
Wisnu terpekur di mejanya. Ada rasa penyesalan karena tidak segera bertindak setalah peringatan Mei beberapa hari lalu.
Wajahnya terlihat gelisah. Berkali-kali napas panjang ia hembuskan tanpa henti.
Wisnu sudah kehilangan akal harus berbuat apa? Saat ini posisinya sangat kecil.
Hari ini mendadak ada rapat pemegang saham. Entah apa yang akan dilakukan para pemegang saham itu.
Belum lagi tadi pagi muncul video dirinya yang sedang berhubungan intim dengan Mei. Tentu saja wajah Mei dibikin blur. Yang terlihat wajah Wisnu dengan jelas.
Berkali-kali ia menghubungi kuasa hukumnya, namun tidak ada jawaban.
Wisnu benar-benar bingung dan kacau saat ini. Tangannya berkali-kali memukul ringan kepalanya.
Teriakan dan umpatan ia suarakan bergantian menutupi kegelisahannya.
"Mei, masuk ke ruanganku!" Perintah Wisnu lewat telepon ruangannya kepada Mei.
Tak sampai semenit Mei sudah berhadapan dengan Wisnu.
"Mei, kenapa video kita bisa menyebar? Apa kamu yang merekam adegan kita kemarin?" Suara Wisnu terdengar begitu ketus jauh dari nada lembut yang biasa ia lontarkan saat berhadapan dengan wanita ini.
"Ti.. ti..dak Pak. Buat apa saya merekamnya? Tidak ada keuntungannya buat saya. Bahkan membuat nama saya juga tercemar." Jawab Mei dengan gugup saking takutnya melihat Wisnu yang penuh amarah.
Bahkan Mei belum pernah melihat atasannya menjadi begitu emosi.
Wisnu meredam emosinya, disandarkannya punggung ke sandaran sofa. Nafasnya yang memburu perlahan normal.
"Lantas siapa pelakunya?" Gumam Wisnu.
"Apa Bapak Punya musuh? Atau semua ini ada hubungannya dengan saham yang dibeli atas nama Bapak?" Urai Mei dengan cemas.
Wisnu mendadak terpaku mendengar penuturan sekretarisnya itu.
"Mei, kamu tahu siapa pembelinya?" Mei hanya menggeleng menjawab pertanyaan Wisnu.
"Maaf Pak. Kali ini saya benar-benar tidak tahu?" Ucap Mei menyesal.
"Arya! Kemana dia? Sampai saat ini dia tak bisa ku hubungi." Gumam Wisnu menyebut nama kuasa hukumnya
Wisnu mengeluarkan gawai dari sakunya dan mendial sebuah nama.
Tak diangkat. Hanya terdengar status berdering di monitor Wisnu.
Wisnu mengulang hingga tiga kali.
"Haloo.." Jawab suara di seberang.
Akhirnya Tersambung juga.
Dengus Wisnu lega.
"Ya.. kemana saja kamu? Aku telpon tidak kau angkat."
"Maaf, Pak. Saya sedang di kantor. Kasus video bapak sudah beredar luas. Saya sedang berusaha menghentikan, tapi susah. Mereka memiliki akses yang lebih tinggi daripada kita." Jelas Arya.
"Kemarilah, Dua jam lagi rapat pemegang saham."
__ADS_1
"Lhoo ini kan belum waktunya?"
"Ya.. kamu belum dengar jugakah? Sahamku sepertinya ada yang sengaja menyabotase." Urai Wisnu.
Arya terdiam mendengar penuturan Wisnu.
Tuts.. tuts..
Panggilan suara mereka terputus.
"Kenapa sih pakai terputus segala.." Berang Wisnu.
*****
"Kak, gimana?" Tanya Julian sedikit tegang menghadap ke kakaknya.
Julian saat ini sedang bersama Desta dikantornya.
"Rencana kita sudah berjalan 70 persen. Tinggal penentuan nasib Wisnu hari ini." Ucap Desta.
Sehari setelah mereka menyusun strategi. Edo langsung menyelidiki pasar saham milik gold corporation. Selang tiga hari saham Wisnu sudah menjadi milik Julian.
"Apa Wisnu tahu kalo kamu adiknya Aqeela?" Sambung Desta.
"Sepertinya tidak. Setau mereka kalian kan anak tunggal. Tidak akan ada yang curiga keberadaanku, Kak." Jawab Julian sambil menggeleng.
"Baguslah. Kakak yakin kita berhasil." Desta tampak percaya diri.
Julian hanya menatap Kakaknya itu dengan heran karena prediksi yang menurutnya masih ambigu.
"Yan, nanti yang hadir siapa?" Tanya Desta lagi.
Desta hanya manggut-manggut mendengar jawaban Julian.
"Kak Aqeela gimana? Apa dia kelahiran bayi kalian memang harus dipercepat?" Kepo Julian mengalihakan pembicaraan soal saham dan Wisnu.
Karena ia sendiri juga tegang, menunggu laporan keberhasikan Topa dan Edo.
"Harapan kita mereka lahir sesuai rencana kita semula. Aku dan Kakak kamu akan berusaha mempertahankan mereka agar bisa lahir saat mereka sudah siap secara fisik."
"Semoga Kak Aqeela bisa lebih baik. Karena semua tergantung kondisi dia."
"Anak pintar." Puji Desta sambil mengusap kepala Julian.
Julian hanya terkekeh melihat perlakuan kakaknya itu.
"Kak aku udah gede loo...Kok masih di elus-elus kepalanya."
"Bagi kami kamu masih Julian kecil dulu."
"Terus kapan aku gedenya, Kak?"
"Entahlah, Bukan hanya kamu bahkan anak-anak kami yang lainpun masih nampak seperti anak kecil."
Desta masih saja merasa gemas dengan Julian, padahal saat ini tinggi mereka sama.
"Obrolan kita gak jelas banget sih temanya Kak." Julian tampak gabut.
__ADS_1
"Efek nunggu hasil yang mendebarkan, Yan."
"Mudah-mudahan Om Edo bisa meyakinkan kepada seluruh pemegang saham ." Do'a Julian.
"Percayalah, dia sudah ahlinya. Berapa tahun ia menjadi walimu? Kakak yakin dia pasti bisa.
*****
Wisnu keluar ruangan rapat dengan wajah merah padam.
Beberapa umpatan ia ucapkan sebagai pelampiasan amarahnya terhadap hasil rapat pemegang saham tadi.
Bahkan ia sengaja menutup pintu ruangan meeting dengan keras sehingga membuat bunyi keras khas pintu di dorong.
Membuat penghuni ruangan tersebut terkejut, namun hanya sebentar. Karena mereka kembali asyik mengucapkan kata selamat kepada Surya Atmaja yang menggantikan kedudukan Wisnu sebagai direktur utama.
Sedangkan Wisnu, karena belas kasih sang kakak ia masih diberi posisi sebagai manajer produksi.
Beberapa masih tidak menyetujui keputusan Surya, namun sang kakak meyakinkan bahwa Wisnu sudah sangat berjasa kepada perusahaan peninggalan almarhum papanya itu.
Sempat terjadi perdebatan alot antara Surya dan beberapa pemegang saham terkait posisi yang ia berikan pada Wisnu dan video asusilanya yang beredar.
Hal itulah yang menjadi pemicu utama rapat dadakan para pemegang saham. Mereka tak ingin saham gold corporation turun karena reputasi jelek sang direktur.
Surya dan Aisya tentu saja juga hadir karena mereka termasuk dalam jajaran para pemegang saham. Walau kepemilikannya bukan yang mayoritas.
Mereka dibuat kecewa dan terkejut karena saham atas nama Wisnu sudah berpindah tangan bahkan saudaranya itu seakan tidak peduli.
Akhirnya karena kalah kepemilikan, Wisnu tak punya hak suara apapun saat sidang tersebut. Kedua saudaranya juga tidak bisa banyak membantu.
Alhasil para pemegang saham mayoritas menurunkan Wisnu dari jabatannya semula.
Mereka memutuskan untuk mengangkat Surya menggantikan Wisnu.
Surya bahkan melihat aura murka di wajah saudaranya itu. Tapi tetap saja ia tidak mempunyai banyak hak untuk mempertahankan posisi Wisnu.
Ia juga kurang dalam jumlah saham. Sehingga kalah dengan para mayoritas yang memiliku saham lebih banyak.
Bagi Surya, Wisnu sudah membawa gold corporation pada kemajuan yang lebih baik. Karena itu ia masih berusaha mempertahankan Wisnu di perusahaan.
Namun tentu saja Surya dan Aisya tahu kelakuan buruk saudara sambungnya itu.
Mereka hanya bisa mengingatkan, tapi apalah daya mereka tak bisa berbuat lebih.
Dan kini malah mencuat video asusilanya. Membuat para pemegang saham khawatir dan cemas.
Bahkan para karyawan membicarakan video tersebut tanpa malu.
Membuat telinga panas.
"Wisnu...!"
******
Izinkan saya meminta untuk selalu minta dukungannya.
Jika berkenan follow ig aku : @maria_suzan
__ADS_1
fb sementara slow down karena fb saya habis di hack orang
Terima kasih untuk dukungannya yaa man teman