TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Masih Tentang Zafira


__ADS_3

Dalam waktu lima belas menit, Desta sudah sampai di area pesantren triple.


Di ruang sambang masih terlihat Zafira, dipelukan Zafran. Dan Zafir masih berusaha menenangkan saudaranya.


"Assalamu'alaikum.." Ucap begitu di depan pintu.


"Ummaaa...." Teriakan Zafir auto membuat Zafran dan Zafira menoleh ke arah pintu.


Ketiga segera menghambur ke arah Aqeela. Wanita secara bergantian mencium pucuk kepala ketiganya.


Setelah itu ketiga mencium tangan Desta.


"Uncle.." Panggil ketiganya kompak.


Julian tersenyum melihat ketiga keponakan rasa adiknya itu.


Begitu tatapannya bertemu dengan Zafira, entah mengapa Julian melihat banyak perubahan pada gadis ciliknya itu.


Julian merasa Zafira yang kini ada dihadapannya bukan lagi gadis cilik keponakannnya yang menggemaskan.


Ada sesuatu yang belum bisa ia temukan apa yang ada dihatinya.


Zafirapun hanya memberi senyum kecil pada unclenya itu.


Entah karena ia masih panik dan takut atau ada rasa lain.


Aqeela mengajak Ketiganya duduk, lalu menyerahkan Ara yang di gendongangannya kepada Julian. Karena Aira dalam gendongan Desta.


"Kak Zafira, kenapa nangis?" Tanya Al yang langsung duduk di sebelah Julian.


"Kak Zafira kangen sama Umma dan Buya, Dek." Jawab Zafran sambil mengelus kepala Al.


"Ooh.. kalo gitu sekarang Kak Zafira senyum dong? Kan Umma, Buya, Uncle dan Al udah nyampe." Cerocos Al dengan senyum khasnya.


"Makasi ya Al." Jawwb Zafira sambil tersenyum.


Julian masih menatap Zafira dari kursi di seberang. Dua bulan tidak melihat keponakan sudah banyak yang berubah dari keponakannya itu.


"Zafira.." Panggil Aqeela


"Iya Umma.." Jawab Zafira sambil memeluk Umma.


"Ini... Pakai dulu!" Aqeela menyerahkan bungkusan dari kresek.


"Apa ini Umma?" Tanya Zafira tanpa membukanya.


"Buka dulu!" Titah Aqeela.


Zafira membukanya.


"Pembalut?" Tanya Zafira pelan kepada Aqeela


"Iya. Cepat pakai dulu di kamar mandi. Zafira tahu kan cara pakainya?" Tanya Aqeela.


Zafira menatap lekat Ummanya. Ada senyum terima kasih yang tak terungkap.


"Kenapa aku sampai melupakan beli pembalut? Untung Umma beliin. Padahal kan tadi aku bisa minta tolong Nindy. Terlalu panik dan takut sih." Zafira merutuki dirinya sendiri.


"Makasi ya Umma. Umma memang is the best." Ucap Zafira sambil mencium Aqeela.


"Udah ganti sana dulu. Celananya pake yang baru. Yang lama langsung di cuci. Malu kalo ketahuan." Bisik Umma.


Zafira hanya mengangguk. Dan segera mengerjakan semua yang diperintahkan Ummanya.


Setelah Zafira ke kamar mandi. Aqeela mengangkat kardus berisi aneka jajanan pasar yang sempat ia beli di pasar.

__ADS_1


"Kak, mau di bantuin?" Goda Julian.


"Enak di kamu entar. Udah gendong aja Ara. Lagian kamu mau di usir seluruh penghuni pesantren rame-rame?" Omel Aqeela sambil membawa masuk kardusnya.


Julian hanya terkekeh mendengar jawaban Kakaknya. Karena memang tujuannya hanya menggoda sang kakak.


Ia sendiri tahu aturan yang berlaku di sana. Larangan laki-laki untuk masuk ke area pesantren wanita.


Aqeela langsung menuju kamar Zafira. Kamar yang sama dulu ia tempati bersama Dinda.


"Nindy..!" Panggil Aqeela begitu melihat Nindy sedang duduk bersama dua orang temannya di kamar.


"Tante.. Zafira masih di kamar mandi." Ucap Nindy heran karena Aqeela masuk ke kamar


"Iya, Tante tahu. Tante hanya minta tolong. Bagikan ini ke teman-teman se pondok." Ujar Aqeela sembari meletakkan kardus di hadapan Nindy.


"Dalam rangka apa, Tan?" Tanya Nindy lagi.


"Tasyakurannya Zafira saja." Jawab Aqeela.


"Oh ya. Yang ini untuk kaliam bertujuh ya." Aqeela mengangsur kresek hitam kepada Nindy.


"Terima kasih, Tante." Jawab Nindy dan yang lainnya bersamaan.


"Sama-sama. Tante tinggal ke depan lagi ya." Pamit Aqeela.


"Iya, Tante." Sahut ketiganya.


💗💗💗💗


Julian mengedarkan pandangannya. Saat ini ia hanya berdua dengan Zafira. Aqeela, Desta dan keponakannya yang lain sedang ke pondok putra.


"Fir, selamat ya..!" Ucap Julian tanpa berani menatap Zafira terlalu lama.


"Makasi Uncle." Jawab Zafira dengan lirih.


Dari yang ia tahu, perempuan yang datang bulan itu moodnya sering berubah-ubah.


Kadang ada yang merasakan sakit atau biasa disebut dilep.


Ada juga yang payudara dan pinggangnya sakit.


Julian kembali menatap intens ke arah Zafira memastikan remaja yang baru baligh itu baik-baik saja.


"Fir, beneran kamu gak pa-pa?" Tanya Julian ulang.


Zafira menggeleng. Memastikan dirinya baik-baik saja.


"Fir, sekarang kamu kan udah dewasa. Pesan uncle, jaga diri baik-baik. Jangan sembarang main sama cowok."


"Ih, apa hubungannya? Memangnya Zafira cewek apaan?"


Julian langsung melebarkan senyumnya.


"Nah, itu baru Zafira."


"Terus yang tadi siapa dong?" Maki Zafira.


"Makhluk jadi-jadiannya kamu kalee." Goda Julian.


"Ha ha ha ha..." Zafira terkekeh mendengarnya.


"Uncle.., apa jadi wanita dewasa itu susah?" Tanya Zafira tiba-tiba.


Julian menatap gadis remaja di sampingnya itu.

__ADS_1


"Enggak kok."


"Kamu tidak perlu takut untuk jadi dewasa. Karena jadi dewasa itu proses. Dan semuanya tidak instan kok. Kamu cukup nikmati prosesnya. Tapi..."


"Tapi apa uncle?"


"Tapi kamu harus tetap jadi diri kamu sendiri. Zafira harus memiliki prinsip dalam hidupnya. Zafira bertanggungjawab atas hidup kamu sendiri dengan prinsip tersebut.


Karena proses menuju dewasa itu adalah tanggung jawab."


"Zafira tidakl perlu takut melangkah. Kamu harus menghadapi semua yang memang harus terjadi."


"Zafira percaya takdir bukan?" Tanya Julian.


Zafira mengangguk.


"Tapi Zafira tidak ingin pasrah sebelum ikhtiar." Sahut Zafira lirih.


"Bagus dong. Itu Zafira udah punya prinsip. Tidak ingin menyerah. Karena Allah sendiri tidak menyukai makhluknya yang berputus asa. Begitukan yang ada di firman Allah."


"ولا تيا سوا من روح الله انه لايا ياس من روح الله الا القوم الكا فرون "(يسف : ٨٧)


"Wa laa taiasuu min rouhilllahi innahu laa yaiasu min rouhillahi illal qoymil kaafiruun."


(Yusuf : 87)


Ucap Zafira dan Julian bersamaan.


Kedua kembali tertawa lebar karena mereka seakan memiliki satu visi dalam hidup.


"Belajar yang rajin. Gak usah aneh-aneh di sini." Lanjut Julian.


"Dulu Uncle suka aneh-aneh ya di sini?" Selidik Zafira menatap balik Julian.


Julian tak menjawab ia hanya tersenyum implisit sambil menyilangkan kedua tangannya.


"Uncle.. jangan godain cewek terus ya!" Bisik Zafira sambil memiringkan tubuhnya menatap Julian.


"Uncle gak godain, tapi kalo ada cewek yang godain uncle gimana?" Julian balik tanya.


"Ya gak usah ditanggepi."


"Emang kenapa, Fir?" Julian masih berusaha menggoda Zafira.


"Enggak pa_pa. Kita impas kan. Zafira di sini gak aneh-aneh. Uncle di sana juga gak bole nanggepin cewek-cewek." Ucap Zafira sambil menatap ke bawah.


"Fira, kalo ngomong tuh liat yang diajak ngomong. Bukannya liat ke bawah kayak gitu. Di bawah gak ada duit jatuh kok."


"Unclee..."


Bugh...


"Aduuh.. sakit Fira."


"Syukurin, sapa suruh godain aku terus."


Julian kembali teesenyum puas melihat Zafira sewot.


Kayaknya nee Uncle Iyan, semakin puas liat Zafira sewot bin jutek bin nyebelin.


💗💗💗💗💗💗


He he he..


Tengah malam baru up.

__ADS_1


Yuk tinggalkan jejak kalian.


Aku tungguin.


__ADS_2