
Setelah tujuh hari di rumah sakit, Aqeela akhirnya diizinkan pulang.
Itupun dengan berbagai nasehat dan syarat dari Dokter Suzan.
Aqeela sudah tidak betah berlama-lama di rumah sakit. Rasa bosan seringkali menyelimutinya walaupun yang menjaganya bergantian.
Bagi ibu enam anak itu di rumah sakit tidak senyaman di rumah sendiri. Bagaimanapun keadaaan rumah kita tetaplah menjadi persinggahan ternyaman baginya.
Rasa sakit yang ia rasakan setelah melahirkan kali ini terasa lebih sakit dua kali lipat daripada saat kelahiran si triple dan Al.
Rasa sakit yang dirasakan Aqeela itu disebabkan karena bukan hanya karena bekas cesar saja tapi juga karena efek sterilisasi atau proses tubektumi yang dilakukan dokter Suzan.
Karena itu juga Aqeela diminta lebih lama menginap disana. Karena dokter Suzan yakin, jika pulang pasien istimewanya itu tidak akan bisa berbaring dengan tenang.
Karena apa coba?
Karena Dokter Suzan sangat yakin saat ini di rumahnha pasti menunggu segudang kerjaan dari pesantrennya.
Aqeela hanya terkekeh mendengar ceramah Dokter Suzan kala itu.
Memang tidak bisa dipungkiri, walaupun urusan pesantren ia serahkan kepada orang kepercayaannya tetap saja jika ada hal mendesak ia harus campur tangan.
Beruntung urusan sekolah, ia ambil cuti full. Entah sampai kapan ia kembali.
Cuti unlimited bahasa kerennya.
Kalo saja Aqeela terdaftar di siagus maka seluruh tunjangannya hangus, he he he.
Wkwkwk.. tapi sebagai istri pengusaha setingkat Desta, ia tak pernah mempermasalahkan uang.
Kartu Kredit, Kartu Debit semua ada di dompet miliknya. Jadi, meskipun cuti tidak berpengaruh apapun.
Suaminya sudah mencukupi semua kebutuhan finansialnya.
Kali ini di rumahnya, ada Izza sekretaris suaminya sedang menengok dedek bayi bersama beberapa staf lainnya.
Setelah berinteraksi dengan Aqeela, Izzah meminta izin untuk menggendong si kembar.
Setelah mendapat izin, Izzah menggendong salah satu bayi kembar atasannya itu dengan hati-hati.
Sedangkan yang satunya digendong Ririn.
"Zah, udah pantes deh. Cepet gih bikin sendiri." Ledek Afifah salah satu staf administrasi Desta yang sudah memiliki dua anak.
"Sembarangan cepet-cepet. Lha wong pasangan saja belum ada." Balas Izzah dengan manyun.
Suara grrr.. membahana seluruh ruangan tengah Desta.
"Serius Za, kamu belum punya caloan?" Tanya Aqeela menatap bawahan suaminha itu.
Izzah menggeleng pelan.
Afifah menyenggol bahunya.
"Jawab atuh, gak sopan menggeleng saja begitu."
Izzah menoleh ke arah Afifah sambil tersenyum sinis.
"Belum, Bu."
akhirnya keluar juga kalimat jawaban dari Izzah.
"Fir.. Zafir..." Panggil Aqeela kepada salah satu kembarnya.
__ADS_1
"Iya Umma." Sahut Zafir yang menghadap Aqeela sambil berlari.
"Kamu ngapain kok pake lari?" Tanya Aqeela heran.
"Main Bun di belakang." Jawab Zafir.
"Tolong, Panggilin Om Farid, ya?" Pinta Aqeela tanpa basa basi karena ia tahu Zafir masih ingin bermain lebih lagi bersama saudara-saudaranya.
"Okay." Sahut Zafir sambil melesat ke dapur.
Tak sampai dua menit, Farid sudah di hadapan Aqeela dan tamu-tamunya.
"Zah, kenalin ini pengurus pesantren putra di sini." Aqeela menatap Izzah
"Rid, ini Izzah sekretarisnya Mas Desta." Aqeela menatap Farid.
"Ini maksudnya apa ya Qee?"
"Maksud, ibu apa?"
Izza dan Farid bertanya secara bersamaan.
Seisi ruangan terdengar saling bisik, dengan praduga dan tebakan masing-masing.
"Ya siapa tahu kalian cocok." Jawab Aqeela enteng tanpa merasa berdosa sedikitpun.
Farid menatap Izzah sekilas tapi langsung menundukkan kepalanya.Karena Izzah juga melakukan hal yang sama. Sehingga pandangan mereka beradu.
Farid merasakan ada sesuatu yang membuat organ jantungnya berdegub lebih kencang.
"Qee.. aku masuk dulu. Lebih baik aku minta nomer hapenya saja." Farid mohon izin sambil berbisik ke Aqeela.
Farid masih berusaha menetraisir jantungnya.
"Zah.." Panggil Aqeela setelah Farid balik ke belakang.
"Iya Bu."
"Tulis nomer hape kamu di sini!" Titah Aqeela sambil menyerahkan gawainya ke Izzah.
Izzah tanpa curiga menekan dua belas digit nomer ponselnya.
Setelah selesai, Izzah menyerahkan kembali ke Aqeela.
"Zah, farid sepertinya suka sama kamu. Kalo dia menghubungi kamu dan kamu juga suka dia jangan ditolak. Tapi kalo memang tidak suka katakan dari awal. Supaya Farid tidak berharap terlalu tinggi." Bisik Aqeela sebelum Izzah menjauh.
"Dia anak yang baik dan soleh. Kerjaannya di sini bantu aku ngurus santri dan pesantren. Aslinya dari Tuban. Kalo ganteng gak kalah kok sama bintang Korea kesayangan kamu itu. Si Yung itu.." Sambung Aqeela sambil tersenyum apalagi saat mengucapkan nama salah satu anggota BTS karena merasa tidak hafal namanya.
"Baek Hyun, Bu namanya.." Izzah merevisi sebutan Aqeela.
"Entahlah namanya susah. Udah gitu semua wajah artis orang Korea sama semua. Gak ada bedanya. Gitu kok ya kamu suka." Ledek Aqeela diiringi tawa teman-teman Izzah.
"Ibu juga suka kan nonton drakor." Sungut Izzah yang pernah nonton drakor bareng waktu Aqeela masih memiliki si triple aja.
"Iya itu karena penasaran aja sama omongan teman-teman. Eh, Pas nonton gak bisa bedain pemainnya. Jadi pusing. Endingnya kamu yang menggerutu, karena aku nanya terus."
Mendengar ucapan Aqeela, Izzah langung ngakak. Teringat waktu itu ia begitu sebal dengan istri atasannya itu.
"Ya sebel dong. Lagi asyik-asyiknya nonton malah gak denger dialognya. Udah gitu kan harus baca subtitelnya. Eh, ibu nanya mulu." Jawwb Izzah tanpa sungkan.
"Bocah sableng. Masa sama istrinya bos kayak gitu." Komen Ririn sambil menidurkan bayi yang digendongnya.
"Lhoo dia ketiduran, Rin?" Tanya Aqeela
__ADS_1
"Iya Bu." Jawab Ririn lirih takut adek bayinya bangun.
"Makasi yaa.." Jawab Aqeela.
"Tapi aku heran juga loo sama boss kita itu, setiap kali bu bos datang. Tugas aku cuma nemenin ibu Aqeela doang." Ujar Izzah membongkar tugasnya.
"Enak di kamu dong, Za."
"Terus yang ngerjakan tugas kamu siapa?"
"Pak Doni."
"Wah, curang kamu Zah. Gaji tetap tapi kerjaan berkurang."
Izza hanya tertawa lebar mendengar ocehan teman-temannya.
"Lagian ya, kalo nemenin Bu Aqeela pasti kita jalan-jalan, makan, shoping." Izzah manas-manasin temannya.
"Ngawur.." Ucap Aqeela.
"Yang ada Izza tak suruh jadi baby sitternya anak-anak." Lanjut Aqeela
"Lha ibu kok dibuka sih rahasianya." Izzah memperlihatkan wajah kecewanya.
Teman-teman Izza hanya tertawa saja mendengar ucapan rekannya itu.
Memang benar, saat Aqeela berkunjung ke kantor Desta. Izzah selalu menemaninya tak jarang ia mengajak sekretarisnya itu makan atau belanja ke mall tapi sambil momong anak-anak.
"Lagian kamu tuh yaa. Nanti kalo mereka iri terus jahatin kamu gimana?" Ucap Aqeela keras.
"Nggak kok, Bu. Kita gak ada yang iri sama dia. Karena tiap hari dia juga ngeluh capek dan frustasi. Karena di suruh kawin terus sama mamanya." Ledek Afifah yang merupakan teman dekat Izzah.
"Fifa, buka rahasia." Izza semakin manyun.
Aqeela tersenyum mendengar perdebatan mereka.
"Gak usah manyun gitu. Kamu terima aja lamaran Farid. Aku yakin orang tua kamu gak akan nolak." Bisik Aqeela.
Membuat Izzah menatap istri bosnya itu dengan wajah yang tidak biasa.
"Gak usah pake malu. Ntar juga malu-maluin." Ucap Aqeela lirih tanpa berbisik.
💗💗💗💗
Kehadiran bawahan suaminya sedikit banyak membantunya menghilangkan rasa sakit sejenak.
Apalagi ada Izza yang sejak tadi jadi bahan bully-an.
Aqeela bisa merasakan sedikit fresh karena sudah bisa jahil.
Ya.. elah. Kirain kenapa ternyata karena mulai iseng lagi.
Udah yaa. lanjut lagi di next up.
Kita beri ruang dan jeda untuk Farid dan Izzah.
Siapa tahu mereka berjodoh.
Mak Comblangnya mantap jaya luurrr...
https://chat.whatsapp.com/CAE996Eu8Oq318wNxYEi5V
yang mau sambung silaturrahmi dengan reader dan viewer lainnya silahkan gabung dengan komunitas fans club triple Z dan mendadak Ustadzah lainnya.
__ADS_1
Ramaikan di sana bole.