
"Uncle kemana Buya? Kok sepi? Biasanya pagi-pagi ginia ia sudah teriak-teriak." Tanya Zafir menatap kosong kursi makan Julian.
"Uncle kalian hari ini berangkat lebih siang." Jawab Aqeela.
"Zafir, Zafran, Zafira..." Panggil Buya.
Ketiganya menoleh serempak.
"Iya, Buya!"
"Ini kunci mobil. Mulai sekarang kalian bertiga berangkat sendiri."
"Jadi, Zafir boleh nyetir sendiri?"
"Bukan sendiri, ini untuk kalian bertiga. Terserah siapa yang mau nyetir."
"Akhirnya..."
"Kenapa?"
"Pulang suka-suka. Gak perlu nungguin Uncle datang." Sorak Zafran.
"Diem Zafraaan.." Teriak Zafira yang merasa terganggu dengan suara Zafran.
"Makan dulu deh! Gak perlu kegirangan gitu!" Gerutu Zafira sambil duduk dan menyendokkan nasi ke piringnya.
"Lesu banget sih, Fir?" Tebak Zafir sambil mengelus kepala berbalut hijab milik Zafira.
"Auk aah..."Balas Zafira tanpa menghentikan suapannya.
💗💗💗💗💗
Sementara di kamar.
Sejak semalam Julian hanya menatap koper yang terbuka di hadapannya.
Tak ada keinginan untuk mengisinya. Namun harus ia lakukan demi hatinya.
Perlahan ia mendekati lemari kayu yang berisi semua keperluan badaniahnya.
Ada yang menyesak di dada saat tangan kokohnya meraih satu per satu pakaiannya.
Hanya sepuluh stel yang ia maaukkan dan ia merasa sudah cukup.
Julian akan membiarkan sisanya di kamar ini. Karena suatu saat ia masih ingin kembali ke kamarnya.
Julian bahkan memutuskan hari ini tidak ke kantor. Ia akan fokus mengurus kepindahan sementaranya.
Bukanlah hal mudah baginya meninggalkan rumah yang membesarkan dan melindunginya sejak kecil.
Berbagai bayangan masa kecil melintas begitu saja dengan indahnya.
Saat ia mulai masuk TK, yang ternyata guru kelasnya adalah fans fanatik Kakaknya yang femes di you tube lewat dakwahnya.
Auto iapun menjadi siswa kesayang sang Ustadzah.
Julian tersenyum mengingat masa lalunya. Hingga ia beranjak dewasa. Memasuki Gerbang SMA.
Masa dimana ia menjadi most wantednya sekolah. Diidolakan kaum hawa. Bahkan tidak sedikit ungkapan cinta terlontar untuknya.
Menolak adalah agenda sehari-harinya.
Entah sudah berapa puluh cewek yang patah hati karenanya.
Sebut saja Ai, yang notabene teman dekatnya. Julian tidak pernah merasakan debaran seperti yang diceritakan teman-temannya.
Aipun ia abaikan. Bahkan ditolaknya mentah-mentah. Sakit hatikan tuh cewek? Tapi mana Julian peduli?
__ADS_1
Jangankan Ai, bahkan cewek tercantik seSMA aja tidak ia lirik, dan tetap saja baginya semuanya sama.
Ia menganggap sebatas teman.
Sampai lewat tahun kedua. Setelah tiga bulan keponakannya melanjutkan edisi mondoknya.
Julian yang baru sambang triple sekian lama, melihat banyak perubahan dari Zafira.
Saat menatapnya di awal, rasanya ia ingin kabur saja dari sana.
Dadanya berdenyut tidak karuan.
Sesak.
Bahkan menatap gadis itu saja ia merasa canggung.
Diberi ruang berdua dengan Zafira, membuatnya semakin tersiksa.
Akhirnya satu tekad yang membuat bertahan silaturrahmi.
Walaupun berat ia mencoba tetap menjaga Zafira. Sampai Umma dan Buya kembali dari pondok putra dimana Zafir dan Zafran berada.
Julian berusaha bersikap senormal mungkin, menutupi semua detakan jantungnya yang bandel.
Dalam hitungan bulan, cowok itu masih saja melakukan banyak hal untuk melupakan gadis yang masih di pesantren itu.
Julian bukan lagi dalam tahap tapi menghindar. Ia menghindari banyak cewek. Bahkan semakin terkenal karena kemisteriusannya dan kecoolannya.
Sikap dingin dan arogan yang kadang ia tampakkan setiap menghadapi gadis genit di sekolah.
Bahkan kegundahannya setiap hari tak lepas dari bayang-bayang Zafira. Merindukan gadis itu seakan makanan dan kebutuhannya.
Keruwetan menghadapi situasi kantor di usianya yang muda juga sering membuat emosinya tak terkontrol.
Jika sudah berada di titik lelah ini, maka yang Julian inginkan hanyalah bersama Zafira kembali. Maka iapun nekat menemui gadis itu di pondok.
Alasannya untuk bertemupun sangat mudah. Sebagai keluarga, adik Ibu Zafira.
Semesta benar-bebar mendukungnya. Seakan semua meridhoi. Entah dengan gadisnya?
Hanya menatap wajahnya semenit saja, seakan semua rasa gundah, kesal, galau, lelah dan letih lenyap tak bersisa.
Setiap detail ekspresi milik Zafira seakan jimat mujarab untuknya. Setiap kalimat manja yang ia ucapkan adalah mantra sakti yang bisa membuat otaknya kembali normal.
Namun di sekolah ia masih saja menjadi incaran empuk para gadis.
Sampai muncul ide membawa Hani ke sekolah. Status palsu yang ia rencanakan berjalan sukses.
"Yan, kamu gila. Sampai nyeret aku ke ranah privasi kamu!" Begitu yang Hani ucapkan ketika Julian memintanya menjadi kekasih jadi-jadiannya.
"Terserah anggapan Ning Hani. Tapi Iyan hanya meminta persetujuan iya atau tidak?" Tegas Julian kala itu.
"Aku sih mau saja. Tapi dengan satu permintaan. Dan kamu harus mengabulkannya?"
"Kayak jin aja pake permintaan?" Gerutu Julian.
"Yaiyalah, secara aku rugi secara nama."
"Ih, anak kyai perhitungan sekali!"
"Gak usah bawa-bawa nama Aba!" Wajah Hani kembali ketus begitu Julian membahas kekuarganya.
"Mau lanjut gak? Kalo gak mau ya sudah kamu tidak perlu menuruti permintaanku. Tapi kalo lanjut kabulkan permintaanku!" Hani berkata dengan lantang.
"Baiklah, aku setuju. Hanya satu permintaan bukan?" Ulang Julian.
"Iya." Hani mengangguk.
__ADS_1
"Katakan!"
"Tidak sekarang. Nanti jika memang aku butuh aku akan memintanya. Saat ini aku tidak butuh apapun." Balas Hani tegas.
Dan sejak saat itu keduanya berlaku seolah sepasang kekasih hanya saat mengantar atau menjemput Julian.
Karena lokasi kampus Hani yang lebih jauh maka ia harus mengalah untuk mengemudi sendiri.
Dengan hadirnya Hani.
Perlahan banyak teman Julian. yang mundur secara perlahan. Mereka tak lagi mengincar Julian begitu mendapati cowok most wantednya menggaet calon dokter.
Kisah berlanjut saat ia memaksa Zafira masuk ke base camp OSISnya.
Saat membawa Zafira tentu saja perasaannya berbeda dengan saat mengenalkan Hani.
Saat membawa Zafira seluruh rasa di dada dan hatinya begitu membuncah. Ekpresi bahagia dan penuh cinta ia keluarkan.
Julian dengan bangganya memperkenalkan Zafira sebagai calon kekasih halalnya. Walaupun saat itu Zafira dalam kondisi dipaksa.
Karena Julian belum ada keberanian menyatakan rasa ingin memilikinya pada gadis yang waktu itu berusia tiga belas tahun itu.
Sampai Triple lulus. Dan kembali ke rumah.
Julian masih berusaha menutupi semua hati dan perasaannya.
Namun saat ia menyaksikan gadisnya di dekati banyak cowok di sekolah, tentu saja Julian tidak rela.
Julian kembali ingin membawa Zafira hanya untuknya. Takkan ia izinkan siapapun mendekati gadis itu.
Dan kembali ia memaksa Zafira untuk diajaknya ke setiap agenda dan acara apapun. Entah kantor atau kampus.
Hingga saat ia mengajukan diri sebagai kekasih halalnya kemarin. Walaupun Julian tidak menerima kata-kata "Iya" secara langsung tapi hatinya yakin Zafira memiliki rasa yang sama.
Julian tersenyum mengingat semuanya.
"Yan.. Julian..." Sebuah suara mengagetkan sekaligus membuyarkan lamunannya.
Padahal ia masih ingin mengkhayalkan kelak jika Zafira menjadi istrinya.
Tapi Julian tak berani membantah suara itu, suara yang sudah memberinya hidup begitu berarti.
"Iya Kak.. tungu sebentar."
Aqeela sudah menunggunya dengan sabar di depan pintu begitu Julian membukanya.
"Masuk, Kak!" Ajaknya.
Aqeela masuk dan mengamati kamar yang ditempati Julian.
"Kamu masih menyisakan pakaianmu di sini kan?" Tanya wanita itu dengan wajah penuh harap.
"Kaka lihat!" Julian membuka lemarinya lebar-lebar.
"Aku akan kembali ke sini, Kak. Kakak adalah rumahku!" Julian memeluk Kakaknya yang mulai berkaca-kaca.
Bagi Aqeela melepas Juliannya sangat berat. Ia sudah menganggap pemuda ini anak tertuanya.
Tak ada yang ia harapkan dari Julian selain menjaga anak-anaknya dan Desta kelak jika ia sudah tiada.
"Kakak jangan nangis. Aku tetep adik kakak kok." Hibur Julian.
"Aku gak akan lama kok, Kak."
"Tapi perasaan Kakak, bener-bener gak enak Yan."
💗💗💗💗💗
__ADS_1
Aqeela.. what do you feel?
To be continue..