TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Kumpul Bocah


__ADS_3

"San, jangan bikin kepo kami kebangeten deh." Komen Hanin tidak sabar.


Aqeela masih dengan ragu menatap ketiganya.


"San, jangan bilang kamu lagi baca bahasa tubuh kita?" Protes Hanin yang merasa tidak nyaman dengan Aqeela, karena menatap mereka dalam diam.


Aqeela baru saja akan menjawab pertanyaan Hanin, terdengar teriakan dari halaman belakang.


"Ummaaa...."


"Taaannteeee...."


"Anak-anak...." Sahut keempatnya sambil bangkit dan berlari menuju halaman belakang.


Dihalaman belakang.


Keempat wanita itu menyaksikan dua anak saling bertatapan tajam seakan hendak saling terkam.


"Zafran.. Malik..." Keempatnya kompak memanggil kedua bocah itu.


"Ada apa ini?" Tanya Aqeela lembut.


"Berantem terus..." Oca terlihat jengkel entah karena Malik atau Zafran.


"Teh Oca udah ah, namanya juga anak-anak. Aku urus deh mereka." Seru Aqeela


"Sejak kapan kamu jadi Tetehnya Aqeela. Hik hik hik.." Bisik Yuna.


"Sejak tadi, dia panggil aku Teteh terus."


"Besan kamu kesambet kalee di Solo, Nin."


"Hussst.. ngawur."


Aqeela tidak mempedulikan ocehan teman-temannya di belakang, ia terus mendekati kedua bocah yang masih saling menatap itu.


"Zafran, Malik!" Panggil Aqeela lembut.


Mendengar suara Aqeela, Zafran menundukkan pandangannya. Begitupun Malik.


"Sini...!" Panggil Aqeela lagi.


Keduanya menggeser sedikit pantatnya ke sebelah Aqeela.


"Ada apa ini?" Tanya perempuan berhijab kuning itu sambil mengelus kepala kedua bocah di depannya itu.


Sementra Zafir dan Darren masih asyik dengan lego dan mobil-mobilannya. Entah apa yang mereka bangun. Bentuknya berantakan.


Kedua bocah itu memilih membiarkan dan sepertinya tidak berniat memperbaikinya.


Sedangkan Zafira dan Renata terlihat akur. Keduanya sibuk dengan boneka dan berbagi mainan ala cewek milik saudara Zafran itu.


Keempatnya hanya sesekali melirik ke arah Zafran dan Malik. Seakan siap menjawab jika ditanya.


Sedangkan Bu Erna masih dengan siaga menemani enam balita itu tanpa banyak cakap.


"Zafran, Malik ada apa?" Ulang Aqeela.


"Siapa yang mau cerita duluan?" Tanya Aqeela.


"Hmm.. begini Tante." Malik membuka suara.


"Tadi itu, aku dan Zafran membuat istana dan benteng yang besar."


"Teruus.. "


"Terus aku tanya Rajanya siapa? Malik bilang rajanya dia. Aku gak mau dong. Kan Malik belum punya Ratu. Jadi yang jadi Raja itu harus punya Ratu duluan." Potong Zafran cepat.


"Gak harus Fran.., Raja gak harus punya Ratu." Malik membantah


"Harus.." Paksa Zafran


Kedua bocah itu saling bertatapan kembali. Seakan bersiap saling adu argumen.


"Kalian masih mau melanjutkan bertengkarnya?" Sahut Aqeela datar.


Mendengar ucapan Aqeela keduanya kembali terdiam.


"Hmm.. terus kalian ngapain, setelah rebutan jadi Raja?" Sambung Aqeela setelah keduanya terdiam.


"Ya, kita rusak istana dan bentengnya." Sahut keduanya.

__ADS_1


"Hmm.. berarti sudah tidak ada istana lagi kan?" Ucap Aqeela.


Keduanya mengangguk.


"Berarti main raja-rajaannya juga sudah selesai kan?" Ucap Aqeela.


"Belum.." Sahut Zafran.


"Terus..?"


"Aku mau cari Ratu, Tante.." Ucap Malik.


"Memangnya siapa Ratunya?" Aqeela akhirnya terbawa arus percakapan dua bocah itu.


"Malik mau sama Zafira." Jawab Malik.


"Tidak bole...." Sahut Malik.


Zafira yang berada tidak jauh dari keduanya, memandang sekilas ke arah Malik yang menyebut namanya.


Tapi ia kembali asyik dengan Renata, yang sudah berbicara kepadanya. Tidak peduli dengan ucapan Malik.


Aqeela ingin tertawa kencang mendengar jawaban anak temannya itu. Tapi ditahan.


"Tidak.. aku tidak suka." Bantah Zafran.


"Tadi kan kamu bilang gak punya ratu." Protes Zafran.


"Sekarang kan udah."


Zafran emosi, melihat Malik yang santuy.


"Hadeeeh.. kalo udah sebut Zafira. Pasti Zafran paling sensi." Gumamnya dalam hati.


Entah bagaiman perasaan Zafran. Selalu sensi jika berhubungan dengan saudari dan saudara kembarnya itu.


"Memang istananya berapa?" Aqeela mengalihkan keduanya.


"Satu." Jawaban kompak keduanya.


"Ya udah bikin aja istananya dua. Zafran jadi raja. Malik juga jadi raja. Terus dua orang raja ini saling bekerja sama, karena mereka berteman. Sehingga negara mereka jadi kuat, aman dan damai." Usul Aqeela.


"Memang bole, Umma?" Zafran melongo.


"Berarti kita bisa punya ratu sendiri-sendiri?" Sahut Malik.


"Iya.. dan harus. Raja kan pasangannya Ratu."


"Kok bisa ada dua Raja?" Zafran masih belum terima.


"Begini, kita tinggal di negara mana?" Aqeela menjelaskan perlahan.


"Indonesia." Aqeela tersenyum mendengar jawaban keduanya.5


"Kalo Papi Renata dari mana?"


"Spanyol."


"Negaranya sama atau berbeda?"


"Berbeda."


"Presidennya sama atau berbeda?"


"Berbeda."


"Nah, Presiden itu kan sama kayak Raja. Sama-sama pemimpin negara. Raja juga pemimpin negara. Kalo negaranya berbeda pimpinannya juga berbeda."


"Ooh.. berarti Zafran dan Malik punya negara yang berbeda ya Umma?" Zafran mulai paham.


"Iyya..." Jawab Aqeela.


"Bagaimana? Masih mau berantem lagi?" Sambung Aqeela.


Zafran dan Malik saling menatap. Seakan mereka sudah puas dengan jawaban Umma Aqeela.


"Enggak deh Tante. Kita sama-sama jadi Raja aja deh. Iya kan Fran?" Malik tersenyum.


"Iyaa.. " Zafranpun sudah tersenyum kembali


"Hmm.. jadi sekarang udah berteman lagi?" Tanya Aqeela sambil mengusap kepala kedua bocah itu.

__ADS_1


"Udah Umma.."


"Iyaa Tante.."


Auto keduanya saling berjabat tangan.


"Anak Solih.., hmm kalian laper gak?" Tanya Aqeela untuk semua anak yang di sana.


"Laperr.."


"Mau makan?"


"Mau..." jawab kompak enam bocah itu.


"Ya udah beresin dulu mainannya, terus ke ruang makan. Umma siapkan makanananya."


"Terima kasih Umma.."


"Terima kasih Tante.."


💗💗💗💗💗


"Mbak, Mbak Aqeela belajar dimana siih kok bisa ngomong kayak gitu sama Malik dan Zafran?" Oca Kepo.


"Itu kan pembicaraan biasa, Teh?" Jawab Aqeela


"Tapi kok kamu keren gitu." Sahut Yuna.


"Next kalian yaa.. yang nenangin anak-anak."


"Enggak.. " Sahut ketiganya barengan.


"Wkwkk...kenapa memangnya?" Aqeela sedikit terkekeh mendengarnya.


"Yang ada kita malah ngomel-ngomel. Mana bisa kayak kamu, San." Sahut Hanin.


"Apalagi Yuna, byuuuh... kasiyan si Darren." Sambung Oca.


Aqeela terkekeh mendengar celotehan Oca. Sedangkan yang jadi bahan pembicaraan hanya tersenyum masam.


"Umma.. masak apa?" Tanya Zafir sambil duduk di meja makan.


Setelah merapikan mainannya.


"Ayam goreng. Nee...satu anak satu ya.."


"Makasi Umma..." Jawab keenamnya kompak.


"Loo kok samaan manggilnya." Yuna terbengong mendengar para bocah memanggil Aqeela, Umma.


"Biar kita punya ibu kayak Umma. Cantik, baik, gak suka marah-marah dan pinter masak." Ucap Darren yang disambut tawa keempatnya.


"Kalo gitu kalian jadi anaknya Umma Aqeela saja. Mama Hanin, Mama Yuna dan Mama Oca pulang neee..." Yuna pura-pura ngambek dihadapan anak-anak.


"Jaaangaaan...." Sahut Malik dan Darren.


"Renata siih malah seneng kalo di suruh ikut Umma Aqeela.." Sahut Renata.


"Whaat.. apa Honey?" Hanin terbengong.


" Iyyaa.. disinikan ada Zafran.. jadi bisa ketemu Zafran tiap hari." Kata Renata.


"Renata... " Hanin terlihat sedih.


"Terus Mama sama siapa?"


"Sama Papi."


Tepuk jidat.


💗💗💗💗💗💗


"Nee rumah serasa kayak kumpul bocah." Gerutu Bu Erna dalam hati.


💗💗💗💗💗


Gengs.. ulah aneh apa lagi yaa mereka ciptakan?


Next part yaa..


tetep like, vote, komen dan rate yaa..

__ADS_1


.


__ADS_2