TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )

TRIPLE Z ( Zafir, Zafran, Zafira )
Oleh-Oleh


__ADS_3

Aqeela masuk ke ruangan Ustadzah Ratih sambil menenteng kardus ukuran sedang.


"Ustadzah, maaf ini ada sedikit oleh-oleh dari Solo." Kata Aqeela sambil menyerahkan kadus yang dibawanya.


"Mbak Aqeela, masya Allah. Alhamdulillah. Terima kasih. Masih ingat sama kita-kita." Jawab Ustadzah Ratih dengan sumringah.


Aqeela hanga tersenyum.


"Ust, di dalam ada satu yang ukurannya jumbo. Khusus buat Ustadzah yang besar itu. Untuk laki-laki saya pisahkan di dalam kresek." Aqeela memberitahukan isi kardusnya.


"Jazakillah Mbak Aqeela. Barokalloh." Ucap Ustadzah Ratih sebelum Aqeela pamit.


"Wa Iyyaki, Ustadzah." Jawab Aqeela.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Selepas dari ruangan Ustadzah Ratih. Aqeela menuju ke kelas Si Triple.


Disana Aqeela juga menitipkan oleh-oleh untuj teman sekelas Triple.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"San, ini buat kamu, Mister Carlos sama Renata."


"Mbak Yun, ini buat Mbak Yuna, suami dan Darren."


"Teh.. Teh Oca.. ini buat Teteh dan Malik."


Aqeela membagikan oleh-olehnya.


"Mampir ke pasar Klewer yaa?" Tanya Oca antusia menerima bungkusan dari sahabatnya itu.


"Iyaa... Terima aja. Maaf yaa gak bs bawa banyak." Jawab Aqeela.


"Lhaa segini gak banyak gimana?" Seru Yuna.


Membuat Aqeela hanya terkekeh.


"San, Renata sama Malik kan udah dapat di kelas. Double dong kita." Kata Hanin.


"Iya gak pa_pa. Nee Darren juga aku kasih double. Gak bole iri-irian." Seru Aqeela sambik menyerahkan satu bungkus setelan batik anak laki-laki kepada Yuna.


"Makin cinta deh sama Calon mertuanya Renata." Goda Yuna sambil merangkul pundak Aqeela.


"Bisa aja... Mbak Yuna ini." Aqeela kembali menata sisa daster ke dalam kardus. Setelah Yuna kembali ke kursinya.


"Mbaak... Mbak, Mbak Suster sini..." Panggil Aqeela sambil melambai.


Yuna, Oca dan Hanin terbengong melihat Aqeela memanggil para **** sitter disana.


"Iyq Tante?" Sahut salah satu dari mereka begitu mendekat.


"Tante.. Tante.. emang kapan dia nikah sama Om kamu?" Protes Hanin.


Sontak membuat baby sitter itu tergelak.


"Terus panggil apaan?" Tanya yang lain.


"Panggil Umma saja." Jawab Aqeela datar melerai perdebatan Hanin dan para baby sitter.


"Oh.. iya Umma.." Kompak mereka.


Aqeela kembali terkekeh mendengar suara koor mereka.


"mbak, ini ada sedikit oleh-oleh dibagi ya? Ada berapa semua?" Tanya Aqeela.


"Ada lima belas, Umma."


"Ya sudah.. ini ambil saja semua." Aqeela memberikan kardus berisi daster kepada mbak-mbak baby sitter di sana.

__ADS_1


"Terima kasih, Umma." Jawab mereka dengan kompak pula.


Dan Aqeela hanya tersenyum mendengarnya.


"Barokallah, Umma." Seseorang menyahut.


"Jazakillah, Umma.." Seru yang lain lagi.


"wa iyya ki..." Jawab Aqeela lagi.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Mbak, kok ngasih mereka sih?" Tanya Yuna yang merasa aneh dengan tingkah Aqeela.


"Memangnya kenapa?" Tanya Aqeela


"Memangnya tidak bole?" Lanjutnya.


"Bole, tapi kitakan tidak terlalu akrab dengan mereka." Sahut Yuna.


"Mbak Yun.. " Kata Aqeela.


"Kalo memberi kan sebaiknya tidak pilih-pilih. Siapapun bisa kita beri." Ucap Aqeela sambil tersenyum.


"Lihat mereka bahagia loo dikasi oleh-oleh. Meskipun bukan barang mewah. Bukanlah membahagiakan orang lain juga dapat pahala. Aku mau nabung pahala, Mbak." Sahut Aqeela sambil menatapa Yuna yang terlihat belum terima.


"Udah ah, gak usah manyun gitu. Kita makan-makan di rumahku pulang sekolah. Gimana?" Ajak Aqeela sambil merangkul bahu Yuna.


"Yess.. makan-makan..." Ucap Yuna.


"Makanan aja cepet.." Sahut Oca.


Aqeela dan Hanin hanya terkekeh mendengarnya.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


"Makanan apaan ini?" Hanin membolak balik jenang, wajik dan tΓ©tΓ©l.


"Memang ada gitu makanan model beginian?" Hanin masih kepo.


Ia terus mengamati bentuk dan warnanya.


"Kok aneh yaa?" Sahutnya.


"Diincipi dulu, Mbak.." Sahut Aqeela dari ruang makan. Ia masih sibuk menyiapkan minum untuk tamunya.


"Aku coba ya.." Kata Hanin.


"Mbak, ini tΓ©tΓ©lnya kamu panggang ya?" Tanya Oca sembari mencomot 1 iris makanan dari ketan putih yang di campur kelapa sehingga rasanya sangat gurih.


Dinamakan tΓ©tΓ©l karena cara membuatkan ditekan-tekan sampai halus. Kalau bahasa jawanya ditΓ©tΓ©l, makanya nama panganannya tΓ©tΓ©l.


"Iya, Mbak... orang-orang di sini paling suka makan tΓ©tΓ©l yang gorengan atau panggangan gini." Sahut Aqeela yang kembali ke ruang tamu sambil membawa teko berisi es blewah.


"Wah, seger banget.. siang-siang di suguhi es blewah." Ucap Yuna sambil menelan salivanya seolah menginginkan kenikmatan dari es tersebut.


"San, kamu emang luar biasa. Tau aja yang kita mau." Hanin nyengir bahagia menatap es blewah Aqeela.


"Luarr biasa.. Gak nyangka menemukan blewah di sini." Komen Oca.


" Yuuk ini di minum.." Aqeela menuangkan es blewah ke masing-masing gelas.


"Mbak, kalo di sini kita nyante banget yaa.. Anak-anak main sepuasnya di halaman belakang, kita duduk-duduk di sini. Serasa seperti dalam surga." Cerocos Oca sambil merentangkan kedua tangannya menghirup oksigen dalam-dalam.


"Ha haa... kamu mah bebas tugas gak ngawasin Malik. Begitu kan?" Yuna menimpali.


"Yuuhuu... serasa bisa menikmati hidup. Emang di sini ada apanya ya?"


"Gak ada apa-apanya, Mbak. Rumahku kan sederhana sekali. Dibandingkan rumah kalian." Ucap Aqeela sambil tersenyum karena mereka memang sudah sama-sama tahu kondisi kediaman masing-masing.

__ADS_1


"Iyaa, aku juga ngerasanya kayak gitu." Yuna menimpali.


"Apa sih rahasianya?" Oca kepo.


Ketiga auto menatap Aqeela barengan. Ingin tahu jawaban Aqeela, supaya bisa mereka copas di rumah masing-masing.


"Apaan yaa? Aku juga gak ngerti, Mbak." Aqeela bingung tuuh.


"Bahan bangunannya kalee?" Jawab Aqeela bingung.


"Bahan bangunan rumah kita sama." Bantah Oca.


"Entahlah.. " Pemilik rumahnya bingung.


"Assalamu'alaikum..." Seseorang mengucapkan salam dari luar.


"Wa'alaikum salam.." Sahut keempatnya.


"Sebentar ya, Mbak. Ada tamu sepertinya." Aqeela keluar menemui suara yang memberi salam.


"Iya Bu, Pak cari siapa?" Tanya Aqeela sambil mempersilahkan tamunya duduk.


"Kita mau tanya tentang pesantren, Mbak." Kata Ibu tamunya.


"Anaknya putra atau putri?" Tanya Aqeela.


"Putri." Jawab Bapaknya.


"Baiklah, mari saya antar Bapak ibu ke bagian pendaftaran." Jawab Aqeela sambil tersenyum ramah.


Setelah sampai di kantor asrama putri, Aqeela memanggil Ratna, wakil pengurus asrama putri, selama Dinda cuti menikah.


Setelah bertemu Ratna, Aqeela mohon diri untuk pamit.


"Siapa tadi, San?" Tanya Hanin.


"Kok tadi kamu kayak ke sebelah gitu?" Yuna menimpali.


Oca menatap Aqeela dengan penuh tanda tanya.


"Ooh, itu tadi nanya-nanya soal pendaftaran santri putri." Jawab Aqeela datar.


"Santri putri?" Oca membelalakkan mata.


"Maksudnya apa, San?" Tanya Hanin


"Sebelah itu kan, pesantren?" Yuna ikut berceloteh.


"Mbak... ada yang belum kamu ceritakan ya ke kita?" Yuna semakin kepo.


"Kamu itu siapa, Mbak?" Oca menatap Aqeela penuh selidik.


"San, Sebenarnya apa profesi kamu?" Hanin yang sudah kepo sejak awal tambah kepo.


"Beneran kalian ingin tahu?" Aqeela meyakinkan.


"Iya.." Ketiganya mengangguk.


"Kalian yakin tidak akan menjauhi kami setelah ini?" Aqeela kembali meyakinkan ketiga temannya.


"Iya..." Ketiganya kompak kepo.


"San, jangan bikin kepo kami kebangeten deh." Komen Hanin tidak sabar.


πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—πŸ’—


Aqeela bakal buka jati dirinya gak ya?


Maaf yaa sempet gak up tiga hari, abis sibuk sama kerjaan.

__ADS_1


Always love you from triple


Like dan vote ya


__ADS_2