
Wawan benar-benar membuktikan ucapannya. Ia sama sudah tidak lagi mengunjungi Klub malam.
Dunianya mengikuti jejak kedua sahabatnya yang sudah beralih ke dunia putih. Walaupun tidak sepenuhnya putih.
Lebih tepatnya dunia krem. Wkwkwk...
( Jika masih dibutuhkan kekerasan mereka takkan menghindar )
Sehingga setahun kemudian, orang tua Nabila menyetujui hubungan keduanya.
Sungguh sebuah surprise luar biasa bagi Wawan.
"Gaess.. tengkyu ya. Berkat kalian. Kita berdua sudah sah." Ucap Wawan setelah mengucapkan ijab kabul dengan Nabila.
"Kita hanya mengingatkan, tapi kamulah yang berjuang." Jawab Desta.
"Kak, selamat berjuang untuk nanti malam." Goda Aqeela sambik tersenyum nakal ke arah Nabila.
Nabila yang ditatap Aqeela hanya menunduk. Malu.
"Perlu kita temani, gak nee?" Goda Ronald yang nota bene juga pengantin baru.
Dua bulan lalu Ronald dan Hasna menggelar pernikahan. Tepat seminggu setelah Hasna wisuda.
"Enggak.. enggak perlu. Aku sama Nabila udah berani sendiri kok." Jawab Wawan gugup.
Auto Aqeela, Desta dan Ronald hanya terpingkal-pingkal.
"Kalian bertiga bisa gak sih gak pake ngeledek gitu." Caci Wawan.
"Kapan kita ngeledek. Lha wong kita ini sengaja ganggu pengantin baru. Pengantin yang sempet pengen kawin lari. Pengen beracident ria." Ledek Desta.
Wawan hanya tersenyum simpul mengingat kesalahannya waktu itu.
"Tapi lebih tenang mana ketika pengen jahatin anak orang atau saat ini? Ketika restu legalnya udah di stempel?" Aqeela masih saja menggoda.
"Lebih tenang saat ini." Jawab Wawan.
"Nah looo..... Sukses yaa buat nanti malam." Goda Aqeela.
"Jangan lupa segera dijadiin gak usah ditunda." Lanjut Aqeela.
Wawan hanya tersenyum lebar mendengarnya.
"Wan, kita pamit dulu ya.." Pamit Desta kepada Wawan.
"Mau kemana?" Tanya Ronald Heran.
"Hari ini jadwal kita nengokin Julian di Pesantren. Kasiyan kalo dia terlalu nunggu." Lanjut Desta.
"Oowh.." Jawab semuanya serempak.
"Bye..."
💗💗💗💗💗
Julian, setelah lulus sekolah dasar ia meminta untuk belajar di Pesantren.
Semula Aqeela tidak merestuinya bahkan sempat syok mendengar adik angkatnya itu ingin mondok.
Tapi Desta meyakinkannya bahwa Julian akan baik-baik saja dan itu demi kebaikannya juga. Akhirnya Aqeela luluh dan ikhkas.
Pernah mengenyam pendidikan di Pesantren bukan berarti dia juga menginginkan anggota keluarganya mengikuti jejaknya.
Aqeela tak ingin kisahnya yang mondok terpaksa terulang di anak cucunya.
Tapi, Desta menentang. Bagi Desta ia malah mewajibkan putra putrinya kelak mengikuti belajar di peantren minimal tiga tahun
Sempat saling bersitegang beberapa hari juga sih keduanya. Hanya karena perbedaan paham tentang pendidikan.
Tapi Desta dengan caranya kembali bisa meluluhkan Aqeela.
Waktu itu.
"Beb, mereka mencari ilmu yang tidak bisa kita berikan. Pengalaman. Biarlah mereka mondok. Restuilah. Karena restu seorang ibu adalah segalanya bagi anak."
"Derajat ibu itu tiga kali dari ayah loo." Begitu Desta selalu mengingatkan.
__ADS_1
"Aku pernah menyesal karena mengenal agama setelah dewasa. Aku malah iri melihat Ayang bebebku sejak kecil sudah dibekali dengan agama."
"Sejak itu aku berjanji. Aku ingin membekali anak-anakku kelak dengan agama dan ilmu. Bukan dengan materi. Seperti yang Mommy dan Daddy ajarkan ke aku."
"Cukup aku Beb yang nyesel. Aku tak ingin anak-anak kita kayak aku dulu."
"Andaipun mereka jagoan. Mereka akan jadi jagoan yang berakhlaq."
"Pliss...biarkan mereka mandiri. Dengan begitu mereka akan lebih mudah menyelesaikan masalahnya sendiri."
"Be a good parents for them."
Tutur Desta panjang,membuat istrinya menunduk.
Ia merenungkan setiap ucapan suaminya.
"Baiklah... Aku setuju. Kita pondokkan kelak semua anak-anak kita nanti." Jawab Aqeela dengan senyum penuh arti.
💗💗💗💗💗
Kini, Desta, Aqeela dan keempat anaknya sudah di dalam mobil menuju Kediri.
Menuju lokasi pesantren yang sama dengan Pondok Aqeela.
Yupzz Aqeela dan Desta memondokkan Julian di Pesantren Aqeela dulu di Kediri.
"Uncle Julian kayak apa ya sekarang?" Tanya Zafira sambil melihat ke depan.
"Ya, nanti Zafira lihat sendiri." Jawab Aqeela.
Zafira cemberut mendengar jawaban Ummanya.
Aqeela dan Desta hanya tersenyum kecil melihat ulah anak gadisnya itu.
Baru juga dua bulan mereka tidak ketemu, Zafira sudah bingung dengan perubahan Julian.
💗💗💗💗💗💗
"Assalamu'alaikum, Kak!" Sapa Julian saat masuk ke ruang tunggu.
Ruang dimana biasanya para keluarga yang sambang menunggu kadatangan santri.
Baginya sebagai wali santri tak harus diistimewakan.
"Wa'alaikum salam." Jawab keluarga Julian.
"Uncle..." Teriak si triple.
Julian langsung memeluk ketiga kembar kakak angkatnya itu.
"Yan..." Panggil Desta.
"Iya, Kak." Jawab Desta sambil duduk di depan Desta sambil memeluk si triple yang merindukannya.
Sedangkan Aqeela memangku Beby Al yang sudah mulai ingin tahu banyak hal.
Baby Al saat ini berusia dua setengah tahun.
"Gimana, kamu betah di sini?" Tanya Desta.
"Betah kok, Kak." Jawab Julian.
"Belajar yang rajin ya.." Desta mengingatkan.
"Iya, Kak. Aku gak akan mengecewakan kalian. Ibu, Ayah. Mommy dan Daddy."
"Anak baik." Puji Desta.
Julian hanya menunduk mendengarnya.
Sebagai anak dan adik angkat i merasa sangat beruntung.
Sejak kematian orang tuanya, ia merasa akan sendirian. Ternyata Allah mengirim orang sebaik Aqeela dan Desta untuk merawatnya.
Bahkan sejak kecil ia sudah berjanji tidak akan mengecewakan keluarga angkatnya. Terutama Aqeela dan Desta.
Selama ini bagi Julian mereka berdua pengganti mama dan papanya yang sudah menghadap Allah karena kecelakaan.
__ADS_1
"Hai.. baby Al. Udah tambah besar saja." Sapa Julian pada Baby Al, mengalihkan perasaannya yang lagi coolin down. Melihat kebaikan kedua pasangan di depannya itu.
Baby Al hanya tersenyum sambil mengangakat tangannya, sambil mengoceh.
"Hei.. kamu kangen uncle juga ya?" Julian memindahkan si triple ke samping lalu mendekati baby Al dan menggendongnya.
"Hati-hati Yan.. Al sekarang sudah berat." Aqeela mengingatkan Julian.
"Tenang saja, Kak. Aku udah bisa kok gendong baby dengan baik sekarang." Jawab Julian sambil nyengir. Mengingat ia pernah beberapa kali dimintai Gus Malik menjaga putranya di Pondok.
"Bagaimana sekolah kamu? Apa ada kesulitan?" Tanya Aqeela.
"Alhamdulillah tidak, Kak. Teman-teman aku baik semua. Gak ada bullying kok di sini. Lagian mana berani mereka sama Julian. Adiknya Ustadzah Aqeela yang terkenal ini." Goda Julian.
"Mulai deeh.."
"Kamu tuh yaa jahilnya belajar dari siapa?"
"Kalian berdualah." Julian tertawa lebar.
Aqeela dan Desta hanya menggelengkan kepalanya.
"Yan.. keluar yuuk!" Ajak Desta.
"Kemana, Kak?" Tanya Julian bingung.
Sebetulnya ia harus mengerjakan tugas sekolah diniyahnya.
"Cari makan. Kasiyan mereka bertiga udah laper kayaknya." Ucap Desta.
"Okay.. Aku izin dulu." Julian mengiyakan ajakam Desta.
Baginya mengerjakan tugas bisa nanti, tapi bersama keluarganya saat ini adalah momen berharga.
Karena sejak memutuskan masuk pesantren, Julian tidak bisa setiap hari bersama keluarganya lagi.
Mereka akan bertemu hanya dalam waktu-waktu tertentu saja.
💗💗💗💗💗💗
Desta mengajak Julian mengeliligi Kota Kediri. Seakan mengenalkan kondisi Kediri kepada adiknya itu.
"Buya.. itu namanya apaaa?" Tunjuk Zafir melihat ada bangunan yang terlihat sangat apik.
"Oh.. itu namanya Simpang lima gumul." Jawab Desta.
"Kalo yang itu .." Zafran menunjuk sebuah bangunan yang disusun dari tumpukan batu.
"Itu Candi..." Desta tidak meneruskan kaliamatnya. Ia sedang mengingat sesuatu.
"Itu Candi Tondowongso, peninggalan Kerajaan Kediri. Kerajaan yang dimiliki Prabu Jayabaya. Kerajaan Kediri lebih dulu ada daripada Majapahit." Julian menyelesaiakan cerita Desta.
"Wah, uncle keren." Sahut Zafran.
"Lain kali Uncle harus cerita ke Zafira tentang Kediri dan Majapahit, ya.." Ucap gadis kecil itu.
Julian hanya tersenyum memandang Zafira yang selalu saja manja kepadanya.
"Siap princesss... Kalo liburan nanti Uncle Ian akan cerita banyak buat kalian."
"Yess..."
"Horeee..."
"Uncle baik deeh.. "
💗💗💗💗💗💗💗
Sejujurnya mengungkap sejarah di tiap kota di Indonesia tak akan pernah ada habisnya.
Indonesia adalah negeri 1001 sejarah.
love Indonesia
Save Indonesia
Vote yaaa gaess....
__ADS_1
Beberapa episode lagi si triple langsung dibikin gede deh sama author 😅😅😅