki pemilik sebelumnya. Kenapa sampai ke tangan Wisnu." Titah Desta.
"Pemilik sebelumnya...." Penelpon diseberang terdiam.
"Kok diem sih kamu , Pa.. Topa? Haloo.. Kamu masih di situ gak?" Desta memanggil nama si penelpon. Si Topa atau Mustofa salah satu anak buahnya Vian.
"Eh.. eh iyya Bos saya takut bos semakin sedih nanti."
"Kamu tuh kayak Psikolog aja."
Topa tertawa ringan mendengar ledekan bosnya.
"Bos.. pemilik sebelumnya Keluarga Aldiano." Jawab Topa.
"Lhaa kan Wisnu anaknya mereka?" Desta semakin curiga.
"Wisnu itu anak sambung Pak Adnan. Pak Adnan menikah dengan Bu Desi dengan status janda dan duda. Pak Adnan membawa dua anak, Surya dan Aisya. Sedangkan Bu Desi membawa Wisnu. Harusnya perusahaan itu hak kakak tertua Wisnu, Surya. Namun Wisnu berhasil merebut dengan cara licik." Topa kembali menjelaskan.
Desta kembali menarin napas panjang.
"Sepertinya urusan Wisnu ini semakin panjang saja." Gumam Desta.
"Pa, kamu awasi gerakan Wisnu. Laporkan apapun kegiatan Wisnu padaku."
"Tapi Bos.."
"Udah urusan Vian, nanti biar aku yang jelasin. Sementara kamu ikut aku." Ucap Desta.
Ya, saat ini ia tidak mungkin meminta tolong anak buahnya yang lain. Mereka sudah diberi bermacam-macam tugas urusan kantor dan Pesantren oleh Desta.
Yang terlihat pengangguran kelas kakap saat ini memang Vian. Jadilah ia meminjam orang kepercayaan sahabatnya itu.
(Coba kalo Vian dengar olokan dalam hati Desta, pasti mereka sudah saling hajar. Keep yaa gaess.. Jangan di bocorin ke Vian)
Setelah menutup panggilannya, Desta segera masuk ke ruangan Aqeela di rawat.
Desta masih melihat istrinya memejamkan mata ditemani kedua orang tuanya dan Julian.
"Dad, Yan bisa kita bicara sebentar?" Pinta Desta.
__ADS_1
"Kenapa Kak?"
"Ada apa, Des?"
"Sebentar saja? Mom, nitip Aqeela dulu ya?" Kata Desta.
Mommy hanya mengangguk.
"Daddy sama Julian ke sana aja dulu. Biar lega tuh anak." Kata Mommy menenangkan suami dan anak angkatnya itu.
Setelah keduanya di luar ruangan.
"Kalian pernah mendengar Gold corporation?" Tanya Desta.
"Itukan perusahaan milik ayahnya si Wisnu. Bocah yang nusuk Aqeela." Jawab Daddy geram.
"Kenapa, Kak? Aku belum pernah dengar sih?" Kata Julian.
"Ternyata perusahaan itu sekarang dikuasai Wisnu. Padahal dari informasi yang aku dengar, seharusnya perusahaan itu menjadi hak Surya. Kakaknya." Kata Desta.
"Licik juga tuh anak. Katanya nyesel tapi gak ada buktinya." Geram Daddy.
"Kak, aku bantu menyelidiki keberadaan keluarga Aldiano." Pungkas Julian.
"Emang kamu yakin, Yan?" Desta menoleh ke arah Julian.
"Yakin, Kak. Ntar aku bisa minta info dari Om Edo atau yang lain." Kata Julian.
"Makasi.. ya Yan." Ucap Desta sambil tersenyum.
"Kakak, fokus aja ke Kak Aqeela. Nanti semua info biar aku bantu. Tadi Kak Topa kan?" Tebak Julian.
"Kok kamu tau sih?" Desta semakin kepo sama adiknya itu.
"He he he.. kali aja ada jiwa cenayang di ragamu."
"Ogah jadi dukun."
"Masuk yuuk, Kak. Kasiyan Mommy." Ajak Julian.
💗💗💗💗💗
Desta masih menjaga Aqeela, Julian sudah disuruhnya pulang. Mommy dan Daddy juga sudah pamit pulang bersamaan dengan Julian.
Sebenarnya Julian bersikukuh ingin menemani kakaknya. Tapi Desta mengingatkan bahwa besok dirinya harus mengantarkan si triple dan Al ke rumah Mommy dan Daddy karena Ibu dan Ayah harus mewakili Aqeela mengambil raportnya dan Al.
Akhirnya Julian mengalah, demi keponakannya.
💗💗💗💗💗
Sampai rumah, Julian sudah diberondong banyak pertanyaan oleh ibu dan ayah. Bahkan keempat keponakannya itu masih terjaga.
"Umma, baik-baik saja. Hanya kecapekan. Disuruj dokter Suzan istirahat." Jawab Julian.
Malam itu keempatnya tidur di rumah Bunny. Sedangkan Julian di rumah ditemani Bu Erna dan Bu Darmi.
💗💗💗💗💗
Esoknya, Pagi-pagi Julian sudah stay di rumah Bunny. Menjemput keempat keponakannya untuk diantar ke rumah Opa Omanya.
"Yan, sarapan dulu." Ajak Ibu.
"Iya, Bu." Tanpa sungkan Julian duduk di kursi sebelah Zafira yang memang kosong.
"Uncle, kita ikut uncle ke rumah sakit ya?" Rengek Zafira.
__ADS_1
"Tapi, uncle hari ini ke rumah sakitnya siang. Nanti siang saja, Uncle jemput di rumah Oma Opa. Sekarang kalian di rumah Oma dan Opa dulu." Kata Julian.
"Terus Bunny sama Ayahkung kemana?" Tanya Zafir kepo.
"Bunny sama Ayahkung ambil rapotnya Dedek Al sama Uncle Iyan." Jawab Bunny.
"Terus kapan ke Umma sama Buyanya?" Zafira menyahut.
"Nanti, siang." Jawab Ayahkung.
"Terus adek yang di perutnya Umma, gimana?" Zafran yang sejak tadi diem alhirnya ikut mengeluarkan kekepoannya.
"Adek kalian gak pa_pa. Sehat-sehat saja." Jawab Uncle.
"Jadi kangen.." Tiba-tiba Al menyambung.
"Kangen siapa, Dek?" Tanya Bunni.
"Kangen Umma, Bunni."
"Kalo gitu, segera kalian uncle anter. Supaya tidak kesiangan nanti ke rumah sakitnya."
Mendengar permintaan julian, keempatnya langsung pamitan kepada Bunni dan Ayahkung tanpa aba-aba kedua kalinya.
"Ibu, nitip rapotnya Iyan ya." Pamit Julian kepada Ibu sebelum keluar dari rumah.
"Iya, kamu ngantor yang tenang ya." Ucap Ibu lirih sambil mengelus kepala Julian.
Remaja yang sudah dianggap sebagai anak kandungnya sejak Aqeela dan Desta memutuskan membawanya pulang.
"Terima kasih, Bu." Kata Julian sambil mencium tangan ayah.
"Berangkat dulu, Yah."
💗💗💗💗💗💗
"Om.. Om Edo tahu gold corporation?" Tanya Julian begitu berhadapan dengan Edo.
"Sepertinya nama itu gak asing deh, Yan." Edo nampak berpikir.
"Pemilik awalnya Adnan Aldiano." Julian memberikan clue kepada Edo.
"Oh.. iya inget Yan." Sorak Edo setelah berpikir sejenak.
"Kalo tidak salah, beberapa tahun lalu, Om kamu sempat kerjasama dengan gold corporation. Hanya sebentar karena Pak Adnan meninggal dan penerusnya tidak memperpanjang lagi." Kata Edo.
Julian manggut-manggut saja.
"Kenapa, Yan?" Edo kepo.
"Om, bisa bantu aku cari info penerus gold corporation."
Edo menatap Julian curiga.
"Apa hubungan mereka denganmu?"
Julian menatap Edo balik dengan pandangan yang tidak bisa diartikan.
Edo sampai gentar.
💗💗💗💗💗💗
Uncle Iyan ngapain yaa itu?
Kayaknya aura-aura dingin dan arogan sang direktur, mulai muncul di karakter Julian.
__ADS_1