TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Bu Guru Cantik itu, Siapa?


__ADS_3

Aqeela dan Pak Jamal sudah berada ditengah-tengah pelatih ekskul SMA Nusantara.


"Bapak, Ibu dan Kakak-kakak kami hadirkan untuk koordinasi lanjutan kegiatan ekskul." Pak Jamal membuka rapatnya.


"Seperti yanh kita jadwalkan minggu lalu, minggu ini kita harus fix dengan new proker."


"Saya akan absen per ekskul."


"Pramuka, Paskib, PMR, Teater, Paduan Suara, Basket, Volly, Futsal dan Sepak Bola, tenis, bulu tangkis, jurnalis, KIR, Robotik, Pecinta Alam, Menari, Pencak Silat, Kerohanian Islam, Kerohanian Kristen Katolik, Kerohaanian Hindu, Kerohanian Buda dan Fotografi.." Setiap pelatih yang disebut bidangnya mengangkat tangan.


"Menurut Kakak-kakak untuk menarik tiap ekskul apa yang harus kita lakukan?" Tanya Pak Jamal.


"Kita buat acara unjuk Ekskul. Jadi tiap ekskul bisa menunjukkan kekhasannya. Setelah itu anak-anak bisa memilih ekskul yang diminati." Ucap pelatih ekskul Teater.


"Bagaimana dengan yang lain apa ada usul?" Tanya Pak Jamal.


"Saya setuju dengan usul Kakak Rio tadi." Kata Pelatih ekskul Futsal.


"Saya bole menambahkan sedikit?" Aqeela mengangkat tangannya.


"Bole."


"Selain unjuk kebolehan alangkah baiknya kita tunjukkan prestasi masing-masing ekskul. Bagaimana?"


"Wah, setuju sekali kalo itu." Komen yang lain.


"Saya juga setuju."


"Setuju pake banget."


"Okay.. untuk waktu kira-kira kapan bisa dilaksanakan?"


"Minggu depan. Hari Jum'at, setelah sholat Jum'at."


"Kenapa hari Jum'at? Kalo saya cenderung pas jam sekolah. Karena anak-anak pasti gak mungkin pulang. Kalo setelah Jum'atan saya tidak yakin."


"Hari Kamis, jam pertama. Bagaimana?"


"Siap Pak."


"Berarti siap ya, kamis depan."


"Siap.'


"Proker saya mohon di kumpulkan."


"Baiklah, setelah unjuk kebolehan saya akan memberi angket kepada mereka." Pak Jamal mengakhiri pertemuannya.


"Saya tunggu di hari H."


💗💗💗💗💗


Pelaksanaan Unjuk Karya Tiap ekskul berlangsung dengan lancar. Pak Jamal dibantu OSIS.


Sehari setelah kegiatan tersebut, Aqeela dan Pak Jamal masih dengan bantuan OSIS mengedarkan angket ekskul.


Dalam waktu satu jam, seluruh pengurus OSIS yang dikerahkan pihak sekolah sudah berkumpul di ruang BK.


"Okay sekarang, kita tata sesuai ekskul yang mereka minati. Pisahkan yang kelas 10 dan 11 ya!" Titah Aqeela.


"Iya, Bu.." Jawab Reno salah satu pengurus OSIS.


"Pak, mau makan gak?" Tanya Aqeela ke Pak Jamal, disela-sela pendampingannya dengan OSIS.


"Enggak." Jawab Pak Jamal.


"Beneran, Bapak mertua angkat tidak mau makan? Ntar aku dikira anak mantu angkat yang durhaka loo." Goda Aqeela.


Anak OSIS yang ada di situ ikut terkekeh, namun sedikit ditahan karena merasa canggung dengan kehadiran Aqeela.


"Ya udah, aku pesan chicken pizza yang super lumer loo. Beneran gak mau?" Aqeela mengiming-iming Pak Jamal dengan makanan favoritnya.


"Mau-mau. Mau deh. Yang ukuran jumbo ya!" Pak Jamal akhirnya tergoda.

__ADS_1


"Kalo denger pizza aja langsung iya. Coba tadi aku bilang singkong pasti dicibir. Ah, Bapak mertua angkatku ini memang matre kok." Ledek Aqeela.


"Bocah gendeng. Gitu kok yoo jadi Ustdzah. Ckckck.... kriteria darimana coba?" Balas Pak Jamal.


"Bapak mertua siih, tidak pernah gak dengerin tausiyah mantu cantiknya ini." Cerocos Aqeela sambil memesan pizza online via aplikasi delivery.


"Sekalian es kopi ya, Tu Mantu..." Kata Pak Jamal mengencangkan panggilan mantu ke Aqeela.


"Berres Bapak mertua angkat. Kalian mau pizza gak?" Tanya Aqeela ke anak-anak OSIS.


"Mau...pake banget Bu." Jawab Eca yang terlihat paling gembul diantara semua temannya.


"Huui.. kalo makanan aja langsung on." Ledek Pipit si ketua OSIS.


"Biarin mumpung gratisan. Lagian kapan lagi kita kerja di bonusin pizza." Balas Eca seenaknya.


"Husst... awas ada Pak Jamal loo. Kamu entat dilaporin Pak Saipul loo.." Sela Mario dengan cemas.


Aqeela dan Pak Jamal ikut terkekeh mendengarnya.


"Kalian takut sama Pak Jamal?" Seru Aqeela setelah mengklik tombol pesan.


"Banget, Bu.."


"Wah, parah kalian..Ibu aja pas seusia kalian tidak pernah takut sama Pak Jamal." Goda Aqeela.


"Memang dulu Pak Jamal gak jutek gini?"


"Jutek pake banget."


"Terus?"


"Ibu yaa masih lebih takut sama Tuhan." Ucap Aqeela sambil menahan tawa.


"Yaa...ibu. Kok ngeprank kita siih."


"Ibu sadis."


"Emang elo pengen Pit?"


"Ogaah."


"Jangan-jangan yang di ceritaian anak-anak itu Ibu ya?" Mario ikutan kepo.


"Memangnya ada cerita apa?"


"Itu bu, kata teman saya dark angel."


"Upszz.. " Pak Jamal yang sedang meneguk air putih langsung memuntahkan isinya..


"Itu kan julukan aku buat bocah gak jelas ini." Gumam Pak Jamal dalam hati.


"Qee.. hak paten aku, kamu pake.Bayar .." Goda Pak Jamal.


"Bayar apaan? Aku gak punya hutang."


"Dark angel."


"Ooh.. tenang saja. bayarnya seloyang pizza ukuran big size.


"Ha haa..." Anak OSIS kembali terkekeh.


"Bu, ini sudah selese."


"Okay. Kalo sudah bantu ibu membuat listnya di exel." Ucap Aqeela sambil mempersilahkan salah satu pengurus OSIS memakai komputer BK.


"Kalo kita ngerjakan disini sperti kelamaan, deh. Gimana kalo kita mnegerjakan di lab komouter?" Kata Pak Jamal.


"Hmm... boleh tuh, Pak." Sahut Aqeela.


"Kalo begitu saya izin Pak Roni dulu ya."


"Okay."

__ADS_1


Pak Jamal keluar sebentar, menemui Pak Roni.


Setelah mendapat izin dari Pak Roni, penanggungjawab Lab Komputer. Pak Jamal segera kembali dan mengajak pengurus OSIS yang terlibat ke lab komputer.


"Kalian di tinggal sudah bisa?" Tanya Pak Jamal.


"Iya, Pak."


"Kalo sudah selese, save di flasdisk kalian. Nanti biar Bapak yang ngeprint." Titah Pak Jamal.


"Pak Jamal, Bu guru yang cantik tadi siapa ya?" Seseorang tiba-tiba nyeletuk.


"Iya, udah cantik baik, ramah pula." Yang lain menimpali.


"Apa kata kalian? Baik dan ramah?" Ulang Pak Jamal.


"Baik darimana?" Sambung Pak Jamal.


"Itu dia mesenij kita pizza. Mana ada coba guru lain kayak gitu."


"Kalian kenalan saja sendiri. Biar tau kayak gimana seremnya tuh bocah. Hii hii..." Pak Jamal bergidik. Sambil keluar dari lab komputer.


Hanya butuh waktu lima belas menit, pengurus OSIS sudah kembali ke ruang BK. Bersamaan dengan pizza pesanan Aqeela datang.


"Yuuk, dimakan dulu." Ajak Aqeela kepada pengurus OSIS.


"Makasi ya, Bu."


"Bu, Bu Guru cantik ini namanya siapa ya? Kan dari kemarin kita belum kenalan?" Seseorang yang penasaran bertanya kepada Aqeela.


"Nanti akan saya perkenalkan diri saya. Makanlah dulu." Jawab Aqeela.


Ceklek.


Suara pintu dibuka seseorang. Seluruh penghuni ruang BK menoleh ke sumber suara.


"Ustadz Zainal!" Seru semua yang ada di runag BK.


"Qee, curang kamu ya. Kalo urusan makan aku gak pernah kamu kabari." Ustadz Zainal langsung berkomentar.


"Lha salah sendiri gak bantuin aku."


"Aku kan bantuin dengan do'a." Jawab ngasal Ustdz Zainal.


"Kak Desta juga bisa kalo begitu doang."


"Kamu mah, ngandelin bocah itu terus."


"Bocah apanya, kita udah punya anak tiga masih dibilang bocah. Udah ngasilin duit Triluyanan masih dibilang bocah. Berarti mereka bayi dong?" Celoteh Aqeela.


"Enggak mereka masih embrio."


"Ustadz... kok embrio gak zigot sekalian biar puas." Sahut seorang pengurus OSIS berkacamata.


"Nah, tuuh mereka lebih jago soal begituan."


"Auh aah.. yang penting mana jatah Ustadz."


"Tuuh jatahnya Ustadz Zainal." Tunjuk Aqeela ke meja Pak Jamal.


Bukannya mengambil kardus, Ustadz Zainal malah duduk di sebelah Pak Jamal yang fokus dengan pizzanya.


"Ustadz, ini jatahh saya. Itu punya Ustadz." Pak Jamal menghalangi tangan Ustadz Zainal yang mencomot satu potong pizzanya.


"Pak, dedek bayinya lagi nyidam punya Pak Jamal." Ustadz Zainal mengelus perutnya yang mulai buncit karena umur.


"Udah berapa bulan, Ustadz?" Tanya Aqeela sengaja karena tahu Ustdadz Zainal hanya bercanda dari tadi.


"Enam bulan 7 minggu 5 hari 3 jam kurang 8 menit 10 detik."


"Busyeet dah Ustadz itu usia kandungan atau lagi menghitung waktu?" Sahut salah satu anak OSIS yang lain.


"Gak gurunya gak muridnya sama-sama gak jelas." Gumam Pak Jamal tetap fokus dengan pizzanya.

__ADS_1


__ADS_2