TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Istirahat kedua, Setelah Sholat di Perpus


__ADS_3

Selama pelajaran, Julian tidak fokus. Pikirannya masih tentang istirahat kedua, setelah sholat dan perpus.


Bayangan Hani dengan mata sayu yang tidak biasa itu menyita perhatiannya.


Beruntung Bu Asih tidak memberikan kuis atau pertanyaan yang membuatnya berpikir keras.


Setelah pelajaran Geografi Bu Asih selesai. Ditandai dengan bunyi bel yang memekakkan telinga.


Pak Budi masuk, membawa setumpuk buku hasil kerja siswanya. Seorang siswa dari kelas tujuh membantunya.


Kemudian siswa itu kembali ke kelasnya setelah semua tumpukan buku berpindah ke meja.


"Assalamu'alaikum..." Sapa Pak Budi.


"Wa'alaikum salam.." Jawab anak-anak sekelas kompak.


"Siapa yang masih ingat materi tentang bidang miring?" Pak Budi langsung melontarkan pertanyaan recalling sebelum masuk ke bab pembahasannya.


"Lintasan yang memiliki kemiringan tertentu dan membentuk sudut terhadap permukaan mendatarnya." Jawab Julian tanpa semangat.


"Bagus Julian. Kamu ngantuk Yan?" Pak Budi malah balik tanya ke Julian melihat Julian tidak semangat.


Menurut Pak Budi Julian adalah sosok murid yang menguasai materi dengan baik. Patuh dengan guru. Semangat setiap menerima materi di kelas.


Nilainya tidak perrnah dibawah KKM. Pak Budi juga tahu selama ini banyak siswi yang ngefans berat sama Julian.


Tak sedikit dari mereka yang mengatakan langsung tapi selalu ditolak dengan halus oleh Julian.


Pak Budi tahu tanpa perlu Julian cerita. Karena yang namanya anak pondok selalu ada aja ceritanya.


Bukannya menghibah tapi guru-guru sekolah formal juga tahu gosip-gosip terhot dari pondok.


Darimana lagi kalo bukan dari sesama guru. Ketika bertemu, saat rapat gabungan antara MTs, MA dan Madrasah Diniyah.


Tapi sejauh ini penilaian Pak Budi masih positif tentang Julian.


"Yan, kamu baik-baik saja, kan?" Pak Budi menghampiri Julian yang tak merespon pertanyaannya.


Pak Guru ganteng berstatus satu istri satu anak itu menyentuh dahi Ian.


"Dingin. Kamu kenapa Yan?" Ulang Pak Budi.


"Hm.. gak pa_pa, Pak. Kangen aja sama Kakak dan ponakan-ponakan saya." Jawab Julian tak sepenuhnya bohong.


Karena ia juga sebetulnya sedang menahan kerinduan untuk keluarganya.


"Ya, sudah nanti pulang sekolah segera telpon kakak kamu." Pak Budi memberikan solusinya.


"Kan gak bole, Pak. Belum giliran saya menelpon." Kata Julian polos.


Pak Budi terkekeh mendengarnya.


"Bapak tunggu di kantor, pakai ponsel Bapak nanti." Kata Pak Budi.


"Pak, saya juga mau dooong.. Pinjam Hapenya." Seseorang ikut berteriak di belakang Pak Budi.

__ADS_1


"Tidak bisa. Ini spesial buat Julian yang tadi bisa jawab pertanyaan saya. Kalo kalian ingin seperti Julian, buat yang anak pondok ulangan satu minggu ke depan harus dapat nilai 100 untuk Fisika." Pak Budi membeberkan alasannya.


"Yaa... Bapak..."


"Huu...."


Suara komentar diiringi tawa teman-teman sekelas Julian.


"Udah.. kembali ke bidang miring!" Titah Pak Budi.


Dengan suara tegas dan jelas Pak Budi kembali menjelaskan bidang miring yang minggu lalu belum selesai.


Rumus awal bidang miring w \= m.g dijabarkan lebih detail oleh Pak Budi.


Julian berusaha fokus menyimak penjelasan Pak Budi. Menulis di diktatnya jika ada yang ia rasa penting.


Tepat pukul setengah dua belas jam pelajaran Pak Budi berakhir.


Dengusan kelegaan terdengar membahana setelah Pak Budi keluar.


Julian segera keluar kelas tanpa mempedulikn teriakan teman-temannya.


Pemuda itu ngeluyur ke Pondok untuk segera menunaikan sholat duhur berjama'ah. Karena adzan sudah berkumandang dengan merdu.


Selesai menjalani ritual sholatnya, Julian melesat ke perpus. Menemui Ning Hani.


Memenuhi janji, setelah sholat, istirahat kedua di perpus.


Julian memang belum mengenal baik Ning Hani. Namun dari cerita yang ia dengar, gadis itu adalah sosok yang kuat dan cerdas.


Nilai akademiknya tak pernah mengecewakan. Abah dan Ummi Ning Hani begitu menyayangi putrinya itu.


Karena itu, Julian keheranan jika Putri Gus Burhan itu dikirim Abahnya ke Pesantren. Apalagi ditengah-tengah tahun ajaran kayak gini.


Begitu masuk perpus, pandangan Julian langsung tertuju pada seorang gadis berseragam putih abu-abu yang duduk di pojok sambil membaca sebuah buku.


Tapi Julian yakin, gadis itu tidak fokus pada bacaan. Terlihat dari helaan napas dan tangannya yang terus membolak balik halaman buku tersebut dengan cepat lalu mnegulangnya dari halaman awal lagi dan begitu seterusnya.


Julian memperhatikan sebentar sebelum mendekati gadis itu. Ia hanya memastikan gadis itu tidak bersama teman-temannya atau seseorang yang dekat dengannya.


Setelah yakin, Julian duduk di sebelah gadis itu. Ada pembatas meja diantara keduanya.


"Ning, Assalamu'alaikum.." Sapa Julian.


"Wa'alaikum salam..., Yan. Aku kira kamu gak jadi ke sini." Sahut Hani.


"Maaf Ning. Aku sejak tadi ngeliat Ning Hani galau bin gabut."


Hani menatap Julian sekilas sambil tersenyum.


"Bahasa kamu Yan. Udah mirip ABG gaul aja. Gak mirip santri." Celoteh Hani tanpa melepas senyumnya.


Julian ikut tertawa renyah mendengarnya.


Keduanya terdiam. Hening. Hanya detak jantung masing-masing yang terdengar.

__ADS_1


"Yan..." Panggil Hani membuka percakapan mereka.


Julian menoleh, "Iya, Ning?"


"Kemarin..." Suara Hani terasa berat.


Julian masih menunggu kelanjutan cerita Hani. Tapi hampir semenit Hani tak bersuara kembali. Tatapannya ke bawah.


"Kemarin kenapa, Ning?" Tanya Julian memberanikan diri bertanya.


"Kemarin Abah, memergoki surat-surat cinta dari santri dan beberapa orang lain yang dikirim ke aku. Abah sepertinya marah dan takut kalo aku membalas salah satu surat tersebut." Cerita Hani.


"Byuuh, kenapa Kok mirip sama aku. Dikirimi surat cinta sama cewek-cewek." Dalam hati Ian juga tertawa. Menertawakan dirinya sendiri. Ternyata aku ada temannya.


"Karena itu Abah langsung nyuruh aku berangkat mondok lagi. Aku gak mau Yan." Ada butiran bening menetes melewati pipi mulus gadis itu.


Walaupun Hani masih dengan posisi menunduk, Julian masih bisa melihat butiran kristal itu menetes ke bawah mendarat di punggung tangan Hani yang saling menaut.


Seakan jari tangan itu memberinya kekuatan menghadapi keputusan sang abah.


Julian menyandarkan punggungnya ke kursi.


"Ning..." Ucap Julian.


"Kesalahanku tidak segera membakar surat-surat itu. Padahal tak ada satupun dari surat itu yang aku balas. Aku ingin mewujudkan cita-citaku Yan." Hani melanjutkan ceritanya tanpa memdengar panggilan Julian.


Julian maklum, kehadiran di sini untuk mendengarkan keluah kesah cucu pengasuh pesantrennya itu.


"Aku ingin jadi dokter, Yan. Aku tidak ingin jadi Ustadzah atau Bu Nyai seperti Mbah Uti dan Ummi." Hani masih mengutarakan isi hatinya kepada Julian.


Julian menghembuskan napas kuat-kuat mendengar penuturan gadis cantik di sebelahnya itu.


"Tapi sekolah disana tidak ada jurusan IPAnya." Hani masih melanjutkan kisah sedihnya.


"Aku gak mau Yan." Tangisnya mulai sesenggukan.


Hani membenamkan Kepalanya diatas meja yang sudah ia alasi dengan tangannya.


Bahunya naik turun menahan isakannya.


"Ning, sampaikan keinginan Ning Hani ke Gus Burhan. Beliau pasti paham." Julian hanya memberikan sedikit solusi kepada Hani.


"Gak mungkin Yan." Kata Hani.


"Mungkin, Ning. Semua bisa terjadi asal kita mau ikhtiar. Bukannya kata guru kita, Allah tidak akan merubah suatu kaum jika kaum itu tidak merubahnya." Entah keberanian darimana sampai Julian bisa menasehati seorang cucu pengasuh pesantren dengan dalil.


(Wah, Julian bisa bijak juga ya..)


Hani mengangkat kepalanya. Wajahnya masih sembab. Ditatapnya Julian.


Pemuda itu tersenyum dengan banyak makna tersirat.


"Maaf ya, Ning. Saya tidak bermaksud..."


💗💗💗💗💗

__ADS_1


Hani bakal ngapain yaa sama Julian???


Man teman bantu vote aku ya...


__ADS_2