
"Daddy kemana, Mi?" Tanya Julian hati-hati.
Mommy seperti bingung mau menjawab apa. Wajahnya menegang.
"Mi, ada pa?" Julian ikut khawatir melihat wajah Mommy.
Apalagi setahu Julian akhir-akhir ini tensi Daddy sering naik turun. Tidak stabil.
Triple ikut menatap Omanya.
Mommy menggeleng.
"Daddy gak pa_pa sehat. Tadi pagi Doni menelpon meminta bantuan Daddy menyelesaiakan salah satu tendernya." Jawab Mommy lirih.
"Aduh, kenapa Kak Doni gak ngomong sama Iyan." Runtuk Iyan.
"Jangan salahkan Doni, Yan. Anak itu tahu kamu juga sibuk ditambah lagi harus ngurus si triple." Sahut Mommy membela Doni.
Julian hanya menghela napas pendek.
"Daddy berangkat jam berapa tadi, Mi?" Tanya Julian galau.
"Jam 9an."
"Dan belum kembali sampai jam 1 siang." Julian meliris arlojinya.
Mommy hanya mengangguk. Julian masih melihat kekhawatiran di wajah wanita itu.
"Saya hubungi Kak Doni dulu, Mi. Nanyain kabar Daddy." Pinta Zulian.
📱
"Kak, Daddy masih bersama Kakak?" Tanya Julian begitu Doni mengangkat telpon.
"Anak kurang ajar, telpon di angkat gak salam gak apa? langsung to the poin." Omel Doni di seberang.
Julian hanya ngakak mendengarnya.
"Ada gak Kak?" Ulang Julian.
"Ada. Kenapa?" Jawab Doni.
"Kalian lagi makan gak?"
"Kayak cenayang aja. Tau aja kita lagi makan."
"Menu yang Daddy pilih apaan?" Julian tidak menggubris ledekan Doni, karena yang ada dipikirannya Daddy.
"Gulai.."
"Kak, jangan izinkan Daddy makan itu!" Titah Julian.
Mommy dengan cepat merebut gawai Julian, membuat pemuda itu pasrah.
"Don, kasih ponsel kamu ke Daddy!" Suara lantang Mommy membuat si triple menoleh menatap Omanya.
"Iya, Mi.." Sahut suara di seberang.
"Daddy, ganti menunya!" Sahut Mommy tegas.
"Tapi Mi, ini enak sekali."
"Dad.., ayolaaah demi Mommy. Mommy belum mau jadi janda.." Suara Mommy hampir putus asa.
"Mi, biar Iyan saja yang ngomong sama Kak Doni!" Julian meminta kembali gawainya.
Mommy dengan berat hati menyerahkan benda pipih itu kepada pemiliknya.
"Kak, antarkan Daddy pulang. Daripada Mommy yang kenapa-kenapa?" Pinta Julian sambil menatap Mommy yang sedang dipeluk Zafira.
__ADS_1
Wajahnya nampak cemas dan khawatir dengan kondisi suaminya yang juga sedang makan siang. Lebih tepatnya khawatir dengan menu pilihan sang suami.
"Udah Mommy tenang ya. Kak Doni sebentar lagi mengantar Daddy pulang." Julian berusaha menenangkan wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibu tersebut.
Benar saja selang dua puluh menit kemudian Doni dan Daddy sudah sampai rumah.
Melihat suaminya baik-baik saja. Mommy terlihat lebih tenang.
"Dad, minum obatnya dulu." Mommy menyodorkan sepaket obat yang sudah ia siapkan.
Daddy dengan pasrah menerima dan menelan pil-pil itu dengan tenang.
"Maaf ya Mi, tadi Daddy sudah saya cegah. Tapi wajah Daddy memelas banget. Doni sampai gak tega." Doni menjelaskan perihal menu yang dipilih Daddy tadi di rumah makan.
"Gak pa-pa Don. Memang akhir-akhir ini Daddy merengek minta gulai ke Mommy tapi memang tidak Mommy izinkan." Ucap Mommy.
"Besok masih butuh Daddy tidak, Don?" Tanya Mommy kembali.
"Hari ini semua langsung finish berkat Daddy." Puji Doni sambil menatap bangga Daddy.
"Syukurlah, kalo begitu Mommy dan Daddy ikut ke rumah kalian saja." Kata Mommy sambil menatap ketiga cucunya.
"Asyiiik.. pasti nanti banyak makanan." Seru Zafira.
"Kamu tuh yaa yang dipikirin makanan mulu sih!" Omel Zafir.
"Tidak menerima iri dan dengki." Balas Zafira.
"Aku gak iri. Ngapain iri sama makanan. Kalo ada Mommy dan Daddy kan aku bisa dikelonin Mommy." Balas Zafir.
"Dasar bayi kawak." Ledek Zafran.
Auto Zafira dan Julian ngakak gak ketulungan.
"Yang lebih enak dan seru tuh kalo ada Mommy dan Daddy aku dikasi banyak duit." Sambung Zafran.
"Matre.. Mata duitan." Ledek Zafira spontan.
"Yang satu baby huy, yang satu teletubbies yang satunya Mr. Krabs..."
"Unclee..." Pekik ketiganya spontan.
"Iyan..." Mommy ikut menegur Julian yang meledek si triple.
"Tapi Iyan gak salah kan Mi." Ucap Julian dengan wajah tanpa dosa.
"Gak ada gitu yang lebih cantik julukannya?" Protes Zafira.
"Ada. Putri makan, Pangeran Bayi dan Raden Uang." Goda Julian.
"Itu sih sama saja, Uncle." Seru Zafira dengan bibir maju 5 senti.
Auto semua terkekeh mendengar olokan Julian dan Zafira.
"Okay deh, kita ketemu nanti di rumah Desta ya, Mi. Doni pamit pulang dulu. Maaf ya mengganggu waktu weekend Daddy." Pamit Doni sambil mencium punggung tangan Daddy dan Mommy bergantian.
"Sama-sama Don. Hati-hati di jalan." Jawab Mommy.
"Om nanti Zafir ke rumah ya!" Bisik Zafir sebelum Doni balik badan.Tentu saja tanpa diketahui Zafran dan Zafira.
Hanya Julian yang menatap curiga ke arah ABG itu. Namun sementara ia abaikan.
Doni hanya mengangguk.
💗💗💗💗💗💗💗
Kendaraan Julian membelah jalanan wilayah Surabaya selatan menuju wilayah Surabaya timur.
Begitu sampai di gerbang perumahan Desta, mobil Julian membelok ke rumah Ibu dan ayah.
__ADS_1
Si triple kembali bingung.
"Kok gak segera pulang sih Uncle?" Heran Zafir yang terlihat sudah lelah.
"Kalian sapa Bunni dan AyahKung. Supaya mereka juga tenang. Kalau cucu-cucunya sudah sampai Surabaya dengan selamat."
Ketiga segera turun, setelah mendengar penjelasan Julian. Begitupun Mommy dan Daddy, mereka juga ingin menyapa besannya itu. Karena sejak kedua anak mereka berangkat ke Jerman rasanya mereka juga masih belum bisa saling berkunjung.
Ibu dan Ayah sangat terharu melihat kedatangan cucu-cucunya yang baru pulang dari pondok itu.
"Bagaimana rasanya tinggal di pondok?" Tanya Ibu sambil memeluk dan menciumi ketiganya bergantian.
"Senang."
"Nyebelin."
"Sering kehabisan duit."
Jawaban saling bersahutan ketiganya membuat suasana rumah Ibu sangat ramai.
"Iya Zafira senang sering dikunjungi Uncle Iyan." Protes Zafir.
"Dan kamu sebel karena duit kamu sering dihabisin Zafran, kan?" Ledek Zafira.
"Iya, Zafran tuh ya.. setiap hari pasti beli pulpen beli stipo beli sandal. Aku sampe capek nyimpenin barang-barangnya biar gak hilang." Zafir mengadu kelakuan buruk saudaranya itu kepada kakek neneknya.
Ayah dan Ibu hanya tersenyum menanggapi semua aduan cucu-cucunya itu.
"Tapi kan setelah dikasi Umma aku bayar hutangku." Balas Zafran.
"Tapi tetep aja. Kita sering kehabisan duit. Ujung-ujungnya pasti make uangnya Zafira." Protes Zafir.
Zafira hanya ngakak mendengarnya. Karena semua yang disampaikan Zafir benar semua. Diantara mereka bertiga Zafran paling tidak awet menjaga barangnya.
Sedangkan Zafir ia paling sering dijadikan curhatan kedua saudaranya bahkan teman-teman sekamarnya.
Meskipun lebih pendiam tapi cara Zafir memberikan solusi sebuah masalah lebih mudah dicerna.
Dan Zafira sebagai cewek satu-satunya ia terkenal paling hemat dalam urusan keuangan jadi jangan salah tiap akhir bulan masih ada saja sisa uang bulanannya.
Bahkan sering ia tabung. Fungsinya jika kedua saudaranya kehabisan uang maka tabungan Zafira yang mereka pinjam. Tapi tetap saja Zafira memberikannya sebagai pinjaman.
Dan akan ia minta saat Buya atau Umma memberi mereka uang saku di bulan berikutnya.
"Makanya barangnya itu di simpan yang bener."
"Udah, Oma. Tapi dipinjam sama teman cewek dan gak dikembalikan." Zafran membela diri.
"Diminta bukan diamalkan." Omel Zafir.
"Dasar bakhil. Kasiyan dodol. Mereka gak pernah bawa uang saku." Bantah Zafran.
"Haduuuh... sedekah terus, tapi ujung-ujungnya kita juga yang kena imbasnya." Zafir terus saja nyerocos.
"Bayangin Oma, Bunni tiap hari Zafran beramal pada cewek yang berbeda. Sekelas ceweknya ada 14. pas dua minggu habis dua pak lebih kita." Gerutu Zafir.
Oma, Opa, Buni dan Ayah sementara hanya jadi pendengar yang baik bagi ketiganya. Dan menimpali sesekali jik ketiganya sudah mulai terpancing emosinya.
Sedangkan Julian ia masih tenang mempertahankan posisinya. Telinga dan mulutnya sudah kebal dengan pertengkatan tiga bersaudara itu.
💗💗💗💗💗💗
Kira-Kira Zafir mau ngapain hayooo..
Like
Komen
And
__ADS_1
Vote
ya man teman