TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Aku Udah Tenang


__ADS_3

Zafir berada di sebuah jalanan yang begitu terang. Dikana kirinya bangunan besar dan tinggi menjulang.


Namun terlihat begitu indah walau sepi. Zafir menoleh ke kanan dan kiri seolah mencari seseorang untuk ditanyai.


"Aku dimana?"


"Tempat apa ini?"


Namun, ia tidak menemukan siapapun Kota indah itu lebih terlibat seperti kota mati. Kota yang tanpa penghuni.


Di saat kegalauan melandanya. Seorang gadis tiba-tiba tersenyum ke arahnya.


Zafir menghampiri, gadis yang begitu ia kenal itu dengan hati bahagia.


"Fely..." panggilnya dengan ceria begitu semakin dekat.


Namun, gadis yang wajahnya begitu mirip Fely itu hanya tersenyum tidak ada satu katapun yang keluar dari bibirnya.


"Fely..." Zafir kembali memanggil nama gadis itu.


Gadis itu tetap bertahan dengan senyumnya.


Anehnya dalam senyum itu seolah Fely mengatakan, "Aku baik-baik saja. Jaga diri baik-baik. Suatu saat kamu akan menemukan jodoh yang lebih baik dari aku."


"Fely...." panggil Zafir untuk kesekian kalinya.


Tetapi, Fely masih mengacuhkannya. Gadis itu melambai dan berbalik ke sebuah rumah bercT putih.


Tidak besar dan tidak kecil. Gadis itu masuk dengan riang seolah tanpa beban.


"Fely...!" ulang Zafir berusaha mengejar gadis yang mirip Fely itu namun terlambat. Gadis itu sudah tidak ada di depan matanya.


Jantung Zafir berdetak lebih cepat. Perasaannya semakin tidak enak.


Beragam pertanyaan muncul kembali di otaknya.


"Ada apa dengan Fely?" gumamnya.


Pemuda itu terlihat semakin gelisah. Tubuhnya bergerak dan bergeser.


Perlahan ia membuka matanya yang terpejam namun entah hatinya dimana? Pemuda itu belum menyadari apa yang terjadi.


"Subhanallah, hanya mimpi." Zafir mengusap wajahnya lembut.


Ditatapnya jam dinding di kamarnya. Jarum panjang menunjuk di angka 1 dan jarum pendek di angka 3.


"Jam tiga lewat lima," gumam Zafir.


Segera, pria muda itu beranjak menuju kamar mandi. Terdengar suara kran mengucur dari kamar mandi Zafir, menandakan si pemuda sedang berwudhu.


Selesai berwudhu, pemuda itu menggelar sajadah dan memfokuskan diri sebagai penghambaaan kepada Sang Pencipta Alam.


Dua rakaat salat tahajud, empat rakaat salat hajat di lanjut tiga rakaat salat witir.


Selanjutnya Zafir bermunajat dan bermuhasabah sebanyak yang ia mampu kepada Yang Maha Kuasa.

__ADS_1


Bayangan wajah Fely yang hadir di mimpinya melintas sekelebat, menyadarkan Zafir. Fely sudah tenang dan bahagia di alamnya.


Satu yang membuatnya tenang dan yakin, Fely sudah bersyahadat sebelum ajalnya tiba.


Senyum bahagia Fely dalam mimpinya seolah mengabarkan keadaannya dan sebagai tanda perpisahan.


Mereka kini hidup di dua alam berbeda.


Kembali Zafir mengangkat kedua tangannya mendoakan gadis yang baru saja menemuinya di alam mimpi.


Bersamaan Zafir menurunkan kedua tangannya dari masjid terdengar suara bedug subuh di tabuh.


Pemuda itupun berdiri menarik sajadahnya. Zafir berangkat ke masjid.


🌷🌷🌷


Zafir sampai di kampus tepat semenit sebelum dosen masuk, menyebabkan beberapa temannya yang kepo soal kematian Fely harus menelan pil kekecewaan karena harus bersabat menunggu mata kuliah selesai.


Benar saja begitu dosen pertama keluar, seisi kelas pada ngerubutin Zafir menanyakan penyabab kematian Fely.


"Aku juva belum tahu. Tapi, Papa Fely sudah melaporkannya ke pihak berwajib. Kita tunggu saja perkembangan berikutnya," jawab Zafir.


Sengaja ia tidak menceritakan yang dia tahu demi menjaga pelaporan dan hasil penyelidikan Polisi.


Zafit juga berharap Papa Fely yang mengungkap kematian tak wajar putrinya. Bukan dirinya. Karena Papa Fely adalah wali gadis itu.


Setelah jam kuliah selesai, Zafir menemui Reksa ke lokasi yang mereka sepakati.


Ternyata di sana Reksa tidak sendiri, ia bersama seorang pria lainnya.


"Assalamualaikum, Om!" sapa Zafir.


"Fir, kenalin ini Om Yudhis. Kuasa hukum saya," Reksa memperkenalkan pria yang bersamanya.


"Halo Om, Selamat siang saya Zafir," pemuda itu mengulurkan tangannya kepada Yudhis.


"Siang juga," salam Yudhis.


"Jadi dia kekasih anakmu itu, Rek?" Yudhis to the point bertanya kepada Reksa.


"Saya sama Fely bukan sepasang kekasih, Om. Tapi kita memang berencana menikah secepatnya," jelas Zafir agar tidak terjadi kesalahpahaman diantara dua pria ini.


"Apa bedanya anak muda?" tanya Yudhis kencang.


"Bedalah Om. Saya dan Almarhumah tidak terikat hubungan pacaran atau semacamnya. Bagi saya lebih baik dihalalkan segera darioada menjalin hubungan tidak jelas yang malah menjerumuskan ke dalam dosa dan zina," urai Zafir.


Yudhis tampak manggut-manggut mendengar penjelasan Zafir.


"Wah, hebat kamu anak muda. Sayang, Tuhan berkehendak lain. Andai putri kamu masih hidup dan mereka benar-benar menikah, aku yakin kamu akan menjadi mertua paling bahagia karena mendapat menantu mantap jiwa kayak Zafir gini," puji Yudhis.


"Jangan muji, Om. Entar saya gak kuat lhoo mneghadapi kenyataan." goda Zafir.


"Kalo gak kuat tambahin ngopinya anak muda!" balas Yudhis.


Zafir dan Reksa terkekeh mendadak mendengar banyolan Yudhis.

__ADS_1


"Ternyata seorang pengacara bisa juga ya ngelawak kayak gitu!" ucap Reksa.


"Bukan ngelawak tapi begitulah adanya. Benarkan anak muda!" Yudhis menoleh ke arah Zafir seolah meminta dukungan.


"Iya... iya... iya... Udah iyain aja deh Om. Daripada kasus Fely gak di mulusin." gelak Zafir.


"Wah, iyaa bener banget tuh!" sahut Reksa.


"Udah... serius nih sekarang!" ujar Reksa


"Pesanlah minum dulu, Fir!" titah Reksa sembari tangannya melambai memanggil seorang waitress.


Zafir menyebutkan pesanannya. Lalu mulai menatap serius ke arah.


"Om, ini!" Zafir mengeluarkan benda yang sejak kemarin ia simpan.


"Ini hasil visum dan otopsi atas jenazah Fely. Mereka melalukannya tanpa seizin siapapun. Ini karena tidak ada keluarga yang menemninya," Zafir menyerahkan amplop berkop rumah sakit dr. Soetomo kepada Reksa.


"Laly siapa yang membawa gadis itu ke rumah sakit?" tanya Yudhis penasaran.


Sebab Reksa juga tidak tahu cerita jelasnya. Karena itu pengacara muda itu sengaja ikut menemui Zafir untuk meminta penjelasan darinya.


"Kata petugas rumah sakit, seorang sopir angkot," jawab Zafir.


"Lebih jelasnya Om Reksa dan Om Yudhis bisa membaca buku diary ini!" Zafir menyerahkan buku kecil warna merah jambu dengan aroma jasmin itu kepada Reksa.


"Saya sudah membaca dan di situ tertulis pelakunya!" ucap Zafir dengan tegang dan berusaha tegar.


Reksa menerima buku tersebut dengan gemetar.


"Fely begitu merindukan Papanya. Bahkan di saat ia mengalami kebimbangan yang begitu dalam, Om Reksa yang ia sebut," sambung Zafir.


Pria itu tampak menyesal dan menyedihkan, kehilangan putri semata wayangnya sangat memukul jiwanya.


Bahkan dua hari ini ia tidak bisa makan dengan enak, tidur dengan nyenyak.


"Om yang tegar ya. Insya Allah Fely sudah tenang dan bahagia di sana!" hibur Zafir sebisanya, walaupun ia sendiri juga terpukul setengah hidup.


Seolah-olah separuh jiwanya enggan untuk beraktifitas. Namun, orang disekitarnya terur menyemangati dan mengirimkan banyak energi positif hingga ia bisa setegar ini.


Sedangkan Reksa, pria itu hidup sendiri tanoa ada siapapun di sampingnya. Jiwa rapuhnya akan semakin patah jika tidak ada yang mempedulikannya.


"Om, lebih baik Om nikah lagi aja! Biar ada yang nemenin! Galaunya bisa berkurang lhoo!"


🌷🌷🌷


Like, komen dan vote ya...


Jangan lupa share


Besok kita ketemu lagi dengan penangkapan pelakunya.


Drama apa yang akan orang tua Fely jalankan?


Lanjut besok yaa...

__ADS_1


Miss You


😘😘😘


__ADS_2