
Julian baru saja mengganti pakaiannya dengan celana pendek dan kaos oblong. Saat seseorang mengetuk pintu kamarnya.
"Zafira?" Sapa Julian kaget mendapat keponakannya itu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
Gadis itu juga sudah mengganti pakaiannya dengan jubah yang biasa ia pakai di rumah plus hijab warna biru muda.
Zafira menyodorkan wedang jahe panas buatannya kepada Julian, "Minum itu, supaya uncle lebih tenang."
"Fira yakin, saat ini Uncle lagi pusingkan?" Tanya Zafira tanpa ada niatan untuk masuk ke kamar Julian. Bahkan untuk melongoknya saja ia mana berani.
"Duduk sini deh!" Julian mengajak Zafira duduk di kursi yang ada di depan kamarnya. Setekah menerima wedang jahe buatan Zafira.
Julian mengikutinya setelah menutup pintu kamarnya.
"Uncle masih mikirin penggantinya Mbak pia?" Tanya Zafira.
"Iya. Emang kamu bisa bantu?" Tangan Julian memegang erat cangkir hangat dari Zafira seolah menyalurkan kalor ke seluruh tubuhnya.
"Bukan Fira, Uncle. Fira sekolah. Kenapa gak minta salah satu teman Uncle yang dulu pernah dikenalin sama Zafira?"
"Si punokawan grup itu? ato si Adam?"
"Entahlah yang mana? Kalo nurut Zafira sih yang Uncle percaya saja."
"Kayak Buya sama Om Doni."
Julian meringis mendengar jawaban perumpamaan Zafira.
"Memang kamu tahu kalo Om Doni itu sahabatnya Buya?"
Zafira hanya mengangguk.
"Memangnya Uncle gak tau?"
"Tahu, bahkan waktu uncle kecil dulu tidurnya bareng Om Doni kamu."
Julian tersebut mengingat masa kecilnya bersama Aqeela dan Desta sebelum memiliki tiga kembarnya.
Mereka berdua yang mengurusnya sampai segede ini. Bahkan ia yang lama tidak merasakan kasih sayang mama dan papa, dengan hadirnya kedua kakak angkatnya itu ia merasa memiliki keluarga.
"Uncle kenapa kok senyum-senyum begitu?" Heran Zafira menatap Julian yang masih tersenyum.
"Keinget masa kecil uncle dulu. Bahkan sebelum ada rumah ini. Uncle serasa memiliki orang tua lagi ketika bersama Buya dan Umma kalian. Uncle harus berterima kasih pada mereka berdua. Apalagi sudah berjuang melahirkan gadis secantik kamu." Bisik Julian tanpa melepas senyumnya.
Zafira berusaha menahan senyumnya.
"Ya udah deh, Zafira cuma mau ngomong itu doang. Keputusannya terserah Uncle. Daripada di sini digombalin pangeran Arab yang gagal jadi Ustadz." Zafira segera kembali ke kamarnya.
"Jangan lupa cangkirnya di cuci sendiri!" Ucap Zafira mengingatkan sebelum benar-benar menjauh dari Julian.
"Makasi ya Dek, sarannya." Ucap Julian sesaat setelah Zafira melangkah dua langkah.
Zafira tersenyum tanpa menoleh ke arahnya. Bahkan bisa jadi Julian tidak pernah tahu ekspresi Zafira saat ini.
Julian kembali ke kamar, menghubungi seseorang.
💗💗💗💗💗
"Kak.. bisa Julian ngobrol sebentar?" Tanya Julian ketika mendapati kedua kakaknya asyik berduaan di depan televisi.
__ADS_1
"Kenapa? Kamu tuh gangguin orang pacaran aja!" Jawab Desta setengah meledek Julian.
"Kak gak usah bikin Jiwa jomblo Julian meledak deh!" Balas Julian dengan nada bercanda juga.
"Lagian tuh ya, sekarang malming. Kerjaan kita ya pacaran. Apalagi coba?" Goda Desta.
Julian menampakkan wajah manyunnya karena godaan Desta.
"Ada apa? Kamu serius banget?" Aqeela menengahi keduanya.
Bahkan hanya dengan menatap wajah adiknya saja ia seakan sudah bisa menebak apa yang dipikirkan Julian.
"Kak..." Ucapan Julian terhenti.
"Ada apa? Ngomong saja." Ucap Aqeela dengan lembut.
"Kak..sebelumnya Iyan minta maaf." Ujar cowok itu dengan gugup.
"Maaf kenapa? Kamu habis berbuat salah apa?" Desta mengamati wajah Julian yang sedikit pucat.
"Kamu sakit?" Sambung Aqeela menatap wajah Julian yang pucat.
Julian menggeleng.
"Kak, Iyan mau minta izin untuk sementara tinggal di rumah lama."
"Kenapa?"
"Iyan.. Iyan.. sebenarnya..."
"Yan.. kenapa sih?" Aqeela sudah panik saja.
"Buat?"
"Menghalalkan Zafira!"
Deg. Jantung keduanya serasa berhenti saja.
Kalimat terakhir Julian benar-benar membuat wanit itu syok.
Untung malaikat Izroil tidak semudah itu mencabut nyawa seseorang.
"Kamu...beneran? Sejak kapan? Apa Zafira tahu?" Tanya Aqeela.
"Kamu pulang ke rumah lama untuk juga untuk apa?" Tanya Desta.
Kedua menanyai Julian bertubi-tubi bahkan manik mata Julian ditatap intens mencari kesungguhan lelaki itu.
"Pindah buat nyiapin lamaran, Kak. Gak lucu kan kalo calon pengantinnya ternyata satu rumah." Senyum Iyan mengembang sempurna.
"Zafira sudah tahu semua tentang Iyan sejak Om Edo pertama ke sini." Julian seolah menjelaskan semua identitas dirinya kepada calon mertuanya.
"Sudah lama sih, Kak. Bahkan sejak Zafira beranjak dewasa. Selama itu Iyan berkali-kali juga mencoba mengalihkan perasaan tapi selalu gagal move on."
"Karena itu, sekarang Iyan beranikan diri menyampaikan ke Kakak. Apapun keputusan Kakak, Iyan terima. Nanti akan Iyan sampaikan ke Zafira."
"Lhoo berarti Zafira belum tahu?" Tanya Desta sedikit kaget karena selama ini mereka sangat dekat.
"Zafira selalu menganggap Iyan ini tukang gombal dan tukang paksa. Padahal serius."
__ADS_1
Aqeela dan Desta kompak tertawa lirih mendengar keluhan Julian.
"Rencananya kapan kamu melamar anak saya? Dan apakah kepulanganmu ke rumah lama seterusnya?" Selidik Desta layaknya seorang mertua padahal ia belum mengatakan iya atau tidak.
"Insya Allah akhir pekan ini. Bahkan kemarin Iyan sempet ngomong ke Zafira bulan depan kita sah." Julian menahan napas sebentar ingin tahu reaksi kedua kakaknya.
"Terus reaksi Zafira?" Tanya Aqeela kepo.
"Ya gitu, anak itu mana pernah percaya kalo belum ada bukti autentik di depan matanya." Jawab Julian lirih.
"Ternyata kamu memang sudah mengenal Zafira jauh lebih baik dari perkiraan kami." Sahut Desta.
Julian tersenyum mendengar pujian kakaknya yang mungkin sebentar lagi berubah status menjadi mertua.
"Terus sampai kapan kamu di rumah lama?" Ulang Desta.
"Sampai Zafira resmi jadi kekasih halalku, Kak. Sudah bertahun-tahun menunggu, Kak." Ucap Julian memelas.
Desta menoyor kepala Julian pelan.
"Jaga anak Kakak baik-baik. Jangan bikin dia sakit hati atau kecewa." Ucap Desta penuh makna.
"Jadi Kakak merestui nee?" Takjub Julian menatap kedua Kakaknya bergantian.
"Sini...!" Desta memeluk adik angkatnya itu dengan sayang.
"Iya kami restui kalian. Bahkan kami sudah menyadarinya sejak beberapa minggu yang lalu. Hanya saja kami diam, memberi jeda waktu kepada kalian untuk berpikir." Desta merenggangkan pelukannya.
"Anak kakak itu masih kekanakan. Apalagi usianya baru enam belas tahun. Dia beda dengan Ummanya. Meskipun Umma saya nikahi di usia tujuh belas tapi terlihat sudah dewasa. Sedangkan Zafira, dia masih manja dan suka ngambek gak jelas."
"Mulai besok biarkan mereka bertiga bawa kendaraan sendiri. Sementara kamu harus jaga jarak sama Zafira. Gak baik kalo terlalu sering berduaan." Seru Aqeela.
"Kak, terima kasih ya.."
Aqeela dan Desta hanya mengangguk.
"Urusan anak-anak lain biar nanti Kakak yang bicara. Kamu mulai kapan ngungsi?" Aqeela menatap Julian iba.
"Besok, Kak."
Aqeela terlihat murung.
"Kakak boleh kok anter Iyan ke rumah itu, menginap di sana juga gak pa_pa." Ucap Julian menatap kesedihan di mata wanita yang sudah membesarkannya dengan penuh cinta.
"Yan, Kakak sedih karena kamu sekarang sudah dewasa. Harusnya kamu tetap aja jadi Iyan yang kecil dulu!" Aqeela tak tahan untuk tidak memeluk adiknya itu.
Terlihat jelas kemurungan di wajah wanita cantik itu. Diusianya yang sudah tiga puluh enam itu belum terlihat tanda-tanda kerutan dan semacamnya.
"Gak.. Kakak kamu gak boleh menginap di sana. Ntar aku tidur sendirian." Bantah Desta yang hanya disenyumi Aqeela.
"Huu.. dasar manja. Padahal kan sebelum nikah juga tidur sendiri." Ledek Julian.
"Kamu sih belum tahu rasanya..."
"Buyaaa..."
💗💗💗💗💗
Like Komen Vote 😘
__ADS_1