TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Setelah Terciduk


__ADS_3

Masih panas rasanya tragedi menjahili Alif. Sekarang keenamnya malah masuk ruang BK pertama kalinya.


Apalagi masih berstatua sebagai siswa baru, meskipun sudah lima bulan.


Belum ada ceritanya anak kelas sepuluh, masuk ruang BK karena kasus kenakalan.


Begitupun komplotan triple, mereka tidak menganggap kegiatan mereka suatu kenakalan. Toh, keenamnya hanya saling menyalin tugas.


Di kelas lain juga banyak yang seperti itu. Tapi parahnya mereka terdeteksi lebih awal. Sedangkan kelas lain menyalin hanya di nomer-nomer tertentu yang sulit saja.


Julian menatap keenam remaja itu dengan geli. Sungguh ia ingin tertawa sepuasnya melihat keenamnya terciduk dengan sempurna oleh Bu Wina.


Guru yanh terkenal teliti dan disiplin.


"Gimana? Masih mau saling salin dan tukeran jawaban lagi?" Tanya Julian setelah ia berhasil meyakinkan ketiga guru di ruang BK tadi bahwa keponakan-keponakannya tidak akan melakukan kesalahan lagi


"Tergantung!" Jawab Zafran.


"Kok tergantung? Jawab yang jelas. Tuh, Mama, Mami dan Bunda kalian sudah pusing. Untung tadi kalian belum menghubungi Umma. Coba kalo Umma dan Buya kalian tahu..."


"Memang kenapa kalau mereka tahu?" Potong Malik dengan cemas.


"Kalian akan ditertawakan dan diledek karena kurang canggih memilih strategi." Jawab Julian dengan entengnya.


"Haa.. yang bener saja." Sahut Wanda.


"Kirain kita dimarahin gitu." Ucao Malik


"Kalo yang itu pasti. Kalian tetap kena marah. Karena kurang jeli!" Lanjut Julian.


Keenamnya terdiam, begitupun ketiga wanita di depan Julian.


Ketiganya membiarkan Julian menyelesaiakan kasus anak-anak mereka. Karena mereka yakin Julian memiliki potensi membuat keenam anak tersebut jera.


"Jadi gimana? Masih mau saling salin lagi?" Ulang Julian.


"Yaitu tadi, kalo susah yaa kita saling aja tugas kayak biasanya." Jawab Zafran dengan entengnya.


"Terus kalo ketahuan lagi?" Tanya Julian.


"Paling cuma di suruh masuk ruangan BK lagi kayak tadi!" Sahut Zafira, seolah ruangan BK akan menjadi tempat ternyaman untuk di singgahi.


"Hadeeeh.. Gak capek apa liat muka judesnya Bu Linda. Apalagi kalo sudah bersatu dengan Bu Wina ditambah lagi bantuan kekuatan dari Pak Yono." Decak kagum Julian mendengar keberanian komplotan itu.


Padahal dulu meskipun di sekolah ia termasuk siswa resek. Tapi berusaha meminimalisir masuk ruang BK.


Apaalagi sampai membuat masalah dengan para guru killer. Ia berusaha main aman dengan sifar reseknya.


"Bu Wina biasa aja sih, justru aku takut kalo muka Zafira yanh berubah kayak monster. Bisa-bisa tujuh hari tujuh malam gak di ajari matematika." Ucap Darren yang diiyakan lainnya.


"Astaghfirulloh!" Kekeh Julian menatap keponakan kesayangannya itu.


"Terus? Apa sampai nanti kalian akan saling copas gitu aja?" Pancing Julian.


"Iyaa.. udah malas banget baca soal." Jawab Malik.


"Dodol.."


"Itu udah expaired pren..."


"Kita atur stategi baru.."


Komen bersambung triple.


"Udah cukup masuk ruang BK dengan kasus yanh sama. Kalopun masuk lagi harus dengan kasua yang lebih elegan.." Sambung Zafira.


"Uuh.. gak jelas.." Sahut Malik.

__ADS_1


"Yang namanya kasus itu dimana-mana yang bikin jengkel bukan elegan.." Sembur Wanda.


Triple dan Julian tertawa lebar.


"Yaa kasus menjengkelkan tapi yang unik. Beluma pernah terjadi di sini!" Tegas Zafira.


"Kalian bisa gak sih, punya catatan tidak berkasus gitu di sekolah?" Pinta Oca dengan wajah memelas.


Mengingat keenam remaja di depannya itu biang onar sejak kecil.


"Kita tampung ya deh Bun, masukan cantik dari Bunda." Jawab Zafran dengan senyum misteriusnya.


"Yang urgent yaitu bagaimana cara copas aman tugas kita." Sambung Malik.


Disambung high five keduanya.


Oca hanya menggeleng melihat kelakuan keenam remajanya.


"Yan.. selesein mereka dengan baik deh. Bunda pusing..." Oca memegang keningnya.


"Beres, Tan!" Jempol kanan Julian terangkat.


"Gimana ketemu caranya?" Julian beralih kepada komplotan triple yang masih sibuk berdiskusi.


"Udah..?" Tanya Julian.


"Gimana?" Sambungnya tanpa melepas tatapannya kepada remaja di depannya.


"Kerjain bareng di rumah..." Jawab Darren.


"Terus.?" Pancing Julian


"Itu aja.." Sahut Wanda


"Haduuh... yang elegan dikit napa?" Kesal Julian


"Lhaa gimana to, uncle?" Malik ikut jengkel dengan ucapan Julia yang bertele-tele, tanya sana sini tapi gak pernah kasi solusi.


"Copas itu juga jangan asal... Pake otak!" Sambung Julian.


Keenamnya mengangguk mengerti.


"Uncle the best!" Puji Wanda kepada Julian.


Entah kenapa, tiba-tiba dada Zafira sakit mendengar pujian Wanda kepada Julian.


Padahal ekspresi keduanya datar-datar saja. Tidak ada sesuatu yang istimewa diantara keduanya.


💗💗💗💗💗


"Zafira, Uncle bole ngomong sesutu?" Tanya Julian ketika Zafira hendak masuk ke kamarnya sepulang sekolah tadi.


Badannya lelah dan letih karena insiden copas tugas dengan komplotannya.


"Kenapa?" Tanya Zafira menghentikan tangannya memutar daun pintu kamarnya.


"Tidak di sini? Setelah makan malam, di depan." Jawab Julian dengan penuh permohonan.


"Okay.." Jawab Zafira sembari membuka pintu, tanpa perlu menunggu persetujuan dari Julian.


💗💗💗💗💗


Dan di sini depan teras, setelah makan malam.


Julian duduk bersebelahan dengan Zafira. Sudah beberapa menit yang lalu tapi keduanya masih terdiam.


Zafira yang mulai lelah menunggu belum lagi nyamuk yang banyak membuatnya kurang nyaman.

__ADS_1


"Apa kita perlu pindah lokasi?" Tanya Julian begitu mendapati tangan Zafira berkali-kali menepuk ke udara dan pergelangan tangan dan kakinya karena serbuan nyamuk.


"Kemana?" Kepo Zafira.


"Yuuk!" Ajak Julian seraya menekan tombol kunci otomatisnya dari kursi teras.


Zafira mengekor di belakang Julian menuju mobil yang sudah berkedip-kedip menunggu tuannya datang.


Julian mengemudi dengan kecepatan sedang.


"Hmm.. Uncle tadi udah pamit ke Umma dan Buya?" Tanya Zafira ragu.


Karena memang akhir-akhir ini komunikasi keduanya tidak selancar sebelumnya.


"Sudah... " Jawab Julian tenang.


Ekor matanya melirik kanan kiri jalanan yang masih ramai.


Zafira menegakkan punggungnya, menikmati perjalanannya kali ini.


Dari samping, Julian hanya tersenyum kecil melirik gadis remaja yang semakin cantik.


Kendaraan Julian berhenti di sebuah butik milik desainer terkenal.


"Mau ngapain kita ke sini?" Tanya Zafira penuh keheranan.


Bukannya menjawab, Julian malah turun. Membuka pintu untuk Zafira.


"Turun!" Titahnya


"Ngapain?" Bantah Zafira.


"Udah turun saja!" Kali ini Julian sedikit memaksa.


Zafira akhirnya melapas sabuk pengamannya dan turun dari mobil dengan berbagai pertanyaan menumpuk di otaknya.


"Mbak, carikan gaun untuk gadis cantik ini!" Pinta Julian ramah kepada seorang penjaga butik tersebut.


Julian duduk di ruang tunggu sembari meraih satu majalah fashion yang menarik hatinya.


"Nyari apa?" Sebuah suara mengejutkannya.


"Gaun, untuk Zafira!" Julian mendongak menatap wajah pemilik suara tersebut.


"Gadis itu!" Tunjuk pemilik suara yang ternyata seorang wanita.


Julian mengangguk.


"Cantik." Komen wanita setengaj baya itu.


"Kirain Iyan, Tante sudah pulang. Kan ini sudah lewat jam kantor." Ucap Julian menatap wanita keibuan yang menyapanya.


"Tante tidak punya jam kerja, Yan!" Jawab wanita itu.


"Sebentar, Tante ada gaun yang cocok untuk gadis kamu. Tunggu Tante ambilkan!"


💗💗💗💗💗💗


Dibikin kepo dulu ya sama uncle Iyan.


Niat hati ingin up pagi apa daya, mampunya malam.


Tak apa yaa..


Like


Komen

__ADS_1


Vote


Aku tunguin yaa..


__ADS_2