TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Doni dan maafnya


__ADS_3

Zafir menatap gawainya dengan cemas, sudah seminggu belum ada kabar dari Fely.


Semua panggilannya tidak pernah dijawab. Pesannya bahkan hanya centang dua tidak ada yang dibaca oleh gadis itu.


Bahkan ia mencoba menelusuri via sosmed Fely, gadis berkulit putih itu tidak pernah upload apapun seminggu ini.


Beberapa hari yang lalu pemuda itu menyempatkan diri lewat area rumah Fely namun terlihat sepi-sepi saja.


Seolah rumah itu tidak berpenghuni. Meski penasaran dan cemas untuk turun ia masih berusaha menahan diri.


Pesan Fely dan Umma terngiang terus di telinganya.


Pemuda memejamkan kedua matanya, menyentuh sisi kanan dadanya. Bibirnya komat kamit entah doa apa yang ia baca.


Zafir tampak begitu khusu' mengumandangkan doa-doanya.


Hingga ia mendengar suara Thifa memanggil seluruh penghuni rumahnya.


Zafir segera turun ke bawah.


"Ada apa Thifa?" tanya Zafir panik karena Thifa terlihat bingung.


"Umma ada gak, Kak?" tanya gadis itu.


"Umma ke masjid kayaknya, lagi nungguin Ara dan Ayra latihan karate," jawab Zafir.


Zafir teringat sebentar lagi kedua adiknya itu ikut pertandingan jadi mereka digembleng secara khusus oleh Kak Ryu dan Kak Usi.


"Ya udah Thifa cari Umma dulu," Thifa dengan tergesa bergegas keluar rumah Zafir.


"Thifa tunggu!" tahan Zafir menyusul langkah gadis itu.


"Ada apa?" tanya Zafir begitu berada di sebelah Thifa.


"Ada yang ngaku-ngaku kakeknya Thifa, Kak!" ujar Thifa panik.


"Padahal kata Ayah, kakek udah gak ada." Gadis itu kembali berlari keluar menuju masjid mencari Umma.


Karena penasaran, Zafir menuju rumah Thifa. Benar saja di depan pagar berdiri seorang pria berusia sekitar enam puluhan menatap ke arah rumah Thifa.


"Kakek nyari siapa?" tanya Zafir menatap ptia berwajah kusam itu.


"Apa ini rumahnya Doni?" tanya pria itu.


Zafir bukannya menjawab malah menatap pria itu dari atas sampai bawah.


"Doni siapa, Kek?" tanya Zafir lagi.


"Doni anak saya," jawab kakek itu.


Belum sempat Zafir bertanya lagi, Thifa dan Umma sudah di sampingnya.


"Selamat sore!" sapa Aqeela.


Pria tua itu menatap Aqeela, begitupun istri Desta itu.


Aqeela menelisik wajah pria yang berdiri di pagar Doni itu.

__ADS_1


"Om Irawan?" ucap Aqeela ragu.


"Kamu tahu saya?" tanya balik pria tua itu.


"Kita pernah ketemu. Sekitar 23 tahun yang lalu. Om ingat pasangan anak muda berseragam putih abu-abu waktu itu?" pancing Aqeela.


"Aku ingat. Mereka aku usir karena hasutan istriku," jawab Irawan.


Aqeela tersenyum kecut mengingat kenangannya mencari Papa Doni karena Doni kecelakaan kena tembak setelah menculiknya waktu itu.


"Kenapa Om ada di sini?" tanya Aqeela sembari menghubungi suaminya dan Doni.


"Om hanya ingin melihat Doni sekarang. Ternyata benar ia sudah sukses sekarang!" ucap Irawan.


Aqeela kembali tersenyum menahan jengkelnya, namun ia masih punya sedikit rasa iba kepada pria tua ini.


"Om ikut Qee!" Aqeela mengajak lelaki tua itu ke rumahnya.


Karena tidak mungkin ia membawa Irawan masuk ke rumah Doni, yang ada nanti malah Mama Intan syok.


Aqeela tidak ingin membuat Mama Intan, kena serangan jantung untuk yang kesekian kalinya karena ulah mantan suaminya itu.


Irawan mengikuti langkah Aqeela masuk ke rumah wanita itu.


"Bu Erna, buatkan minum dan makanan untuk tamu saya!" pinta Aqeela pada Bu Erna yang ada di dapur.


Sedangkan Zafir dan Thifa yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti langkah Aqeela dan duduk di sofa lainnya.


"Istri kemana?" tanya Aqeela sembari menunggu Bu Erna, suaminya dan Doni.


"Istri Om pergi dengan lelaki lain," jawab Irawan menerawang jauh ada penyesalan di matanya.


Aqeela hanya diam mendengarkan pengakuan lelaki tua itu.


Kalau saja bisa marah ia tentu marah, tapi wanita itu berusaha meredamnya.


"Ini sudah lebih dari dua puluh tahun dan Papa baru nyesel sekarang!" suara Doni menyela ucapan Irawan.


"Doni!" pekik Irawan menoleh pada seorang lelaki gagah berpakaian elegan yang berdiri di depan pintu.


"Papa kemana saja saat Doni butuh pelukan Papa. Untung Doni bertemu mereka berdua. Bagaimana coba nasib Doni kalau tidak bertemu Aqeela dan Desta!" marah Doni.


Doni benar-benar meluapkan emosinya yang terpendam lebih dari dua puluh tahun itu.


Zafir dan Thifa yang tidak tahu apa-apa akhirnya memilih keluar dari area ruang tamu.


"Thifa ikut kakak!" ajak Zafir ia tahu gadis itu ketakutan karena suara kencang ayahnya.


Zafir membawa Thifa ke halaman belakang yang lebih aman.


Di sana Zafir mengajak Thifa berbincang tentang banyak hal dengan maksud mengalihkan perhatian putri semata wayang Doni dan Mita itu.


Selama ini Doni tidak pernah berbicara nada tunggi kepada Thifa bagaiamanapun marahnya dia.


Namun, kali ini Doni benar-benar tidak bisa menahan emosinya.


"Don, tahan!" bisik Desta yang terus mendampingi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Duduklah dulu!" Desta memaksa sahabatnya itu duduk di sofa.


"Don, Papa bener-bener nyesel dan minta maaf!" Irawan tiba-tiba bersujud di kaki Doni.


"Pa, bangun! Doni gak bisa ambil keputusan. Papa minta maaflah sama Mama. Jika Mama maafin Doni juga bakal maafin!" ucap Doni ketus.


Hatinya sudah panas dan terbakar melihat Papanya yang baru mencarinya sedangkan dulu di saat ia jatuh dan susah kemana saja?


Lalu saat ia diatas awan kemana? Lupa anak istri demi perempuan muda tak tahu diri itu.


"Panggil Mama kamu, Papa akan minta maaf sama dia!" ucap Irawan dengan pasrah.


Doni keluar memanggil mama Intan.


Selepas kepergian Doni, Desta mengorek banyak informasi tentang Papa Doni itu.


Bu Erna datang membawa minuman dan makanan untuk Irawan.


"Om di makan dulu!" seru Aqeela.


Tanpa sungkan Irawan meraih piring berisi nasi plus lauk dan sayur dari ART Aqeela.


Pria tua itu menikmati makanannya dengan lahap, seolah sudah beberapa hari tidak makan.


Aqeela dan Desta sampai geleng-geleng kepala melihatnya.


Kembali rasa iba menyeruak di hati keduanya.


"Om tinggal dimana selama ini?" tanya Desta lirih.


"Dimana aja, asal gak kehujanan dan kepanasan," jawab Irawan.


Aqeela dan Desta menghentikan percakapannya. Karena Doni datang bersama Mama Intan.


"Ma, duduk sini!" Aqeela membimbing Mama Doni itu dengan lembut.


Irawan yang baru menyelesaikan makannya menatap wajah wanita tua yang datang bersama Doni itu.


"Tan.." panggil Irawan.


"Mas... Irawan?" balas Mama Intan.


"Dek, aku minta maaf!" Irawan bersimpuh di atas lutut Intan.


"Mas apa-apaan kamu! Bangunlah!" ucap Mama Intan ia meminta Doni menyingkirkan tubuh Papanya.


Doni mengangkat tubuh Papanya.


"Mas, aku udah maafin kamu! Kita ini sudah semakin renta. Apalagi yang mau aku cari kalo bukan bekal untuk akhirat." ucap Mama Intan.


Doni memeluk tubuh mamanya dengan erat.


"Maafin papa kamu ya, Nak!"


🌷🌷🌷🌷


Like, Komen, vote dan share...

__ADS_1


maksii yaa gaes...


__ADS_2