
"Sebenarnya..." Bukannya menjelaskan Fely malah menangis.
"Ada apa, Fel?"selidik Zafir.
Zafir kembali dibikin pusing. Apalagi hari semakin pagi.
Tanpa pikir panjang, Zafir membawa Fely ke sebuah hotel.
"Fel, bisa pinjam KTP?" tanya Zafir saat masih di mobil.
Tapi Fely seakan enggan memberikan KTPnya.
"Mau pake KTPku?" goda Zafir sembari mengedipkan satu mata.
"Gak lucu." Oceh Fely.
"Ya udah kalo gitu mana KTP kamu?" tanya Zafir.
Fely dengan berat hati menyerahkan kartu identitasnya.
"Pesan berapa kamar, Mas?" tanya petugas hotel dengan ramah.
"Satu,"
"Atas nama?"
Sebelum menyerahkan KTP milik Fely kepada petugas, Zafir sempat membaca identitas Fely.
Nama lengkap : Ruth Alexa Firly
Tempat tanggal lahir
Agama...
Begitu membaca agama Fely, Zafir kembali tertegun. Di kartu tersebut tertulis islam.
Namun Fely ibadah ke gereja.
Zafir semakin tidak mengerti. Berbagai praduga dan prasangka bermunculan di otaknya.
Setelah mendapatkan kunci kamar. Zafir mengajak Fely masuk.
Zafir menempelkan key card kamar hotel ke mesin yang ada di pintu.
Setelah terdengar bunyi klik. Zafir membuka pintu.
"Masuk dan istirahatlah di sini! Besok kita bolos saja!" ajak Zafir.
Fely menatap Zafir tidak percaya mendengar ajakan buruk pemuda itu.
"Aku serius. Besok kita bolos. Aku gak bisa bawa anak orang ke kampus dengan mata bengkak kayak gini." jawab Zafir seolah tahu apa yang dipikirkan gadis itu.
"Besok pagi aku ke sini, numpang sarapan makanan hotel," pamit Zafir begitu Fely sudah masuk.
Zafir sengaja tidak masuk untuk mengindari berduaan terlalu lama dengan Fely.
Bagaimanapun dia juga manusia. Punya rasa punya hati.
Bisa khilaf dengan yang namanya dunia.
Apalagi wanita.
Karena harta terindah dunia adalah wanita.
"Kamu istirahatlah yang tenang. Besok pagi aku bakal nepatin janji, numpang sarapan." Senyum Zafir sebelum menutup pintu kamar Fely.
Pemuda itu sebenarnya tidak tega meninggal Fely, namun ia bukan seorang beriman kuat.
Ia khawatir imannya kalah dengan imun milik Fely.
__ADS_1
Zafir hanya menitipkan Fely kepada Sang Pencipta.
Dengan langkah gontai pemuda itu meninggalkan hotel menuju rumah.
🌹🌹🌹
Di dalam kamar hotel.
Fely masih terisak mengingat semua pengakuan dosanya, serta tanggapan sang Romo yang tak ia sangka.
"Tuhan, jika engkau memang ada. Buktikan kuasaMu. Aku memang belum pernah melihatMu tapi aku percaya Engkau Ada,"
Feli menautkan kedua tangannya ke depan dada kakinya ia tekuk.
Gadia itu memejamkan kedua matanya fokus berinteraksi dengan Tuhannya.
Tuhan yang selama ini ia imani seperti yang diajarkan Mami.
Sejak kecil Mami selalu membawanya ke gereja secara sembunyi-sembunyi tanpa Papa tahu.
Namun ia juga diajarkan tentang keesaan Allah di sekolah diajarkan bagaimana seorang muslim beribadah.
Fely kecil yang belum tahu arti dan makna sebuah agama akhirnya hanya mengikuti kebiasaan yang diajarkan sang Mami.
Walaupun hatinya bertentangan, tapi ia benar-benar tidak tahu bagaimana cara memulainya.
Saat pengakuan dosa tadipun sang Romo meminta dirinya untuk meneguhkan iman dengan cara apapun.
Namun cara yang bagaimana jika hatinya sudah tidak sinkron dengan kebiasaannya.
Otaknya sudah berpikir keras akhir-akhir ini namun hasilnya nihil.
Hanya pembicaraan sekilas info dari Zafir seakan bisa menenangkannya.
Namun pemuda itu bukan pemuda biasa. Kebiasaannya aneh.
Seperti saat ini, dirinya malah ditinggal sendirian. Padahal pemuda lain pasti akan mencari kesempatan seperti ini.
Seorang lelaki separuh baya berpakaian putih-putih tiba-tiba menepuk bahunya. Menyeka air matanya.
"Papa..." panggil Fely.
Lelaki itu hanya tersenyum, sebelum meninggalkan Fely dengan seperangkat alat salat.
"Papa..." pekik Fely begitu lelaki itu meninggalkannya.
Fely membuka matanya, bayang-bayang Papa begitu nyata di hadapannya.
Akhir-akhir ini ia memang begitu merindukan sosok bijak yang dulu sering mengajaknya bermain.
Namun setelah memergoki Maminya selalu mambawa Fely ke gereja, Papa pergi entah kemana.
Yang Fely tahu hanya uang Papa yang selalu Mami tunggu.
🌹🌹🌹
Zafir sampai kamar hotel tepat jam tujuh lima belas menit.
Bahkan Fely masih tiduran di ranjang.
"Pagi amat, Fir?" komen Fely begitu ia membuka pintu untuk Zafir dengan suara serak.
"Astaghfirullah, kamu kucel banget?" seru Zafir mendapati Fely membukakan pintu dengan wajah khas orang bangun tidur.
"Aku tuntasin mimpiku dulu ya!" Fely beranjak ke kasur tanpa mempedulikan Zafir yang menatapnya.
Zafir hanya pasrah duduk di sofa sembari menunggu nyawa Fely utuh.
Pemuda itu akhirnya merebahkan tubuhnya di sofa panjang kamar.
__ADS_1
"Fir... Zafir..." teriak Fely.
Rupanya Zafir tertidur di sofa. Ia juga masih mengantuk karena semalam sampai rumah pukul setengah dua pagi.
"Fir... bangun. Mau sarapan gak?" Fely mengguncang lengan Zafir.
"Sebentar..." Zafir membuka matanya perlahan.
"Aku cuci muka dulu, ya!" ucap Zafir langsung ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban iya Fely.
Keduanya sepakat sarapan di ruang makan.
🌹🌹🌹
"Fel, adakah yang ingin kamu sampaikan ke aku?" tanya Zafir begitu mereka selesai sarapan.
"Aku bingung harus memulai dari mana?" ucap Fely.
"Mulai dari yang kamu ingat!" titah Zafir.
Fely menatap Zafir yang menatapnya hanya menatap tapi tidak melihat.
"Semalam aku mimpiin Papa," Fely membuka ceritanya.
"Papa aku muslim. Saat menikahi Mami. Mami ikut agama Papa. Walaupun sebelumnya ia Katholik."
"Ternyata Mami tidak menjadi muslim sebenarnya. Mami masih sering ke gereja sembunyi-sembunyi. Bahkan tanpa sepengetahuan Papa aku dibaptis."
"Mami mencekokiku dengan ajaran Katholik. Aku lebih dekat dengan suster, pastur dan Romo daripada guru ngaji yang papa panggil untukku. Bahkan kerap kali Mami mengusir ustazah cantik itu," Fely mengingat masa lalunya.
"Akhirnya Papa memergoki mami membawaku ke gereja. Papa sangat murka pada Mami waktu itu. Beliau sampai meminta Mami kembali tapi Mami tidak mau. Akhirnya Papa mengalah dan meninggalkan kami."
"Setiap Bulan Papa memberiku uang untuk sekolah dan keperluan lainnya. Tapi lama-lama Mami mengambil alih semuanya,"
Sampai aku SMA, aku masih nyaman dengan statusku. Bahkan tidak ada yang curiga aku seorang katholik dengan ktpku islam."
"Sampai seorang guru agama menjelaskan tentang munafik dan murtad. Aku menjadi bimbang. Tak ada tempat bertanya."
Mata Fely menerawang jauh.
"Terus apa yang kamu inginkan sekarang?" tanya Zafir.
"Aku hanya ingin mengenal Tuhanku. Tuhan yang tertulis di KTPku," jujur Fely.
"Apa kamu ingin aku yang menunjukkannya?" ucap Zafir langsung tanpa basa basi.
"Iya, aku tak ada teman lain yang bisa kuajak cerita."
"Baiklah, jika kamu sudah siap. Langkah pertama kamu tidak boleh ke gereja lagi!" Tegas Zafir.
"Apa kamu sanggup?" selidik Zafir.
"Iya, aku sanggup." ucap Fely tanpa ragu.
"Yang kedua kamu harus berikrar membaca dua kalimat syahadat. Bagaimana?"
"Seperti apa itu?"
Zafir kemudian menyontohkan bacaan dua kalimat syahadat.
"Tuntun aku, Fir!"
"Tapi apa kamu sanggup dengan kewajiban setelahnya?" Zafir kembali meyakinkan Fely.
"Apa itu?"
"Salat, zakat, puasa, haji."
"Aku akan belajar. Apa kamu tidak keberatan membimbingku?" ucap Fely.
__ADS_1
"Sebetulnya tidak. Tapi kan kamu perempuan. Kamu sama Umma saja ya belajarnya," usul Zafir.
🌹🌹🌹