
"Pak.." Jerit Pia sembari menggebrak meja dengan berkas yang ia bawa.
Julian yang tadinya menunduk akhirnya mendongak menatap Pia. Begitupun Zafira, ia bangkit dari rebahannya.
"Kenapa, Pia?" Tanya Julian masih mencoba sabar.
"Kenapa ada dia?" Tanya Pia dengan ketus menunjuk ke arah Zafira.
"Lho apa kemarin kalian ndak ngobrol?" Pancing Julian.
"Dia calon istri saya." Lanjut Julian.
Pia terlihat sangat geram dengan pengakuan Julian.
"Buat apa? Toh selama ini yang melayani Bapak cuma saya." Suara Pia masih meninggi.
"Kalo di rumah kamu gak ngelayanin saya kan?" Sahut Julian dengan tenang.
"Kalo di rumah Zafira yang selalu ada buat saya."
"Pak.. Bapak tidak bisa begitu saja dengan saya." Panik Pia.
"Lhoo kan hubungan kita hanya sebatas hubungan kerja."
Pia semakin panik.
"Saya suka sama Bapak. Saya melakukan semuanya demi Bapak." Ucap Pia dengan panik.
"Oh yaa. tapi saya tidak tuh?" Tanya Julian datar.
Ia sudah siap dengan kemungkinan ini, seperti dugaan Zafira semalam.
"Lagian kalo kamu suka saya, semalam kamu pulang jam berapa? Diantar siapa?" Serang Julian.
"Buat apa Bapak menanyakan itu?" Sahut Pia.
"Untuk memastikan semua praduga kita." Jawab Julian.
Zafira masih menyimak pembicaraan keduanya tanpa ada niatan menyela, walaupun hatinya juga nyut nyut mendengar pengakuan Pia.
"Perlu Bapak tahu. Semua tender bapak lolos karena saya." Seru Pia bangga.
"Tender yang mana?" Tanya Julian kaget.
Zafirapun ikut terkejut.
"Semua dan sejak awal. Para clien akan meminta imbalan dengan meniduri saya."
Julian dan Zafira menutup mulutnya dengan telapak tangannya saking kagetnya.
Apalagi Zafira praduga itu sudah muncul sejak awal dia melihat Pia dan Andre keluar hotel.
"Sejak Perusahaan ini di pegang Pak Yanuar. Hanya Bapak saja yang munak dan sok suci. Seakan tidak ingin perempuan.Padahal kenyataannya lebih parah. Sukanya sama yang ABG. Udah gitu bego pula." Suara Pia semakin lirih.
"Saya tidak rela Bapak bersama wanita lain. Pak Yanuar dulu selalu membawa saya kemanapun ia pergi. Tapi Bapak malah seringkali menelantarkan saya. Padahal saya sudah menaruh ka bapak sejak kedatangan Bapak." Curhat Pia.
"Tapi Bapak lebih memilih perempuan bungkus ini daripada saya." Pia menunjuk ke arah Zafira.
"Terus kenapa? Toh, hubungan kalian sudah jelas hanya sebatas atasan dan bawahan." Sahut Zafira.
"Kamu..." Teriak Pia tertahan. Karena Julian sudah mempelototinya.
"Mbak Pia juga sih mau-maunya disuruh ngerjain hal buruk kenapa gak lapor saja ke Om Edo."
"Anak kecil gak usah ikut-ikut." Sulut Pia.
__ADS_1
"Anak kecil darimana lha wong udah mau nikah kok masih dibilang anak kecil. Udah tahu makhluk ganteng makhluk jelek kok dibilang anak kecil." Ledek Zafira beralih ke sebelah Julian seakan meminta perlindungan cowok itu.
Julian tampak menghubungi seseorang.
"Om Edo bisa ke ruangan saya sebentar!" Titah Julian dan langsung menutupnya.
"Duduklah di sana, Pia! Kita bicarakan baik-baik."
"Dan kamu anak manis, duduk di kursiku sebentar."
Titah Julian kepada dua perempuan beda usia itu.
Semenit kemudia Edo sudah di ruangan Julian.
"Om, apa Om Edo yang memerintahkan Pia menjadi pemulus tender kita selama ini?" Julian menatap Edo tajam.
Edo berbalik menatap Pia.
"Sejak kapan ada peraturan semacam itu di sini."
"Jadi Pak Edo juga belum tahu?" Pia balik tanya.
" Sejak saya di rekrut. Bahkan dari awal sudah ada perjanjian seperti itu di kontrak."
"Bulshiit. Kurang ajar tuh Yanuar." Maki Edo.
"Enak banget tuh laki-laki memanfaatkan banyak peluang." Geram Edo dalam hati.
"Berarti kamu juga melayani Yanuar?" Selidik Edo.
"Iya." Jawab Pia lirih.
"Dan kamu berpikir Julian pasti memperlakukan kamu sama seperti Yanuar memperlakukan kamu."
"Iya, bahkan rumah yang saya tempati hadiah dari Pak Yanuar."
"Pia denger ya.. saya tidak ingin karyawan di perusahaan ini terlibat prostitusi dalam bentuk apapun." Ucap Julian tegas.
"Kalo kamu masih ingin bekerja? Kerja yang bener. Tender apapun itu urusan kami."
Julian dan Edo menarik napas kasar.
Keduanya sama-sama kesal setelah mengetahui perbuatan Pia selama ini. Apalagi perbuatan tersebut hasil warisan dari Yanuar, tambah sepet saja hati Julian dan Edo.
"Gimana, Pi? Apa kamu bisa berubah? Atau akan berlaku sama seperti kemarin?" Julian kembali menegaskan ucapannya kepada Pia.
Pia tampak berpikir. Dahinya berkerut dan tangannya meremas ujung kain roknya.
"Saya bole berpikir, Pak?" Tanya Pia.
"Bole, silahkan. Tapi pilihanya kamu bisa berubah lebih baik atau tetap menjadi Pia yang dulu?" Sambung Edo.
Pia kembali terdiam. Wanita itu sibuk dengan hati dan perasaannya.
"Kalo saya berubah, apa Mas Julian berkenan menjadikan saya kekasih?" Ucap Pia dengan berani.
Tatapan matanya memindai seluruh bagian Julian dengan intens.
"Saya sudah ada Zafira. Ndak mungkin saya jadikan kamu kekasih." Sungut Julian semakin keaal.
Zafira yang duduk di singgasana kekuasaan Julian hanya terkikik pelan, mendengar semua pengakuan Julian.
"Kalo mau berubah ya berubah saja. Gak usah mengharap apapun." Ucap Edo keras.
Pia dan Julian sampai terkaget-kaget.
__ADS_1
"Nah bener tuh kata Om Edo. Like Om Edo." Seru Zafira.
Edo melirik Zafira sebentar, namun segera kembali ke posisi semula karena Julian sudah memberi kode keras.
"Sayang udah ada yang punya. Kalo enggak, jadi anak Om Edo deh." Ledek Edo.
Julian dan Zafira menahan tawa masing-masing.
"Terus gimana nee urusan Pia, Om?" Julian kembali fokus ke arah Pia.
"Ya kembali ke Pia sendiri. Mau gak kembali ke jalan yang lurus."
"Yaa nabrak dong Om kalo jalan lurus terus." Sela Zafira sedikit kocak melihat ketegangan di wajah ketiganya.
"Firaa..." Protes Julian.
"Iyaa.. ya.. Tuh liat Mbak Pia udah pucet." Kata Zafira karena wajah Pia sudah terlihat pucat di serang dua pembesarnya.
Julian dan Edo menatap Pia, ada rasa iba menghinggapi keduanya. Tapi sengaja mereka sembunyikan. Demi kebaikan perusahaan.
"Gimana Pia? Sanggup tidak?" Seru Om Edo.
Pia menatap Edo dengan tatapan memelas dan tidak bisa diartikan pria itu.
"Apa saya akan dikeluarkan jika bersedia berubah.?" Tanya Pia seakan mencari posisi nyaman untuknya
"Kalo kamu sungguh-sungguh, akan kami pertimbangkan. Tapi, jika kamu bermain-main resiko tanggung sendiri." Jawab Julian.
Pia menarik napas panjang sembari memejamkan matanya.
"Baik, Pak. Saya akan berubah. Saya juga sudah capek bermain hati." Ucap Pia sungguh-sungguh.
"Apa kami bisa memegang janjimu?" Julian menatap Pia seakan mencari kesungguhan janji wanita itu.
"Saya janji, Pak. Demi Tuhan. Saya akan berubah." Ucap Pia dengan sungguh-sungguh.
Edo menarik napas dalam.
"Baiklah kalo kamu sudah siap berubah. Mulai sekarang kamu ke bagian desain. Surat penempatan akan menyusul."
"Kok..?" Pia protes karena jabatannya dipindah.
"Untuk menghindarkan kamu dari para klien. Katanya mau berubah. Kalo kamu masih bertemu mereka, bisa jadi akan terulang hal. yang sama." Sambung Julian.
"Tunjukkan pada kami bahwa kamu memang profesional. Gaji kamu takkan kami kurangi. Hanya saja sementara kamu dilarang ikut agenda dinas luar dalam bentuk apapun." Lanjutnya.
"Jadi Bapak membatasi saya?" Tegas Pia.
"Iya, demi kebaikan kamu sendiri." Pungkas Edo.
"Udah Mbak terima saja. Jarang-jarang loo ada bos baik kayak mereka!" Saran Zafira kepada Pia.
Wanita itu menatap dalam Zafira. Gadis yang semalam sempat ingin ia celakai. Tapi nyatanya malah tersenyum hangat menatapnya dan memberi support untuk berubah.
"Sudah gak usah pake lama. Iya in saja." Ucap Zafira menyadari Pia menatap ke arahnya
" Em.. Iya deh Pak. Saya bersedia." Jawab Pia.
Julian langsung menoleh ke arah Zafira, mengedipkan satu mata pada gadis berhijab merah itu.
Zafira hanya melotot menyadari Julian menggodanya.
💗💗💗💗💗
Aunty tutup mata deh.
__ADS_1
Hari ini maaf yaa telat.