
Begitu sampai di depan lobby, Desta meminta bantuan kepada satpam menurunkan es cao yang dibelinya.
Lalu meletakkannya di bagian informasi.
"Pak ambil untuk satpam yang sedang bertugas." Titah Desta kepada satpam diakhir mengangkuti kardus dari dalam mobil atasannya itu.
"Terima kasih, Pak." Jawab Satpam tersebut mengambil 5 cup gelas dari wadahhnya.
"Pak bawa sekalian dengan boxnya. Nanti bapak kesulitan membawanya." Titah Desta.
Desta memberikan box yang muat 6 cup kepada satpam tersebut.
Setelah pamit, satpam itu kembali ke posnya. Dan membagikan masing-masing satu cup kepada temannya.
"Rin, sisanya bagikan kepada petugas Cleaning Service dan OB ya. Kamu ambil satu." Titahnya kepada Rin.
Nama lengkapnya Karin Maheswari. Petugas Informasi di gedung perkantoran miliknya.
"Baik, Pak." Jawabnya sopan.
"Kita naik dulu ya." Ucap Desta.
"Baik Pak, Bu. Terima kasih." Sahutnya.
Karin menatap pasangan itu dengan hati tak karuan. Usianya dengan mereka terpaut jauh. Tapi kehidupan keduanya berbeda dengannya.
Kedua menikah di usia sangat dini, sedangkan dirinya di usia yang menjelang 30 belum ada tanda-tanda menikah.
Ada sedikit kecemburuan melihat pasangan muda itu.
"Tuhan, segerakan jodohku." Rintihnya dalam hati.
Tanpa menyahut, Desta mengamit lengan Aqeela. Keduanya menuju lift yang akan membawa ke ruang kerja di lantai 30.
Keduanya masuk ke ruang kerja Desta sembari menyapa beberpa orang yang dikenal.
"Don.." Sapa Aqeela.
"Tumben ikut?" Sahut Doni sambil nyengir.
"Kamu kira, aku nyuruh kamu berangkat duluan buat apa?" Sahut Desta.
"Yaa, mana ku tahu. Memang kamu cerita apa?" Bantah Doni.
"Enggak." Sahut Desta.
"Ya udah. Lagian aku juga nanyanya ke Aqeela. Kenapa kamu yang jawab." Solot Doni.
"Untung aja temen, kalo enggak udah aku gibas dari tadi." Gerutu Doni dalam hati. Melihat Desta yang super menyebalkan hari ini.
"Dia istri aku tahu." Sahutnya.
"Udah tahu, seisi dunia juga tahu kalo Aqeela Ghaizah Sayrief itu istrinya Desta Wijaya. Pengusaha sekaligus pengasuh pesantran Al-Muslim. Qee, suami kamu kenapa sih kok sensi banget gitu?" Doni mengalihkan tatapan ke Aqeela.
"PMS kalee." Jawab Aqeela singkat.
"Upzzz.." Doni tergelak gak jelas.
Desta diam tak membalas. Entahlah hatinya ingin sekali memaki asiaten sekaligus sahabatnya itu.
Karena itu Desta memilihi diam daripada emosinya tersulut.
"Mita kapan prediksi lahiran?" Tanya Aqeela.
Meskipun rumah mereka sebelahan susah ketemunya.
Mita sibuk di rumah sakit. Dia sibuk di rumah.
"Minggu-minggu ini sih. Tapi maju mundurnya belum tahu." Sahut Doni.
__ADS_1
"Ya udah kita masuk dulu ya, Don. Semoga lancar persalinanannya nanti." Ucap Aqeela sambil mengajak Desta masuk.
"Ruangan kamu rapi juga ya, Bae." Komen Aqeela.
"Iyalah. Tiap hari dirapikan OB." Jawab Desta.
"Kirain kamu sendiri, Bae. Ternyata OB. Huu... Gak jadi kagum deh aku." Ledek Aqeela.
"Kamu gak usah kagum sama ruanganku. Kagum saja sama diriku, Beb..." Gombalan receh Desta keluar.
"Gak mau ah. Mending juga kagum sama duitnya. Wleek.." Balas Aqeela sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Udah matre aja nee, istriku.." Desta menghentikan langkahnya menuju meja kerjanya.
Berbalik ke arah Aqeela. Ia sengaja mensejajarkan posisinya dengan tubuh istrinya.
Posisinya jongkok menatap wajah istri cantiknya itu.
Cup.. Ciuman di kening.
Cup.. Ciuman di pipi kanan dan kiri.
Cup.. ciuman di bibir.
Sekali, diulang kembali. Dan dengan jahilnya ia mencubit pinggang kekasihnya itu dengan lembut.
" Aahh.. Bae, sudah... " Protes Aqeela.
Tapi Desta tidak menggubris. Ia malah melancarkan aksinya dari cubit berubah menjadi gelitikan.
Karena tak kuasa menahan rasa geli, Aqeela sengaja menjatuhkan tubuhnya dipangkuan Desta yang masih dalam posisi jongkok.
Bugh.
"Beb.. " Teriak Desta segera menyeimbangkan posisinya.
Sehingga posisi mereka saat ini layaknya orang sedang bercinta.
"Hem...hem.. Bisa gak bucinnya pindah tempat?" Doni masuk dengan mendehem.
"Gak bisa ketok pintu dulu apa? Lagian Aqeela istri aku." Bantah Desta.
"Udah di ketok sampai dua puluh kali. Gak ada yang nyahut. Ternyata lagi ngebucin di sini." Omel Doni.
"Ada apaan?" Tanya Desta, perlahan memindahkan Aqeela ke sebelahnya.
"Ada tamu. Tapi jangan kaget ya?" Ucap Doni.
"Emang siapa?" Desta semakin penasaran.
Doni membuka pintu ruangan Desta lebih lebar, dan mempersilahkan seseorang masuk.
Deg. Jantung Aqeela dan Desta tiba-tiba berdetak gak karuan. Setelah sekian lama.
Dia muncul kembali.
"Masuk..." Pinta Doni melihat kedua pasangan itu terlihat kaget. Bahkan tak ada ucapan ramah yang biasa Desta ucapkan kepada tamu.
"Duduk..." Kembali Doni yang memepersilahkan tamunya duduk.
"Kalian bisa enggak sedikit ramah sama dia." Bisik Doni ke Desta.
Plaaak..
Tanpa sengaja ia memukul paha Doni dengan keras.
"Bos kira-kira dong. Paha gue juga aset nee.."
"Haa ha ha... rasain lo. Makanya kurangi tuh iseng." Omel Aqeela.
__ADS_1
"Apa kabar, De?" Tanya Desta.
Iya tamunya adalah Dea, teman SMA dulu. Yang berambisi memilikinya. Sampai menculik Aqeela.
"Baa baaik.." Jawab Dea gugup.
Wajahnya sama kagetnya dengan Desta dan Aqeela.
Bisa jadi Doni juga sama tadi, tapi karena ia sudah tahu lebih dulu sekarang sudah bisa mentralisir kondisinya.
"Apa yang membawamu kemari?" Tanya Desta.
"Aku diminta Pak Rais mengantarkan proposal perjanjian terbaru kerjasama kalian." Ucap Dea dengan lugas.
Sepertinya ia sudah mampu menetralisir perasaannya.
"Rais dan Wira kemana?" Tanya Desta bingung. Karena jarang-jarang mereka menugaskan orang lain untuk mengantar proposol kerjasama.
"Pak Rais dan Pak Wira sedang keluar negeri. Mengurus cabang di sana yang sedang bermasalah. " Jawab Dea sedikit canggung.
Desta menarik napas panjang mendengar cerita dari Dea.
"Ini proposalnya." Dea menyerahkan sebuah map warna merah berlogo perusahaannya kepada Desta.
"Kamu apanya Rais?" Tanya Desta sambil membuka proposal tersebut.
"Sekretarisnya. Tapi sekeretaris biasa. Bukan skeretaris pribadi seperti Pak Leon." Sahut Dea.
"Kampret itu punya berapa sekeretaris sih." Maki Desta dalam hati.
"Ya sudah aku terima, nanti aku hubungi Rais." Jawab Desta.
"Baik, Pak. Saya pamit dulu."
"Don, antarkan Dea." Titah Desta.
"Kalian sudah menikah?" Tiba-tiba Dea menatap Aqeela yang sedari tadi diam.
"Sudah. Kami sudah lama menikah." Jawab Aqeela sambil menggenggam tangan Desta.
"Oowh... Baiklah aku pamit dulu." Sahut Dea sambil berjalan ke arah pintu.
"Gue tinggal, jangan bucin melulu. Kayak gak punya tempat aja." Ledek Doni.
"Gundulmu." Hampir saja Desta melayangkan bogemnya Doni sudah berlari ke arah pintu.
"Aku antar, De." Ajak Doni menjajari langkah Dea.
"Kamu masih ada rasa cinta sama Desta?" Tanya Doni lirih.
"Kamu kok bisa ada di sini?" Dea malah memberinya pertanyaan bukannya menjawab pertanyaannya.
"Mita kemana?" Sambung Dea.
"Kamu tuh nanya atau interogasi?" Doni terlihat kesal dengan Dea.
"Tanya."
"Bentar, aku pamit Izza dulu. Za, aku turun ya.. Ntar kalo Bos nyari suruh telpon hp ku aja." Pinta Doni.
"Okay." Jawab Izza yang merupakan sekeretaris Desta.
"Kita ke kantin" Ajak Doni.
Setelah kejadian penculikan tersebut, Doni memang tidak berhubungan dengan Dea. Karena memang penghubung langsung mereka waktu Mita. Mantan pacarnya yang sekarang jadi istrinya.
💗💗💗💗💗💗
Doni ngapain ya sama Dea?
__ADS_1