TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Teman Belajar


__ADS_3

"Kak, aku duluan ya..!" Pamit Julian kepada Aqeela dan Desta. Setelag menyelesaikan sarapannya.


"Uncle, aku bareng." Sela Zafira sebelum Julian berdiri dari kursinya.


Julian menoleh ke arah Zafira.


"Uncle bawa motor lho Zafira. Masih mau bareng?" Tanya Julian.


"Iya, gak pa_pa." Sahut Zafira.


Membuat Aqeela, Desta, Zafir dan Zafran terbelalak.


"Tumben?" Gumam Zafir tapi keras.


Karena jarang-jarang Zafira mau dibonceng motor.


"Kan yang nyetir motornya Uncle Ian, jadi gak pa_pa." Balas Zafira.


"Jadi kalo yang bawa motor Buya, Kamu gak mau?" Tanya Zafran.


"Buya naik motornya kenceng banget, Zafira takut. Tapi kalo Uncle Ian kan kecepatannya sedang." Zafira menjelaskan alasannya.


"Ya iyalah.. kan motornya Buya motor sport Zafira. Kalo motornya Uncle kan motor 4 tak, kecepatannya biasa saja. Coba kalo pas uncle naik motor sport ya sama aja." Zafran sampai terkekeh mendengar alasana Zafira.


"Ya udahlah yang penting sama uncle." Tanpa menyahut pekikan Zafir dan Zafran, Zafira segera mencium tangan dan pipi kedua orang tuanya.


Keduanya membalas dengan mencium kening putrinya


Julian mencium tangan Aqeela dan Desta.


"Yan, hati-hati. Next bawa mobil aja. Sekalian mereka berdua di cangking." Titah Desta.


"Tapi Kak..."


"Gak ada tapi-tapian. Dan tanpa penolakan." Potong Desta.


Julian hanya menggeleng dengan permintaan kakaknya itu.


"Serah deh. Aku berangkat ya.. Yuk Zafira!" Ajak Julian sambil menggandeng Zafira.


Julian sudah mulai masuk SMA. Dia memilih sebuah SMA Negeri yang dekat dengan rumah. Maklum sistem zonasi, sehingga dengan mudahnya ia diterima. Meskipun secara nilai ia tergolong unggul.


Tapi kita kan harus jadi warga negara yang baik. Patuh aturan.


Keuntungannya sih, bisa efisien waktu dan irit biaya.


Zafira turun dari motor, begitu sampai di gerbang.


Gadis kecil itu mencium tangan Julian.


"Sekolah yang bener. Jangan berantem mulu. Kasiyan Umma dama Buya masa anak perempuan satu-satunya jago cari musuh." Pesan Julian sebelum meninggalkan gerbang sekolah Zafira.


"Siap Uncle. Tapi kalo ada yang jahat sama Zafir, Zafran dan Zafira bole dong aku berantem." Masih saja ada bantahan.


Julian sampai terkikik mendengarnya.


"Itu beda lagi ceritanya, cantik." Kata Julian dengan lembut, auto si cantik Zafira bersemu mukanya semerah hidung Om Badut.


"Udah masuk sana." Perintah Julian sambil tersenyum mendapati blushing face Zafira.


"Da da uncle..." Zafira melambaikan tangan.


"Assalamu'alaikum.." Sahut Julian


"Wa'alaikum salam." Zafira sampai lupa salam.


Setelah Zafira masuk ke dalam, Julian segera melajukan motornya menuju SMA-nya.


💗💗💗💗

__ADS_1


"Yan..." Panggil seseorang di parkiran.


Julian menoleh dan mendapati seorang gadis di belakangnya.


Julian menghembuskan napas panjangnya, begitu tahu seorang gadis menunggunya.


"Ai..." Balas Julian.


"Sejak kapan kamu di situ?" Tanya Julian.


"Sejak tadi." Jawab Ai.


"Nungguin aku lagi?" Tanya Julian


Ai mengangguk.


"Ai, lain kali masuklah dulu! Tak perlu nungguin aku." Ucap Julian kepada gadis bermata sipit itu.


"Aku cuma ingin berteman apa salahnya?"


"Tidak ada yang salah."


"Ayo masuk kelas, lima menit lagi bel." Ajak Julian.


Ai nampak tersenyum dengan ajakan Julian.


"Ai, aku menjaga jarak dengan kamu. Bukan berarti aku benci." Kata Julian pelan sambil berjalan menuju kelas.


Ai terdiam dengan penjelasan Julian. Gadis itu terlihat bingung.


"Sejak kita sekelas. Sejak itu kita berteman." Sambung Julian.


"Yan, bukan teman seperti itu yang ku maksud." Ai sepertinya mulai paham arah pembicaraan Julian.


"Kita lanjutkan nanti obrolan kita pas jam istirahat. Kamu udah di tunggu Marsha tuh." Julian menunjuknke arah Marsha sahabat Ai.


Julian menarik kedua sudut bibirnya melihat tingkah Ai. Tanpa menunggu lama iapun segera duduk di bangkunya.


Julian Khalid Atmaja.


Cowok ganteng itu bukannya tidak tahu dan tidak paham maksud Ai.


Ia paham sekali. Tapi bagi sorang Julian tak mungkin dirinya berteman dekat dengan gadis.


Ujung-ujungnya mereka akan saling tertarik. Fokus Julian hanya belajar. Ia tak mau ribet dengan urusan cewek.


Siapa sih yang tak mau dekat dengan Ai Reynara Kazuki.


Gadis keturunan Jepang, teman sekelasnya itu. Nama Ai dikenal seantero SMA karena paras wajahnya.


Para cowok bahkan menggunakan ribuan cara demi bisa mendekatinya. Tapi Julian yang didekati malah menjaga jarak.


Ai dan Julian akrab setelah keduanya terlibat kerkel (kerja kelompok) di matpel ( mata pelajaran ) Bahasa Indonesia bersama Keysa dan Angga.


Dari kerkel tersebut Ai melihat karakter unik milik Julian yang tidak ia temukan pada cowok manapun.


Dan Ai mulai tertarik dengan lawan jenisnya itu. Bahkan setelah proyek kerkel mereka selesai, Ai masih berusaha mendekati Julian.


Ai pun bukannya tak tahu, ia juga paham. Sebetulnya Julian hanya ingin fokus belajar. Tapi, bagi Ai belajar dan berteman adalah dua sisi yang berbeda.


💗💗💗💗💗


Istirahat pertama, Ai dan Julian sudah duduk berhadapan di kantin.Di hadapan mereka ada segelas jus alpukat dan jeruk ditemani dua porsi siomay.


Sejak pelajaran ketiga tadi, Ai sudah mengkide Marsha agar tidak mengikutinya ke kantin.


Jadi, kini hanya ada Ai dan Julian.


"Ai..." Panggil Julian sambil menghentikan seruputannya.

__ADS_1


"Iya." Jawab Ai pelan.


"Ai, maaf ya." Kata Julian.


"Untuk?"Ai masih bingung karena merasa Julian tak ada salah dengannya.


"Untuk semuanya."


"Aku gak ngerti deh, Yan."


"Maafin aku, kalo aku terlalu baik."


Auto Ai langsung ngakak. Membuat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka.


"Kamu pe-de banget bilang terlalu baik." Ucap Ai masih dengan sisa-sisa tawanya.


"Lha kalo aku bukan orang baik, mana mau kamu minta berteman sama aku." Kata Julian.


Ai terdiam menatap Julian, tapi cowok itu malah mengalihkan pandangannya.


"Jangan ngeliat aku kayak gitu, Ai. Ntar kamu malah suka loo sama aku. Dan aku gak bisa jamin bisa balas." Julian mengakui persoalan batinnya.


Hati Ai kembali mencelat ke ujung galaksi bima sakti.


Sakit. Mendengar Julian mengatakan semuanya dengan jujur.


Siapa yang tak tahu latar belakang Julian, adik pemilik pesantren terkenal di Surabaya yang juga seorang pengusaha sukses.


Berwajah tampan mirip Shashank Vyas. Siapapun akan terpesona dengan ketampanan Julian.


Tapi kalimat-kalimat pedas yang sering ia lontarkan membuat gadis manapun menjauh.


Tapi bagi Ai, Julian memiliki sisi berbeda yang tak pernah ia temukan pada lelaki manapun.


Menurut Ai, Julian sosok yang humoris dan tanggungjawab. Pendapat itu ia dapatkan saat dekat demgan Julian waktu kerkel.


Dan sekarang sosok Julian berubag menjadi seseorang yang tak ia kenal. Seorang cowok yang tak berperasaan, dingin dan jutek.


Ai tak habis pikir, bagaimana seorang sehangat Julian bisa sedingin saat ini. Dimana hatinya dimana otaknya.


Apa ia gak mikir gitu, cewek di depannya ini juga punya hati.


"Ai, aku hanya bisa jadi teman belajar kalian. Tidak lebih. Pliss.. ngertiin aku juga." Ucap Julian lirih.


"Aku gak ingin kamu lebih sakit jika kita berteman lebih dekat."


"Ai.., mumpung masih muda bertemanlah dengan siapapun."


"Aku masih jadi Julian yang dulu, aku gak akan menolak jika kamu kesulitan matpel. Aku akan membantu sebisaku. Tapi kalo gak bisa ya.. kita selesaikan bersama-sama."


💗💗💗💗💗


Aish.. Julian nolak cintanya cewek.


Ati-ati loo uncle dari teman belajar bisa jadi teman berjajar.


Vote ya Gaesss...



i


Kakak Author itu mah si Shashank Vyas 🙈.


Kan dia mirip mah Julian..


kalo yang ini sih mirip Ai. 👇


__ADS_1


__ADS_2