TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Zafran feat Bucin dua pasangan


__ADS_3

Teo dan Wanda mengekori Zafran yang di gandeng Ika dan Seta.


"Kak Zafran lapar." Rengek Zafran


"Kita makan di kantin ya.." Ajak seta


Zafran yang tidak tahu kantin mengiyakan saja.


"Zafran mau makan apa?" Tanya Ika


"Bakso minumnya es teh."


"Kayak orang gede aja pesanannya." Gumam Teo.


"Udah pesenin sana giih!" Perintah Seta ke Teo.


"Elo dong, kan elo yang ngajak ke sini." Bantah Teo malas.


"Kalian kalo seperti itu terus gak bakalan selese. Yang ada nee anak bakal kelaparan."


Akhirnya Winda berinisiatif memesankan bakso dan es teh untu Zafran.


Disaat Winda memesankan bakso.


"Kak Seta pacarnya Kak Ika, ya?" Tanya Zafran.


Teo yang mendengar pertanyaan Zafran langsung cekikikan.


"Kak Teo juga kan pacarnya Kak Winda."


Kali ini Seta dan Ika yang menertawakan Teo.


"Anak kecil ini beneran deh. Pengen gua gigit aja. Kalo saja gak inget pesen Emak Bapaknya tadi." Gerutu Teo.


"Kak kalian memangnya sudah menikah ya?" Seu Zafran tiba-tiba


"Apa? Menikah?" Pekik Seta tidak percaya.


"Iya, kata Umma sama Buya tuh, bole pacaran kalo sudah menikah. Berarti Kakak sudah menikah dong?" Ulang zafran.


"Bukan begitu ya.. adek kecil. Kakak ini kan masih sekolah. Jadi..."


"Umma sama Buyaku dulu juga masih sekolah tapi mereka menikah." Zafran memotong ucapan Teo, membuat cowok itu merengut.


"Whaaat?" Mata Teo, Seta dan Ika mendelik


"Apa lagi ini?" Teo semakin bingung aja.


"Kayaknya ada yang salah deh sama Emak Bapaknya mereka?" Sahut Seta.


"Apalagi anak kecil ini?" Sambung Ika.


Winda datang sambil mmbawa semangkok bakso dan segelas es teh untuk Zafran.


"Sekolah, Menikah. Yang bener saja?" Cerocos Teo.


"Kalo belum menikah jangan bucin-bucin loo Kak." Dengan entengnya Zafran mengatakan bucin sambil mengunyah baksonya.


"Kok dia ngerti bucin segala ya?" Kelabakan tuh Seta bucinnya Ika.


"Taulah Kak, Dosa lho kalo terlalu bucin. Biasa-biasa saja." Kalimat Zafran udah mirip kayak motivator kondang aja.


"Emang kamu tau bucin?" Pancing Teo


"Kan aku udah punya calon istri masa depan. Jadi tau dong bucin itu apa?" Zafran masih dengna tenangnya menngumbar ceritanya.


"Busyeet daah. Kita kalah sama anak kecil." Komen Seta.


Winda dan Ika terkekeh mendengar ucapan Seta.


"Sekecil ini udah tau calon istri masa depan. Cinta, kamu sudah siap jadi istri masa depan aku?" Tanya Seta sambil menatap Ika.


"Kalo kamu udah ngasilin banyak duit aku siap-siap aja." Jawab Ika.


"Matre banget calon istri masa depan gue." Omel Seta yang diselingi tawa kedua temannya.


"Dek, emang siapa calon istri masa depan kamu?" Iseng-iseng Teo bertanya..


"Teman bule sekelasku. Papinya teman bisnis Buyaku. Mamanya sahabatnya Ummaku." Zafran menyeruput es tehnya.


"Alhamdulillah.. segernya.." Ucap Zafran

__ADS_1


"Kok dia bisa jabarin kayak gitu ya? Kita aja yang pacaran gak kenal orang tua masing-masing. Kok dia paham ya?" Teo semakin kepo.


"Memangnya Papi dan Mamanya dia gak marah sama kamu, dek?" Tanya Ika kepo gitu.


"Enggak, kan kita kemana-mana bareng Kak. Papi Carlos juga baik sama aku."


"Whaaatt?" Lagi-lagi ucapan Zafran sanggup membuat keempatnya terbelalak.


"Kak, kita main yuuk.. di sana.."


Belum habis rasa pensaran mereka.


Zafran langsung menarik tangan Seta dan Teo ke taman belakang.


Untung di sana lagi sepi, gerombolan penghisap cerutu tidak ada. Entah kemana mereka.


"Kak main gerobak dorong yuuk!" Paksa Zafran.


"Gimana caranya?"


"Kak Seta posisi kayak orang push up. Terus Kak Ika pegangin kakinya. Terus jalan pake dua tangan. Pasangan yang duluan sampai garis finish jadi pemenangnya." Oceh Zafran.


"Sipa yaa Kaak.."


Seta dan teo mau tak mau harus telungkup di tanah dengan tangan sebagi penahan, sedangkan kakinya di pegang bucin masing-masing.


"1... 2.. 3.. mulai !" Teriak Zafran.


"Ayoo..  ayoo.. ayoo.. Ayoo Kak Seta jangan kalah sama kak Teo."


Seta merangkak lebih cepat lagi.


"Kak Teo.. tunjukkan pesonamu!" Teriak Zafran.


"Anak kecil latah. Baru kali ini nemu anak kayak dia." Gerutu Teo.


"Yeee.. pemenangnya Kak Seta dan Kak Ika.." Pekik Zafran mengangetkan Teo yang tidak fokus sampai oleng ke kanan.


Zafran, Seta dan Ika sampai tertawa ngakak melihatnya.


"Kak, Zafran laper lagi deh. Ayoo kita makan ke kantin!" Ajak Zafran dengan memaksa.


"Gak sanggup aku, kalo harus mengasuh anak kayak begini." Gerutu Teo


"Teo.., seandainya kita punya anak kayak dia gimana?" Ucap Winda sambil cemberut.


"Amit-amit jabang bayi. Jangan sampai." Sumpah Teo.


"Habis ini kita balikin aja ke Emak Bapaknya. Urusan gak  bole pacaran urusan nanti." Seta seakan menyerah dengan keadaan.


"Ya udah kita sepakat. Jadi kita harus siap kalo gak bisa mojok lagi." Teo menimpali.


Ika dan Winda yang sedang menenangkan Zafran hanya bisa pasrah dengan keputusan cowok yang berstatus pacar itu.


"Kalian masih tidak seberapa." Martin ikut nimbrung.


"Gadis kecil berkerudung itu, tingkahnya minta ampun. Kita benar-benar tidak sanggup." Jihan menambahi ucapan Martin.


"Memangnya kenapa dengan anak kecil itu." Keenam rekannya yang lain ikut penasaran.


"Keluar dari sini, tuh anak langsung mengajal kita masuk ke ruang musik. Nyuruh kita nyanyi.. "


Martin mulai bercerita.


"Kak.. Kakak bisa nyanyi?" Tanya Zafira setelah keluar dari lapangan indoor.


"Bisa. Kenapa?" Jawab Jihan dengan nada datar. Karena yakin anak keil yang dibawanya anak yang anteng dan diem. Apalagi ia cewek. Tidak mungkin berbuat yang aneh-anek.


"Nyanyi-nyanyi yuk, Kak!" Ajak Zafira.


"Ayuuk.." Sahut JIhan masih dengan nada biasa.


Jihan dan Martin meggiring zafira ke ruang musik.


"Kak.. Kakak yang main gitar yaa.. Zafira yang nyanyi." Pinta Zafira.


"Tapi Kakak gak bisa main gitar, dek?" Bantah Martin


"Ya udah kakak bisanya apa?"


"Gak bisa main musik."

__ADS_1


"Lha yaitu Kakak bisanya apa?"


"Kakak bisanya berantem."


"Ya udah kita berantem."


"Apa? Yang bener saja. masa aku harus ngeladenin anak kecil begini." Gumam Martin lirih ke Jihan.


"Inget, kata orang tuanya. Jangan bikin anaknya terluka." Jihan mengingatkan.


"Ayo Kak. Kita ke mulai." Paksa Zafira.


Gadis cilik berkerudung pink itu menyeret Martin ke luar ruang musik. Mencari lokasi yang lebih luas. Dan ia menemukan sebuah aula.


"Kita main di sini, Kak." Ajak Zafira.


"Tapi, dek. Apa gak ada main yang lain gitu?" Tawar Jihan.


"Lho, katanya tadi Kakak bisanya berantem. Ya udah kita main berantem-beranteman." ceplos Zafira.


"Yang, nee anak kayaknya bukan anak sembarangan deh." Bisik Jihan ke telinga kekasihnya.


"kamu bener, Cin. Aku iyain coba. Bisa apa tuh anak."


"Okay, Kakak siap." Sahut Martin.


"Kakak Jihan jadi wasit ya.." Pinta Zafira.


"Anak kecil bisa ngerti wasit, anak siapa sih dia?" Gerutu Martin.


"Okay, kalian siap?" Jihan memberi aba-aba.


Tangan mungil Zafira mulai beraksi dengan lincah.


Martin yang tidak memiliki kemampuan beladiri sempat kewalahan meladeni gadis cilik ini.


Martin yang memang jago tawuran tersebut tidak salah mengatakan bisa berantem, tapi dengan modal asal.


Sedangkan bagi Zafira yang namanya berantem itu seperti yang diajarkan Kak Usi dan Kak Ryu.


Dua makhluk beda persepsi. Tapi tetap saling berhadapan memepertahankan harga diri masing-masing.


Martin merasakan sakit di beberapa bagian tubuhnya yang terkena pukulan dari Zafira.


"Nee anak, kecil-kecil tenaganya kuat juga." Batin Martin.


"Dek, kita istirahat dulu yaa.." Bujuk Martin agar Zafira mau menghentikan aksinya.


Zafira berhenti sejenak, sepertinya ia berpikir.


"Bole, tapi istirahatnya main kuda-kudaan ya?" Ucap Zafira seenaknya lagi.


Martin hanya melongo mendengarnya.


"Ayo, Kak. Segera menunduk, nanti Zafira naik ke punggungnya Kakak." Rengek Zafira.


"Udahan deh, Cinta. Kita nyerah. Anak ini kuat sekali. " Bisik Martin ke Jihan.


"Ayoo Kak..." Teriak Zafira


"Sekali saja ya.." Bujuk Martin.


"Enggka sepuluh kali."


"Sekali saja deh, Kakak capek banget."


"Memangnya Kakak kerja, sampe capek gitu. Buyaku aja gak pernah capek. Main kuda-kudaan sama aku, Zafir dan Zafran gantian." Omel Zafira.


"Apaan ini? Aku kan bukan bapaknya." Gerutu Martin.


"Apaan maksudnya ini?" Martin semakin tidak mengerti.


"Cinta, kamu turutin aja deh maunya dia." Bujuk Jihan


Dan demi Jihan, Martin menyetujui permintaan Zafira. Membawa gadis cilik itu berkeliling di punggungnya seperti kuda.


Tawa Teo, Seta, Ghani, Ika, Winda dan Sheila menggema di lapangan indoor tersebut.


Untung saja Aqeela dan Desta sedang membawa ketiga anaknya untuk dibawa ke ruang BK lagi.


@@@@@@

__ADS_1


Mereka dapat pelajaran apa ya dari pengalaman mengasuh si kembar?


__ADS_2