TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Kebetulan


__ADS_3

"Karena melepas yang itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ada memori indah yang sudah tercipta. Kelak kenangan itulah yang akan menemaniku, mengenangmu"


Tulis Zafir mengenang Fely yang sudah kembali kepangkuan ilahi. Tiada kata terindah yang bisa ia tulis selain doa yang panjatkan setiap hari.


Berziarah ke makam Fely masih rutin ia lakukan, walaupun tidak selalu di hari Kamis. Kapanpun dan sesempat ia bisa, pasti ia datang


"Kamu baik-baik, ya di sana," pamit Zafir setiap kali ia berziarah, sesaat sebelum meninggalkan area pemakaman.


***


Sore itu, saat Umma sibuk mengajar di pesantren. Zafir menggantikan tugas Umma menemani si kembar belajar.


"Kak, tau gak?" seru Ayra di sela-sela kegiatan menulisnya.


"Gak," sahut Zafir menatap Ayra.


"Makanya dengerin dulu!" sahut Ayra sewot.


"Iya deh, apaan?" kata Zafir mengalah sambil menahan senyum.


"Ayra tuh, pengen liburan," kata Ayra meletakkan pensil yang ia gunakan menulis.


"Liburan?" ulang Zafir yang menemani adiknya belajar


"Iya, liburan bareng-bareng," sahut Ara yang ada di sebelah Ayra.


"Kalian maunya liburan kemana?" tanya Zafir kepo.


"Kemana aja, sih. Pokoknya yang seru-seru," sahut Ara.


"Iya, iya. betul Ara," dukung Ayra.


"Kamu tuh, ikut-ikutan aja!" seloroh Ara.


"Kok Ayra? kan, tadi yang pengen Ayra bukan Ara," seru Ayra tidak terima.


"Tapi yang ngomong tempatnya, kan Ara," balas Ara ini tidak mau kalah.


"Gak bisa, ini idenya Ayra," bantah Ayra.


"Ara, dong," bantah Ara.


"Udah-udah," ucap Zafir menengahi.


"Idenya emang dari Ayra, tapi Ara juga kasih masukan tempat. Kalian sama aja. Sama-sama kasih ide buat liburan," kata Zafir.


"Wlekk," Ayra menjulurkan lidahnya.


"Wleeek." Ara membalas dengan melakukan hal yang sama.


"Aduh, udah napa!" kata Zafir mulai pusing mendengarkan perdebatan kedua adiknya.


"Nanti kakak tanya Umma sama Buya, kita bole tidak liburan?" lanjut Zafir menenangkan kedua.


"Sekarang kita lanjutkan belajarnya!" perintah Zafir menatap Ara dan Ayra bergantian.


Kedua kembar tersebut terdiam sejenak. Setelah mendapat kode dari Zafir untuk kembali fokus, keduanya kembali beralih ke buku masing-masing.


Saudara tanpa ada gegeran atau keributan kayak gitu gak seru, gaess.

__ADS_1


Hayoo, pada ngaku sapa yang sering kangen sama saudara yang sering diajak ribut?


🤭🤭🤭.


****


"Umma, Zafir jogging dulu, ya!" pamit Zafir di Sabtu pagi.


"Iya," jawab Aqeela tanpa meninggalkan kesibukan memasaknya.


Meskipun di rumah ada Bi Darmi dan Bu Erna, tetapi Aqeela tidak mau menyerahkan begitu saja tugasnya kepada ART.


Aqeela tetap mengerjakan Bi Darmi dan Bu Erna hanya sekedar membantu.


"Assalamualaikum," salam Zafir menutup pintu rumah.


"Waalaikumsalam," jawab Aqeela hangat.


Ia merasakan mulai ada perubahan pada Zafir. Jika kemarin-kemarin, Zafir masih terlihat lesu dan enggan beraktifitas.


Sejak kepulangannya dari rumah Oma Alisha, sedikit demi sedikit Zafir kembali beraktifitas normal. Meskipun Aqeela tahu hati Zafir pasti masih mengenang Fely.


Namun, ia bersyukur jika putranya itu bisa kembali seperti sedia kala.


"Kak Zafir!" teriak Thifa dari balik pagar rumahnya melihat Zafir hendak jogging.


"Eh, Thifa. Ada apa?" sahut Zafir menghentikan langkahnya, menolehbke arah Thifa.


"Thifa bole jogging sama Kakak?" tanya Thifa ragu.


"Boleh, yuk!" jawab Zafir melegakan Thifa.


Lebih tepatnya setelah Thifa semakin dewasa dan Zafir sibuk dengan kuliahnya. Bukan Zafir yang menjauh, tetapi Thifa yang sudah mulai dekat dengan pria lain.


"Kita keliling kompleks aja, ya!" kata Zafir mulai ancang-ancang.


"Oke," sahut Thifa mengekori langkah Zafir.


"Satria gimana?" tanya Zafir di sela-sela jogging.


"Baik," jawab Thifa.


"Jangan terlalu percaya sama cowok yang baru kenal," kata Zafir mengingatkan Thifa.


"Memang sejak kapan kalian dekat?" tanya Zafir memancing Thifa


"Udah sejak Thifa masuk kelas Sepuluh," jawab Thifa.


Zafir tampak menghembuskan napas besar, karena ia mulai tersenggal-senggal kehabisan udara.


"Apa kamu sudah mengenal keluarganya dengan baik? Bagaimana ia di sekolah? Siapa teman-temannya?" tanya Zafir.


"Kakak nanyanya satu-satu, dong. Thifa bingung jawabnya," sahut Thifa kebingungan.


"Jawabannya cuma, iya dan tidak. Apanya yang susah?" ceramah Zafir.


Pemuda berhidung bangir itu menghentikan langkahnya lalu duduk sembarangan di trotoar jalan.


Kebetulan mereka sudah di depan komplek. Berdiri di tepi jalan besar yang masih sepi. Hari Sabtu begini, tidak banyak kantor yang buka. Jadi, jalanan tidak sepada hari-hari kerja.

__ADS_1


Suasana begitu cerah, ditambah tanaman tabebuya di pinggiran jalan yang mulai bermekaran menambah keelokan paginya Surabaya.


Kelopak bunga tabebuya yang berjatuhan menjadikan suasana Surabaya bak Negeri Sakura.


Zafir sengaja membawa Thifa ke tepi jalan besar dan duduk tepat di bawah pohon tabebuya besar agar mendapat chemistry dan ketenangan.


Hawa dingin tidak banyak berpengaruh pada tujuannya. Walaupun semua terjadi tanpa disengaja. Namun, kebetulan yang tidak disengaja ini akan banyak membantunya.


Membantu Zafir untuk mengetahui sejauh mana hubungan Thifa dan Satria. Mengingat ia beberapa kali memergoki Satri bersama wanita dewasa.


"Coba cerita ke Kakak, seperti apa hubungan kalian?" tanya Zafir lirih setelah Thifa duduk di sampingnya.


"Kak, Thifa masih belum mengenal keluarga Satria. Tapi, ia janji akan mengenalkannya pada Thifa," kata Thifa lirih.


"Kamu gak sedang berbohong, kan? Kakak tau loh, kapan Thifa bohong dan kapan Thifa jujur," ujar Zafir menatap tajam Thifa.


Seketika Thifa menunduk.


"Gak usah takut. Jujur saja sama Kakak," lanjut Zafir.


"Sebelum ayah dan bunda Thifa tahu. Lebih baik katakan sama Kakak karena Thifa tahu, kan bagaimana ayah Doni kalau marah?" kata Zafir mengingatkan sosok Doni Dimata mereka.


Asisten kepercayaan Desta yang sekaligus ayah Thifa terkenal tidak kenal ampun pada musuh-musuhnya.


Semua klien Desta rata-rata tidak ada yang berani macam-macam karena kepiawaian Doni menggagalkan dan membongkar semua pihak yang berniat curang dengan perusahan Buyanya.


Belum lagi jika para mantan gengster Desta berkumpul, bermacam keculasan. dan kecurangan bisa terungkap dengan mudahnya. Bahkan tanpa bantuan polisi.


Thifa mengangguk perlahan, mendengar ceramah pagi Zafir.


Sosok yang sempat ia benci itu, kembali meluluhkan hatinya. Sebagai anak Doni, ia juga memiliki rasa segan dengan ayahnya.


Doni memang bisa lembut, tetapi ia bisa lebih kejam dari Desta jika menyangkut kepentingan Thifa dan Mitha.


"Thifa dan Satria memang sudah mengenal sejak kelas sepuluh. Tapi, baru dekat enam bulan ini." kata Thifa jujur.


Thifa masih menunduk tidak ada keberanian menatap Zafir. Hatinya dilanda kegelisahan karena tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan putra Desta itu.


Thifa hanya berusaha menenangkan diri dan memanjatkan doa untuk kebaikannya. Berharap Zafir hari ini bisa lebih lembut dengan kesalahannya.


****


Gengs, mon maaf nih. semalam aplikasi NT aku error. Jadi, baru bisa up hari ini.


mampir yaa ke cerita terbaru aku.


Keceplosan Berbuntut Menikah.


Eh, yang punya ******* bole juga mampir sana. Cari nama aku. temukan cerita lain dariku, ya.


Happy reading. tinggalkan jejak kalian.


Suasana Kota Surabaya, pas tabebuya berbunga.



Yang ini pas berguguran bunganya. (aku ambil punya orang ya, gengs) wkwkkk.


Pas tabebuya rontok kemarin, aku gak sempet foto-foto.

__ADS_1



__ADS_2